Sunday, 24 November 2019

Akulah Malaikat Maut Modern

Akulah Malaikat Maut Modern


Aku suka bermain-main dengan maut. Manakala kalian percaya pada malaikat maut, maka kalian percaya akan adanya aku. Aku tak memiliki sayap dan wajahku tak seram-seram amat. Bila malaikat maut yang kalian bayangkan membawa cangkul bernama trisula, aku hanya membawa pistol dan bedil beserta pelurunya yang siap membawamu ke alam baka. Akulah malaikat maut modern yang akan mati ditangan malaikat maut.

Apabila kembali kuingat-ingat, sudah sekitar ratusan orang yang aku jemput nyawanya dengan pistol dan puluhan orang yang aku jemput melalui bedil. Aku memang lebih sering menggunakan pistol. Sebab dengan begitu, aku bisa menyaksikan maut lebih dekat. Tatkala jari telunjukku telah menarik pelatuk, peluru melesat menembus pelipis, darah akan mengalir dan maut pun datang dengan sendirinya. Di saat-saat itulah, aku akan tertawa seperti membanggakan diri.

Kendati aku sering menggunakan pistol, bukan lantas aku tak bisa menggunakan bedil. Malahan aku adalah penembak jitu jarak jauh. Hanya sajabila kugunakan bedil, aku tak leluasa melihat darah segar dan ekspresi orang ketakutan yang sakrakatulmaut.

Menggunakan bedil pun aku terpaksa. Sebab, orang yang menyuruhku tak mau bila ada jejak sedikit pun.

Tentu saja, orang yang aku bunuh, dan orang yang menyuruhku membunuh, sama-sama orang penting. Aku suka membunuh. Namun orang yang aku bunuh beberapa hari yang lalu, nyaris membuatku bergidik.

Tak ada yang istimewa darinya, dia hanya sekadar orang biasa dengan penampilan biasa-biasa saja. Bahkan aku membunuhnya dengan tidak sengaja. Ya, aku tidak sengaja. Kenapa tidak? Walau aku pembunuh profesional, aku juga manusia yang tak lepas dari salah.

Seseorang berjas hitam mendatangiku kala itu. Dia bersikap seperti Tuhan, memberi tugas padaku yang dianggapnya malaikat maut. Jelas aku akan segera bergerak, asalkan DP jasaku terbayar lunas. Aku akan bekerja apabila sudah ada uang. Kalau tidak, ya aku akan diam saja. Justru, aku akan membunuh dia yang berani main-main denganku. Emang dia siapa? Sok memerintah.

Menurut data, orang yang akan kubunuh adalah seorang mata-mata. Tak mudah bagiku, dapat membunuh orang yang bermata jeli. Maka ketika pekerjaan menyenangkan ini sudah selesai, aku akan meminta bayaran tambahan. Perihal itu sudah seringkali terjadi, kalau orang yang memberi tugas tak mau, terpaksa aku juga harus mencabut nyawanya.

Tugas yang satu ini sangat menyiksaku. Kata orang, mata-mata itu suka menyamar. Coba saja kalian bayangkan, betapa sukarnya aku mencarinya. Aku harus mencari satu persatu orang yang seperti gambaran—kurus, berjenggot, dan hitam pekat. Aku harus memasuki kerumunan orang dan memeriksa postur tubuhnya. Sungguh membuatku kesal.

Sebab jengkel, aku banyak membunuh orang. Hasrat membunuhku tak bisa aku tahan lebih lama lagi. Dengan bengis, aku membunuh satu persatu orang yang mirip dengan postur mata-mata itu. Dari pemulung hingga penjual koran, aku intai mereka, lantas aku bunuh di tempat sepi.

Beberapa foto orang yang kubunuh, kusuguhkan kehadapan orang yang memberiku tugas. Tapi lagi-lagi dia memberi jawaban yang tak kuharapkan. Dia menggelengkan kepala. Sontak aku beranjak dari sofa, kemudian kembali mencari orang yang akan kubunuh.

