Pasar Bang


“BELUM habis, Buk?”

Suara Mak Luki datar dan hambar. Dia masih sibuk mengipas-ngipas gettas dagangannya yang masih menumpuk di nampan berbatik dengan warna merah mencolok itu. Kerumunan lalat besar mulai menyerbu dan hinggap di atasnya ketika gerak kipas di tangannya berhenti, meski hanya sebentar.

“Masih banyak, Lek.”

Mak Jumatra mendesah dalam. Ditahannya rasa nyeri di dadanya setiap kali mendengar pertanyaan yang hampir sama dari beberapa orang yang lewat atau tetangga pasar yang sedang membeli ikan-ikannya. Apa lagi pertanyaan kali ini dilontarkan oleh perempuan yang juga punya nasib sama. Diliriknya ikan-ikan yang masih bergelimpangan di bak hitam kelabu tanggung dengan bercak-bercak darah yang biasa dia bawa ke pasar setiap pagi. Wajahnya nampak berdebu, matanya sayu dan napasnya yang asin seperti begitu berat keluar. Dada kerempengnya kembang-kempis dan bergetar.

Perempuan itu memerbaiki duduknya dengan hati-hati di atas lincak tua yang sudah menjadi tempatnya berdagang sejak dulu. Lincak yang berwarna putih lesi dengan digerogoti hijau lumut di setiap sudutnya sedikit reot dan sering kali bergoyang kecil dan berkeriut saat dia bergerak sepelan apa pun. Jika tidak biasa lincak itu disangkanya akan segera ambruk. Beberapa paku yang melekatkan bilah-bilah bambu sebagai dasar lincak mulai bermunculan dan sesekali nyangkut di baju dan sampir Mak Jumatra.

Sudah pukul tujuh, pembeli masih sepi. Hanya beberapa orang saja. Memang hal ini bukan kali pertama terjadi. Dia sadar betul bahwa pembeli di pasar yang telah ditinggalkan penghuninya itu tidak begitu banyak. Jika tidak karena keluarga dan anaknya yang masih mondok dan beberapa orang tetangga pasar yang masih setia membeli padanya, dia sudah berhenti berdagang ikan di sana. Bahkan mungkin di mana pun.

“Kau sendiri bagaimana?”

“Sama, Buk.”

Jawaban Mak Luki tidak akan terdengar seandainya saat itu angin mulai berembus meski tidak begitu kencang. Mereka saling memandangi dagangannya masing-masing yang masih menumpuk dan dikerubungi lalat.

“Semoga saja nanti ada pembeli lagi.”

“Atau kita harus kembali menjajakannya.”

Mereka terdiam. Ada kesadaran yang tiba-tiba menyembul di benak Mak Jumatra. Ah, jalan-jalan itu, berkerikil, berkelok dan berdebu akan kembali dilintasi sambil menyaringkan suara dan memanggil-manggil setiap penghuni rumah. Barangkali ada yang masih belum punya ikan untuk makanan hari ini dan mereka akan mendatanginya untuk membeli barang satu atau dua ekor saja.

Sementara, Mak Luki mulai membayangkan anak-anak yang bermain kelereng atau bekel di halaman rumahnya. Mereka pasti bisa dihasut dan berkompromi supaya dagangannya cepat laku semua dan pulang dengan nampan yang kosong melompong. Dia pun berusaha menerka-nerka, arah mana yang harus ditempuh. Tidak mungkin ke arah tenggara yang baru dijelajah kemarin pagi. Dia khawatir orang tua mereka akan marah dan memelototinya untuk segera pergi. Seperti yang pernah dia alami dua hari yang lalu. Untuk urusan marah-memarahi dia sangat maklum. Dia juga punya anak dan tahu bagaimana menyikapi anaknya.

Begitulah setiap hari mereka habiskan ikan-ikan dan gettasnya. Tidak jelas harus berapa jauh jarak yang ditempuh dan berapa lama waktu yang dihabiskan. Terpenting dagangan mereka laku semua dan hari itu mereka membawa uang untuk biaya hidup keluarga mereka.

