Hujan dan Senja Tanah Rantau

SUDAH biasa, ada banyak orang yang datang, lalu pergi. Banyak dari mereka yang menitipkan luka dan air mata, lalu saat tertawa, terbang tanpa pamit satu pesan saja. Sudah biasa, di antara mereka kembali lagi dengan tangisan yang sama dan hilang lagi ketika sudah menemukan di mana mereka harus bahagia. Sudah biasa sekali, datang lalu pergi. Datang lagi berkali-kali tanpa berpikir bahwa luka dan air mata yang telah mereka titipkan terlalu berjibun dan membeku di satu dada. 

Ada banyak orang yang menyatakan hal yang sama, bahwa ia seperti tong sampah yang dibutuhkan hanya untuk membuang luka, derita, darah, nanah, dan segenap cerita yang usainya tidak seperti harapan. Pada saatnya ia akan ditinggalkan, dan setelah itu akan ada lebih banyak orang baru yang datang. Meski masih akan seirama, kedatangan yang membawa duka dan pergi tanpa pesan apa-apa.

Lalu apa yang mampu kita lakukan? Berhenti menjadi pendengar atau berlari lebih jauh agar tak ada lagi yang datang menghampiri? Tidak. Tetaplah bertahan di sini. Menikmati luka dan bahagia yang mereka ciptakan sendiri, meski tanpa dibagi. Sebagai pendengar setia, kamu akan merasa bahagia karena sudah mebuatnya bebas dari segala siksa. Lagi-lagi meski akhirnya kamu harus lebih mampu bertahan untuk mengubur sakit, luka-luka itu sendiri tanpa harus meminta mereka datang kembali untuk menjemput luka yang dititip atau air mata yang ditinggal pergi.

Aku atau kamu yang pernah merasakan ini, jangan pernah berpikir bahwa kita akan berhenti sampai di sini. Membiarkan mereka yang menangis tenggelam sendiri, atau pura-pura tak mendengar apa pun lagi. Jangan. Sebab aku selalu percaya, Tuhan sudah menjadikan di antara kita sebagai salah satu manusia yang paling kuat di antara mereka. Kita adalah tangan Tuhan yang tak boleh bosan menerima kedatangan orang-orang yang butuh bantuan.

 

*Dipetik dari kumpulan cerpen dan puisi berjudul Hujan dan Senja Tanah Rantau (Pustaka Senja, 2016), karya Rara Zarary, penulis kelahiran Sumenep, Madura, yang kini sedang belajar di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Post a comment

0 Comments