Ojung (Cerita tentang Hujan)


Bunga-bunga meranggas, bertekuk lutut di bibir-bibir pot yang kehausan. Pohon cemara udang yang dihadiahkan seorang kawan lama dari Lembang—yang kini tinggi nyaris dua meteran—telah berganti jubah, menjadi kecoklatan. Sangat gersang. Hujan yang menjadi kekuatan hidup benar-benar enggan menjatuhkan diri lagi di sini. Jakarta tak lagi ada bedanya dengan padang pasir yang selalu menghembuskan angin kematian.

Hujan  begitu membenci seantero perumahan elit ini. Di beranda rumah megah ini, di sore hari, sambil menyirami bunga-bunga dengan air PAM yang tak benar-benar bersih, Sarinem ngobrol dengan pembantu sebelah yang mengeluh tak betah hidup kepanasan begini. “Coba kalau di kampung, Nem, nggak bakalan kita kegerahan begini. Banyak air, sungai tak pernah kering, banyak pohon hijau! Huh, disini mah, seperti neraka!”

“Habis hujannya nggak turun-turun.”

“Lha, itu kan salah kita sendiri!”

“Iya!”

Di kamar depan, aku hanya bisa mengelus dada. Kedua pembantu itu memang tak salah. Mungkinkah ini pertanda awal dari kutukan Tuhan atas ketamakan manusia? Ah, kepalaku benar-benar rengkah melamunkan semua ini. Kumatikan AC yang berdesir-desir sejak pagi; udara kamar benar-benar tak menyegarkan.

“Nem, mana ibu?” tanyaku melalui jendela yang terkuak.

“Kan ke arisan, Tuan?” 

“Arisan apalagi?”

“Ya ndak tahu, Tuan, tapi Nyonya pesan tadi, katanya hari ini pulangnya agak malam.”

Ini semakin menjerembebkanku ke ngarai kesumpekan. Sangat keterlaluan! Perempuan yang dulunya sangat manis, patuh, dan santun, yang karenanya kupilih di antara jubelan perawan yang mengincarku itu benar-benar telah berubah. Senyum lembutnya kian jarang kujumpai. Hobi dandan dan cekikikan dengan teman-teman arisannya kian menjadi-jadi, walaupun telah berkali-kali pula kuingatkan, “Hentikan kegiatan tak baik itu! Apa gunanya gosipin orang lain, hanya nambah dosa!” dia sewot—sesuatu yang tak pernah kubayangkan melecut dari wajah lembutnya. Inilah yang lama-kelamaan kian mengukuhkan ucapan temanku yang pintar melukis di lubuk jantungku bahwa, “Perempuan kalau ketiban harta pasti suka ngomongin orang! Kerjanya bersolek, adu cantik, adu megah perhiasan! Tampaknya memang begitulah kodratnya.”

“Kau bilang kodrat?” sanggahku waktu itu. “Berarti ada andil Tuhan di dalamnya dan aku sebagai suami perempuan semacam itu tak berhak menyalahkannya?”

“Ya!” Sahutnya pasti.

ku tak sepaham denganmu!” kataku tak kalah tegas. “Kau tahu, sekarang ini zaman emansipasi, feminisme, abad gaul! Di mana-mana perempuan selalu menuntut persamaan hak dengan lelaki, di segala bidang!”

“Termasuk jadi petinju dan tukang becak?!” ia ngekeh. “Aku tahu maksudmu, namun tradisi kadung mengabadikannya. Dan kau tahu betapa sulitnya mengentaskan orang miskin di Jakarta ini, begitu jugalah yang tengah kau hadapi!”

Aku kemudian membisu—meski tak sepenuhnya membenarkan.

“Semakin kau kaya maka akan semakin kau rasakan kodrat itu. Tunggu saja.”

Dan sekaranglah saat itu tiba! Hujan yang tak segera mengusir kerontang, ditambah kelakuan istriku yang doyan kelayapan, seperti kompromi menghancurkan kebahagiaanku di sini, di antara benda-benda menterengku. Kupanggil dua anak kembarku yang masih TK, Daman dan Maman, lalu kubisikkan sesuatu—entah ini mampu membunuh kejenuhanku atau tidak, “Tahukan kalian apa yang sedang dikerjakan ibu?”

