TIDAK seperti biasanya Arsumo berjalan tergesa-gesa. Melangkah secepat kilat. Ia bagaikan mahluk berkelebat meliuk-liuk mengimbangi badannya yang gagah. Langkah kakinya semakin gesit menyusuri jalan yang penuh semak-semak dan rerimbun daun pohon siwalan. Sarung bermotif kotak-kotak  sedari tadi melingkar di perutnya, kini ia selimpangkan di kedua bahunya. Mungkin, agar ia semakin leluasa untuk berjalan.

Matahari semakain surup, sebentar lagi akan benar-benar menjadi petang yang gelap. Desir angin terasa sangat sejuk melambai-lambaikan padi yang sudah mulai menguning. Di situ Arsumo beristirahat, di warung Masruto, tempat menjaga padi-padinya dari serangan burung. Peluhnya bercucuran, kaos biru tua yang ia pakai basah dengan keringat. Lelaki dua anak itu menyandarkan tubuhnya di pilar warung, memandang sekeliling penuh seksama meneliti hamparan padi di depan matanya.

Adzan menggema di langit kampung Tarebung. Arsumo semakin kasar menapaki jalan setapak, bergerak secepat angin dengan emosi meletup-letup di dadanya. Arsumo, lelaki berambut gimbal, kumis tebal, dan berbadan gagah itu membanting pintu rumahnya dengan sangat kasar.

“Dasar banjingan! Seenaknya saja Sama’on menuduhku atas ke kalahan Sukam di pemilihan kepala desa kemarin.” Emosinya semakin memuncak, tak menghiraukan Satiha yang kaget dengan perlakuannya. Satiha hanya mematung, berdiri melihat suaminya meracau.

“Aku tak terima ini. Pasti ada orang yang sengaja memojokkan semua ini padaku.”

Satiha baru mengerti bahwa perkara pemilihan kepala desa dua hari lalulah yang membuat Arsumo marah-marah bak cacing ditaburi abu.

“Sudahlah kak, jangan terlalu diambil hati. Biarkan semuanya berjalan, pasti akan terungkap siapa dalang dibalik semua ini,” ucap Satiha memberanikan diri menenangkan Arsumo.

“Tapi masalahnya ini menyangkut harga diri. Sebagai laki-laki aku harus pantang menghadapi ini.”

“Iya, tapi mau bagaimana lagi semua belum ada bukti siapa yang mengkhianati Sukam di pemilihan kemarin. Aku percaya pada mu.” Satiha hanya bisa menasehati Arsumo. Tak berani menyela apalagi ikut campur dalam permasalahan yang menimpa suaminya.

Satiha memang istri yang sangat harmonis, bisa di andalkan dalam  situasi apapun, terlebih dalam persamalahan seperti ini ia mampu sedikit meredam emosi Arsumo. Pantas saja dulu banyak laki-laki memperebutkannya untuk di persunting sebagai istri, karena  Satiha terlahir dari keluarga berada dan cukup terpandang di kampung Tarebung. Terlebih ia adalah kembang desa di masanya sehingga tak heran sampai detik ini kecantikannya masih melekat  di usia yang tak lagi muda.

***

Langit tampak cerah. Bulan sabit melengkung serupa celurit menggelantung di atap rumah Arsumo. Suasana sepi, hanya suara gesekan bambu dibelakang rumah berderu-deru. Dingin terasa mencabik-cabik kulit, ditambah suara burung hantu di ujung tegalan membuat malam nampak sangat seram.

Angin bertiup pelan, memperlambat gerakan daun siwalan di depan halaman Arsumo. Lampu teplok di dinding rumah Arsumo meliuk-liuk bertahan untuk tetap menyala. Secangkir kopi, dan rokok Oepet menemani Arsumo. Ia menjatuhkan pantatnya di atas kursi. Kala itu Arsumo kembali mengingat-ingat kejadian kemarin saat Sukam kalah di pemlihan kepala desa. Pikirannya bercabang-cabang hingga tak hanya peristiwa itu yang terputar dalam ingatannya. Tepat dua puluh tahun lalu saat dirinya memperebutkan Satiha dengan Sama’on juga melintas dalam ingatannya. Saat itu Sama’on kalah adu ilmu kanuragan, hingga Arsumolah yang berhak mempersunting Satiha.

