Gizli

Cerpen Gizli

DIA mencaci maki diri sendiri, lalu berdiam diri pada embusan sunyi. Angin, dentaman ombak dan gesekan pohonan melempar angan-angannya ke ujung lautan. Setiap purnama perempuan itu duduk menyambut cahaya yang mengetuk mimpinya dalam kenangan.

Direntangkan kedua tangan seperti kepakan sayap burung malam, membiarkan cahaya dan embusan angin menjilati kulit, masuk melalui pori-pori, menelusuri detak jantungnya yang lelah. Dengan mata terpejam, dia mencari kekasih yang telah lama tenggelam dalam hatinya. Matanya sendu penuh ragu. Bibirnya kaku, sekian lama tak tersentuh tawa.

Angin saling berkejaran diikuti dengan munculnya sekelebat bayangan yang kemudian menjelma seseorang dengan badan yang membungkuk. Dengan gontai dia melawan angin mengibarkan bajunya yang usang. Perlahan dia duduk di samping perempuan itu dengan napas terengah-engah. Sesekali dia menoleh ke arah perempuan yang memandangi cahaya rembulan itu. Hidungnya mengendus-endus, lalu dengan suara lemah orang itu membuka suara.

”Aku adalah kebahagiaan pemuja titik-titik cahaya seperti pecahan bintang-bintang yang menemani rembulan. Aku memunguti kesedihan dan kesunyian yang tercecer di kegelapan”

Seperti berbisik, orang itu melanjutkan kalimatnya. ”Jika ada air mata yang jatuh kepangkuanku. Maka akan kukirim ke langit bersama rindu dan kenangan, hingga tak kutemukan lagi tangisan yang mengetuk gendang telingaku,” perempuan itu menoleh, hanya sekejab. Setelah itu, dia kembali menghadap ke arah lautan.

”Sudah sekian lama aku menunggu kedatangan kabar tentang kebahagiaan. Tapi bukan kau yang kucari. Jika pun kau adalah penguasa kebahagiaan. Aku ragu, mampukah kau memberikan cahaya yang telah begitu lama menenggelamkan ribuan kenangan yang penuh dengan rindu,” jawab perempuan itu datar.

”Jika kau mencari kesepianku, silakan saja renggut dari jiwaku,” pintanya kemudian.

Lalu perempuan itu mendekatkan mulutnya ke telinga orang itu, lantas berbisik, ”Aku adalah kesepian. Sepanjang hari aku begitu resah mencari, adakah yang dengan suka rela memberikan tawanya untuk kutempelkan ke bibirku bersama tangis dan mimpiku yang terlelap dalam sunyinya malam?"

Diam.

”Angin merobek-robek tubuhku. Lalu melukai hatiku yang kering. Maka tinggal harapan yang tersisa. Menunggunya bersama musim dan pohonan yang mulai kering. Jadi adakah kebahagiaan yang kau tawarkan padaku?” sindirnya. Lalu dia beranjak perlahan dengan gontainya, membawa sisa kenangan yang tak sempat diputarnya. Dia meninggalkan orang itu sendiri bersama purnama.

”Aku akan kembali lagi ke sini, jika kau mau. Akan kutemani kau dan kita bercakap tentang angin yang melukai hatimu itu,” orang itu setengah berteriak menawarkan perempuan itu yang mulai lenyap di antara pepohonan.

Lautan menderu, ombaknya menari-nari, mengisahkan sebuah pertemuan di tengah cahaya rembulan.
Konon katanya, orang itu adalah jelmaan dari cahaya rembulan. Jika pagi dia menyublim dihembus angin, lalu membentuk pelangi dari embun yang membias. Pada malamnya, embun itu lenyap terkikis cahaya rembulan yang menguntit ke gelapan sunyi. Lalu, meneranginya sebagai jalan menuju cahaya yang selalu dijanjikan. Hanya saja tak seorang pun yang mengerti di mana cahaya itu akan menyala.

***

Seperti yang dijanjikan orang itu datang bersama cahaya yang bertengger di atas ubun kepalanya.

”Akhirnya, mata kita bertemu juga. Aku tahu jiwamu masih lelah, karena itu aku menghampirimu.”

Perempuan itu kanget, tapi dengan cepat dia kembali pada kekosongannya. Mereka duduk sambil memandangi rembulan.

”Bagaimana jika suatu siang dalam cahaya yang begitu menyengat, aku menghampirimu dan meminta tetes demi tetes air matamu, untuk kuramu menjadi senyum?” pinta orang itu sambil mendekat.

”Kalau yang kau minta adalah air mataku. Sebenarnya sudah sekian lama air mataku beku. Sejak kekasihku pergi pada badai yang memaksanya terhempas. Aku merasa kesunyian perlahan menghampiri melalui kenangan dan air mata. Sejak saat itu, aku mulai menyimpan tawa, segala sesal datang menghantui, rinduku tak terucap, godaan begitu mengikat, kenangan begitu lekat. Terpaksa aku menjadi perempuan malam yang mengagumi sunyi bersama dingin hingga air mataku beku. Setiap malam aku mencarinya. Pada rembulan dia menitipkan rindunya. Hanya saja sudah sekian lama tak kutemukan di mana janji itu dititipkan.”