Sesekali Mak Jumatra harus pulang ketika hari sudah hampir tenggelam. Di rumah, sudah menanti ikan-ikan yang harus direbus agar tidak membusuk dalam jangka waktu yang panjang.

Biasanya, kerja merebus dia lakukan menjelang subuh. Sebelum ayam berkongkok, sebelum tarhim mengalun merdu dari menara masjid-masjid, dia sudah di depan tungku besar dan ikan-ikan yang sudah siap dimasak. Setelah api benar-benar hidup, sebagai seorang perempuan dia harus segera memersiapkan sarapan untuk keluarganya.

Kerja Mak Luki lebih keras lagi. Dia harus memarut kelapa sejak setelah isya berkumandang. Merebus gula merah di bejana besar dan setelah itu dia istrihat. Menjelang subuh tepung dan parutan kelapa diolahnya hingga kemudian benar-benar menjadi bulatan-bulatan kecil dan dilapisi dengan gula yang sudah cair namun tetap terjaga kekentalannya.

*****

Pada mulanya, Pasar Bang adalah tempat berkumpulnya pedagang makanan mulai dari ikan, daging, ayam, sayur, sate, bakso tusuk dan beberapa jajan ringan. Pasar itu buka setiap pagi sekitar pukul enam. Pukul sepuluh semuanya bubar keculai beberapa saja. Pedagang itu berdatangan dari beberapa daerah yang tidak begitu jauh. Barang dagangannya biasanya diangkut mobil bak terbuka, becak atau hanya sekadar ojekan. Kecuali Mak Luki dan Mak Jumatra. Mereka membawa dagangannya hanya dengan dipanggul di kepala masing-masing. Selain karena dekat dagangan mereka juga sedikit.

Sudah bisa dipastikan, setiap pagi jalan raya di samping pasar ini akan bertumpuk mobil bak terbuka, becak dan sepeda motor. Parkir yang sembarangan akan membuat jalan raya menjadi macet. Meski tidak total, namun cukup menyulitkan bagi mereka yang punya kepentingan segera dan harus cepat sampai. Pengendara yang lewat jalan ini di pagi hari memang diuji kesabarannya.

Maka, untuk menertibkannya ditugaskanlah dua orang linmas desa dibantu dua orang polisi kecamatan. Mereka berseragam lengkap dengan masing-masing dibekali pentungan yang menggantung di pinggang dan juga sempritan yang selalu melekat di kedua bibir. Namun, kemacetan itu memang tidak bisa dikendalikan. Empat orang petugas gabungan itu hanya bisa berteriak-teriak dan meniup sempritnya keras-keras lalu hilang di bawah gegap-gempita suara pedagang yang menawarkan dagangannya dan suara pembeli yang berusaha berkompromi dalam masalah harga.

Sesekali sopir-sopir pikap, akang becak dan pengendara sepeda motor itu mau nurut jika sedikiti diancam akan ditilang. Namun, ruang yang ditinggalkan dengan segera akan kembali terisi oleh pengendara lain yang mungkin baru datang atau memang tidak menemukan parkir yang pas.

Akhirnya, petugas gabungan itu menyerah. Tidak pernah lagi mengancam akan menilang. Mereka hanya berjalan ke sana ke mari untuk mengecek dan membiarkan kendaraan parkir sembarangan. Lalu, duduk di pos pantau tepat di samping pintu masuk ke pasar. Jika ada orang yang hendak lewat, mereka baru kembali sibuk dan meniup sempritnya untuk sekadar meminta jalan sedikit saja bagi pelintas yang ingin lewat. Selebihnya kembali macet dan menumpuk. Petugas-petugas itu hanya tertawa dan bercanda sambil sesekali mengepulkan asap rokok di pos pantau.

Namun, sejak dibangun swalayan-swalayan yang juga menyediakan berbagai makanan instan dan keperluan rumah tangga, pengunjung mulai sepi. Mereka berangsur-angsur pindah berbelanja. Tidak hanya di pagi hari, bahkan hingga malam pun mereka dengan leluasa bisa berbelanja. Tidak perlu tawar-menawar lagi karena harga sudah tersedia. Cukup dibawa ke kasir semuanya akan beres. Tidak akan ada tipu dan manipulasi harga seperti pasar-pasar tradisonal. Begitulah slogan yang sering terdengar. Lantainya yang licin, ruangan dingin ber-AC, tidak sumpek dan terkena matahari juga harum menyengat dari parfum-parfum yang telah digantung di bawah lubang AC membuat mereka memutuskan untuk pindah berbelanja.

