Thursday, 19 September 2019

Setiap Jomlo Pasti Punah pada Waktunya

Setiap Jomlo Pasti Punah pada Waktunya

BAGAIMANA bila seorang santri mulai jatuh cinta dan memikirkan pernikahan ketika masih dalam proses belajar di pondok pesantren? Adakah cara untuk menenangkan batin mereka atau sekadar menjadi pengobat rasa hingga pembelajaran di pesantren tuntas dijalani?
INILAH yang ingin disampaikan buku "Santri Menikah, Jomblo Punah" karya Anifa Hambali. Pada pembukaan buku ini, Anifa menyajikan sajak berjudul Menjadi Santri. Berikut potongan sajak itu. Belajar menahan diri dari nafsu duniawi/ Seorang santri harus terus belajar/ Bermetamorfosa diri menjadi kupu-kupu yang indah/ Menjadi orang yang bermanfaat untuk agama dan tanah airnya.
Anifa menuliskan bahwa sosok santri adalah insan yang dibebani tanggung jawab dan tugas untuk belajar, berproses menuju pribadi yang berilmu, dan berakhlak sehingga nanti kembali ke masyarakat dengan bekal keilmuan yang mumpuni.
Buku 189 halaman ini memuat 19 judul mengenai kehidupan santri, tips, dan trik menuju pernikahan dan tantangan yang mesti dihadapi para santri agar lebih berdaya saing. Di bab Santri Milenial, Anifa mengulas bagaimana seharusnya santri menempatkan diri agar menjadi sosok ideal demi meraih masa depan. Menjadi santri itu jangan disia-siakan. Banyaknya kesempatan belajar yang ditawarkan di pesantren seperti mempelajari ilmu agama dan ilmu dunia. Menjadikan kapasitas santri semakin ideal.
Terlebih, pada 2020, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, yaitu 50 persen penduduknya akan berada di usia produktif (16–64). Itulah yang disebut Indonesia Emas (hlm. 5). Tanggung jawab santri harus giat belajar agar tercipta santri dengan kapasitas keilmuan yang lebih memadai. Perubahan yang baik itu pun nantinya akan mendekatkan pada pencarian jodoh.
Penulis yang pernah mendapat award sebagai Santri Preneur 2017 di bidang usaha kreatif ini menguraikan bab Jomlo ala Santri tentang bagaimana seharusnya seseorang memahami status jomlo itu sebagai proses memahami sirkulasi kehidupan. Status jomlo identik dengan perilaku yang akan berhadapan cibiran dan sindiran. Bahkan, karena malu para jomlo itu menyebut diri mereka dengan kata single bukan jomlo untuk mencari dalih pembenaran kesendirian.
Anifa memperjelas arti dua kata itu. Single dan jomlo itu sama saja. Jomlo (adjective) dalam English Dictionary termasuk bahasa slang anak muda Indonesia sebagai status sendiri, belum menikah dan bujang yang memiliki arti sama dengan single (adj). Kata single di dalam kamus bahasa Inggris memiliki arti ”Unmarriedor not involved in a stable sexual relationship” intinya belum menikah dan tidak memiliki status hubungan dengan siapa-siapa (hlm. 12).
Dengan penjelasan itu, Anifa hendak menegaskan jika mau menyebut diri jomblo atau single itu sama saja. Tidak ada pengertian yang menunjukkan bahwa jomblo itu nasib dan single itu pilihan dan prinsip. Meskipun demikian, menjadi jomblo itu juga memiliki sisi kebaikan tersendiri, terutama bagi para santri.
Anifa mengibaratkan status jomblo sebagai free travel. Artinya, masa di mana seseorang bebas ke mana pun akan pergi, melihat dunia yang lebih luas. Menjadi jomblo sebenarnya bonus untuk merayakan kebebasan, terutama jika masih dalam lingkungan pesantren. Mereka yang single dipastikan lebih sering berhasil menuntaskan hafalan dan ngajinya dengan cara husnulkhatimah (hlm. 16).
Di bab ini, Anifa juga memberikan pendefinisian perihal beragam nama jomblo. Misalnya, jomblo mabni, jomblo mustatir, jomblo munqathi’, jomblo rofa’, dan syibhul jomblo. Setidaknya, penamaan para jomblo, menurut ilmu nahwu tersebut bisa dijadikan sandaran dan alasan jika seseorang menjadi jomblo, itu tidak bisa disamaratakan sebagai jomblo ngenes yang tidak laku. ”Padahal, banyak santri menjomblo karena memantaskan diri untuk siap berjuang meminta putri jelita dari tangan Abah dan Uminya,” tulis Anifa untuk menegaskan cita-cita ideal santri jomlo (hlm. 19).
