KUSEBAR beras kuning ke empat mata arah angin dengan aji-aji pangserep dari Sahri. Dua orang kepercayaan Tanglebun tersirap. Angin menyilet kesunyian. Mantraku mantra aji-aji pangserep menyesap membuat suasana rumah dan kandang sapi Tanglebun senyap hingga membuatku leluasa saat memasuki kandang sapi kesayangannya.

Kuseret kakiku dengan pasti. Pandangan mataku setajam dan sekuat ujung cagak. Sambil membaca mantra, kuraba dan kucium sapi kesayangan Tanglebun. Pagi ini kau akan kubawa pergi, bisikku sambil terus mencium wajah sapi karapan tiada tanding itu. Mata sapi itu sayu. Mungkin sapi itu tahu keberadaannya di kandang akan berakhir. Pada wajahnya, titik-titik air mata meleleh pucat

Hmmmmmaaaaaahhk. Siapa pun yang mendengar parau suaranya akan prihatin. Tidak terkecuali aku sendiri. Daun-daun rebah, suara keresak pelepah saat dibelai angin membuat keyakinanku semakin kuat, aji-aji pangserep dari Sahri sudah bekerja. Sapi itu luluh.

Ya, sapi itu benar-benar tidak memberontak setelah kupegang dan kuelus bagian tubuhnya. Kuangkat dua kaki sapi dan kurebahkan pada dua pundakku. Sementara bagian kaki belakang kuikat dan kusatukan dengan pergelangan kakiku, sehingga ketika aku berjalan, kaki sapi itu bisa seirama dengan gerak langkah kakiku. Untuk menutupi punggungnya, kurentangkan selembar kain putih yang diberikan Sahri sebelum aku berangkat.

Dalam perjalanan, perasaan bangga menyusup dalam pikiran dan hatiku saat berhasil membawa sepasang sapi. Aku bangga karena tidak lama lagi akhirnya aku turut berperan dalam pembelian keramik masjid di kampungku. Dengan sapi ini pula, kelak aku akan memasuki pintu surga.

Dua tahun sudah lamanya Sahri menanti sumbangan terkumpul untuk membeli keramik masjid, tapi harapannya tidak kunjung terwujud. Ia jengkel pada orang-orang desanya, terutama kepada Tanglebun yang beberapa kali menuduhnya sudah menggunakan uang masjid untuk kepentingan dirinya. Akhirnya ia berkesimpulan, menipu demi kebaikan tidak apa-apa, “Terkadang agar orang mau berbuat baik harus diperlakukan dengan tidak baik,” pikirnya.

Maka dipanggillah aku untuk melaksanakan rencananya, yaitu menyembunyikan sapi Tanglebun. Siapa tidak bangga dipanggil seorang ustaz, takmir, dan dikenal baik seperti Sahri, siapa tidak mau masuk surga? Apalagi aku, seorang pencuri. Segala kesalahanmu akan segera dihapus kalau kamu membantu menyelesaikan pembelian keramik masjid, rumah suci, ujar Sahri. Siapa pula tidak malu setiap hari meminta-minta sumbangan di jalan raya, meminta sopir agar memperlambat laju kendaraannya.

“Masjid ini sudah berdiri, hanya tinggal lantainya,” kata Sahri suatu hari dengan nada penuh harapan.

“Apa yang bisa saya lakukan? Saya hanya seorang pencuri,” jawabku.

“Kurasa mencuri demi kebaikan tidak apa-apa,” aku tercengang.

“Apa rencana Sahri?”

“Mengambil sapi Tanglebun.”

“Mengambil, mencuri maksud Sahri?”

“Kita akan mengambil sapinya, kemudian menyembunyikannya.” Sahri menjelaskan, “Ini salah satu cara yang harus kita lakukan agar Tanglebun mau menyumbang.”