Maka, berangsur-angsur pedagang di Pasar Bang mulai ditinggalkan pelanggan dan terpaksa gulung tikar atau pindah ke tempat lain yang lebih strategis. Jika pun memaksa untuk tetap berjualan, mereka harus rela menelan ludah yang bercampur dengan debu dan menatap dagangannya yang masih utuh atau hanya terjual beberapa.

*****

“Sudah siang, Lek.” Suaranya datar dan hambar.

“Iya, Buk.”

Mereka sudah mulai berkemas. Membetulkan buntalan kain sebagai alas bak di kepala masing-masing. Sambil sesekali menghitung berapa sisa ikan yang masih belum terjual, Mak Jumatra menerka-nerka harus berjalan ke arah mana. Rute jalan yang sering dilewatinya sudah terlalu sering dan kemarin banyak dari mereka yang sudah tidak membelinya dengan alasan masih ada sisa yang kemarinnya.

“Apakah setiap hari kita harus begini ya, Buk?”

“Entahlah.”

 “Apa tidak sebaiknya kita berhenti saja berdagang di sini.”

“Mau jualan di mana, Lek?”

Merekea terdiam. Tak ada tempat lain yang paling dekat untuk menjual dagangan mereka. Pasar partellon juga sudah lama gulung tikar. Pilihan satu-satunya adalah menjajakan dagangan mereka dari rumah ke rumah, namun bukan berarti itu jaminan dagangan mereka akan laku semua. Sering kali Mak Jumatra pulang dengan membawa sisa ikan yang masih lumayan banyak. Untung saja sudah direbus dan diawetkan.

Tiba-tiba, ada yang tumbuh di benak Mak Luki. Ia menggelembung dan menuntut segera diungkapkan.

“Atau berhenti saja.”

“Terus, aku mau kasih makan dari mana anak-anakku?”

“Kita daftar jadi TKI saja.”

Teridam.

“Kata tetanggaku yang pergi ke Arab Saudi di sana masih banyak pekerjaan yang bisa dilakukan oleh kaum perempuan. Penghasilannya lumayan katanya lo, Buk.”

Mak Jumatra masih terdiam. Tiba-tiba mata hari terasa begitu terik di wajahnya. Matanya menerawang ke depan, entah apa yang dilihatnya. Letupan-letupan api di tungku perebusan ikan terdengar begitu nyaring dan api yang berkobar terlihat begitu dekat. Tubuhnya tiba-tiba berkeringat dan napasnya pengap-pengap.

“Buk, ayo kita jalan. Biar tidak terlalu siang.”

Perempuan itu hanya tersenyum sambil menaikkan baknya ke atas kepalanya yang terbalut kerudung hitam dan bercak-bercak getah di beberapa bagiannya. Sambil menimbang ke mana arah yang tepat, dia terus berjalan pelan, begitu pelan. Di kepalanya masih tergambar jelas merah bara api di tungku dan terdengar keras suara air yang mendidih menjerang ikan-ikan yang segera akan dijualnya.


Tagenna Tengah, Maret 2017

Catatan:

Gettas     : jajan khas Madura yang berasa manis yang terbuat dari campuran tepung dan parutan kelapa dengan dilapisi gula siwalan yang sudah diolah kembali.

Buk             : nama pangilan bagi orang Madura untuk teman perempuan yang dianggap lebih tua.

Lek             : nama panggilan bagi orang Madura untuk teman baik perempuan atau laki-laki yang dianggap lebih muda.


*Khairul Umam adalah Sekjen MWC NU Gapura. Guru di MA Nasa1 Gapura. Alumni pascasarjananya UGM-FIB Antropologi. Tulisannya telah dimuat di media lokal dan Nasional.

*Riau Post, 18 Juni 2017

Post a comment

0 Comments