Saturday, 9 November 2019

Bahasa Koruptor

BAHASA KORUPTOR-get.pxhere.com

“Ayah, apa itu koruptor?” Tanya anak pada bapaknya.

Entah dari mana anak itu mendengar kata sedemikian. Kata koruptor seperti terngiang-ngiang di kepalanya. Mungkin dia mendengar dari perbincangan orang-orang dewasa. Akhir-akhir ini kasus koruptor memang kian menumpuk. Para koruptor sudah seperti tikus-tikus yang menyerang lumbung. Jadi wajar, bila di tongkrongan-tongkrongan koruptor menjadi topik yang cukup hangat.

Bapak anak itu memandang bingung anaknya. Dia tak tahu harus menjelaskan mulai dari mana. Anaknya terlalu muda untuk mengerti tentang koruptor. Sebegitu berpengaruhkah koruptor? Hingga anaknya pun terpancing keingintahuannya pada sosok penjahat di depan meja.Namun sebagai seorang bapak, sudah sepantasnya dia menjelaskan secara sederhana.

“Koruptor adalah pelaku korupsi, Nak.”

Raut muka anak itu masih menggambarkan kebingungan. Dia masih sukar memahami kata-kata bapaknya. Guru di sekolahnya tak pernah sesekali menyebut nama koruptor, apalagi korupsi. Gurunya hanya mengajarkan tentang hitung-menghitung, membaca sejarah, dan cara berbakti. Dia masih tak bisa membedakan, mana yang koruptor dan mana yang korupsi. Dua-duanya berasal dari kata ‘korup’. Membuatnya beranggapan koruptor dan korupsi adalah saudara kandung.

“Kalau korupsi itu, apa Ayah?” Tanya kembali anak itu. Jawaban singkat bapaknya, membuat otak kecilnya menjadi pelik. Dan untuk mengusir perihal tersebut, dia harus bertanya lagi dan lagi.

Pertanyaan-pertanyaan anaknya itu telah menguras pikiran bapak. Mana mungkin anak berusia 5 tahun akan cepat mengerti, pikirnya.

“Kamu tahu tikus, Nak?” Bapak balik bertanya pada anaknya. Barangkali dengan cara mengaitkan binatang, akan lebih muda menjelaskan sosok koruptor.

“Aku tahu Ayah, tikus adalah binatang jelek dan kecil yang suka berkeliaran di lumbung,” dengan tangkas anak itu menjawab.

Bagi anak itu, tikus bukanlah perihal yang baru. Ayahnya yang seorang petani, membuatnya kerap menyaksikan beberapa tikus. Sering kali dia mendengar ayahnya menghardik tikus-tikus yang menyerang lumbungnya. Sebab itulah, dia sangat membenci tikus. Menurutnya, tikus adalah binatang jelek yang pemalas. Sehingga tikus suka mencuri padi untuk memenuhi kebutuhan perutnya.

“Lalu apa hubungannya tikus dan koruptor, Ayah?” lanjut anak itu. Dia kembali bertanya sebab ayahnya tak kunjung menjawab. Dia seperti melihat ayahnya sedang memikirkan jawaban yang pas.
“Kamu tahu. Sebenarnya koruptor itu adalah tikus,” jawab bapaknya. Membuat anak itu melongo heran.

“Tapi kata orang-orang, koruptor itu manusia, Ayah.” Anak itu kian sigap, bertanya-tanya soal koruptor. Hatinya makin penasaran pada sosok koruptor.

“Iya benar. Koruptor adalah tikus berwujud manusia,” dengan santai bapak menjawab. Sepertinya, dia telah mempersiapkan jawaban-jawaban berikutnya.

“Jadi koruptor itu adalah tikus yang memiliki kekuatan seperti power rangers, Ayah.”

Anak itu kembali membayangkan tentang power rangers, yang sering dia tonton di TV. Seolah-olah sosok yang berubah-ubah dan menyelamatkan dunia, benar-benar nyata. Namun bedanya, yang ini adalah tikus.

Dia tak habis pikir, bila tikus bisa berubah menjadi manusia, maka lebih leluasa tikus mencuri padi di lumbung. Ayahnya tak bisa lagi mengusir tikus dengan sapu lidi. Butuh peralatan pembasmi yang lebih canggih, untuk mengusir tikus yang sudah menjelma manusia. Kepala kecil anak itu terus bersikeras untuk berpikir pada kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, bila tikus sudah menjadi manusia.

“Aku takut, Yah.” Rengek anak itu pada bapaknya. Setelah dia berpikir, tentang tikus yang bisa berubah menjadi manusia. “Tikus akan makin jahat, Ayah. Tikus tak boleh berubah menjadi manusia. Nanti Ayah kesusahan mengusirnya.”

