Wednesday, 4 December 2019

Teater Tanpa Platform


TEATER TANPA PLATFORM - SANGAT MAHENDRA


PARADE Teater Jawa Timur, Gedung Cak Durasim Taman Budaya Jatim  27-28 September 2019
[Penyaji; pengecer jasa ide kreatif Lumajang, “Buto” sutradara: Ferry Aw. Teater Tobong Surabaya, “Kerebritis (kisah Trimo dan seekor kucing bernama Viola)”. Teater Extra Gresik,” Grafito” Naskah: Akhudiat Sutradara: Irfan Akbar P. Teater HMPT Surabaya,” Bila Malam Bertambah Malam”, Naskah: Putu Wijaya sutradara: Abdurrahman Satrio. Rumah Seni Lalonget Sumenep,” Retorika Kerinduan”, naskah/sutradara: Hamzah Fanzuri Bazar. Abi ML dan Dayu Prisma Project banyuangi, “Xati/Xuicide”, Peiset/ sutradara: Abi ML]

Kalau perlu tahun depan kita undang juga kelompok-kelompok teater dari luar Jawa Timur, juga akan kita adakan lomba penulisan naskah teater.Pidato ini seperti harapan besar setiap seniman teater. Seperti sejak tahun 2016, Afrizal Malna pada sesi diskusi hasil pengamatan menyatakan hal yang sama, bahwa saatnya parade teater mengundang kelompok dari luar Jatim. Namun kenyataannya, kita seperti bermimpi siang bolong, alih-alih janji masa depan teater yang gemilang semacam itu, justru kegiatan yang sedang berlangsung rasanya seremonil dan menghabisi anggaran saja.

Saya percaya, teater mempunyai cara pandang lain dalam melihat dan menampilkan realitas. Sebuah cara pandang yang intim dalam memandang kemungkinan kebenaran realitas yang absurd. Sebuah kebenaran yang tidak melulu kebenaran ilmu, tetapi menyangkut manusia dengan seluruh tubuh, ruang dan imajinasinya.

Menampilkan 6 penyaji dari beberapa daerah (yang beberapa dipertanyakan, kualitas, penjelajahan artistik, pengalaman estetik dan dramaturgi teaternya) Kegiatan parade teater Jawa Timur kali ini seperti berjalan tanpa rel. Parade teater hanya mementaskan tema teater Jawa Timur. Sebab, keragamaan budaya Jatim, dan mimpi besar pertanyaan ‘apa itu teater jatim?’ seperti lenyap ditelan arogansi acara (kegiatan) yang tidak terprogram dengan baik. Tentu saja ini seperti tegangan perdebatan tidak ada habisnya teater dan negara. Walaupun juga tidak semestinya kita hanya berpikir regulasi tentu saja. Sebab kemajuan teater justru berada di tangan totalitas setiap pelakunya.

Dengan dibuka dengan pertunjukan ‘Buto’ oleh komunitas pengecer jasa ide kreatif, sebuah cerita carangan wayang dengan tema semar dan para buto. Sebuah pertunjukan yang membawa Konteks seperti hanya dipahami sebagai medan kontruksi pertunjukan. Sehingga kehadirannya masih masa lalu (romantis) walaupun dengan susah payah mereka berusaha menjangkau cerita-cerita yang lagi trend. Konteks kejadian tidak beranjak, ia hanya berputar diseputaran tema wayang masa lalu. Disebabkan kontruksi tokoh yang sudah kuat, sehingga pertunjukan terkesan tidka serius dan asal. Semua berlomba untuk unjuk kebolehan.

Model pertunjukan yang mendekati tradisi ketoprak, khususnya matraman jawa tengahan terasa hambar. Pilihan dramaturgi posttradisi semacam ini, ketinggalan tubuh ludiknya. Sehingga artistik hanya persoalan memakai kostum wayang, sedang teks tidak berjalan sebagai tubuh yang realitas. Seperti kita tahu, tradisi selalu mengeksplor kehadiran panggung dengan adaptasinya pada ekologi dimana ia tinggal. Pertunjukan buto terkesan ditempelkan kedalam situasi kekinian dan dipaksa menjadi kontemporer. Pemusik yang dipakai sebagai penjaga cerita terkesan terlalu cerewet dengan beban estetika tradisi yang setengah hati. Tentu semangat menjaga tradisi dengan alasan pelestarian dan kecintaan saja tidaklah cukup. Semua itu harus ditopang oleh ilmu dan wawasan artistik dan estetik yang berkwalitas.