“Belanja, Pak,” sahut Daman

“Paling juga main ke rumah temannya,” kata Maman.

Kutatap Maman yang kutahu lebih peka dibandingkan Daman. “Bagaimana kau tahu?”

“Ya, tahu sendiri, Pak.”

Aku tersenyum.  Anak-anak memang selalu berujar sesuai isi hatinya. “Kalian sudah makan?”

Daman dan Maman mengangguk serempak.

“Siapa yang nyuapi?”

“Bik Inem!”

Ada rasa ngilu menghunjam rongga dadaku. Kalaulah mereka hidup di kampung, tentulah yang menyuapi, memandikan, dan menemani tidur sambil mendongengkan si Kancil adalah perempuan yang melahirkannya—seperti masa kecilku dulu. Tapi di sini, sesuatunya sengaja diputarbalikkan. Seolah kewajiban ibu hanyalah melahirkan, memuaskan suami di ranjang, dan selebihnya keluyuran.

“Kalian tahu hujan, kan?”

Mereka mengangguk.

“Kalian ingin mandi hujan?”

“Tapi, kata Bik Inem, hujan tak akan turun lagidi sini, Pak?” Maman menukas.

“Bapak bisa mendatangkannya, kok.”

Mereka melongo.

“Ayo,” kugandeng mereka ke ruang tengah, “Kalian jongkok di sini ya, saling membelakangi, posisi siap, otot-otot ditegangkan, dan pegang ini,” kujulurkan dua buah lidi ke tangan Daman dan Maman. Bayangan-bayangan itu kian kokoh menukik-nukik benakku; dua orang pemuda berkulit legam dengan kepala terlilit bukot duduk saling membelakangi. Di tangan mereka tergenggam cambuk yang terbuat dari ikatan rotan. Lalu saling membalikkan badan, bersitatap, sangat tajam, dan babutto memegang kedua ujung cambuk itu, menjelaskan aturan permainan dengan kalimat-kalimat jenaka yang membuat penonton terpingkal-pingkal. Udara kian gerah. Sorak-sorai meletus seiring dengan jeritan babutto, saling pukul, saling tangkis, bergedebuk, memekik. Guntur-guntur pun menggelegar. Awan berarak-arak menjelma mendung yang bergelantungan laksana tubuh gurita raksasa. Orang-orang kian semangat bersorak, memuja-muja jagoannya; gerimis perlahan menyepuh rambut, kian deras, suara-suara cambuk bergeletar, canda tawa babutto perlahan-lahan lenyap; berganti hiruk-pikuk menyambut hujan. Se penang cangka basah kuyup.

“Pukul. Ayo, yang keras. Ayo, lebih keras lagi. Ayo! Jangat takut, Ayooo... pukul Daman. Jangan mundur, Maman. Pukul!” suaraku meledak-ledak. Ojung menguasai jiwaku. “Maju, ayo, hantam, pukul yang keras! Sebentar lagi hujan, ayo! Jangan berhenti, ayo, kalian ojung. Hujan akan segera turun, hiat, hiat, ayo...!!!”

Daman dan Maman saling pukul. Suara lidi berlecut, menyambar kulit, disambut jeritan kecil, teriakan histeris menyengati ruang keluarga ini. Tiba-tiba Sarinem muncul dan berteriak, “Daman, Maman, hentikan...!” matanya menyambar wajahku.

“Gimana to Tuan ini, anak berantem kok dibiarkan?!”

Aku menggeleng lelah.

“Ayo, buang lidi itu!”

Daman dan Maman menurut, menatap Sarinem penuh kecut, lalu duduk di kanan kiriku. Kuelus kepala mereka, “Nem, tinggalkan kami. Semuanya telah usai.”

“Usai gimana, to? Memangnya, Tuan lagi menjalankan apa?”

“Minta hujan,” Maman menyahut.

Sarinem menatap wajahku dalam-dalam lalu membalikkan badan dan pergi dengan kepala menggeleng-geleng.

