Gubeng


Gubeng-Khairul Umam

SUPATLAH sadar bahwa pertandingan sudah di ujung mata. Sudah tinggal satu bulan beberapa hari. Berarti dia harus lebih hati-hati. Selalu waspada, mengurangi tidur, memberi makanan terbaik bagi sapinya, meramukan jamu serajin mungkin, dan yang tidak boleh terlupa mencari dukun sebanyak mungkin. Berapa pun biaya yang harus dia keluarkan itu tidak seberapa dibanding prestasi yang selama ini dia idamkan. Tinggal menunggu waktu sedikit lagi dan dia yakin akan berhasil. Suatu pencapaian yang jarang orang lain mendapatkannya bahkan dalam kurun waktu sepuluh tahun ini tidak satu pun yang berhasil.

Dia tahu pertandingan kali ini sangat berat. Bukan melulu lawan tanding sapinya yang lebih muda dan beberapa langsung didatangkan dari Pulau Sepudi—penghasil sapi karapan yang cukup masyhur. Untuk urusan teknis seperti itu dia sudah sangat paham dan bisa mengatasinya dengan mudah. Tidak hanya dia yang pengalaman melatih pasangan sapi dan jokinya dalam pertandingan nasional yang kali ini ditempatkan di lapangan Giling namun pasangan sapinya pun telah berpengalaman dalam beberapa pertandingan dan sudah dua kali berturut-turut  memenangkan pertandingan skala nasional itu.

Urusan berlari, pasangan sapinya sudah cukup tangkas. Ia melesat bagai angin yang bertiup kencang, kakinya mengentak seperti gemuruh yang menerjang dan kepul debu yang ditimbulkan membubung gelap ke angkasa seakan ia adalah pesan yang dititipkan kepada malaikat yang sedang menyaksikan dari pintu-pintu langit nun jauh di angkasa raya. Beberapa teman timnya bahkan menamai pasangan sapinya angin ribut. Sebagai pemilik sapi, dia hanya tersenyum ketika salah satu di antara mereka melontarkan argumentasinya.

“Berlari bagai terpedo, menderap bagai gemuruh. Apa lagi yang lebih pas selain angin ribut?”

Hanya saja, pertandingan kali ini terasa berbeda. Meski dia yakin sapinya sudah sangat kuat namun kejadian aneh dan tidak diduga sangat mungkin terjadi menjelang pertandingan atau bahkan di lapangan. Dia meyakini lawan-lawannya tidak akan tinggal diam. Isyarat itu dia rasakan terhadap beberapa orang yang beberapa waktu lalu silih berganti mendatanginya. Mereka mencoba membujuknya untuk menjual sapi andalannya bahkan ada yang hendak membayarnya dengan sejumlah uang melimpah dengan syarat dia tidak ikut lagi dalam pertandingan kali ini. Namun semuanya dia tolak. Dia bersikukuh melanjutkan rencananya untuk bertanding dan memenangkan pertandingan untuk kali ketiga. Yang dia inginkan bukan semata uang hadiah namun prestasi yang tidak sembarang orang meraihnya: tiga kali gubeng.

Sudah di depan mata. Setelah ini dia telah mempersiapkan masa tuanya dalam keadaan tenang dengan hanya memelihara sapi biasa di tengah kebun rumahnya. Sapi-sapi karapan andalannya akan dijual semua. Matanya berbinar mengingat kemenangan ketiga yang akan segera diraihnya. Sudah pasti dalam kemengan tersebut dia akan dinobatkan sebagai orang yang istiewa dengan gaji selamanya dan status sosial yang tinggi di tengah-tengah masyarakat pecinta karapan. Satu-satunya peraih tiga kali gubeng dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Satu-satunya pemilik sapi yang dipensiunkan oleh pemerintah dengan gaji mengalir selamanya.

Dia membayangkan setiap hari, di tengah kesibukannya memelihara sapi, akan selalu ada wartawan yang mewawancarainya perihal kesuksesannya dalam dunia karapan, selalu ada orang-orang yang datang untuk berguru bagaimana bisa menjadi juara gubeng tiga kali berturut-turut hingga dipensiunkan oleh pemerintah dan hidupnya beserta seluruh keluarga dijamin hingga akhir hayat. Dia sudah persiapkan tempat khusus untuk menaruh piala dan piagam di tempat yang mudah dilihat oleh siapa pun. Kelak, penghargaan itu akan dijadikan kenangan untuk anak cucunya agar mereka juga bisa mengikuti jejaknya sebagai seorang pemecah rekor.

