Wednesday, 25 September 2019

Perempuan yang Berjalan ke Arah Barat


Perempuan Yang Berjalan Ke Arah Barat

BEBERAPA jam sebelum perjalan itu, ia mengajakku bertemu di salah satu warung kopi tertua yang ada di kota kami. Kira-kira umurnya 20 tahun. Aku tidak perlu menyebutkan namanya di sini. Ia merupakan kawan kecilku dulu. Rumah kami berdekatan. Setelah aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke luar kota,  jarang sekali aku mengetahaui kabarnya, sekalipun lewat telepon. Rupanya ia sudah hamil sekarang. Jelas sekali perutnya yang buncit dibalut dengan  daster warna ungu. Tapi sejak kapan ia menikah. Mengapa pula ia tidak datang dengan suaminya?

“Bagaimana kabar kuliahmu?” Ia menimpaliku pertanyaan untuk membuka percakapan di antara kami.

“Untuk sementara ini masih baik, tapi entah ke depan.” Jawabku sedikit bercanda.

“Kenapa seperti itu?” ia bertanya lagi.

“Ya, begitulah mahasiswa.”

Ia tersenyum tipis. Senyum yang sama. Memang begitulah ia, sikap pendiamnya masih melekat. Tapi ada y ang aneh dari tatapan matanya. Pandangannya tidak lagi selembut dulu. Wajahnya pucat. Badannya kurus. Apa karena ia sudah hamil? Aku masih tak berani menanyakan soal itu. Meski ia kawan kecilku sejak dulu, entah kenapa aku tiba-tiba sungkan. Mungkin karena aku sudah jarang bertemu.

Di warung kopi itu hanya ada beberapa orang saja. Semenjak banyak warung-warung kopi baru yang dibangun di kota kami, warung kopi tertua ini semakin sepi dari pengunjung. Kami duduk di posisi paling pojok. Wajar saja orang-orang tidak mendengar tentang apa yang kami bicarakan.

“Kamu beruntung.” Katanya dengan nada pelan.“ Andai saja dulu aku bisa kuliah sepertimu, mungkin nasibku tidak akan seperti ini.”

“Maksudmu?”
Ia diam sejenak. Pandangannya fokus pada jus jambu yang sedari tadi ia aduk.

“Tidak ada maksud apa-apa. Hanya saja aku menyesal tidak kuliah dulu. Tapi.. akhk, sudahlah, itu tidak penting. Mungkin ini memang takdirku.”
Aku masih tak mengerti dengan pembicaraannya. Ia seperti ingin menyampaikan sesuatu.

\“Ada apa sebenarnya, mengapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu?”
Ia diam tak menjawab. Kami hanya saling pandang. Memang benar, pandangannya tidak lagi selembut dulu. Sorot matanya kian memudar, seperti awan yang tiba-tiba mendung pertanda akan hujan. Soal kehamilannya, aku masih tak berani menanyakannya secara langsung.

“Apa kamu ada masalah?”

Ia masih tak menjawab. Tangannya masih sibuk mengaduk-ngaduk jus jambu yang ia pesan. Lalu diteguk nya jus jambu itu untuk pertama kalinya.

“Oh, iya, berapa hari kamu disini?” Tiba-tiba ia mengalihkan pertanyaan lain.

“Dua minggu lagi mungkin aku sudah balik. Masih banyak tugas kampus yang harus aku selesaikan. Bagaimna kabar ibumu. Apakah keadaannya sudah membaik.”
Ia diam dan menatapku dengan sorot mata mendalam. Wajahnya tiba-tiba pucat. Seperti ada sesuatu yang hendak ia katakan.

“Itulah sebabnya mengapa aku mengajakmu kemari.”
Ia berkata seperti itu seraya menyodorkanku uang yang dibungkus dengan amplop warna cokelat. Melihat ketebalanya, sudah pasti uang itu tidak sedikit. Aku semakin tidak mengerti dengan tingkahnya. Mengapa tiba-tiba ia bersikap aneh.

“Apa maksud dari semua ini?”

“Untuk kali ini, aku sangat membutuhkan bantuanmu. Dan aku harap kamu tidak keberatan.”

“Maksudmu?” Aku masih bertanya, heran.

“Setelah ini aku akan pergi. Uang itu kamu gunakan untuk mengurusi pemakaman ibu.”
Aku kaget mendengar perkataanya.

“Maksudmu? Dia sudah meninggal?”

“Tunggu dulu. Jangan salah paham. Biar aku jelaskan semuanya. Aku tahu kamu kaget. Bahkan, mungkin tak percaya. Tapi tolong, biarkan aku bicara.”

Ia meoleh kanan-kiri, memastikan orang-orang yang berada di warung kopi itu tidak melihat dan mendengar pembicaraan kami.

“Mohon maaf sebelumnya kalau aku merepotkanmu. Aku tidak akan menanggungi mu beban yang begitu berat. Hanya saja aku meminta agar kamu bersedia untuk mengurusi pemakamannya nanti. Ia sudah tidak ada. Aku baru saja membunuhnya.”

Aku terkejut mendengar pengakuannya. “Mengapa kamu tega melakukan itu.”

“Aku mohon dengarkan dulu penjelasanku. Aku tahu kamu sangat terkejut. Dan barangkali kamu juga akan sangat membenciku. Tapi itu terserah, itu pilihanmu. Kamu mau membenciku atau tidak, yang jelas aku hanya minta kepadamu untuk mengurusi pemakamannya nanti. Aku baru saja membunuhnya. Tapi aku membunuhnya dengan cara halus. Aku meracuni nya saat aku mengasihnya makan tadi siang. Sekali lagi maaf kalau aku harus merepotkanmu.