“Anak laki-laki tak boleh nangis, Nak. Nanti kalau sudah dewasa, kamu harus mengusir tikus-tikus itu dari dunia ini,” bujuk bapak pada anaknya. Dia menyakinkan anaknya agar tak menangis lagi. Dia tahu, anak-anak akan lebih suka diberi semangat daripada diberi permen dan balon.

Dengan cepat, anak itu mengusap sisa-sisa air mata. Dia berdiri dan membusungkan dada sambil berkata, “Aku akan menjadi power rangers merah agar dapat mengusir tikus-tikus jahat itu!”

Si bapak tersenyum melihat anaknya sebegitu bergairahnya. Dia berharap, sosok power rangers yang anaknya khayalkan, adalah sosok kucing yang akan menerkam habis para tikus, tentu tanpa terbuai pada bujuk rayu sang tikus.

“Yah, apa menurut Ayah aku bisa menjadi power rangers merah?!” Tanya anak itu dengan menggebu-gebu. Membuyarkan lamunan bapaknya tentang tikus-tikus yang kian banyak di negerinya.

“Tentu Anak Ayah pasti bisa. Malah Anak Ayah akan menjadi orang yang lebih hebat dari power rangers merah.”Bapak memberi semangat pada anaknya, dengan mengikuti khayalan anaknya itu.

“Memang ada yang lebih hebat dari power rangers merah, Ayah?!”

Pertanyaan anaknya itu membuat sang bapak mati kutu. Dia tak pernah tahu, siapa itu power rangers merah. Dia hanya berpura-pura tahu, demi membahagiakan anaknya. Patut saja, orang dewasa sepertinya, mana mungkin menonton tontonan anak-anak. Dia lebih suka dengan berita-berita politik. Masa kanak-kanaknya pun, masih belum ada TV. Dia menghabiskan masa itu bermain bersama teman-temannya, bukan nonton power rangers seperti yang dibangga-banggakan anaknya. 

“Ada dong...,” ucap bapak untuk menutupi ketidahuannya. Anaknya memandangnya lekat-lekat.

“Apa?!”

Power rangers merah berhati putih,” ujar bapak mantap. Dia tersenyum simpul pada anaknya. Anaknya yang masih belum paham, terlihat kebingungan dengan ucapan si bapak. Entah kenapa, anaknya pun ikut-ikutan tersenyum.

Sepertinya masih banyak yang harus diajarkan bapak pada anaknya. Bapak memandang mata anaknya yang menyimpan beribu-ribu pertanyaan. Matanya berkaca-kaca, sangat bening—belum dikeruhkan oleh harta dan tahta.

Di satu sisi, bapak ketakutan apabila anaknya terjatuh ke jurang yang melenceng. Dia takut, anaknya tak lagi polos seperti ini. Sebab jika sudah dewasa, semua masalah akan terasa rumit. Akan ada berjuta-juta cobaan yang menunggu. Akan ada berjuta-juta godaan yang menggiurkan. Bapak selalu berdoa, anaknya akan selalu berjalan di jalan yang benar.

“Yah, ayo. ceritakan lagi tentang koruptor. Biar aku bisa mengusirnya dengan gampang.” Anak itu masih belum puas mendengar tentang koruptor. Mungkin saja, para koruptor lupa mengorupsi jatah pertanyaan di kepala anak itu.

Kali ini, bapak membisu sejenak. Dia butuh gagasan, untuk berbicara sesederhana mungkin dengan anaknya. Namun tak berselang lama, dia pun kembali berujar, “Sangat sulit untuk menghusir tikus besar itu, Nak.”

“Aku tak peduli, Ayah! Aku kan, akan segera menjadi power rangers merah berhati putih. Ini sudah menjadi tugasku sebagai pahlawan.” Anak itu tampak sangat bersemangat. Dia kembali membusungkan dadanya dan memukul-mukul dadanya bangga.

“Koruptor itu punya bahasa sendiri, Nak. Bahasanya...,”

Belum sempat bapak meneruskan kata-katanya. Seorang CALEG dengan mengendarai mobil beratap terbuka, berorasi berapi-api “Saya janji! Apabila saya menang pemilu nanti, hidup warga akan sejahtera!”

“Saya janji! Apabila saya menang pemilu nanti, hidup warga akan sengsara,” ujar bapak lirih menerjemahkan bahasa CALEG yang melintas barusan. Perihal itu membuat anaknya semakin kebingungan.[]

Aljas Sahni H lahir di Sumenep, Madura. Kini bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta. Anggota literasi IYAKA. Serta salah satu pendiri Sanggar Becak.

*Cerpen ini pernah tayang di Medan Pos, 27 Januari 2019




No comments:

Post a Comment