Tetek-Bengek Pilkades


Tetek-Bengek Pilkades-Norrahman ALif



Tetek-Bengek Pilkades
(Pemilihan Kepada Desa)

Kampung pun semakin tak terkendali di saat hari mulai mendekati agenda pelaksaan pemilihan kepala desa. Sementara orang-orang makin memanas ketika terlihat kemarin pagi, jalan-jalan pedusunan telah bertebaran poster-poster dari ketiga calon kepala desa tersebut.

Sebagaimana yang terlihat pertama kalinya oleh Subadra sendiri di depan toko Sanen pada pinggir jalan di dusun Jurang Ara itu. Terpangpang poster gambar pisang dengan senyum manis yang disertai kata-kata janji: Pilihlah saya bila kampung Sungsang ingin sejahterah, aman dan terbukti terpercaya.

Lalu setelah Subadra menyiarkan kepada pantong-pantong lawan, bahwa gambar pisang sudah terpajang di jalan-jalan yang rawan di tempati banyak orang itu. Akhirnya pada malam harinya pun langsung para calon nomer urut satu maupun nomer urut dua memasang jua poster-poster bergambar jagung dan nyior sebesar pintu rumah kira-kira, dengan wajah semanis tebu dan kata-kata sebijak Mario Teguh, mungkin agar tidak kalah saing pada lawan satunya tersebut.

Lalau di malam yang sudah ke tujuh belas ini, Subadra menghadiri pengajian yang diadakan oleh Sunento, calon kepala desa nomer urut dua itu. Di kediamannya para bajingan, pantong-pantong serta kerabat dari keluarga si istri maupun dari Sunento sendiri melakukan parnyo’onan kepada yang maha kuasa, agar mendapat ijabat untuk menjadi kepala desa yang kedua kalinya.

Karena orang-orang desa Sungsang sini masih yakin kalau dengan melakukan ritual ngaji sebagaimana yang dilaksanakan oleh para calon kepala desa tersebut. Biasanya menurut keyakinan yang mereka pegang teguh sejak lalu, segala apa yang diharapkan akan segera cepat terkabulkan.

“Alfatehaaa!” seru seorang kiai kampung itu seusai memanjatkan doa di kediaman Sunento, yang kemudian dijawab langsung oleh sekalian para tamu dengan mendengungkan surah Fatihah sampai selesai. Seusai itu dengan serentak para sebagian tamu bubar barisan, ada yang masih duduk sambil merogoh satu bungkus rokok lalu dinyalakan. Ada pula sebagian pemudanya mengambil kopi ke dapur untuk disuguhkan kepada para tamu dan sebagiannya lagi langsung pulang dengan terburu karena ada kepentingan yang mendesak.

Sementara Subadra serta kawan-kawan sekampungnya membentuk lingkaran di halaman rumah Sunento itu, sambil menghisap sebatang rokok mempercakapkan seputar harga tembakau, pertanian dan ujung-ujungnya pada situasi politik dalam rangka pemelihan kepala desa.

“Menurutmu bagaimana Badra, Sunento banyak tidak orang-orangnya di sekitar rumah kamu?” pertanyaan Jubri, membuka percakapan. “Iya, alhamdulillah kalau keluargaku sih masih berpihak pada Sunento.” Jawabnya, seolah-olah tak ingin memperpanjang cerita seputar pemilihan kepala desa, karena semua orangnya Sunento tahu bila posisi rumah Subadra sangat dekat dengan kediaman rumah Amsuki, musuh terberatnya Sunento kini.

“Loh kok, yang lainnya bagaimana Badra! Kan kamu sebagai RT di sana, seharusnya tahu dong kondisi suara rakyatmu berpihak ke siapa.” Baru mau berkata, Jubri. Tiba-tiba Sulahi, pantongnya Sunento itu menimpalinya omongan Badra dengan agak ragu. “Iya betul itu!” celetuk tiba Busawi dan lainnya bersamaan dalam lingkaran itu, sambil menghisap rokoknya masing-masing dengan nikmat.

“Hei, Jubri, Sulahi, kan kalian tahu sendiri bagaimana posisiku, agar kamu tahu, aku ya! Setiap keluar entah kemana saja, selalu ada yang memantauku, siapa lagi kalau bukan orangnya Amsuki, jadi mengertilah posisiku saat ini, kan yang penting aku gak bersuara ke luar.” Ujarnya Subadra panjang lebar, sambil memperjelas posisinya sebagai orangnya Sunento yang paling banyak diawasi oleh musuh-musuhnya itu.