Aku benar-benar tidak percaya dengan rencana Sahri, takmir masjid. “Siapa pun tahu bahwa kamu adalah pencuri ulung, dan siapa lagi yang mencuri sapinya kalau bukan kamu?” Darahku mendidih, tapi terus kutahan, kubiarkan Sahri menyampaikan rencananya. “Sudah pasti Tanglebun akan mendatangimu, paling tidak dia akan bertanya siapa yang mencuri sapinya.”

“Gila,” dengusku.

“Lalu bawalah Tanglebun menemuiku,” Sahri tidak menggubrisku. “Dengannya nanti aku akan membuat perjanjian, kalau sapi itu sudah didapatkan kembali, Tanglebun harus membeli keramik masjid yang kita cintai ini.” Sontak aku tertawa geli.

Diam-diam aku mengagumi pikiran Sahri. Sudah pasti Tanglebun tidak akan menolak tawarannya. Sementara aku akan mendapat pahala. Tidak apa, gumamku. Sebajing-bajingnya aku, paling tidak sekali saja berbuat baik dalam hidupku, kataku meyakinkan.

***

Sahri menungguku di belakang masjid, ia tidak sabar dan gelisah. Sebatang rokok tidak pernah lepas dari bibirnya. Ketika mendengar suara langkahku, lekas ia memberi tanda agar aku segera mendekat. Dari raut wajahnya terpancar kegelisahan. Sejenak ia mengelus kepala sapi yang rebah di punggung kiriku, “Aman,” suaranya gemetar.

Sahri meluluri tubuh sapi itu dengan air yang sudah dibacakan mantra aji-aji pangserep hingga sapi yang baru saja kuambil dari kandang Tanglebun terlihat luluh dan kuyu. “Kita sembunyikan sapinya di sana,” Sahri menunjuk pada sebuah gubuk tidak jauh dari masjid. “Pulanglah sebelum matahari terbit,” perintahnya, “Besok pagi Tanglebun akan memintamu keterangan tentang sapi kesayangannya yang hilang.”

Kusambut pernyataan Sahri dengan senyuman. Perasaan senang dan bangga menjalari sekujur tubuhku. “Hanya dengan memindahkan sapi dari kandang ke gubuk dekat masjid sudah bisa membuat pencuri sepertiku akan masuk surga,” kataku bangga.

Riak air dari tempat wudu masjid yang belum berlantai menyadarkanku bahwa sebentar lagi pagi akan segera tiba. Angin mendesah silir menjalari tubuhku yang sedang berjalan dengan perasaan bahagia, bayangan surga berkelebat, kelak pintunya akan kumasuki.

Sepanjang jalan pulang, aku juga berpikir kedatangan Tanglebun yang selama ini hanya didatangi terutama oleh para pembesar-pembesar desa yang meminta jatah. Tapi tidak pagi ini. Pagi ini ia akan mendatangi rumahku yang bobrok, ia akan memintaku berbelas kasih agar sapi kesayangannya dikembalikan. Berapa jatah untuk saya kalau sapimu ditemukan? Batinku.

Aku tahu orang-orang kampung akan berpikir bahwa akulah yang mengambil sapi kesayangan Tanglebun. Tapi, bila mereka tahu bahwa sapi yang kuambil adalah untuk membeli keramik masjid, orang-orang kampung akan menganggapku bukan sembarang pencuri. Kubayangkan orang-orang kampung akan mendatangiku dengan kagum karena sudah memikirkan keramik masjid, oh, alangkah mulianya aku.

***

Tanpa berucap salam, Tanglebun menghardikku, “Dibawa ke mana sapiku?” Mendengar pertanyaan Tanglebun, aku hanya tersenyum. Tidak menjawab. Kunikmati secangkir kopi yang masih mengepulkan asap.

“Dahlan, ayo, kamu mau kuburan apa rumah sakit?” sahut Muassin, anak buah Tanglebun.

“Kelak aku akan ke surga,” jawabku tenang.

“Segera kembalikan sapi kesayangan saya.”

