Monday, 30 September 2019

Pantomime


Satu
Atlanta
18 hari lagi

Orang-orang berbicara, berjalan, berlari, melihat, menyentuh, tapi tidak mendengarkan. Mereka mendengar, tapi tidak mendengarkan. Dunia selalu bising. Kebisingan itu berlalu begitu saja tanpa pernah didengarkan.

Aku tidak bisa mengendalikannya, juga tidak bisa membiarkannya. Yang bisa kulakukan hanyalah: memperhatikan. Lalu apa yang kudapat?

Sebuah pemikiran, mungkin? Pelajaran? Pengalaman? Tidak, bukan salah satu dari itu, melainkan hal yang lebih mendalam—lebih menyentuh ke dasar. Aku tidak menemukan jawabannya sekarang. Mungkin nanti, besok, atau lusa. Yang penting tidak akan lebih dari 18 hari lagi.

Karena 18 hari lagi, tepatnya, 1.555.200 detik lagi, aku tidak akan di sini. Karena 18 hari lagi, semua akan baik-baik saja, mungkin juga tidak. Tapi, masa bodoh dengan itu.

Sekarang, aku sudah menghabiskan beberapa ratus detik untuk memperhatikan buku bersampul putih bersih di depanku. Jadi, jutaan waktu itu semakin lama semakin berkurang (secara perlahan)

Tanganku menyentuh pulpen hitam dengan ujung yang tidak terlalu runcing di depanku. Aku menulis dengan lembut di atas sampul buku itu.

Untuk Mama
Tolong jangan menyebarkannya kepada siapa pun, termasuk Paman Gin, polisi, tetangga, teman-temanmu, pembantu, atau siapa pun. Hanya Mama yang boleh membacanya.
           
Bibirku terkatup rapat.

Pada umur 7 tahun, aku berpikir kenapa aku hidup.

Pada umur 17 tahun, aku berpikir untuk mengakhiri hidup.

Dua
Asteria

Aku terbangun karena mendengar bunyi langkah kaki dari luar kamar. Risa masih tidur saat aku mengambil tas di sudut ruangan. Aku menggendong tas berukuran sedang itu lalu menyelinap keluar dari jendela kamar mandi. Kakiku mendarat di tong sampah, lalu terperosok dan berguling di tanah. Tidak ada jeritan karena aku sudah terbiasa. Tapi, telapak tanganku tetap terasa perih.

Setelah bangkit dan membersihkan sampah yang melekat di baju, aku berjalan dengan pelan melewati bagian belakang rumah Risa. Ibunya sepertinya sudah pulang tadi malam, dan aku tidak menyadarinya.

Aku melompati pagar dengan cepat. Udara jalanan yang baunya sudah kukenal sejak beberapa bulan ini menyambutku. Bibirku gemetar karena kedinginan. Tangan dimasukkan ke dalam saku celana, kakiku berjalan seperti robot.

Tidak pernah ada kehangatan di jalanan.

Beberapa kendaraan bermotor masih terlihat di jalanan bahkan saat dini hari. Lampu-lampu di beberapa bangunan yang kulewati tetap bersinar terang, tapi ada beberapa lampu jalanan yang mati, sehingga aku harus berhati-hati saat melewatinya.

Sewaktu sampai di depan toko roti yang sudah sangat kukenal, aku melemparkan tas ke bangku semen di depan toko itu dan duduk dengan merapatkan kaki. Sebenarnya aku masih mengantuk, tapi sekarang sepertinya sudah pukul 4 pagi, sebentar lagi pemilik toko ini akan datang untuk membuka tokonya. Dia tidak pernah suka jika ada orang tidur di sini.

Jadi, sembari menunggu matahari terbit, aku mengeluarkan buku dari dalam tas. Kali ini aku punya The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared. Novel ini milik Robin. Aku mengambilnya sewaktu cowok itu sedang sibuk bermain game. Lagi pula dia tidak terlalu suka membaca buku. Dia hanya menjadikan buku-buku itu pajangan di rak sebagai bahan pamer. Jadi, secara teknis, aku tidak mencuri.

Angin terus menerpa seluruh tubuhku saat aku membaca bagian pertama buku ini.

Manuver ini membutuhkan sedikit usaha keras karena Allan berumur 100 tahun. Tepat pada hari ini, bahkan.

Pasti akan sangat menyenangkan jika orang tuaku bisa bernasib sama seperti Allan. Berumur 100 tahun, sehingga mereka bisa bersamaku selama hampir seabad. Tapi, hidup tidak pernah selalu menyenangkan.

Kalau saja manusia bisa melewati penyakit, musibah, bencana alam, dan sebagainya, mungkin mereka akan bertahan lama. Seperti Allan.

Aku menutup buku. Memandang langit yang berwana hitam kelam, tak berbintang, dan tak ada setitik pun cahaya di atas sana. Persis seperti aku.

Entah kenapa aku bertahan, atau untuk apa. Mungkin karena aku Asteria, atau karena aku keras kepala.

*Dipetik dari novel "Pantomime" (Bhuana Sastra, 2019), karya Sayyidatul Imamah, novelis muda kelahiran Sumenep, Madura.



No comments:

Post a Comment