“Pak, hujannya kok nggak turun juga?” Daman dan Maman memandangku dengan mata polos.

“Belum, syaratnya belum lengkap.”

“Syarat apa?”

“Ah, sudahlah. Sekarang kalian minum dulu, biar segar, ya.”

Daman dan Maman serentak berlarian ke dapur sambil berteriak-teriak laksana sepasang pendekar yang tengah bertarung. Ciat. . . hiat. . . ciat. . .

Sambil terpekur, kupikir Tuhan benar-benar mengutuk Jakarta. Ojung tak punya kekuatan apa pun di sini.

***

Rupanya Sarinem menyimpan kecurigaan atas ucapan Maman dan menceritakannya pada istriku. Belum juga sarapan kusentuh, istriku ngomel-ngomel, “Semalam kau apakan anak-anak?!”

Kuangkat kepalaku, diam.

“Mau mendatangkan hujan? Mau jadi dukun?” suaranya sangat berat, mirip palu yang dikeprukkan ke pelipisku. “Pak, Pak, mbok ya kau ini jangan nurutin kepercayaan kuno itu. Malu kalau ketahuan tetangga! Coba, Pak, mau ditaruh di mana muka kita kalau ada yang tahu dan cerita ke orang-orang, ‘Pak Iyon itu rupanya kolot banget, ya? Masak, anak kembarnya diadu, katanya sebagai upacara minta hujan.’ Aku yang malu, Pak! Apa kata teman-teman arisan nanti.”

“Kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Sebentar-sebentar teman-teman arisan, hah!” suaraku sengak, “apa kau tak ingin hujan turun?!”

“Ya ingin, Pak, tapi...” suaranya kendor.

“Makanya, jangan cerewet!”

“Hah,” dia mendengus lalu masuk kamar dan tak muncul lagi sampai Pak Pri, yang setia mengantarku ke kantor, melarikan mobil dari pekarangan rumah.

“Pak Pri, sampeyan percaya sama sesajen?” kataku tak bersemangat, ketika lampu merah menggencetku dalam bising knalpot.

“Sesajen untuk, Pak?”

“Ya. . . ehm, semisal minta hujan?”

“Dulu sih di kampung saya sering ada upacara begituan, Pak, katanya sih bisa mendatangkan hujan.”

Tiban?!” tukasku.

“Bukan, kami menyebutnya sammpyong.”

“Ya, Tiban, sampyong, dan ojung sama saja hakikatnya, hanya mungkin caranya sedikit berbeda. O ya, sampeyan tahu musik pengiring upacara itu?”

“Tahu, Pak, saya pernah dengar.”

“Sayang sekali saya tak sempat merekamnya sewaktu mudik kemarin. Padahal saya sempat menyaksikan ojung, lho.”

Pak Pri diam.

“Sayang ya,” gumamku lagi.

“Kalau Bapak mau bersabar, saya punya seorang teman pemusik yang hobi mengoleksi berbagai jenis musik daerah. Barangkali dia menyimpan rekaman musik minta hujan itu..”

“Benar?”

“Ya, tapi saya tidak janji lho, Pak.”

“Ya, ya, cobalah sampeyan usahakan.”

Pak Pri mengangguk.

Aku tersenyum kecil. Seuntai harapan menggelantungi pematang bibirku. Mobil terus melaju. “Pak Pri, bagaimana kalau kita menggelar ojung di sini? Bukankah telah sangat lama tak turun hujan?”

Pak Pri tertawa kecil, “Orang Jakarta mana ada yang percaya begitian, Pak.”

“Ya, kita coba saja.”

“Pak Pri mengekeh, “Nanti kita dikira gila lho, Pak.”

“Ha. . . ha. . .”

***

Menjelang pukul sebelas, Pak Pri muncul di ruang kerjaku. Ia tersenyum lebat—dan kuharap mimpi itu telah nyata. Setelah duduk, ia menjulurkan sebuah kaset.

“Betul ini okol, Pak?!”

“Iya, Pak, kata teman saya, kaset beginian langka sekali. Ya, maksudnya, jangan sampai hilang.”