“Kapan dan di mana sapimu hilang?” tanyaku dengan nada tenang.

“Kamu yang mencuri, kamu tahu kapan dan jam berapa sapi itu kamu curi.”

“Jangan mencari gara-gara. Ini rumahku,” suaraku mulai meninggi. “Kalau saya tidak terbukti mencuri sapimu, apa taruhanmu?”

“Maumu apa?” tantang Tanglebun.

“Buatin aku surau di sana.” Tanglebun tercengang mendengar permintaanku. Ia tidak percaya, memandangku dengan terheran-heran. “Kenapa?” bentakku.

“Baik. Permintaanmu tidak semahal lendir sapiku. Kupenuhi.” Tanglebun memandang sinis, “Tapi dengan cara apa kamu akan membuktikan bahwa sapi itu bukan kamu yang mencuri?” tanyanya penuh tuduhan.

“Pagi ini kita datangi orang pintar,” ajakku. Melihatnya gelisah, aku hanya tersenyum. “Mari kita temui orang sakti yang bisa menemukan sapimu.”

***

Aku semakin mengagumi Sahri ketika melihatnya keluar dari pintu masjid. Kami yang baru saja tiba langsung dipersilakan naik ke masjid. Sahri pagi itu benar-benar terlihat lebih berwibawa daripada hari-hari sebelumnya, bahkan semalam. Di hadapannya, aku sendiri menunduk hormat, Tanglebun yang sudah gelisah bertanya dengan nada melecehkan.

“Jadi, kamu membawaku ke tukang minta sumbangan?”

Sahri tidak menanggapi ucapan Tanglebun, takmir masjid itu dengan tenang menatap Tanglebun.

“Jangan keras-keras. Ini tempat suci,” hardikku. “Lekas sampaikan apa maksudmu datang kemari,” desakku.

“Kapan sapi Tanglebun hilangnya?” Tatapan mata Sahri tajam penuh wibawa hingga membuatku semakin kagum. “Mungkin sapi itu belum jauh dari kampung kita,” imbuhnya. “Saya bisa menemukannya dengan ilmu sakti yang saya miliki.” Tanglebun tercengang mendengar jawaban Sahri, “Tapi ada syarat bila sapi itu kita temukan.”

Tanglebun tidak segera menjawab, ia menoleh kepada dua anak buahnya seakan minta pertimbangan. Kedua anak buahnya hanya diam. “Apa syaratnya?” tanyanya kemudian.

“Keramik masjid,” tegas Sahri. “Tanglebun harus membelikan keramik untuk lantai masjid ini.”

Tanglebun tidak punya pilihan lain kecuali menyanggupi syarat yang diajukan Sahri. “Dalam dua-tiga hari ini, sapi Tanglebun insya Allah kembali,” tegas Sahri. “Sekarang pulanglah, aku akan melacak jejak pencuri sapimu dengan ilmu aji-aji pangserep yang saya miliki.”

“Astaga,” mendadak Sahri berteriak ketika tiba-tiba dari samping masjid, sapi Tanglebun berlari kencang masuk ke masjid. Aku, Tanglebun, dan dua anak buahnya pun panik, mengejar sapi. Sapi itu sangat gesit terus mengitari ruangan masjid, sebelum akhirnya lari keluar dengan kencang dan menabrak Sahri hingga ia terpental jatuh. 

Pondok Kebon, 2020

*Mahwi Air Tawar, lahir di Sumenep, Madura, pada 1983. Selain menulis cerpen, ia menulis puisi. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa. Buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit antara lain Blater, Karapan Laut, dan Pulung. Buku kumpulan cerpennya mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Yogyakarta pada 2012. Adapun cerpen Pulung mendapat penghargaan dari STAIN Purwokerto pada 2010. Mahwi juga aktif dan terlibat dalam berbagai festival sastra. Saat ini Mahwi tinggal di Kampung Kebon, Cinangka, Depok.

*Dimuat di Tempo, edisi 4 April 2020.