“Tapi itu tetap salah. Meskipun kau membunuhnya dengan cara halus.”

“Sssstttt..Turunkan sedikit nada suaramu. Aku mohon. Aku tidak ingin hal ini diketahui banyak oranag.”

Di warung kopi itu, beberapa orang melirik dan melihat ke arah kami.

“Aku tahu aku berdosa. Dan membunuh adalah hal yang paling aku takutkan sejak dulu. Tapi itulah satu-satu jalan agar keluargaku tidak lagi menjadi bahan ocehan semua orang. Kamu sudah tahu bukan, ayahku telah lama meninggal saat aku masih SMA dulu. Saat dimana kita masih satu sekolah. Ia meninggal dengan keadaan yansg sangat mengenaskan. Dibacok oleh warga sekampung, dan mayatnya dibuang ke tengah hutan sebagai santapan binatang buas. Tidak ada satu orang pun yang mau menghalanginya waktu itu. Tidak ibu, tidak juga aku. Tapi menurutku itu wajar. Karena ia sering mengganggu istri orang. Semenjak ia hidup, ia tidak pernah pulang, seolah ia tidak mempunyai tanggungan apa-apa sebagai kepala rumah tangga. Ia lebih memilih hidup di luar. Berjudi, dan membeli wanita-wanita jalang demi kepuasan yang menurutku tidak mempunyai keuntungan apa-apa. Sekali pulang paling ketika uang hasil judinya sudah habis. Padahal, saat pulang pun ia tidak menemukan apa-apa. Tidak ada lagi sisa perhiasan ibu yang bisa ia jual. Semua perhiasan milik ibu sudah habis terjual untuk kesenagan yang hanya ia nikmati satu malam saja. Ibu sakit juga karena ayah. Ayah kandungku sendiri. Pada waktu itu, ia menyiksa ibu hanya karena ibu melarangnya untuk menjual kalung yang hanya tinggal satu-satunya. Pada saat itu, ia menampar ibu dengan keras, lalu mendorongnya pada pintu kaca lemari. Kepala ibu pecah. Dan itu yang menyebabkan ibu menjadi pikun selama dua tahun. Setelah pulang dari perawatan seorang dokter, ia hanya terbaring di atas ranjang. Ibu sudah tidak bisa mengingat apa-apa, sekalipun mengingatku sebagai anaknya. Semenjak itu pula, dengan kesabaranku, aku mereawat ibu sendirian. Sampai-sampai, demi ingin mendapat uang untuk biaya pengobatannya. Aku merelakan diriku terjerumus ke dalam dunia yang sangat hina. Aku terjun ke dunia prostitusi hanya untuk biaya kehidupan ibu. Di sanalah kesucianku sebagai seorang wanita telah terenggut, hingga aku menjadi hamil seperti yang sekarang kamu lihat. Jangan salahkan aku hanya karena aku melakukan hal terlarang ini. Inilah satu-satunya jalan agar ibu bisa tetap mendapat suapan makan.”

Aku tertegun mendengar perkataanya. Ia menangis dalam diam. Air matanya seketika mengalir membasahi pipinya yang mulus.

“Membunuh ibu adalah jalan terbaik untuk ku, juga mungkin untuk orang lain. Aku hanya tidak ingin merepotkan orang lain mengurusi keadaannya yang tak kunjung sembuh itu, setelah kepergianku nanti. Melihat keadaannya yang tua dan renta, memang mustahil ibu akan pulih kembali seperti dulu. Maka dari itu, aku memberanikan diri membunuhnya. Meskipun sebenarnya aku tidak tega. Semua orang membenciku semenjak mereka tahu bahwa aku hamil tanpa seorang suami. Ocehan-ocehan buruk pun seringkali mereka lontarkan terhadapku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Bahkan orang tuamu sekalipun sudah jarang menemaniku ketika aku sendirian merawat ibu. Aku tidak punya kawan untuk mengadu nasib ini, selain kepada mu. Sekali aku mohon, uruslah pemakamannya dengan uang itu.”

Suasana hening seketika. Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku masih tertegun mendengar semua keluhan nasibnya. Sementara ia masih menahan isyak tanisnya yang tak lagi dapat dibundung.

“Sekali lagi aku mohon, uruslah pemakamannya, dan mohon maaf  jika aku merepotkanmu. Aku pergi.” Katanya seraya beranjak dari kursi duduknya.

“Tunggu.” Aku menarik pergelakan tangannya. “Kamu mau pergi kemana?”

“Jangan halangi aku. Aku akan mengakhiri hidupku dengan berjalan ke tempat yang paling jauh, sampai maut mencabut nyawaku di perjalanan itu. ”

“Aku mohon, jangan halangi aku. Uruslah pemakaman ibu, karena itu jauh lebih penting.”
Ia melepaskan tangannya dari genggaman ku.  Kemudian berjalan ke arah arah barat, ke tempat di mana matahari akan tenggelam.

Kutub, 2018

*Saleojung lahir di Sumenep, Madura. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) dan Sanggar Nuun Yogyakarta. Beberapa Karyanya pernah tayang di Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, dan beberapa media nasional. Gmail: saleojung@gmail.com

*Pernah tayang di Banjarmasin Post, edisi 17 Maret 2019.


No comments:

Post a Comment