Benang Wasiat

MARNI dikenal sebagai penjahit milenial dengan keindahan menjahit baju pengantin di kampungnya. Setiap kali ada orang yang mau menikah, pasti ia selalu dipercaya untuk untuk menjahit kain kebayanya, apalagi ia sangat paham dengan keadaan, paham terhadap apa yang diimajinasikan terhadap bajunya. Kata orang, ia bisa menjahit kebahagiaan, ia punya jarum dan benang yang diwasiatkan ibunya berapa bulan lalu, sebelum meninggal akibat kecelakaan sepada motor, saat mengantarkan pesanan baju pengantin.        

Ayah pernah bercerita perihal seorang penjahit yang sangat ramah yang ia kenal. Ya, ibunya sendiri, meski ayahnya tidak bisa melihat sosok perempuan itu lagi, kecuali foto kenangan yang masih terpampang di dinding tua, serta mesin jahit yang biasa ibunya kenakan aktivitas sehari-hari.

"Ibumu sangatlah rajin dan telaten menjahit kain-kain menjadi bermakna bagi pengantin," ucap Ayah sambil menghisap rokoknya.

Kopi hangat menyentuh tenggorokan, derit suara mesin jahit selalu mengingatkan ayahnya, kepada sosok perempuan yang tak pernah lelah menyempurnakan kebahagiaan terutama keluarganya.

"Marni, Ayah selalu memandangmu dari balik pintu, ketika menjahit baju pengantin, persis sama ibumu," ucap Ayah lagi.

Marni tidak terlalu banyak tahu tentang kenangan ayah dan ibunya. Di waktu mulai menjahit, barangkali ada yang lebih menarik dari sebuah baju pengantin, atau ada makna tersendiri, ia hanya mengangguk saja, melanjutkan pekerjaan siang atau pun malam tetap saja tak ada waktu yang gagal, sebelum semuanya benar-benar selesai.

 "Nak, pakailah benang putih ini," kemudian menjulurkan sekotak kecil berisi gumpalan benang peninggalan ibunya, lalu ia pun langsung membuka kotak kecil itu.

“Ini benang apa, Ayah? Dapat dari mana kotak ini? tanya Marni sambil menatap ayahnya.

“Itu benang peninggalan ibumu, Nak. Ayah mengambil dari lemari belakang,” sahutnya.

***

Di hari yang begitu cerah memainkan cahaya, Marni duduk di bawah naungan pohon bambu di halaman rumahnya, ia berbicara pada dirinya sendiri. ”Seorang penjahit” itu adalah menjahit nasibnya sendiri agar lebih baik nan indah,  kenapa begitu, sejak ia menjadi seorang penjahit ia terhindar dari pengangguran dibandingkan teman-temannya yang sulit menemukan pekerjaan di kampungnya, kecuali merantau ke kota.

Ia menjadi seorang penjahit bukan hanya untuk semata-mata mencari uang, menjahit itu ibarat melukis keindahan, akan tetapi ada yang mesti dilakukan sebagai penerus ibunya yang sudah beberapa bulan meninggal akibat kecelakaan sepeda motor, saat mengantarkan pesanan jahitan ke kampung sebelah, dan sempat dirawat di puskesmas walau berujung kematian, sebelum meninggal Ibu sempat mengucapkan kata-kata pada Marni dengan suara serak,”Nak, jika nanti Ibu tidak lagi berada di sampingmu, kamu harus belajar mandiri tanpa harus menyusahkan ayahmu.”

Perkataan itu sering muncul dalam pikiran Marni, apalagi ketika mau tidur semua kenangan ibunya pasti selalu ada dalam hatinya. Andaikan usia ibuku masih panjang, pasti akan bahagia dengan keluarga yang utuh, bermain senyum, canda tawa bersama dan lainnya, gumamnya. Sekarang harus menjadi ibu rumahtangga bagi ayahnya. Sebab, ayahnya tidak ingin lagi menikah kecuali dengan ibunya Marni. Ayahnya dulu pernah berjanji pada ibunya kelak diantara kita berdua tiada, tidak akan menikah lagi dan sebaliknya ibunya, dan Marni pun merasa kasihan pada ayahnya yang sudah lama kehilangan seorang istrinya, mau tidak mau ia hanya bisa pasrah dan berdoa yang terbaik untuk ayahnya.

