Ibu dan Rindu dalam Diam


JAM di komputer kerjaku menunjukkan pukul 04.20 WIB. Adzan Subuh dari masjid kampus seberang kantorku sudah berkumandang. Aku memeriksa layar kompuetrku sekali lagi, memastikan kerjaanku sudah beres. Lantas aku segera beranjak dari ruang kerja menuju musala.

Belum selesai keluh kesahku pada Tuhan di atas karpet suci musala, androidku berdering memecah kesunyian.

“Mbak di mana?” suara adik bungsu bapakku di ujung telepon. Di keluarga kami, aku biasa dipanggil mbak, karena aku cucu perempuan tertua di antara sepupu-sepupuku yang lain.

“Di kantor, Mak. Aku kerja shift malam,” kataku.

“Ada apa? Tumben nelepon pagi?”

Tadi ibu jatuh di depan musala ketika mau salat Subuh,” kata adik adik bungsu bapakku itu dengan suara tersengal-sengal. Dia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, “Darah terus mengucur dari kepala beliau. Kami segera menelepon Kak Maski, minta tolong untuk membawa beliau ke puskesmas. Tapi…”

“Tapi apa?” tanyaku. Perasaanku mulai tidak enak.

“Lalu ibu dirujuk ke rumah sakit kota karena peralatan medis di puskesmas tidak lengkap,” jelasnya.

“Lantas, bagaimana kondisi ibu sekarang?” Keringat dingin mulai menguasai wajahku.

“Bibimu terus menangis dari tadi. Tapi kamu tidak perlu khawatir, ibu sudah ditangani dokter.”

Perempuan sepuh yang kini berbaring di rumah sakit itu adalah ibu dari bapakku dan ketiga bibiku.  Sekarang usianya sudah menginjak 65 tahun. Namun ia tetap rajin nyabit rumput pagi dan sore untuk ternak. Selain itu, beliau juga masih membersihkan halaman dan belakang rumah kami setiap selesai masak di dapur. Perempuan yang selalu sumringah itu menolak ketika aku dan saudara-saudaraku yang lain meminta beliau untuk berhenti dari semua aktivitasnya itu.

Tiba-tiba mukenaku basah oleh air bening dari kelopak mataku. Hatiku rapuh dan seperti mati rasa. Pikiranku tertuju ibu. Beliau memang memiliki riwayat penyakit. Selain mengidap penyakit asma, beliau juga memiliki penyakit kencing manis di kaki kirinya. Jari kelingking kaki kirinya patah karena jatuh saat melewati jalanan sawah yang licin. Konon, beliau jatuh tersandung ketika hendak membawaku ke puskesmas waktu usiaku 1 bulan. Jari kelingking beliau patah, karena kakinya berusaha menahan badannya agar tidak jatuh. Sebab, jika beliau jatuh, maka aku yang sedang digendongannya akan ikut jatuh, dan kemungkinan akan tertimpa badan beliay.

Cerita tersebut hanya sebagian kecil dari pengorbanan orang tua yang selalu mengingatkanku untuk pulang ke Madura jika studiku sudah selesai. “Kami menyekolahkanmu ke luar untuk bekal menuntun adik-adikmu kelak,” begitu pesan ibu ketika aku menjelang berangkat ke Yogya.

Aku membayangkan bagaimana sakit dan perih yang dirasakan ibu. Betapa nestapanya perempuan yang memiliki 1 anak laki-laki kesayangan namun tidak bersamanya saat kondisinya seperti ini. Aku yang selalu beliau harapkan pulang tidak bisa mudik dalam dua tahun terakhir ini. Inilah konsekuensi yang harus diterima oleh mahasiswa yang sambil kerja.

“Halo, halo, halo,” suara pamanku di ujung telepon membuyarkan lamunanku.

“Iya, Paman. Maaf tadi aku melipat mukenah,” kataku sambil mengusap air bening yang menetes dari sepasang mataku.

“Tadi aku sudah menelepon bapakmu. Dia sudah mau berangkat kerja katanya. Ya sudah, kamu lanjut kerja. Kamu fokus pada kerjaanmu. Tidak usah berpikiran yang macam-macam. Kondisi ibu sudah lumayan baik,” jelas laki-laki yang menjadi pengganti bapakku mengurus segala keperluanku selama di rumah itu.