Tidak jauh berbeda dengan Buto, pertunjukan Grafito karya Akhudiat yang sudah sangat populer di Jawa Timur. Siapa yang tidak kenal kenakalan Akhudiat dalam naskah-naskahnya. Ibarat sebuah kerja menerobos batas-batas realisme hingga kesisi-sisi gelap irasionalitas. Grafito juga memainkan strategi penceritaan yang khas ‘realisme magis’ (seperti disebut halim HD). kisah percintaan lain agama dengan modus cindrelelacomplek khas anak millenial namun terbentur oleh perbedaan agama. Dan pertemuan mereka di jalanan seperti menegaskan tentang wacana jalan raya sebagai ruang tanpa afirmasi. Sehingga setiap hal bisa bertemu dan klik. Namun dalam kenyataannya ‘jalanan’ akan tetap berakhir kedalam institusi rumah tangga, sehingga pertentangan perkawinan mereka tetap terjadi. Dan untuk menghadirkan penolakan akan perkawinan lain agama itu dihadirkanlah mitos.

Persoalan yang terjadi, artistik pertunjukan terasa datar. Dimana kenakalan yang dihadirkan oleh teks diat tidak muncul. Pertunjukan seperti acara perpisahan sekolah dengan nalar pelajar yang masih menganggap proses melulu trial and error.

Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya ditangan sutradara Abdurrohman Satrio seperti macet. Ia hanya diproduksi sebagai presentasi kisah (naskah). Dengan hampir menghilangkan seluruh aspek kemungkinan teater yang menarik. Pertunjukan malam itu hanya berusaha menghadirkan peristiwa sosial masyarakat Bali sebagai integral kehidupan mereka. Sementara kita tahu Putu Wijaya dengan meta narasi-nya membuka peluang untuk keluar dari jebakan naskahnya sendiri. Seperti kita lihat di dalam seluruh garapan Teater Mandiri. Tapi apa yang terjadi dengan “Bila Malam Bertambah Malam Abdurrohman kemarin sungguh anti klimaks. Disamping pendekatan tekstual Bali dengan mencoba memaksa aktornya memakai dialek Bali justru membuat dialog mereka tidak jelas. Pemahaman ruang (seperti diungkap Wani Darmawan) selaku pengamat tidak dapat diterobos, sehingga dialog mereka gagal meresonansi pesan yang tidak artikulatif itu. Ditambah musik, yang hadir sebagai musik komposisif. Musik seperti menderek seluruh kegiatan peristiwa. Monoton dan kurang menghadirkan suasana.

Rumah Seni Lalonget dengan pertunjukan Retorika Kerinduan karya Hamzah Fansuri, seperti terjatuh kedalam romantisme tradisi tidak ada dasarnya. Tradisi yang mati karena dipandang melulu sebagai nostalgia. Tema (madura) tiba-tiba berganti-ganti, tera’ bulan, permainan, tandak, dan carok disambung seperti sebuah cerita yang lurus. Tradisi hanya dikolase kedalam sebuah narasi besar kemaduraan yang arogan. Pertunjukan ibarat igauan orang tidur yang terbangun dalam situasi perubahan yang dahsyat, dan semua telah hilang.

Identitas kemaduraan seperti diiris-iris kedalam ritus, bahasa dan ekonomi. Akan tetapi justru di dalam pertunjukan secara artistik, modus pengucapannya terpenggal-penggal. Sutradara lupa pada spontanitas dan kekakuan (keseharian) orang madura yang unik dan khas. Sehingga adegan hanya melompat-lompat dari satu peristiwa ke situasi rumit tekhnik dan tematik.

Berharap pada Kerebritis Teater Tobong, sebagai kelompok teater yang sudah senior tentu kelihatan artistika dan estetika garapan mereka. Dengan mengusung suasana black komedi yang coba dihadirkan lewat kisah kelompok miskin kota, Teater Tobong menggarap wilayah-wilayah komedi pinggiran kota sebagai modus pengucapan teaternya. Tema tempe dan kekekalan “kemiskinan” seperti sebuah medan resistensi tanpa ujung.

Kegelapan tematik seperti terpatri dalam suasana gelap lighting, dan permainan silouet yang menyilet kesadaran kedalam neurotisme kota. Kecemasan akan hidup benar-benar hadir sebagai sisi gelap dari modus kekuasaan kota. Manusia sebagai aktor utama dalam seluruh tragedi kota dimanifestasi sebagai ruang kehadiran aktor. Sehingga kekuatan aktor adalah tumpuan utama dari pementasan.