Memilih Jomblo, bab ini khusus membincangkan perihal alasan seorang santri menjadi jomblo. Mengutip cerita dalam buku KH Husein Muhammad dengan judul yang sama dalam bab ini dijelaskan bahwa memang ada intelektual muslim terdahulu yang memutuskan menjadi jomblo hingga akhir hayat. Sebut saja, Imam Zamakhsyari, Ibnu Jarir Al-Thabaridll, (hlm. 25).
Penulis buku ini juga memberikan gambaran terkait hubungan asmara muda mudi yang perlu diluruskan. Misalnya, bab Pacaran vs Pernikahan, Anifa menyoroti perihal pacaran yang kerap kali dilakukan anak-anak muda. Ia menjelaskan, arti pacaran hampir sama dengan ta’aruf (saling kenal). Bedanya, ta’aruf memiliki syarat syariat dalam menjalankannya. Pacaran sering kali memudahkan seseorang untuk menyimpang dan mendekatkan dengan zina. Sementara ta’aruf, untuk proses saling mengenal sebelum menjadi halal, dengan maksud agar orang diingat untuk lataqrobu zina (hlm. 35).
Lalu, apakah di pesantren juga ada hubungan antarsantri untuk sayang menyayangi? Menurut Anifa, potret hubungan anak pesantren lebih cenderung kepada ”kakak adik zone”, yaitu mirip dengan pacaran syar’i. Sebuah hubungan yang sebenarnya juga membingungkan untuk dipahami dan perlu diluruskan agar tidak menjerumuskan pada perilaku menyimpang dan kurang terpuji. Meskipun demikian, ”kakak adik zone” ini kerap mengantarkan dua sejoli kepada tangga hubungan halal sebagai suami istri.
Di bab Santri Menantu Idaman bisa saja merupakan bab yang membuat baper para santri. Anifa menuliskan jika menjadi santri tidak boleh khawatir tidak mendapatkan jodoh. Sebab, tidak sedikit orang tua bersilaturahmi kepada kiai dengan harapan dan doa di pesantren ada lelaki yang cocok dengan putrinya yang disarankan kiai (hlm. 82).
Di bab Cinta di Masa Depan mengajak pembaca untuk berefleksi memahami tentang mencintai dan memiliki. Seperti yang ditulisnya, Ketika kamu memperjuangkan cinta di masa depan, jangan hitung-hitungan untung rugi. Karena cinta bukanlah sesuatu yang bisa dikapitalisasi. Cinta hanya bisa diukur dengan ketulusan (hlm. 152). Sementara di bab Semua Ingin Menikah, secara khusus membicarakan perihal menikah. Membangun rumah tangga itu tentang keberanian untuk berkorban dan berjuang. Untuk menghadirkan kata ”kita”. Sebagaimana yang ditulis Anifa, ”Saat kita ingin menikah, bukan lagi kata 'aku' yang digunakan, tetapi ’kita’ bagaimana kita mempersiapkan pernikahan,” (hlm. 158).
Untuk memahami tujuan menikah, Anifa melukiskan bahwa kata ”kita” menjadi petanda bahwa pernikahan itu dilakukan dua orang yang saling berjanji untuk membuat komitmen menjalani hidup bersama. Ketika menjadi ”kita”, maka perjuangan menuju pernikahan ini tidak lagi memikirkan diri sendiri, tetapi memikirkan apa yang terbaik buat berdua. Apa yang terbaik untuk bersama di dalam keluarga itulah yang menjadi prioritas. Tidak lagi rasa ego dalam diri (hlm. 158).
Kehidupan itu memiliki fase demi fase yang harus dijalani dan kudu dilalui dengan dewasa dan bijaksana. Saat ini boleh saja Anda jomblo, tapi akan tiba saatnya status itu akan diakhiri dengan pernikahan. Santri Menikah, Jomblo Punah, judul yang tepat. Silakan dibaca!
Judul        : SANTRI NIKAH JOMBLO PUNAH
Penulis     : Anifah Hambali
Penerbit   : Belibis Pustaka
Cetakan   :  ke-2, April 2019
Tebal       : 189
Presensi   : Fendi Chovi


FENDI CHOVI
*Pegiat literasi di FLP Sumenep
*Diterbitkan di JPRM pada Minggu, 8 September 2019

No comments:

Post a Comment