Setelah itu, komunikasi antara aku dan pamanku pun terputus. Namun, beberapa kemudian, telepon pintarku kembali berdering. Ternyata bapakku.

“Assalamualaikum. Mbak sudah salat Subuh? Sekarang lagi di mana?” tanya bapakku yang memilih merantau ke Pulau Sumatera, tiga bulan setelah aku berangkat ke Yogya.

“Iya, Pak. Tadi emmak nelepon,” kataku.

Bapak gajian masih 20 hari lagi. Itu pun kalau tidak telat. Dari tadi bapak sudah nelepon teman-teman bapak untuk nyari pinjaman uang. Tapi mereka juga sedang dalam kondisi yang sama seperti bapak,” bapak berhenti sejenak, mengambil napas panjang, kemudian melanjutkan, “tadi bapak hanya dapat pinjaman 700 ribu dari juragan bapak dulu. Sisa gajian bapak bulan lalu 300 ribu. Bapak baru bisa ngasih satu juta untuk biaya rumah sakit ibu. Kata pamanmu, pihak rumah sakit meminta lima juta untuk administrasinya, karena embuk masuk IGD dan memiliki beberapa riwayat penyakit lain.”

“Maafkan bapak, Mbak.”

“Iya, Pak.”

“Kalau Mbak ada rezeki, bantuin bapak buat bayarin rumah sakit embu’. Pekerjaan eppa’ tidak stabil dengan kebijakan lockdown.”

Aku mengerti dengan kondisi dan yang ada di pikiran bapak sekarang ini. Laki-laki Madura dikenal pekerja keras dan bertanggung jawab. Sehingga wajar ketika laki-laki yang memilih tidak menikah lagi setelah bercerai dengan ibuku, mengawali kalimatnya dengan maaf dan tangisan. Selain itu, pantang bagi laki-laki Madura untuk meminta kebutuhan materi, terutama uang kepada perempuan. Karena bagi laki-laki Madura, perempuan adalah kehormatan yang harus dijaga dan dicukupi kebutuhannya. Maka tidak heran jika bapakku tidak dapat menutupi kesedihannya. Orang yang menjadi bapak sekaligus ibu bagiku, merasa jatuh martabatnya tetapi juga tidak memiliki jalan lain.

Aku memahami kondisi bapakku yang kesulitan mencari uang karena kebijakan pembatasan kerja dari perusahaan kelapa sawit tempatnya bekerja. Semenjak virus Covid-19 mengguncang dunia, Indonesia memang mulai menjadi negara yang terinfeksi pada awal Maret 2020. Hal ini menyebabkan beberapa perusahaan negeri dan swasta mengambil keputusan Work From Home (WFH) maupun pemutusan hubungan kerja (PHK) karena adanya penurunan pendapatan. Beruntung bapakku menjadi salah satu karyawan yang tidak di PHK.

Namun, menurut cerita bapakku bulan lalu, pekerjaannya semakin sulit. Bapakku bekerja di perkebunan sawit, dan upah yang diterima beliau berdasarkan banyaknya buah sawit yang dipanen. Bulan Februari sampai Mei bukan musim panen sawit, sehingga buah yang dihasilkan sedikit, ditambah dengan kurangnya memupukan karena suplai pupuk yang kurang dan karyawan yang bertugas memupuk sawit banyak di-PHK.

Sebenarnya semenjak melanjutkan kuliah ke jenjang magister 9 bulan lalu, aku sudah mampu membiayai hidup dan kuliahku sendiri, bahkan aku sudah rutin mengirim uang ke rumah setiap bulan.

Bagiku, bapakku adalah bapak terbaik di dunia seperti apa pun kondisi dan keadaan beliau saat ini.

“Semoga ibu dan bapakku selalu diberi kesehatan dan keberkahan,” kataku dalam hati. Aku tidak merasa ternyata kedua pipiku sudah digenangi air mata.

Yogyakarta, 2020

Keterangan:
Eppa’ (bahasa Madura): Bapak.
Embu’ (bahasa Madura): Ibu.

*Nurul Aksara lahir di Sumenep, Madura. Kini studi di Pascasarjana UIN Suka Yogyakarta.

*Cerpen ini pernah dimuat di Rezim Online, edisi 11 Mei 2020.

Post a comment

0 Comments