“Apa mungkin ini ulah Sama’on?” gumam Arsumo. Kembali menyeruput kopi buatan Satiha.

“Jika memang begitu, kenapa harus dengan cara seperti ini. Kenapa tidak langsung saja Sama’on datang kepadaku jika punya dendam.” Arsumo hanya diam. Pikiranyya melayang-layang dan kembali menduga-duga.

“Hik-Hik-Hik…!” suara tangis terdengar dari dalam. Arsumo kaget. Menghampiri Satiha yang tersedu-sedu dengan isak tangisnya.

“Ada apa? Kenapa kamu menangais?” tanya Arsumo. Mengelus-ngelus pundak Istrinya.

“Aku malu kak. Kata orang-orang kamu menghianati Sukam karena di sogok Zaini. Kenapa kamu lalukan semua ini, apa yang kurang dari Sukam, dia telah banyak membatu keluarga kita. Tapi kenapa kamu melakukan itu.” Satiha semakin larut dalam tangisnya.

“Kata siapa?”

“Di luar sudah banyak yang mengunjing keluarga kita. Aku dengar sendiri tadi saat belanja ke warung. Saat itu Sama’on juga ada disana, dia yang mengatakan itu semua dan aku sangat jelas mendengarya.”

“Sudah ku duga ini pasti ulah Sama’on!”

Harga diri Arsumo terasa terinjak-injak. Apalagi saat tahu bahwa Sama’on yang bermain di balik semua ini. Amarah tak lagi bisa ia tahan. Rasa dendam mencuat dalam dadanya, ingin membalas atas perlakuan Sama’on yang menjatuhkan harga diri dan nama baik keluarganya.

Tatapannya tajam pada suatu titik. Di lihatnya celurit di atas pintu kamar, sorot matanya membidik setiap lengkungan celurit itu.

“Harus segera aku selesaikan masalah ini.” Arsumo beranjak keluar rumah.

“Kak! Mau kemana kamu?”

“Mau menebas kepala Sama’on.” Jawab Arsumo singkat. Tak lama Arsumo hilang ditelan kelokan.

Dua jam sudah Arsumo pergi, sampai detik ini belum juga kembali. Satiha dihantui rasa cemas. Pikirannya kalang kabut, kacau tak karuan. Di luar pagar burung gagak bersahut-sahutan, biasanya menjadi pertanda ada orang yang telah meninggal. Tapi, Satiha menepis semua itu ia memilih berfikir jernih dan kembali menunggu kepulangan Arsumo.

Rasa khawatir semakin merasuk jiwa Satiha. Ia memilih menyusul Arsumo yang tak kunjung kembali. Satiha melangkah dengan tertatih-tatih menyusuri jalan setapak. Di sepanjang jalan doa-doa ia panjatkan pada yang maha Kuasa, agar Arsumo diberi kesalamatan.

“Satiha… Satiha…Satiha!” Suara Sukam memanggil Satiha dari belakang.

“Ya, kenapa? Apa kamu melihat suamiku?”

“Suamimu… Suamimu!” ucap Sukam terpotong-potong.

“Ada apa dengan suamiku. Dan dimana dia sekarang,” tanya Satiha penuh cemas,

“Suamimu… Arsumo telah meninggal.”

Seketika tubuh Satiha rubuh ke tanah. Tidak habis pikir semua berakhir dengan ini, kematian. Air matanya tak bisa ia bendung lagi. Tangis dan kematian Arsumo memecah hening langit kampung Tarebung .

***

Mendung menyelimuti langit kampung Tarebung, peristiwa kematian Arsumo dan Sama’on menyebar ke pelosok-pelosok pulau Madura. Daun-daun berguguran mengiringi tetesan air mata Satiha. Satiha merasa terpukul, bathinnya terasa hancur.

“Haruskah semua berakhir dengan cara seperti ini. Haruskah celurit menjadi tulang laki-laki Madura.” Air mata Satiha tumpah di atas batu nisan Arsumo.

 

Toteker, 26 Maret 2019.

*Helmy Khan Merupakan Alumni PP. Sabilul Muttaqin Sekarang Tercatat Sebagai Mahasiswa Institut Kariman Wirayudha (INKADHA) Sumenep &  Aktif di LPM Dialektika.

*Cerpen ini tayang di Koran Kabar Madura pada 05 April 2019