Sungguh aku kesulitan mencari mata-mata itu. Hampir semua orang berperawakan seperti gambaran yang  dijelaskan, telah kubunuh dengan sia-sia. Dalam waktu dekat, aku sudah terlalu sering membunuh orang. Darah bercucuran, mata terbelalak, dan mulut menganga penuh kepanikan yang aku saksikan, nyaris membuatku bosan.

Dan pengemis itu adalah orang ke empat puluh sembilan yang berhasil aku curigai. Dia terlihat ringkih. Tubuhnya kering kerontang, berjenggot dan berkulit hitam pekat. Tak salah lagi, mungkin dia mata-mata itu, pikirku.

Bila kulihat lebih saksama lagi, dia tampak seperti pengemis biasa-biasa saja. Dia meminta-minta pada orang yang berlalu lalang. Raut wajahnya juga menampakkan sebuah kesedihan menahan lapar. Sejauh ini, dia masih tampak seperti pengemis pada umumnya. Namun tak aku hiraukan apa yang kulihat. Hatiku berkata, mungkin dia sudah tahu kehadiranku, sehingga dia berpura-pura menjadi pengemis yang meyakinkan.  Bukankah mata-mata itu pintar menyamar? Jadi aku tak mau ambil resiko. Aku akan menghampirinya dan membunuhnya.

Pelan-pelan aku mengikutinya dari belakang. Aku akan membuntuti hingga ke rumahnya, dan disanalah aku akan menembak pelipisnya dengan bengis. Entahlah, aku setengah tak percaya. Dia seperti memberi peluang bagiku untuk membunuhnya. Dia berjalan melewati lorong sempit, seolah-olah dia tahu aku mengekorinya dari tadi. Apa mungkin dia memang ingin mati. Sudahlah, aku tak perlu memikirkannya. Tugasku adalah membunuhnya, itu saja.

“Apakah di sini adalah tempat yang pas?” Ujarnya seketika.

Ucapannya membuatku melongo heran. Apakah ini sebuah kebetulan? Pengemis itu seperti sudah tahu niatanku. Tidak mungkin, sejak tadi aku telah menjaga jarak. Mungkin saja dia punya maksud lain bilang seperti itu. Ah! Tapi aku tak bisa menepis pikiranku sendiri. Lorong ini amat sunyi dan sepi, amat cocok untuk membunuh.

“Apa maksudmu?!” Aku mencoba bertanya. Aku tak mau hidup penasaran, sebab dia kubunuh sebelum memberi penjelasan.

“Sudahlah tak usah berpura-pura seperti itu,” ujarnya lagi sambil berbalik arah. Tubuh kami berhadapan dan mata kami bersitatap. “Kamu mau membunuhku kan.”

Sontak darahku mendidih, jantungku berdegup sangat cepat dan anehnya tubuhku bergetar dahsyat. Baru kali ini ada orang yang sudah tahu rencana pembunuhanku. Dia pun pasrah bila kubunuh. Tak kulihat sedikitpun raut muka cemas atau bahkan ketakutan. Tubuhnya pun tampak sangat tenang. Dia seperti telah merencanakan kematiannya sendiri. Bukan dia yang bergidik, malah aku yang bergeming.

“Hey! Kenapa kamu termenung?”

Dia membuyarkan lamunanku. Aku kira ini mimpi, ternyata benar apa adanya. Ada seorang pengemis yang sedang menawarkan dirinya untuk dibunuh.

Angin mencekam tubuhku. Wajahku tampak pucat dan dingin. Baru kali ini tanganku bergetar mengangkat pistol. Aku tak tahu perasaan apa yang bergentayangan dalam batinku. Aku melihatnya tersenyum rendah. Semestinya senyuman itu tersungging di bibirku. Malah sebaliknya, aku yang bergidik ngeri. Aku seperti bertukar tubuh dengan orang yang pernah aku bunuh. Aku merasa dihadapkan oleh kematianku sendiri. Padahal, aku masih memegang pistol yang diarahkan ke pelipisnya.

