Wednesday, 25 September 2019

Otoritas Orang Awam

OTORITAS ORANG AWAM


BUDAYA Komentar orang awam tidak dibarengi pengetahuan yang kukuh dan data valid. Senjakala kepakaran ini bisa dirunut pada sumbernya: Perguruan Tinggi.

Salah satu tanda matinya kepakaran adalah bermunculannya komentar orang-orang awam di media sosial atas berbagai persoalan Karlina Supeli (2013) menyebut “Budaya Komentar.”
Masalahnya, budaya komentar orang awam tidak dibarengi pengetahuan yang kukuh dan data valid. Akhirnya informasi yang terpapar di dunia virtual adalah pendapat orang-orang asal bunyi.

Persoalan tersebut dinarasikan Tom Nichols dalam risalahnya Matinya Kepakaran: Perlawanan Terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudaratnya. Dalam buku tersebut, Nichols melukiskan massa Amerika yang tidak percaya lagi kepada para pakar. Kehilangan kepercayaan tersebut bukan lantaran para ahli tidak kompeten, melainkan karena massa merasa tahu segalanya.
Kemahatahuan orang awam diteropong Nichols dengan Efek Dunning-kruger. Secara singkat Efek Dunning-Kruger menjelaskan semakin bodoh seseorang, semakin yakin bahwa ia sebenarnya tidak bodoh. Ketidakahlian orang-orang itu menutupi kemampuan menyadari kesalahan.

Kesombongan yang tidak pada tempatnya tersebut, salah satunya, disebabkan banjir bandang informasi di internet. Mobilisasi informasi yang tak terbendung bukan justru menambah pengetahuan yang benar terhadap suatu isu, melainkan menjerumuskan massa ke dalam kubangan berita daif dan kian mendorong bangkitnya era pasca kebenaran.

Obesitas informasi di internet mempermudah akses ke "pengetahuan" yang digunakan orang-orang untuk melegitimasi keyakinannya. Nichols menyebutnya "bias konfirmasi. "Istilah ini mengacu pada kecenderungan mencari informasi yang hanya membenarkan apa yang kita percayai, menerima fakta yang hanya memperkuat penjelasan yang kita sukai, dan menolak data yang menentang suatu yang sudah kita terima sebagai kebenaran" (hlm 56). Bias konfirmasi mencegah kemampuan seseorang memfilter dan menyeleksi mana informasi yang benar dan yang mana data yang salah.

Kehadiran google sebagai mesin pencari data membantu orang-orang narsis dan sok tahu untuk mengomentari sesuatu yang bukan keahliannya. Kemudahan tersebut juga dimanfaatkan para selebritas dan social climber untuk menarik pengikut. Pengaruh figur publik tersebut tentu saja berbahaya jika mereka memberikan informasi yang salah. Massa sering kali percaya kepada idolanya yang menolak vaksin daripada dokter.

Senjakala kepakaran juga Nichols runut dari sumbernya: Perguruan Tinggi, bagi dia, perguruan tinggi di Amerika tidak lagi melahirkan cendekiwan. Hal itu disebabkan komodifikasi perguruan tinggi. Hubungan antar-civitas academica menjelma pedagang-pembeli.

Mahasiswa adalah klien yang keinginan-keinginannya harus dipenuhi kampus. Disorientasi lembaga pendidikan tinggi terjadi jika birokrasi kampus, dosen, dan kurikulum disesuaikan dengan keinginan mahasiswa yang menghendaki kenyamanan -untuk menghindari kata manja. Dampak kapitalisasi universitas mencetak para sarjana yang tidak memiliki kemampuan dasar di bidangnya.

Inkompetensi lulusan perguruan tinggi menambah ketidakpercayaan publik kepada para para pakar. Dampaknya, para ahli yang benar-benar berkompeten turut tersingkir. Kasus-kaus malapraktik para pakar juga kerap mempertebal keengganan massa kepada kaum ahli. Ibarat nila setitik rusak susu sebelangga, massa menghapus seluruh sumbangsih yang telah para pakar abdikan sepanjang hidupnya hanya karena satu kesalahan.

Membaca Matinya Kepakaran terkadang mengesankan bahwa penulisnya agak feodal dan elitis. Namun menyerahkan persoalan tertentu kepada orang-orang yang bukan ahlinya tidak hanya kurang tepat, tetapi juga menimbulkan chaos.

Matinya kepakaran merupakan residu demokrasi yang harus dimaknai ulang bahwa setara tidak berarti sama dalam semua hal. Egaliter dalam demokrasi hanya kesetaraan dalam ruang politik dan hak-hak warga negara.

Nichols cukup rendah hati dengan mengemukakan bahwa objek pengamatannya dalam ruang lingkup publik Amerika saja meski fenomena tersebut, barangkali juga terjadi dimana-mana. Di indonesia yang tingkat penggunaan masyarakatnya terhadap media sosial amat tinggi, riset Nichols begitu relevan. Di Facebook, misalnya, tiba-tiba semua orang menjadi pakar. Persoalan freeport dan utang negara dikomentari para social justice warrior yang memuaskan bias konfirmasi massa. Fatwa para ustad seleb dadakan lebih didengarkan daripada pendapat para ulama yang telah belajar di pesantren dan perguruan tinggi agama bertahun-tahun. Disitulah otoritas kaum awam menduduki kursi kekuasaannya.

Judul               : Matinya Kepakaran
Penulis             : Tom Nichols
Penerjemah      : Ruth Meigi P
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal               : xviii+293
Peresensi         : Royyan Julian          

*Royyan Julian. Dosen bahasa & Sastra di Universitas Madura dan Sivitas Kotheka
*Resensi ini juga pernah tayang di Jawa Pos Edisi Minggu 24 Februari 2019.

No comments:

Post a Comment