Arsitektur ruang panggung cak durasim (malam itu) juga menjadi masalah pada pertunjukan Kerebritis, rupanya seperti disebut oleh Dody Yan Masfa sang sutradara, justru model panggung prosenium dengan deretan bunga-bunga di depan telah menyeret jarak penonton terlampau jauh, sehingga komunikasi menjadi terhambat. Saya pikir itu benar adanya. Setelah dua kali saya menonton Kerebritis, yang pertama di Pekan Teater Nasional 2018 Taman Ismail Marzuki Kakarta, terasa ada yang hilang, sebuah narasi percepatan kota dengan persoalan jarak dan pengadeganan yang dilakukan oleh sang sutradara Dody Yan Masfa.

Persoalan teater sekarang, para pelaku teater selalu berusaha menerabas batas-batas teater. Difinisi teater kembali dipertanyakan dan melahirkan model-model pertunjukan yang memproduksi pertunjukan persilangan, dengan merobohkan batas genre; lintas disiplin. Begitulah pertunjukan Xati/xuicide abi ML. Dengan mengambil modus bunuh diri 270 istri cerita tawang alun II, ia berusaha membaca kejadian bunuh diri hari ini. Akan tetapi penting saya pikir mengamati isu-isu yang berkembang, dengan tetap juga penting melihat pergulatan artistik yang berkembang, menghadapi fenomena sosial yang terjadi antara masa lalu dan masa kini dan masa depan setiap daerah dan kota-kota.

Praktek teater sebagai teater kekinian, sudah mendifinisakan penontonnya sendiri. Namun persoalan teater kita masih kehadiran. Sebagian besar mereka memposisikan riset sebagai kegagahan data. Tetapi bagaimana kerja riset diposisikan dalam pertunjukan, dan bagaimana kerja riset juga dipahami sebagai praktek estetika, masih berlangsung riset sebagai kerja menduga-duga, data sebagai imajinasi juga hasil hipotesis data sebagai drama.

Seorang teaterawan mesti akan berada dalam tegangan antara bentuk dan isi. Seiring seorang seniman memiliki gagasan artistik yang brilian namun dalam eksekusinya kedodoran. Sebaliknya ada yang dari sisi pemikiran sederhana namun perwujudannya di atas pentas mencengangkan. Dalam tegangan bentuk dan isi ini, seringkali sebuah pertunjukan menjadi klise. Dan dalam upaya mengejar kebaruan itu, seringkali sang teaterawan terjebak kedalam situasi ‘klise dirinya sendiri’ yang tidak berkembang. Sebab seni sejatinya tidak hanya mengejar dirinya melainkan sebuah realitas yang terus berkembang.

Jawa Timur seperti tidak menemukan kebaruan pengucapan teaternya. Sehingga mereka coba mengais kembali ludruk sebagai bahasa ungkap teater. Sementara ludruk sebagai canon tradisi ia masih bercokol dan terus diproduksi. Bahkan dalam beberapa hal ludruk juga berusaha keluar dari pakem mereka. Merambah dunia teater yang lebih luas. Anehnya justru teater diseret-seret kedalam ludrukan. Kenapa bisa terjadi semacam itu? tentu saja peran lembaga (institusi) pemerintah dengan taman budaya seperti berdiri dalam romantisme masa lalu. Seperti banyak kita lihat, di dalam kerja pariwisata saat ini yang berlomba-lomba memproduksi tradisi melulu sebagai kerja meromantisasi masa lalu. Di sana katarsis seperti ruang melepas lelah setelah seharian berjibaku dengan kehidupanan yang semakin seret. Teater (seni pertunjukan) pada akhirnya hanyalah ruang bernostalgia dan menina bobokan masyarakat semata.

Begitulah yang terjadi dengana parade teater Jatim kemarin (27-28 setember 2019). Ia seperti sebuah praktek tanpa platform. Kurasi hanya dibaca sebagai memilih penampil tidak lebih. Meminjam istilah Luhur Kayungga, teater tanpa masa depan.

Platform apa yang dipakai? Dan strategi pemanggungan apa yang menjadi acuan, semua terasa tidak jelas dan terkesan seremonial dan settingan (ibarat fenomena artis sekarang). Tabik!


Language theatre 29 september 2019
*Mahendra lahir di Sumenep,Madura. Penggerak Teater di sumenep. Menyelesaikan S1 di jurusan Theology dan Filsafat IAIN (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang Tingga di Sumenep.

No comments:

Post a Comment