“Iya sih!,” ucap Jubri, sambil mengangguk-anggukkan kelapa seraya berpikir. Bingung juga ya jadi kamu, hemm.” Kata Sahwan, setelah lama memperhatikan pernyataan Subadra.

“Pokoknya kamu harus berusaha Badra, bagaimana caranya orang-orangnya Amsuki berpihak pada kita. Karena kamu tahu, kalau besok kepala desa jatuh pada Amsuki, bukan hanya kita yang malu, Sunento dan keluarganya ikut malu juga. Lagian siapa sih yang mau kalau Amsuki jadi kepala desa, kan dia itu rajanya maling.” Tiba Sulahi berujar sebagai pantong atau tim suksesnya Sunento dengan mata sambil melotot penuh emosi malam itu.

“Siap Li, siap Li! Santailah tak usah garang begitu bicaranya, hehe.” Aku pamit dulu yah, soalnya masih ada urusan di luar.” Ucapnya dengan santai, sambil berdiri kemudian salaman untuk pamit dengan buru-buru.

Setelah Subadra pulang, hanya tinggal Jubri, Sulahi, Mattarwi dalam lingkaran itu. Tak lama kemudian akhirnya mereka pun ikut bubar barisan jua, lalu pulang ke rumahnya masing-masing. Karena waktu juga pun sudah larut malam saat itu.

Waktu pun sudah menunjukan pukul 23:30 WIB, namun ternyata masih ada yang berkumpul di halaman rumah Sunento itu, calon kepala desa saat ini. Mulai dari pemuda sampai bapak-bapak, ada yang pula main demino sampai ada yang pula main geme, telponan, atau ada yang juga sekadar berjaga-jaga dengan senter dikalungkan di lehernya, takut takut ada serangan dari luar yang mencoba memasang sarat di sekitar rumahnya tersebut.

***

Tampaknya waktu pun semakin dekat tanpa terasa, hari-hari pun di kampung Sungsang makin riuh oleh suara-suara gaduh perihal pemilihan kepada desa. Terdengar sudah di sana sini semua orang mempercakapkan siapa yang menang, atau siapa yang kalah kelak. Ada pula yang mempercakapkan tentang taruhan, sebagaimana Suri yang dikatakan kemarin malam itu.

Orang sudah tahu jika Suri adalah pantongnya Amsuki atau yang punya simbol nyior itu, ia mengatakan sambil menantang kedapa pendukungnya jagung, siapa lagi kalau bukan kepada calon Sunento ini. Ia mengakatan, kalau Sunento menang, akan kupotong jari saya. Ucapnya ia kemarin malam, sewaktu orangnya Sunento menanyakannya padanya di pinggir jalan depan toko Sanen.

Sementara kini pun waktu sudah tinggal lima belas hari lagi, sebelum dilaksanakannya pemilihan kepala desa di kampung Sungsang ini. Namun entah setelah peristiwa percakapan di pinggir jalan itu, pada pagi harinya tiba-tiba terdengar kabar bila dari salah satu pendukung beratnya Sunento, calon kepala desa itu, bahwa salah satu warganya kehilangan dua pasang sapinya.

Setelah ditelusuri lebih dalam kabar-kabar burung itu, ternyata benar bahwa seorang warga tani yang bernama Pusani tersebut telah kehilangan dua harta satu-satunya yang ia rawat sepenuh hati dalam kandangnya bertahun-tahun lamanya itu. Bagi seorang petani, sapi adalah perhiasan yang paling istimewa, bahkan sapi dianggap derajatnya sejajar dengan anak kandungnya sendiri.

Sebab itulah warga Sungsang makin nyasar tak karuan, ada pula yang menuduh pantongnya si A yang mencuri. Ada pula yang dengan terang-terangan menuduh si B atau si C, meskipun semuanya itu hanya tuduhan-tuduhan ngawur karena emosi.

Sebagaimana yang tergambar jelas peristiwa duka yang sangat-sangat tak terduga telah menimpa keluarga Pusani pagi itu. Terlihat dari sudut-sudut rumahnya orang-orang bergiliran bertamu ke rumah Pusani, sekadar menanyakan kejelasan peristiwa kemalingan tersebut.

“Terakhir kali kamu jenguk sapinya di kandang jam berapa?” tanyanya salah satu warga.
“Sebelum sapimu digondol maling, kamu gak melihat orang asing di sekitar rumahmu?” susul kemudian RT-nya bertanya.

