Celurit Lelaki Idiot


SAHMAT melinangkan air mata melihat keluguan anaknya. Kerap matanya pejam, masih dengan rembesan bening, kadang menetes ke bibir cangkir yang tinggal diringkuk ampas hitam di depannya.

Ia hanya bisa geleng kepala, dengan sepasang bibir terkatup dan hati yang kecut, kala matanya melirik sebilah celurit yang bergantung di tembok rumahnya. Ia percaya arwah moyangnya karib dengan celurit itu. Tapi Sahmat tak punya cara untuk menyampaikan pesan moyang kepada anak satu-satunya yang idiot, bahwa kehidupan harus dilalui dengan serius, bahwa martabat keluarga harus dijaga dengan celurit.

Sahmat bingung. Ia hanya bisa berbagi dengan lirik kesunyian. Berdialog dengan suara hatinya sendiri. Sebelum akhirnya beranjak pergi dari ruang depan rumahnya, menuntaskan air matanya di kamar yang senyap.

***

Haris masih terus tertawa bahagia dengan burung-burungan tanah yang ia miliki. Ia coba layangkan dengan tangan kanannya, sambil kadang ia tukikkan ke tepi meja, beranjak diterbangkan ke sandaran kursi, lengkap dengan bunyi tiruan yang terus ia desiskan dari bibirnya yang hitam.

Haris sangat enteng menyikapai setiap yang terjadi pada dirinya. Ia menganggap kehidupan tak perlu dilalui dengan keseriusan, dan ia hanya butuh celurit mainan, bukan celurit sungguhan.

Perihal celurit yang bergantung di tembok, hanya ia lihat begitu saja. Kalau diambil, tak lain kecuali digunakan sebagai alat mainan. Perang-perangan entah dengan siapa. Ia melompat-lompat sembari menyabetkan celurit itu di udara, seolah ada lawan yang tengah dihadapi.

Beberapa saat setelahnya, celurit itu ia lempar begitu saja ke pojok kamar. Membiarkan celurit sakral itu telanjang sendirian, penuh balutan sawang dan debu. Dan Haris keluar ruangan sambil nyanyi-nyanyi nyaring, sedang tangannya kembali menimang burung-burungan tanah kesayangannya.

Setiap kali Haris menelantarkan celurit itu di lantai, Sahmat akan sigap mengambilnya. Membersihkannnya dengan kemucing, dan digantungkan kembali di paku karat yang tertancap di tembok.

Sahmat juga rutin mengasapinya dengan kemenyan setiap malam Jum’at. Merendamnya ke semangkuk air kembang. Dan tekun mengaji di bawah celurit itu. Matanya sering menatap senjata tajam itu dalam waktu yang lama. Seperti sengaja menyesap bayangan celurit itu agar menjelma kekuatan gaib dalam tubuhnya. Tapi di akhir tatapannya, ia lebih sering terlihat menangis. Menunduk mengatur isak, tetes air matanya ia coba beri haluan lurus ke kain sarung yang mengembung di bagian lututnya. Sekali senggang, ia seka air matanya itu dan wajahnya dipaksa mendongak, meski kelopak matanya sedikit membengkak.

“Haris! Usiamu sudah dua puluh lima tahun, Nak. Teman seusiamu hampir semuanya sudah berkeluarga, bahkan sebagian telah punya anak. Sedang kamu sendiri masih tak bisa lepas dari burung-burungan, mobil-mobilan dan aneka macam mainan anak lainnya. Aku tak mengerti, bagaimana cara yang tepat untuk mewariskan celurit ini kepadamu?” suara Sahmat bertindih isak. Tangan kanannya mengelus dada. Sejenak membuang pandangannya ke jendela. Tapi panorama tetap monoton. Langit masih hitam. Hujan bagai jarum-jarum gaib menjahit tanah dengan suara setengah berdentam.

