“KUN … Kuncoro, sudah tiba waktunya aku pulang ke Sumenep. Ini tahun sudah 2020,” katanya, getir.

“Apa hubungannya pulang dan 2020?” tanyaku, heran.

“Barangkali ayahku menjodohkanku dengan seorang perempuan.”

“Maksudnya?”

“Ya, itu. Marwati—sepupu dari ibuku—sudah sarjana.”

“Aku masih belum bisa menangkap apa yang kamu katakana, Wi.”

“Aku ingin menikah, Kun.”

“Hah, jangan bodoh, Wi…”

Hening.

“Kun, aku lapar!”

Aku langsung mendatangi kasir, memesan dua porsi nasi sop jamur. Dingin semakin menusuk ketika warung kopi The Kangen yang baru dibuka di Jalan Kesatuan itu diguyur hujan menjadi-jadi. Satu-dua pengunjung berdatangan dengan mantel yang membungkus tubuhnya.

Aku perhatikan wajah Asmawi yang memancarkan sinar keburaman. Senyumnya sedikit dipaksakan dan matanya kekuning-kuningan. Aku tak tahu apakah keputusan itu diambil serius atau sekadar bualan saja. Memang, ia telah lama tak mengantongi uang. Tetapi harus aku akui, Asmawi adalah seorang lelaki Madura tangguh, ramah tamah, suka membantu, dan berbeda dari lelaki Madura kebanyakan di Kota Pelajar ini. Aku senang menjalin teman dengannya. Entah, persoalan apa yang mampu menggempur-gempur semangatnya sehingga ia nyaris stres.

Sementara, usai mengamatinya, kopi yang kuseduh ini tiba-tiba menjadi pahit sekali, membuat perutku mules. Asmawi hanya diam seperti gelas. Aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan, meski aku tahu bahwa hal itu tak akan punya pengaruh kuat baginya. Ketika hujan reda, aku mengantarkan ke kosnya di samping kampus Universitas Keadilan di Jalan Ketulusan No. 45.

***

Selama beberapa bulan terakhir, Asmawi lebih suka berdiam diri dalam kamarnya. Memutus komunikasi dengan dunia sekelilingnya, lebih-lebih kawan karibnya sendiri. Aku jadi khawatir, tak bisa tidur dengan tenang. Ingin rasanya aku mengajaknya mengelilingi kota ini yang semakin hari semakin tampak so sweet, tapi aku takut mengganggunya. Akhirnya, rencana itu kugagalkan.

Dengan tekad yang bulat dan perasaan khawatir, beberapa minggu kemudian, aku mendatangi kosnya. Membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk sebelumnya. Benar, ternyata dia pucat pasi seperti mayat. Menakutkan. Kemudian, puji Tuhan, kusodorkan nasi goreng cumi ke mulutnya. Suapan demi suapan berjalan lancar. Dalam pikiranku muncul jawaban, “Oh jebul bocah iki ra nyekel duwit to. Pantes de’ne tak jak lungo ra gelem-gelem!” Semoga kesimpulan ini keliru. Dan aku harap tidak seperti itu adanya. Pasti, ada alasan lain yang harus ia sendiri yang tahu.

Tenaganya pulih setelah nasi goring cumi itu dilandas habis. Ia tersenyum, aku pun juga begitu. Aku tak berani menanyakan sesuatu yang mengarah pada persoalan pribadi. Aku hanya bercerita bahwa warung kopi The Kangen sudah tutup. Pemiliknya kena tipu.

“Kudoakan semoga keburukan dibalas kebaikan,” katanya.

Aku senyum dan mengamininya dalam hati.

“Kok cuma senyum,” katanya lirih.

“Sudah kuamini dalam hati, Wi.”

“O ya, beri aku duitmu dua ratus limapuluh, Kun. Akhir bulan aku jadi pulang.”

“Jadi, kamu bener-bener ingin menikah?”

“Iya. Bener-bener menikah!”

“Bener-bener menikah?”

Aku masih tidak percaya melihat kondisinya begini.

***

Pada tanggal yang sudah ditetapkan, minggu awal bulan Agustus, aku mengantarkannya ke Terminal Kedamaian. Aku tak begitu yakin, mungkin juga Asmawi. Sebelum naik bis patas Sumber Selamat, keragu-raguannya terlihat sangat jelas di wajahnya, tubuhnya berkeringat dingin, tingkahnya kaku. Dengan demikian, aku menduga bahwa keputusan yang diambil terlalu buru-buru, apalagi ia belum lulus kuliah. Menikah dalam kondisi yang dipaksakan adalah malapetaka. Hal itu sudah dialami beberapa temanku di Magelang. Tetapi, semoga saja Asmawi bernasib baik, dan barangkali inilah awal mula kebahaigaannya.

“Semoga Langgeng, Wi.” Doa itu kukirim via WhatsApp begitu sampai di kos. Asmawi tak memberikan balasan. Kuyakin ia tidur, dan tak tahu di luar jendela seribu peristiwa sedang terjadi.