Maka, sebagai juara bertahan dan hampir mencapai purna dia sangat paham akan banyak orang yang akan berusaha menjatuhkannya baik secara teknis atau pun non teknis. Banyak orang tidak akan rela rekor dipegangnya. Menang satu atau dua kali bolehlah tapi tidak untuk kali ketiga. Hal semacam itulah yang terjadi kepada pendahulu-pendahulunya. Kesadaran seperti  itu yang membuatnya bertindak lebih cepat dan tangkas. Dia sudah mempersiapkan beberapa orang penjaga di sekitar kandangan. Menjaga kemungkinan pasangan sapinya diracun atau diberi makanan yang membuat kebugaran tubuhnya menurun. Pun dia sudah mempersiapkan beberapa dukun sakti dari beberapa daerah. Dukun khusus penjaga stamina, dukun penjaga dari guna-guna, dukun pencipta wibawa, dan beberapa dukun lainnya yang sudah punya peran masing-masing.

Khusus perawatan fisik, sudah sejak jauh hari dia menyewa tukang pijat dari luar daerah yang mumpuni. Setiap pagi dia datang untuk melakukan pemijatan sekaligus memandikan dengan air kembang yang sudah dicampur mantra dan air tujuh sumber. Tidak hanya memijat, dia juga bertugas memberikan jamu-jamu penguat otot dan penghalus bulu kulit secara rutin. Sesekali latihan fisik dilakukan layaknya seorang yang sedang melakukan pemanasan. Selama perawatan dilakukan, Supatlah tidak pernah menjauh dari sapinya. Bahkan dia rela menunda pekerjaan lainnya hanya demi memastikan semuanya telah beres dan sempurna.

Seminggu tiga kali Supatlah dan timnya berkumpul melingkar di kandang sapi yang disetting seperti layaknya rumah manusia. Dindingnya dibuat dari kayu jati yang kokoh, atapnya ditopang kayu siwalan diiris persegi empat memanjang ukuran lima kali tujuh diperkuat usuk yang juga dari siwalan yang berwarna hitam legam. Atapnya dari bahan keramik. Di dalam kandang terdapat dua kamar khusus untuk masing-masing sapi, satu kamar orang, dan satu amperan yang berukuran paling besar. Lampu petromaks dipasang di sekitar kandang dan di setiap kamarnya. Di amper itulah timnya sering berkumpul baik untuk merencanakan strategi pertandingan atau untuk melakukan munajat kepada Tuhan.

Meski sebagai pecinta dan pemilik sapi karapan kehidupan Supatlah dan timnya sangat karib dengan tayub, tanda’, lodruk, dan berbagai hiburan lainnya, mereka tetap yakin bahwa kekuatan adikodrati sangatlah penting dan menunjang kemulusan karirnya. Meski dia sering kali nyawer terhadap tanda’-tanda’ yang cantik dan bahenol pun juga kalimat-kalimat yang dilontarkannya terkesan urakan dan tidak senonoh saat melihat pinggul tanda’ bergoyang gemulai, dia tetap berusaha sekeras mungkin dekat dengan kiai dan ritual-ritual keagamaan. Selain sebagai seorang santri, jiwa Maduranya sungguh masih sangat kental. Meski di balik semuanya keinginan untuk mendapatkan doa dan restulah yang sangat dia dambakan sehingga dijauhkan dari segala musibah dan ambisinya untuk menjadi juara bertahan dan dipensiunkan dengan gaji seumur hidup segera terwujud.