***

Suatu senja yang disilir angin pelan, saat langit ditumpah warna jingga, mumpung ada kesempatan, duduk berdua dengan anaknya di beranda, coba Sahmat ceritakan kepada Haris tentang celurit itu. Haris menaruh maobil-mobilannya di atas meja, pandangannnya yang lugu, kadang fokus ke bibir ayahnya, membuatnya melipat senyum, memamer barisan giginya yang kuning. Dan di sela waktu, —yang paling banyak ia lakukan—adalah abai pada cerita ayahnya, memilih fokus pada roda depan mobil-mobilannya yang patah. Tapi Sahmat tetap tak menghentikan ceritanya, terus menuturkannya dengan suara yang nyaring. Butiran keringatnya bertebar di keningnya.

Celurit itu dibuat oleh salah seorang leluhur mereka pada zaman Jepang. Berkali-kali dibawa bertapa, dan ditempa dengan aneka mantra. Berulang kali dibasuh dengan air putih yang sudah dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Berkali-kali direndam ke dalam air kembang yang berasal dari tujuh benua. Berkali-kali pula diasapi kemenyan. Dan setiap tanggal 1 Muharram, sang pemilik harus membuat bubur ketan merah berkuah santan dengan param irisan pandan yang kemudian dibagi-bagikan kepada tetangga dan kerabat. Setiap tanggal 30 Ramadan, sang pemilik harus melakukan ritual khusus berupa penyembelihan ayam yang bulu dan kulitnya serba hitam. Darah ayam itu diteteskan ke mata celurit itu hingga berlumur. Demikian Sahmat dengan napas setengah tersengal, terus bercerita kepada anaknya.

“Sejak dibuat, celurit ini sudah menghabiskan enam nyawa. Pokonya, celurit ini akan beringas menghabisi setiap yang dianggap musuh oleh pemiliknya,” tutur Sahmat kepada Haris, ia sedikit menggerakkan bola matanya ke samping, sambil menghirup napas panjang dan melepaskannya perlahan.

Haris menyimak dengan tatap mata kadang menjeling, sambil sedikit memiringkan kepala untuk menambah konsentrasinya. Tapi tak jarang pula ia abai pada cerita ayahnya, tatapnya alih pada mobil-mobilan yang ia pegang. Kemudian menjalankan mobil-mobilan itu ke tanah, meski dalam keadaan roda depan sebelah kanan patah. Mulutnya menderu, meniru suara mobil yang sedang melaju.

Di akhir cerita, Haris hanya punya satu kesimpulan. Bahwa celurit itu senjata sakti, bisa membuat pemiliknya mencapai apa yang diinginkan. Sedang Sahmat masuk ke dalam rumahnya dengan ragam kecamuk mengamuk dada, bibirnya rapat terkatup, dan matanya berlinang air mata.

***

Dengan sedikit membungkuk, Sahmat bisa mengatur pandangannya melalui lubang kunci. Ia bergerak dengan sangat hati-hati. Agar Haris tak tahu jika ia sedang diintip. Celurit itu gagah tergantung di tembok, tepat di atas Haris yang sedang bersimpuh, sepasang matanya yang lembap, fokus tertuju ke celurit itu. Bibirnya kering, berselaput putih tipis, bergetar pelan. Ada kata-kata yang ia ucapkan dengan nada sedih.

“Wahai celuritku yang sopan! Aku lebih suka kau diam. Aku tak ingin kau menumpahkan darah lagi. Aku hanya ingin kau jadi celurit dermawan yang bisa memberiku mobil-mobilan, burung-burungan dan mainan lainnya, karena hidup ini adalah untuk berbahagia, bukan untuk bertengkar,” Haris mengangkat sepasang tangannya ke arah celurit itu, seolah ia memohon agar keinginannya segera terkabul. Ia mengulang-ulang perkataannya sambil bungkuk-bungkuk hingga rambutnya menyentuh lantai.

Sahmat hanya bisa menguntai senyum dengan ulah anak idiotnya itu. Mengelus dadanya perlahan, sembari menyandarkan tubuhnya ke tembok, mendongak ke plafon rumahnya, serasa tengah memikirkan sesuatu.