“Jam berapa tadi malam kamu tidur?” tak mau kalah juga, seorang bertanya yang bernama Sumat itu.
Dari berbagai pertanyaan tersebut, Pusani dan Mol, sepasang suami istri yang sedang berduka itu, hanya menjawab dengan apa adanya sambil mulutnya tak henti-henti berujar makian pada maling yang berhasil mencuri kedua sapinya, yang belum tahu jam berapa maling itu mencurinya.

Karena setahu Pusani, kira-kira jam enam pagi sewaktu mau memberi rumput sapinya, tiba-tiba pintunya terbuka, dan ternyata setelah memasuki kandangnya, sepasang sapinya telah hilang tanpa meninggalkan jejak kaki, hanya menyisakan tali tongar-nya yang telah putus menjadi dua bagian, terpisah dari moncong hidungnya.

Setelah dua hari pascakejadian tersebut, Mol tiba-tiba tidak keluar rumah dalam seminggu, banyak orang berkabar dari mulut ke mulut ia sakit karena depresi akibat sepasang sapinya sekaligus hilang tanpa mereka duga sebelumnya, atau ada lagi yang mengakatan bahwa ia malu bertemu orang-orang, apalagi orang-orangnya Amsuki, yang jelas-jelas musuh bebuyutannya sejak pemilihan kepala desa lima tahun yang lalu.

Karena dahulu Mol sempat adu mulut dengan tim suksesnya Amsuki, dan sampai-sampai berakhir dengan carok di lokasi pemilihan kepala desa sewatku pemungutan surat suara dimulai. Hanya gara-gara dari pihak Amsuki kalah taruhan, dan dengan hati panas tak terima para pendukung Amsuki pada kekalahannya, mereka mencaci maki kemenangan Sunento, dan sampai ingin membakar surat suaranya.

Sementara para pendukung Sunento tak menanggapi ejeken tersebut, yang berani menentangnya pada saat itu hanyalah Mol, Mol berkata keras-keras pada bajingan-bajingan Amsuki yang berusaha membuat gisruh suasana kemenangan Sunento. Mol berkata sambil mengacung-acungkan guluk atau keris pada musuhnya sambil mulutnya berujar ngawur: mon bekna tak narema, kecok sapena engkok bei ra, patek, museng! Ucapnya lima tahun yang silam.

Barangkali awal-mulanya dari peristiwa itulah kebencian bermula dan terus membara sampai pada pemilihan kepala desa kembali memberi ruang bagi siapa saja yang ingin menjadi pemimpin desa Sungsang ini. Dan baru minggu lalu kebencian itu terlunaskan pada salah satu pendukung berat calon kepala desa nomer urut dua ini, Sunento.

Jurang Ara, 2019

1.       Serapan dari bahasa Madura untuk menyebut pengawal atau pendukung berat calon kepala desa.
2.       Serapan dari bahasa Madura untuk menyebut ritual permohonan melalui doa, tahlil dll, kepada Allah.
3.       Sarat itu bila dalam tradisi Madura, orang mengistilahkannya adalah sebuah sisipan yang diberi dukun atau kiai untuk melumpuhkan si seseorang dituju, dan itu tergantung permintaan si orang yang minta sarat, untuk kejahatan atau kebaikan.
4.       Semacam tali yang dimasukkan ke lubang moncong hidung sapi, sebagai pengendali sapi agar tidak lari.
5.       Guluk adalah sisipan orang Madura sewaktu ingin bercarok atau ketika ingin bepergian jauh.
6.       Artinya, ‘kalau kamu tak menerima, curi saja sapiku aja’ sementara ‘patet, museng ‘ itu adalah nama hewan yang menjadi ucapan makian.


* Norrahman Alif lahir di Jurang Ara, Lahir di Sumenep Madura. Aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ) dan sekarang menjadi relawan Pustaka Bergerak Desa (PUSDES). Karyanya sering dimuat di media cetak maupun online, baik media lokal ataupun media nasional. Seperti Tempo, Republika, Pikiran Rakyat dan lain-lain.

**Cerpen ini tayang di mbludus.com 
(https://mbludus.com/tetek-bengek-pilkades/?fbclid=IwAR2D2fthOwdXZSjvydJzUetJAA6PFGIxcvx86hhsQb2PzZXWA9TopuB0-aU)

Post a comment

0 Comments