”Masihkah kau melihat kebahagiaan di dalam tetesan air mata itu?” tanyanya santai.

”Kau gadaikan kebehagiaanmu, hingga air matamu beku. Dia tidak tahu air matamu beku. Lalu cinta menjadi keegoan-keegoan yang mencekik-cekik jiwamu. Dengan cinta yang seperti itu, kau masih berharap kedatangan kekasihmu itu.”

”Aku hanya menunggu janjinya.”

”Janji?” tanya orang itu heran.

”Ya. Janji yang mengatasnamakan kesetiaan. Tentang sunyi dan air mata yang beku itu adalah takdirku yang memuja kesetiaan,” jawabnya datar.

”Bagaimana jika setiap malam, kutemani kau dalam sunyi sambil mengusir duka yang berkepanjangan dan membiarkan air matamu mengalir?”

”Untuk apa?”

”Untuk mengalirkan tawa pada sendi-sendi bibirmu yang kaku. Agar janji yang kau tunggu tak berwajah pilu yang melekat pada keningmu.”

Perempuan itu diam, kembali memandang bulan seperti mengembuskan doa dan menitipkan harapan pada cahayanya. Lalu berlari ke arah pantai, mencoba bermain percikan ombak di pantai bersama cahaya yang perlahan membujuknya mengarungi batas lautan. Saat sunyi mulai memudar, kebimbangan datang, berbisik perlahan, seperti suara kekasihnya dengan endusan napas yang begitu dikenalnya. Tapi orang itu tiba-tiba menjelma bayangannya dan berbisik dari arah yang berlawanan.

”Aku akan menemanimu dalam sunyi dan kamu akan melepas segala duka,” suara-suara itu saling bersahutan, berputar-putar di otaknya. Orang itu mencoba membujuk sambil menari butoh, sesekali memutar seperti tarian sufi, dengan perlahan dibisikkannya nyanyian-nyanyian kebahagiaan, lalu berteriak, ”Air mata harus mengalir. Bahagia tidak hanya tawa. Air mata yang keluar adalah bagian dari kebahagiaan. Kau lihatlah di ujung sana. Ada kebahagiaan jika kau mau. Di sudut-sudut juga ada, di sana, di langit kebahagiaan terlihat indah menjelma bintang-bintang. Lihatlah! Lihatlah! hahaha,” pinta orang itu sambil terbahak-bahak.

Perempuan itu berputar meniru tariannya, mengibas-ngibas pasir. Wajahnya mendongak. Perlahan memandang langit yang berhias bintang dan rembulan yang membentuk cincin, mengingatkannya pada suatu peristiwa yang melingkar di tangannya. Matanya terlihat keperakan, mengalir air mata perlahan. Seduhan yang tertahan akhirnya pecah tangis ke permukaan.

”Terus... terus...menari, menari bersamaku,” teriak orang itu.

”Keluarkan air mata itu, dengan begitu kebahagiaan akan datang perlahan. Kebahagiaan akan datang. Kebahagiaan akan datang. Kebahagiaan akan datang...!"

Perempuan itu semakin menggila, mengikuti teriakan orang itu, berputar-putar, seperti memutar kenangan, membiarkan menyala dalam hatinya. Dia semakin berputar, semakin kencang. Air matanya semakin tumpah ruah. Lalu di sela-sela air matanya muncul lagi kenangan.
Tapi kenangan hanya bersembunyi, dan menari-nari di ingatannya menjadi gelisah, lalu diperbudak rindu.

”Kenapa rindu hanya bersembunyi?”

”Luka yang tak bisa disembuhkan adalah rindu, dan kenangan hanya menghibur saja. Lalu sunyi adalah setan yang menghasut,” teriak orang itu, berulang-ulang hingga tubuh perempuan itu tersungkur ke hamparan pasir. Rohnya terpental-pental dari tubuhnya yang mulai kaku.

”Semua orang mendambakan kebahagiaan. Tapi tidak semua orang mendapatkannya.”

”Untuk apa kebahagiaan?” tanya perempuan itu, lemah.

”Agar terbang meski tak bersayap. Terbanglah bersamaku. Akan kubawa ke bulan.”

”Aku adalah kebahagiaan pemuja keramaian seperti pecahan bintang-bintang yang menjelma rembulan. Aku memunguti kesedihan dan kesunyian yang tercecer dikegelapan.”

Seperti berbisik, orang itu melanjutkan kalimatnya, ”Jika ada air mata yang jatuh ke pangkuanku, maka akan kukirim ke langit bersama rindu dan kenangan, hingga tak kutemukan lagi tangisan yang mengetuk gendang telingaku.”

Perempuan itu seperti melayang ke udara. Sedangkan tubuhnya membeku bersama janji-janji.


Keterangan:
Gizli merupakan bahasa Turki yang berarti "tersembunyi".


*Sule Subaweh lahir di Pamekasan, Madura. Kini bekerja di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Aktif di Komunitas Sastra Jejak Imaji. Kumpulan cerpennya, Bedak dalam Pasir (Pustaka Pelajar, 2017).
*Cerpen ini pernah dimuat di Kompas, edisi 22 Desember 2013.

Post a comment

0 Comments