Pentingnya Ruang bagi Penulis Sastra Lokal




PADA 31 Januari 2020 yang lalu, Yayasan Kebudayaan Rancage kembali memberikan penghargaan kepada para penulis sastra daerah. Penghargaan yang pertama kali digelar pada tahun 1989 atas inisiatif sastrawan Ajip Rosidi ini digelar di Jebor Hall Jatiwangi Art (JAF), Jatisura, Jatiwangi, Jawa Barat. Awalnya, acara ini diselenggarakan sebagai upaya merawat dan mengembangkan sastra Sunda dengan dana pribadi Ajip Rosidi. Meski tanpa ada bantuan dari pemerintah, namun YKR tetap konsisten menyelenggarakan penghargaan kepada para penulis sastra daerah setiap tahun. 

Pada tahun ini merupakan ke-32 kalinya YKR memberikan penghargaan tersebut. Dilansir dari akun resmi Facebook Yayasan Kebudayaan Rancage, pada tahun ini, karya-karya yang berhasil mendapatkan penghargaan tersebut, yaitu: (1) Sastera Sunda. Nganjang ka Pageto (Penerbit Dunia Pustaka Jaya), karya H.D. Bastaman; (2) Sastera Bali. Tresna tuara Teked (Penerbit Pustaka Ekspresi), karya Ida Bagus Pawanasuta; (3) Sastera Batak. Guru Honor (Penerbit Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak), karya Robinson Siagian; (4) Sastera Jawa. Kalung (Penerbit Buana Grafika), karya Irul S. Budianto; (5) Sastera Lampung. Lapah Kidah Sangu Bismillah (Penerbit Pustaka LaBRAK), karya Semacca Andanant; (6) Sastera Madura. Kerrong ka Omba’ (Penerbit Sulur), karya Mat Toyu; dan (7) Hadiah “Samsudi”. Seri Obrolan Ade Erik jeung Lanceukna 6 Jilid (Penerbit Geger Sunten), karya Budi Riyanto Karung.

Acara pemberian penghargaan kepada karya-karya sastra daerah seperti yang rutin diselenggarakan oleh YKR setiap tahun tersebut sangat penting, mengingat tidak banyak media atau yayasan kebudayaan yang memberikan apresiasi terhadap para penulis sastera daerah. Di Pulau Jawa, misalnya, sejauh pembacaan penulis, beberapa media lokal baik cetak maupun online yang ada ruang/rubrik sastra lokalnya, di antaranya Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), Radar Madura (Madura), Majalah Mangle (Jawa Barat), dan lain sebagainya.

Sedikitnya media yang menyediakan ruang bagi penulis sastra daerah tentu saja sangat memperihatinkan, mengingat para penulis sastra daerah perlu ruang untuk mempublikasikan karya-karya mereka. Selain itu, hal tersebut juga sebagai salah satu upaya untuk melestarikan kearifan lokal. Sebab, akhir-akhir ini yang menjadi perhatian dunia ialah punahnya bahasa-bahasa daerah di sejumlah belahan dunia, tak terkecuali Indonesia.

Menurut hasil penelitian, bahasa daerah yang jumlah penuturnya di bawah 100.000 orang sudah tergolong sebagai bahasa yang akan punah. Di Ambon, Povinsi Maluku, menurut laporan Pusat Bahasa, ada bahasa daerah yang penuturnya tinggal satu orang. Bisa dikatakan, bahasa tersebut akan segera sirna (Lase, 2011). Grimes dalam bukunya yang berjudul Ethnologue: Language of the World (2000) menyatakan bahwa di dunia terdapat 6.809 bahasa. Dari jumlah tersebut, 330 bahasa memiliki penutur sebanyak satu juta orang atau lebih; 450 bahasa memiliki jumlah penutur yang sangat kecil, telah berusia tua, dan condong bergerak menuju ke pemunahan.

Ada beberapa sebab utama kepunahan suatu bahasa, yaitu karena orang tua tidak lagi mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anak serta tidak lagi menggunakannya di rumah dan pilihan sebagian masyarakat tutur untuk tidak menggunakannya dalam ranah komunikasi sehari-hari. Selain itu, terkait dengan sikap dan pemertahanan bahasa (language main-tenance) masyarakat tuturnya. Dan salah satu cara untuk mempertahankan bahasa daerah, selain tutur tentu saja, yaitu dengan tulisan baik fiksi maupun non-fiksi.

Terkait dengan tulisan non-fiksi seperti prosa dan puisi, sebenarnya banyak sastrawan kita yang menulis dengan bahasa lokal. Tapi sangat sedikit tulisan-tulisan berbahasa daerah mereka yang terpublikasi. Salah satu faktonya karena tidak banyak media yang menyediakan ruang bagi tulisan berbahasa daerah, sebagaimana yang telah disinggung di atas. Satu-satunya cara yang mereka lakukan untuk mempublikasikan karya-karya mereka yaitu dengan menerbitkannya dalam bentuk buku. Tapi cara seperti ini pun hanya segelintir penulis sastra lokal yang melakukan, karena seperti yang kita tahu, biaya untuk menerbitkan buku lumayan besar.

Semoga ke depannya lebih banyak lagi media lokal yang menyediakan ruang bagi penulis sastra daerah. Dan semoga Yayasan Kebudayaan Rancage tetap konsisten memberikan penghargaan kepada karya-karya sastra daerah agar dapat menginsipirasi yayasan dan lembaga lain untuk menyelenggarakan acara yang sama.


*Fajri Andika, alumnus FISHUM UIN Suka Yogyakarta. Kini tinggal di Yogyakarta.

*Dimuat di Minggu Pagi, Minggu II Februari 2020.

Post a comment

1 Comments