Tidak sembarang dia menetapkan tiga malam yang dipilihnya untuk berkumpul. Dia melakukan itu atas pertimbangan dari beberapa kiai yang berhasil didekati dan juga beberapa dukun yang sudah dikontraknya. Malam Jumat, Malam Senin, dan Malam Rabu. Malam Jumat adalah malam yang istimewa dan bertabur barokah, Malam Senin malam kelahiran Nabi Muhammad dan tentu malam yang sangat istimewa, dan Malam Rabu adalah malam kelahirannya ke dunia. Ritual yang dilakukan pun juga beraneka. Malam Jumat mereka disuruh membaca surat yasin sebanyak empat puluh satu kali disertai kemenyan yang dibakar dan diedarkan berkeliling kandang sebanyak tujuh kali sesaat setelah bacaan selesai. Malam Senin  mereka membaca salawat nariyah sebanyak seribu tiga ratus kali dengan air kembang diletakkan di tengah-tengah lingkaran. Air  itu kemudian dicampurkan dengan air sumur dan air tujuh sumber untuk dimandikan ke pasangan sapinya. Malam Rabu mereka membaca surat Al-Mulk agar di pertandingan pasangan sapinya menjadi penguasa di lapangan, Al-Dukhon supaya entakan kakinya mengepulkan debu yang menghitam dan kencang pacunya seperti terpedo yang sedang mengguncang bumi, Ibrahim agar pasangan sapinya kuat dan tegar, dan terakhir membaca salawat taisir tiga ratus tiga puluh tiga kali.

Malam itu, menjelang pertandingan akan dimulai, Supatlah tentu tersenyum lega. Tidak satu pun penyusup yang berhasil masuk. Tidak sekali pun sihir menembus pertahanannya. Semuanya telah berakhir dengan sempurna. Semua syarat telah dia penuhi dan semua surat yang telah ditentukan beserta bacaan lainnya telah diselesaikan dengan sangat baik. Semuanya dikerjakan secara tim dan tentu tidak harus dicurigai karena sejauh Supatlah bersama timnya semuanya tercatat bersih. Satu-satunya kesalahannya adalah tidak awas saat seorang kiai yang disoani memberinya kenang-kenangan selimut lusuh yang terlipat rapi.

*****

Dua pasangang sapi telah dipersiapkan. Lengking saronen membubung hingga ke langit. Berdenging di setiap telinga penonton yang telah duduk riuh di tribun. Beberapa kelompok petaruh membuat kesepakatan. Sementara beberapa kelompok lain sedang ekstase meneriakkan yel-yel dan menyebutkan nama pasangan sapi idolanya masinsg-masing. Supatlah tersenyum lebar. Suara guruh dari tribun yang mengelu-elukan pasangan sapi angin ribut miliknya membahana memecah terik yang menukik, membuatnya semakin besar harapan.

Di belakang Supatlah, Sadellep ikut tersenyum. Senyum yang tidak satu pun dari tim Supatlah paham maknanya. Dia tidak peduli terhadap gemuruh dan suara-suara pujian terhadap tim dan sapinya. Yang dia tahu hanyalah sekelompok petaruh di pojok barat laut sana. Sebentar lagi mereka akan segera bergembira dan meraup banyak kemenangan. Dan seperti yang telah mereka janjikan, separuh adalah haknya atas jasa-jasanya selama ini membawakan dukun pijat sapi Supatlah dari kelompok mereka.

Dia telah benar-benar berhasil meyakinkan Supatlah. Sebentar lagi kegembiraannya akan benar-benar memuncak saat melihat cara berlari sepasang sapi Supatlah, saat melihat ratusan orang terbungkam sambil menganga tidak percaya, saat melihat Supatlah terdiam seribu bahasa dan mungkin menitikkan air mata. Dan dia membayangkan, seseorang di tempat yang jauh akan berjingkrak girang. Seseorang yang telah menyuruh petaruh itu datang dengan segepok uang taruhan, seseorang yang juga telah memintanya menjadi senjata andalan, seseorang yang selama  ini menyimpan dendam kepada Supatlah karena istrinya yang sangat dicintai dibawa lari di depan matanya sendiri. Sangka, paman Sadellep dari ibu yang tidak pernah diketahui Supatlah.


Gubeng adalah Kejuaraan karapan sapi nasional. Pemenang tiga kali gubeng biasanya dipensiunkanoleh pemerintah dan mendapat gaji selama hidupnya.


Tagenna Tengah, Juli 2018

*Khairul Umam adalah Sekjen MWC NU Gapura. Guru di MA Nasa1 Gapura dan Dosen INSTIKA Guluk-Guluk. Alumni pascasarjananya UGM-FIB Antropologi. Tulisannya telah dimuat di media lokal dan Nasional.

*Cerpen tersebut tayang di Riau Pos Pada 24 Februari 2019





Post a Comment

0 Comments