“Berkabar jika sudah sampai rumah, Wi.”

Keesokan paginya, setelah aku bangun tidur jam depalan pagi, Asmawi tidak memberikan balasan. Aku telepon juga tidak diangkat. Kuyakin, ia sedang dalam perjalanan dan tidur.

“Berkabar jika sudah sampai rumah, Wi.” Kukirim pesan serupa kedua kalinya untuk meredakan perasaan khawatir, atau memastikan keselamatannya. Aku tak mau kekhawatiran ini terus berlanjut dan menjadi kenyataan. Asmawi adalah saudaraku, bagaimanapun, sebagaimana saudara, aku tidak ingin hal-hal buruk menimpanya. Asmawi akan menikah, bagaimanapun, sebagainama saudara, aku menginginkan kebaikan-kebaikan tetap dipihaknya. Dan, sebagaimana saudaranya, Asmawi tidak pernah menceritakan perempuan yang akan ia nikahi. Tetapi, aku juga tidak pernah menanyakan apakah perempuan itu cantik atau jelek, memiliki sikap yang baik atau buruk!

Seandainya, jika Asmawi benar-benar menikah, dua hari sebelum hari H-nya, aku akan berangkat. Aku siap menjadi tangan kanannya, mengerjakan apa yang harus dikerjakan, termasuk menyebarkan undangan kepada semua teman-temannya. Intinya, pernikahan Asmawi harus berjalan lancar, tanpa ada pertikaian, tanpa ada satupun gelas yang pecah.

***

Asmawi tidak mengirimi kabar nyaris dua bulan lebih. Setiap hari pikiran-pikiran buruk mengganggu aktivitasku: membaca buku gagal fokus, mengerjakan tugas kuliah tak selesai-selesai. Setiap malam mimpi buruk masuk ke dalam tidurku dengan buas. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Semuanya tampak tak menentu. Aku berusaha meneleponnya, ujung-ujungnya, tiada hasil. Kemudian, aku mencari seseorang yang dekat dengan rumahnya, berakhir sia-sia. Aku berpikir, di zaman yang serba terbuka ini, mengapa mencari kabar Asmawi begitu sangat sulit. Setelah itu, aku menghubungi Misnawi, teman dari kampung halamannya, juga berakhir sia-sia.

“Aku sudah lama putus komunikasi dengan Asmawi.”

“Gimana, sih…” Bicaraku sedikit naik, perasaan kesal, cemas dan panik bercampur jadi satu dan membuat darahku mendidih. Misnawi ingin kutelan mentah-mentah lalu, setelah masuk ke dalam perutku, aku akan berjingkrak-jingkrak cepat biar dia mampus sekalian.

“Dia sendiri yang mulai duluan!”

Aku tak tahu apa sebabnya Misnawi berkata kasar seperti itu. Lagi-lagi, sebagainama saudaranya, baru kali ini aku menghadapi orang Sumenep berkata-kata kasar. Dan biasanya, sesama orang Sumenep saling membantu. Entahlah, barangkali ada sesuatu tak baik yang terjadi di luar sepengetahuanku. Namun, selama berteman dengan Asmawi, ia tak pernah berkata-kata kasar. Aku berpikir, dari Asmawi pula, bahwa sikap halus orang-orang Sumenep adalah warisan kerajaan nenek moyangnya.

Aku kembali ke kos dengan tangan yang hampa. Kemudian aku meminum obat tidur dan berusaha membunuh ketakutan-ketakutan yang semakin menjadi-jadi.

***

“Kun… Kuncoro, aku harap kau baik-baik saja. Aku minta maaf sebesar-besarnya jika aku tak memberimu kabar. Ada sesuatu yang harus aku ceritakan, tapi aku akan menceritakannya ketika aku sudah di Kota Pelajar. Yang jelas, aku gagal menikah. Aku berubah pikiran. Aku ingin mewujudkan cita-citaku sebagai seorang penulis besar.”

Kabar gagal nikah itu kuterima Senin pagi melalui nomor baru, tepat dua hari setelah aku menemui Misnawi. Aku tak segera membalasnya, karena jari-jemariku bergetar dan tidak bisa menekan huruf-huruf latin di layar ponsel. Dengan demikian, sesegera mungkin aku minum bergelas-gelas air. Aku bersyukur, meskipun ia gagal menikah, ia akan kembali. Aku menghela napas panjang…

“Nanti malam aku berangkat, Kun…” katanya lagi, disusul emoticion senyum.

“Kau yakin, Wi?”

Aku bahagia ia kembali. Kemudian muncul keinginan untuk membiayai semua kebutuhannya.

Villa Bukit Asri, Januari 2020

*Rusydi Firdaus, penata atau pengaduk kopi, pengkhusyuk sastra, jurnalis, fotografer lepas, pebisnis jamur tiram. Kini tinggal di Yogyakarta.

*Dimuat di lpmarena.com, edisi 25 Maret 2020.