Lalu terdengar engsel pintu yang diputar, gesek pintu yang didorong, Haris keluar membawa mobil-mobilannya sambil terbahak-bahak, wajahnya berbinar. Matanya bening bagai selaksa kolam sehabis subuh.

“Sebentar lagi, impian Haris akan tercapai, Yah. Horeee!!” teriak Haris sambil melompat, sebelum akhirnya menepuk bahu Sahmat dengan sangat lembut.

“Impian apa, Ris? Tanya Sahmat singkat.

“Aku akan punya banyak mainan baru, Yah.”

“Dari mana akan kaudapatkan mainan itu?”

“Dari celurit pemberian Ayah itu.”

“Apa kamu yakin celurit itu bisa memberikan mainan kepadamu?

“Sangat yakin, Yah,” ujar Haris sambil mengangguk-angguk, dan berlalu begitu saja, masih dengan tawa-tawa lirih kebahagiaan. Sahmat menggeleng-geleng kepala. Kemudian sejenak ia melongo di daun pintu yang masih terbuka. Matanya haru melihat celurit sakti itu tetap tergantung di tembok.

***

Dada Sahmat seperti dihujani aneka kembang. Kesejukan jalar, menyentuh setiap urat di tubuhnya. Matanya terasa teduh melihat cara Haris merawat celurit itu. Haris yang idiot, yang selama ini kerjanya hanya makan, tidur dan bermain, ternyata bisa juga mengasapi celurit itu dengan pembakaran kemenyan. Menyiramnya dengan air kembang dan menaburinya dengan aneka kelopak bunga.

Tak ada rona muram lagi di wajah Sahmat. Sebagai orangtua, ia sangat bahagia melihat anaknya bisa menunai ritual jaga pusaka yang diajarkan leluhur. Ia baru tahu, ternyata di balik ujian idiot yang Haris alami, masih meyimpan banyak mutiara. Sahmat sangat senang ketika masuk ke kamar anaknya, ada ruap harum kembang dan kemenyan, irisan halus kelopak bunga warna-warni bertebaran di lantai. Bersekutu dengan aneka maianan Haris yang juga berserakan. Sahmat bersyukur, meski di usia ke-27 tahun Haris masih suka bermain mobil-mobilan, tapi ia sudah bisa merawat celurit dengan benar, sebagaimana yang disarankan para pendahulu.

***

Haris sering tertawa keras. Tangannya mengayunkan kapal-kapalan baru yang besar. Kapalkapalan dengan warna eksterior dominan silver itu dilengkapi remot kontrol, tapi Haris tak bisa menggunakannya. Beruntung ia merasa kebahagiaannya tak terkurangi meski tak bisa menggunakan remot. Ia tetap mondar-mandir ke sana kemari, mengayun kapal-kapalannya, seolah sedang terbang, mulutnya meniru bunyi pesawat.

Sahmat mendekat, bermaksud turut merayakan kebahagiaan yang sedang diraih anaknya. Tekun bibirnya melinting senyum.

“Apa keinginanmu benar-benar tercapai berkat celurit itu, Ris?” tanya Sahmat tegas.

Haris bergeming, menoleh ke wajah ayahnya dengan tatap yang dingin. Berkedip lirih bagai kunang-kunang.

“Iya, Yah. Berkat celurit itu, keinginan Haris tercapai. Haris menukar celurit itu dengan kapal-kapalan ini kepada Pak Sirat,” ungkapnya enteng, membuat senyum di bibir Sahmat pudar seketika.

Gaptim, 04.18


*A. Warits Rovi Lahir di Sumenep, Madura, 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media Nasional dan lokal Ia juga Guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jl. Raya Batang-Batang PP. Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472. 

*Cerpen ini tayang di Padang Ekspres, 08 Juli 2018. sumber naskah lakonhidup.

Post a comment

0 Comments