“Masih belum selesai jahitannya. Nak,” ucap ayahnya dari balik pintu tamu.

“Belum, Ayah.  Sebentar lagi sudah kelar.

“Istirahat dulu biar tidak kelelahan.

Ayah yang baru saja pulang kerja bangunan di rumah tetangga sebelah, ia langsung ke dapur,  lalu ayah mengambilkan air putih untuk  diminum Marni di saat ia sedang sibuk menjahit. Dan membuatkan bantal untuk sandaran kursi jahitnya agar Marni merasa lebih nyaman Dan tidak sakit punggung, perhatian yang luar biasa seorang ayah Marni, Bagaimana tidak, semenjak istrinya meninggal, ia hanya fokus membahagiakan Marni itu, anak perempuan semata wayangnya, yang mesti harus dirawat sebelum anaknya ada yang meminangnya, angin lembut mengurai kelambu di jendela yang sedikit terbuka, menyegarkan tubuhnya, meski terasa lelah ia tetap tabah menyelesaikan tugasnya agar pelanggannya tidak kecewa, terhadap waktu yang sudah ditentukan terutama kualitas jahitannya agar tetap rapi. Kantuk sudah menghampiri dirinya, kedua matanya sudah mulai agak rapat, tanganya sudah mulai pegal. Lalu ia memutuskan berhenti menjahitnya dan akan dilanjutnya pagi hari.

***

Kemudian ia berjalan ke kamarnya dengan pelan, takut mengganggu ayahnya yang sudah pulas dalam kantuknya, lalu menyelimuti ayahnya dengan selimut yang biasa ia pakai saat tidur.

”Selamat tidur, Ayah. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga ayahnya dan mengecup keningnya. Ia menatap ayahnya dan foto ibunya di dinding tua berlumut tak terawat. Bukanya tidak mau memperbaiki, memang masalah ekonomi tidak mendukung untuk memperbaiki dinding yang acak-acakan, apalagi pengasilannya hanya cukup untuk menjalankan hidup sehari-hari.

Marni tersentak bangun tengah malam dan berteriak, bersijingkat. Napasnya keras dan terombang-ambing, entah kenapa ia tiba-tiba terbangun tidak terbiasa, atau ia bermimpi buruk atau ada hal yang aneh dalam tubuhnya, dengan tak sadar ayahnya terbangun mendengar teriakan Marni itu, langsung menghampiri ke sampingnya,

”Mimpi buruk apa yang kau di dapatkan, Nak? Sebegitu nyaring ke kamar Ayah,” dengan terheran-heran ayahnya bertanya.

“Tidak apa-apa, Ayah. Aku hanya bermimpi bertemu dengan Ibu, kata Marni sambil mengeluarkan napasnya.

“Ada apa dengan mimpi itu, Nak?” ayahnya bertanya lagi.

"Ibu bercerita, dalam kotak ada tulisan di bawahnya."

Betapa ia penasaran, pesan ibunya dalam mimpi itu, atau mungkin mimpi hanya sebuah ilusi. Tapi tidak mungkin terjadi, mimpi itu hanya firasat batin saja, Marni pun masih setengah percaya hal itu. Bahwa kejadian itu memang benar adanya, mimpi bisa menjadi kenyataan meski tidak secara logis.

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi.  Daun-daun ranggas atas keserakahan usia, udara menyapa mengecup dingin Subuh, membiarkan tubuhnya dinikmati sapuan rahmat Tuhan yang Kuasa.

"Sudah mau Subuh, Nak. Wudhulah, biar pikiranmu dan tangan dan tak tegang seperti tadi," kata ayahnya sambil mengusap rambutnya yang berantakan.

"Iya, sholat Subuh berjamaah, Ayah," pinta Marni.

"Baik lah, Nak.

***

Ia sudah berapa tahun menjadi seorang penjahit. Penjahit kebahagian. Sebagai penjahit, ia tahu apa yang harus dilakukan terhadap gaya pakaiannya. Marni pun kembali duduk di kursi yang biasa ibunya tempati, kali ini ia menjahit kain batik sepupunya, dengan hidangan gorengan dan kopi hangat. Sebelumnya, hampir berapa minggu benang itu tidak dipakai lagi olehnya, dibiarkan tetap utuh, ia mencoba menyakini wasiat ibunya, serta menyakini adanya tulisan di kotak kecil itu. Dengan menyakininya, ia mencoba melihat kotak kembali, terbungkus kain putih lusuh, sebelum membuka tali kain ia berkata pada hatinya. Benarkah mimpi itu benar-benar benang dan jarum yang akan menjahit nasibku menjunjung kebahagian? . Lalu apa yang dimaksud dengan tulisan dalam mimpinya kemarin.

