Pentingnya Arsip Digital di Era 4.0

Kemajuan teknologi dan informasi di era globalisasi ini memberikan manfaat yang sangat besar di berbagai sektor kehidupan, seperti pendidikan, medis, komunikasi, pemasaran, dan lain sebagainya. Selain itu, perkembangan teknologi digital yang sangat pesat juga telah melahirkan inovasi baru, misalnya koran digital, perpustakaan digital, tidak terkecuali arsip digital. 

Berbicara tentang arsip digital, akhir-akhir ini tingkat kebutuhan masyarakat, terutama akademisi dan peneliti akan kebutuhan arsip berbasis teknologi makin tinggi. Hal ini tidak mengherankan karena arsip digital mudah diakses dan hemat biaya. Kelebihan lain arsip digital, menurut Sukoco (2006), yaitu pengindekan yang fleksibel dan mudah dimodifikasi, dapat berbagi arsip dengan mudah karena berbagi dokumen dengan partner ataupun klien akan mudah dilakukan dengan jaringan LAN ataupun internet, dan lain sebagainya.

Namun demikian, di sisi lain, harus diakui bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penyimpanan dokumen baik berupa manuskrip, foto (gambar), surat-surat, koran, dan dokumen-dokumen penting lainnya masih rendah. Padahal, arsip merupakan saksi kunci tertulis yang telah menyaksikan kemerdekaan, pertumbuhan, kemenangan, keberhasilan, bahkan kegagalan sebuah bangsa secara konkret dan nyata baik itu pemerintah, politik, maupun kesejarahan, sebagaimana yang statement Ricahardo J. Alfaro, mantan Presiden Panama. Ia mengatakan bahwa pemerintah tanpa arsip seperti tentara tanpa senjata, dokter tanpa obat, petani tanpa benih, tukang tanpa alat, dan artis tanpa panggung.

Sementara itu, Suryadi, dosen dan peneliti di Leiden University Institute for Area Studies (2011), mengatakan bahwa bangsa yang memiliki kesadaran arsip yang tinggi pasti menghargai buku dan dokumen. Menurutnya, budaya arsip akan mendorong kemajuan suatu bangsa. Suryadi mencontohkan Kota Leiden, Belanda, yang berpenduduk 100.000 jiwa memiliki perpustakaan yang menyimpan berbagai bentuk arsip, hingga arsip tentang Indonesia.

Pendapat Suryadi tersebut memang ada benarnya, bahwa budaya (meng)arsip di Indonesia memang sangat lemah. Di perpustakaan-perpustakaan yang ada di Madura, misalnya, sulit menemukan naskah-naskah lama seperti manuskrip, surat-surat, buku-buku (fiksi maupun non-fiksi) terbitan lama, dan dokumen-dokumen penting lainnya. Puluhan bahkan ratusan dokumen penting tentang Madura justru saya dapatkan di beberapa perpustakaan berbasis digital di Leiden, Belanda, seperti Koninklijk Institut voor Taal-Land-en-Volkenkunde (KITLV).

Tidak adanya lembaga kearsipan di Madura, khususnya arsip berbasis digital, membuat Keluarga Arsip Madura, sebuah komunitas sastra yang kebetulan semua anggotanya hobi mengarsip hal-hal yang berbau Madura, seperti literatur dan buku-buku tentang Pulau Garam, beberapa tahun yang lalu mengarsip tulisan-tulisan karya para penulis Madura berbasis digital. Melalui situs www.arsippuisipenyairmadura.com, seraya menyeruput kopi, pembaca dapat menikmati puisi-puisi karya para penulis Pulau Garam.

Sementara itu, laman www.arsipprosamadura.com menyuguhkan prosa berbahasa Madura (carpan) maupun berbahasa Indonesia (cerpen dan nukilan novel), resensi, dan esai sastra-budaya, karya para penulis Madura. Selain itu, Arsip Prosa Madura juga menyediakan ruang bagi karya lakon/naskah drama untuk merespons potensi penulisan lakon (dan pertunjukan teater) di Madura. Arsip Prosa Madura juga mengarsip dokumen-dokumen penting Madura yang lain, seperti manuskrip, buku-buku terbitan lama, surat-surat, serta foto-foto tentang Madura tempo doeloe (khusus yang berbentuk jpeg kami posting di sosial media Arsip Prosa Madura). Dokumen-dokumen penting tersebut  kami dapatkan di perpustakaan-perpustakaan digital di luar negeri, seperti Leiden Library (Belanda), British Library (Inggris), dan lain sebagainya.

Keluarga Arsip Madura sudah berusia lebih dari dua tahun. Hingga kini, kami terus konsisten mengarsip karya para penulis Madura dan mengumpulkan dokumen-dokumen tentang Pulau Garam. Semoga naskah-naskah yang Arsip Prosa Madura dan Arsip Puisi Penyair Madura arsipkan secara digital bisa menjadi pintu masuk bagi siapa saja yang ingin tahu lebih jauh tentang Madura, khususnya tentang sejarah, sastra, dan kekayaan budaya Pulau Garam.


*Fajri Andika alumnus Madrasah al-Huda, Gapura, Sumenep, Madura. Tinggal di Yogyakarta.

Post a comment

0 Comments