“Cepatlah, bunuh aku. Bunuhlah aku seperti orang-orang yang sudah kamu bunuh!”

Dia masih melontarkan kata-kata mengerikan yang membuat telingaku panas dan tubuhku bergetar tanpa henti. Siapa dia? Kenapa aku jadi pengecut seperti ini? kenapa tubuhku tak mau berhenti bergetar? Kenapa batinku tak berhenti bergidik?

“Ingatlah, sebentar lagi malaikat maut yang sesungguhnya akan menghampirimu!”

Keparat! Dor! Aku menarik pelatuk. Darah mengalir dari pelipisnya. Aku berhasil menembaknya. Aku telah membunuhnya. Aku lega, namun kenapa kata-kata terakhirnya terngiang-ngiang di kepalaku. Dia sudah mati, tapi kenapa aku merasa menyesal.

Aku memperlihatkan foto pengemis yang aku bunuh. Barangkali, orang itu adalah mata-mata yang dicari lelaki berjas hitam itu. Namun seperti yang telah kutebak, bukan pengemis itu orangnya. Aku kesal. Mataku nyalang menatapnya. Aku mendengus bengis. Sebab orang berjas itu, aku menjadi ketakutan seperti ini. Aku merogoh pistol dengan sangat geram. Tanpa banyak bicara, nyawanya melayang dengan sekali tembak.

Langkahku gontai berjalan pulang. Malam tampak mencekam di tengah hiruk-pikuk kota. Mataku menatap nyalang tangan-tanganku yang penuh bercak darah. Teriakan orang-orang yang aku bunuh seperti tengiang-ngiang di kepalaku. Wajah ketakutan mereka samar-samar seperti berkelabat dalam pikiranku. Maut yang sesungguhnya akan menghampirimu, kata-kata terakhir pengemis itu masih bergentayangan dalam dadaku. Membuatku bergidik ngeri dan bergetar dahsyat.

Hingga kini, aku tersungkur lunglai tak berdaya. Aku benar-benar tersiksa. Kata-kata terakhir pengemis itu telah menyakitiku. Mataku lebam sebab menahan kantuk. Aku berusaha untuk tidak memejamkan mata. Karena ketika aku tertidur, mimpiku tak lain adalah bayangan bengis yang siap mencabut nyawaku. Dalam mimpi, aku melihat kematianku sendiri. Trisula yang aku lihat di alam bawa sadar, tampak mencabik-cabik tubuhku dan mencincangnya menjadi potongan-potongan kecil nan halus.

Aku benar-benar sudah seperti orang gila.Hidupku malang melintang, rambutku awut-awutan dan langkahku terseok-seok. Yang dapat kulakukan hanya memojokkan diri sambil bergidik ketakutan. Saban hari, orang yang telah aku bunuh datang silih berganti. Mereka seperti ingin membalas dendam. Wajah mereka yang penuh darah, mata terbelalak, dengan pistol di tangannya menghampiriku dan menghilang.

Malaikat maut yang sesungguhnya akan menghampirimu, kata itu kembali terdengar di telingaku. Kata yang seringkali bermunculan ternyata benar apa adanya.  Seorang malaikat yang dikelilingi asap tampak muncul di hadapanku. Aku kian ketakutan, hingga tak ada yang bisa kulakukan selain bergidik. Trisulanya tampak berdenting-denting memekakkan telingaku. Aku melihat cahaya gelap, amat gelap.

“Malaikat maut akan segera mati di tangan malaikat maut yang sesungguhnya,” ucapku lirih. Penyesalan sudah berada di ujung tanduk. Namun, semua sudah terlambat. Maut menyiksaku hingga aku mengerang sakit, amat sakit, tanpa batas.


*Aljas Sahni H, lahir di Sumenep, Madura. Kini bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta. Anggota literasi IYAKA. Serta salah satu pendiri Sanggar Becak.

**Sempat tersiar di Koran Pantura, 18-19 Maret 2019

No comments:

Post a Comment