“Jarak mangajarkan kita banyak hal, saling percaya walau tak bertatap mata, saling mengerti walau tak lagi bersama,” tulisan yang tertera di bawah kotak itu.

“Ia termenung, mulutnya terkatup tanpa suara, seperti ada yang menjahitnya.”

Bahkan Ayah memerhatikanya dari belakang, sedangkan Marni masih saja duduk memegang kotak kecil dan benang di dalamnya.

”Kenapa tiba-tiba sunyi dan sedih? Ayah mulai bertanya.

“Tidak, Ayah.” Kemudian Marni memperlihatkan di bawah kotak kecil berukuran bingkisan sarung itu. Ayah pun juga merasa sedih, melihat pesan yang ditulis istrinya yang sudah meninggal itu. Sunyi belarut keduanya.

“Sudahlah, Nak. Kita harus bersabar dan menjalani apa yang ibumu berikan.”

“Sekarang batik sepupumu kan belum selesai, mendingan kamu kerjakan biar kamu tenang, juga ibumu tenang,” ucap ayahnya.

Kemudian Marni melanjutkan menjahit, dengan mengambil jarum dan benang yang diwasiatkan ibunya, yang baru dibukanya dari kotak kecil itu. Benang itu tampak bersih, mungkin karena dirawat dengan rutin oleh ayahnya. Ia mengambil catatan kecil yang biasa ia mencatat angka-angka, dengan meteran ia mengukur jarak kehidupan, agar tidak terserat dalam keterasingan, Marni kembali mengukur kain batik di atas mejanya, menggunting lembaran yang sudah dianggap tidak perlu,

"Baju ini kok terasa berbeda ya, lebih indah, mungkin karena kualitas kainnya" ia menjahitnya dengan pelan dan sabar, perhalan ia mengerakkan mesinya, menelisik sebentar dalam renungam, Petuah ibunya, "jika kamu memiliki kasih sayang terhadap sesama, lontarkanlah dalam jahitanmu" sekarang ia sangat mengerti, apa yang disebut kotak kecil diwasiatkan ibunya, "menjadi penjahit bukan hanya menjahit pakaian, tetapi menjahit luka, nasib, kebahagian" setiap Marni mengoyangkan jari kanan dan kirinya seperti ada yang mendorong sendiri mesin yang ia kendalikan, atau mungkin roh ibunya yang membantu menjalankan mesinnya, Ah, tidak mungkin.***


Gapura 15 Maret 2020

*Ruhan Wahyudi Penulis menetap di Sumenep Madura, sekarang Mengabdi di MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur, bergiat di komunitas ASAP (Anak Sastra Pesantren) dan KPB. Tulisannya berupa Cerpen dan Puisi, termaktub dalam: Banjarbaru Festival Literary(2019), Festival sastra internasional Gunung Bintan (Segara Sakti Rantau Bertuah) (2019), Sua Raya (Malam Puisi Ponorogo; 2019), Dongeng Nusantara Dalam Puisi (2019), lelaki yang mendaki Langit Pasaman Rebah ke Pangkal (2019) Menenun Rinai Hujan(Sebuku.Net) Mahligai Mengenang Damiri Mahmud, (2020) pringsewu(2020dan lainnya, Puisinya juga tersebar di berbagai media cetak dan online antara lain Radar Banyuwangi, Radar Cirebon, Radar Madura, ,Radar Pagi, Tembi id. Magelang Ekspres, Bangka pos. Tribun Bali, Mbludus.co, ideide.codan lainnya ,juga pernah mendapatkan Anugerah sebagai Puisi Terbaik di Hari Puisi Indonesia Disparbud DKI Jakarta Yayasan Hari Puisi 2019. Antologi Puisinya adalah (Menjalari Tubuhmu di Pundak Waktu) 2019.

*Cerpen ini tayang di Tanjungpinang Pos, edis 04 Juli 2020

Post a comment

0 Comments