Aku mengangguk girang lalu kuminta ia menyiapkan mobil untuk pulang. Satu di antara sekian syarat ojung telah kukantongi—dan  bukan mustahil aku benar-benar bisa mementaskan ojung di sini, di antara orang-orang modern yang hanya punya akal dan kepercayaan, lalu guntur menggelegar, awan bergolak, gerimis berjatuhan, kian deras, dan seluruh penjuru Jakarta basah kuyup—yang akan memaksa mulut metropolis melongo layaknya kardus kosong melompong diterjang angin puting beliung.

Jalanan berantakan; beginilah citra sebuah kota besar. Kendaraan yang melibas-libas laksana arak-arakan iblis yang siap menghancurkan seisi Jakarta. Asap-asap hitam beterbangan. Udara sengak. Keringat gerah mulai meminyaku tubuhku, kulihat pak Pri mengusap keningnya berkali-kali.

“AC-nya dinyalakan, Pak?” katanya menawarkan, meski kutahu sebetulnya ia mulai tak tahan dengan panasnya jalanan.

“Tak usah,” sahutku pendek.

“Tapi, udara benar-benar kering, Pak.”

“Ya, biar saja. Saya ingin menikmati gersangnya Jakarta. Saya ingin tahu rasanya kalau hujan tak kunjung jatuh di sini.”

Pak Pri tak menyahut—kutahu sepenuhnya ia menuai kecewa. Mobil terus melaju, membelah kemerontang. Jika tiba-tiba hujan turun tentulah yang kini kurasakan hanyalah desiran angin dingin, sejuk, dan menyegarkan

“O ya, Pak, tolong kasetnya diputar,” kataku sambil menjulurkan rekaman okol.

Pak Pri melaksanakan perintahku—dan suara okol lamat-lamat menciumi pendengaranku. Rasa gerah seketika lenyap. Udara panas hengkang. Awan serentak bergulung-gulung legam, disusul hentakan petir dan guntur. Berkali-kali Bugik menghantamkan pecutnya ke tubuh Mat Tapit, dan sebaliknya, terus-menerut. Saling serang. Menghindar dan menangkis. Pecut menggelegar, menyayat kulit. Punggung dan dada mengelupas. Perih, darah menetes. Se penang cangka bergolak. Sorak menghentak. Awan berarak. Teriakan-teriakan sengak. Lalu air-air lembut pun berjatuhan bagai buah-buah duwe’ dihembus topan.

Awan kian kental, “Mendung ya, sepertinya akan turun hujan,” kataku bersemangat.

“Iya, Pak. Kemarin juga begini, tapi hujan tak pernah turun.”

Aku tersenyum kecil, agak ketir. Tapi, keyakinan itu kian berkecambah di ladang otakku. Sebentar lagi berbunga dan berbuah. Bukan mustahil hujan ang didamba akan benar-benar datang bila persyaratan ojung dipenuhi. Kembali kutepuk bahu Pak Pri, ia melirikku lewat spion.

“Sampean mau ikut.”

“Ikut apa, Pak”

“Minta hujan!”

“Mau menyelenggarakan upacara itu, Pak?”

“Ya!”

Pak Pri diam sejenak, lalu, “Apa Bapak tidak takut disebut gila sama tetangga?”

Aku menggeleng—meski sebenarnya rasa ragu masih saja mengiris-iris batinku.

***

Sehabis makan siang, kuempaskan tubuhku di springbed. AC kamar kumatikan dan kuputar balik okol. Angin gersang menerabasi jendela, menggoyang-goyang gorden. Kuperbesar volumenya. Suara dung-dung mengurung dua pemuda bertelangjang dada, kepala berbalut rapi, tangan kanan mencengkeram pecut rotan, tangan kiri dililiti kain sarung yang berfungsi sebagai tameng. Kembali kuperkeras. Kian keras; seiring pekik sakit kulit yang mengelupas terlecut rotan. Teriakan penonton yang riuh laksana amarah lebah-lebah yang terusik. Udara perlahan mendingin. Langit meredup. Kian petang. Kembali kubesarkan volumenya. Terus membesar, memekik-mekik, dan meledak.

Aku tersentak mendengar lengkingan membahana dan buru-buru menghambur keluar. Sekuat tenaga kuterjang pintu yang menghubungkan dapur dengan halaman belakang.

Aku terkesirap.

“Bapaaak. . .!” istriku menjerit lagi. Histeris—lalu tubuhnya meluruh ke lututku yang gemetar. Mataku menancap bagai paku beton. Udara benar-benar dingin. Langit langit sangat hitam. Awan bergelombang. Guntur menggelegar. Dan teramat lamat, kurasakan sesuatu yang sangat lembut, begitu halus, dan teramat dingin menyentuh rambutku, wajahku, lenganku, kakiku.

Kenapa jadi begini, Pak?!” Sarinem mengguncang bahuku kuat-kuat. Aku benar-benar beku. Rasa lembut dan dingin kian membasahi kepalaku. Aku menjelma patung. Hanya kelopak mataku yang mendelik tajam ke onggokan pemandangan  yang sangat mengerikan. Sarinem kembali menjerit, berteriak-teriak minta tolong. Suara-suara bergedebuk kian keras, mendekat; lalu menyembullah raut-raut yang telah kukenal, menatap ngeri ke hadapanku.

“Tuhan, gile bener!”

“Pembunuhan?!”

“Bukan, bukan, bukan pembunuhan!” Sarinem menatapku yang masih patung.

“Daman dan Maman saling pukul dengan samurai Tuhan!”

“Busyet, dah!”

“Tuan, Tuan, sadar, Tuan,” Sarinem kembali mengguncang tubuhku. “Hei, ayo, kok cuma melongo?! Tolong ibu, angkat ke dalam! Ayo, pindahkan Daman dan Maman ke rumah! Dasar! Apa kalian tidak tahu ini hujan deras sekali, heh?!”

Barulah mereka berarak-arak menggotong tubuh istriku yang terkulai, juga Daman dan Maman yang bersimbah darah. Aku masih berdiri kaku ketika seberkas cahaya cemerlang di antara kelam cuaca mencuat dari balik putik-putik hujan, lalu membopongku, dan menidurkanku di kasur. Matanya mengawasiku lekat-lekat.

“Hujan turun.”

Mataku berkerjap sekali.

Ojung berhasil kau rayakan di sini, di antara manusia-manusia yang tak percaya.”

Mataku berkerjap sekali lagi.

Lalu hilang tanpa bekas. Aku masih terkapar sendiri, tak merasakan apapun—kecuali gelegar okol yang masih berdentang-dentang menelungkupi liang telingaku.

 

Madura-Yogyakarta, Oktober 1998

 

Catatan:

1.    Bukot adalah alat pelindung kepala yang dibuat dari anyaman daun kelapa, kemudian dibungkus karung goni, diikat dengan kepala tali sehingga membundar dan di bagian muka diberi tali-temali pelindung agar tidak mengganggu pandangan mata.

2.    Babutto adalah wasit pertandingan yang biasanya diperankan oleh tokoh Ojung.

3.    Se penang cangka adalah nama sebuah sumur tua di Desa Aeng Mera, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep, yang selalu dijadikan pusat pelaksanaan Ojung.

4.    Tiban adalah permaina sejenis ojung, khas daerah Trenggalek dan Tulungagung.

5.    Sampyong adalah permainan sejenis ojung, khas daerah Lumajang.

6.    Okol adalah perangkat gamelan yang mengiringi ojung, yang terdiri dari sebuah gambang tua dan dung-dung.

7.    Duwe’  adalah jenis pohon buah berwarna hitam yang tumbuh liar dan amat digemari anak-anak desa.

8.    Dung-dung adalah alat musik sejenis kendang.

 

*Edi AH Iyubenu lahir di Sumenep, Madura. CEO Diva Press dan Kafe Basabasi Yogyakarta.

*Cerpen ini terhimpun dalam Kumcer “Ojung” (LKiS, 2003). 

Post a comment

0 Comments