Monday, 5 August 2019

Melepaskan Gara

Melepaskan Gara

PUTIH, gemuk, dan lembek, seperti gajih. Namanya belatung. Kelak, ia akan menyembul dari lubang telingamu dan menggerogoti kenangan-kenangan di dalam kepalamu. Tanpa sisa! Semua kenangan di dalam kepalamu lalu sempurna hilang. Bahkan termasuk nama anakmu, Gara. Lengkapnya, Kynan Garawiksa.

“Kenapa aku kok mesti mondok, Yah?” tanyanya di suatu malam seusai menyantap mi goreng kesukaannya yang rutin kubuatkan.

Sekenanya saja aku menjawab—kepada anak berusia dua belas setengah tahun, tak bijak bila kuderakan jawaban panjang bahwa kau harus memiliki ilmu pengetahuan yang dalam dan luas agar nalarmu bisa selalu kritis dan pula kau mesti mengasah hatimu dengan laku-laku riyadhah agar hatimu jernih supaya kelak kau tak menjadi cebong atau kampret yang sama-sama bebal, tengik, bacin, dan bau comberan mampat akhlaknya—“Supaya kelak jika sudah beristri dan beranak-cucu, kamu bisa mengajarkan ilmu-ilmu agama dengan baik dan bijak.”

Gara bertanya lagi, “Di pondok ada Indormart-nya nggak, Yah?”

“Oh, ada, ada,” jawabku cepat. Ini pertanyaan enteng, sangat enteng, maka jawabannya pun enteng, sangat enteng. Toh, jika pun ternyata tak ada, tak sulit bagiku untuk mengadakannya. Kau ini, Nak, kayak lagi berurusan sama siapa to?

Sebuah tangisan pecah dari mulut seorang lelaki sebaya Gara. Ada dua larik pekikan yang mengiris wajah langit, juga hatiku. Semua mata seketika menyergap tubuhnya yang berguncang. Sedihnya ia ditinggal orang tuanya, gumamku, hatinya pasti sangat tersayat. Anak baru umur 12-13 tahun, betapa masih kecilnya. Seno Gumira Ajidarma barangkali belum pernah menyaksikan jerit pilu seorang anak sekecil itu yang menangis karena harus tinggal di pesantren dan berpisah dengan orang tuanya. Juga dunia kanaknya. “Tiada yang lebih sedih dari hati seorang perempuan yang menangis karena cinta,” kata Seno. Ah, ada-ada saja Seno ini. Semoga Gara selalu baik-baik saja, tak menangis seperti anak itu, doaku dalam hati.

Gara sekilas tersenyum kecil kepada anak yang menangis itu dengan ekspresi wajah yang sangat kuhafal. Tiap lekuk wajah dan tubuhnya, aku hafal. Kau tanya apa saja tentang Gara, spontan aku akan sangat bisa menceritakannya. Sebab, Gara anakku dan aku ayahnya…

Orang-orang yang berkerumun di emper Masjid Pandanaran ini, dengan memojok atau melingkar bersama anak masing-masing, pelan demi pelan mulai beranjak seiring kumandang azan Asar. Waktu mengingsut—pelan memang, lebih pelan dari langkah bekicot, tapi dengan pasti selalu maju, tak pernah berhenti. Sebagian besar pergi dan tak pernah kulihat lagi. Sebagian lain ikut salat, juga aku dan Gara.

Usai salat, usai Gara mencium punggung tanganku, aku berbisik padanya, “Le, kerasan ya di sini….”
Ia mengangguk, dengan sedikit tersenyum—senyuman yang kuhafal dengan hafalan yang lebih kukuh menghunjam daripada hunjaman hafalan Al Mulk.

Di emperan, istri dan dua anakku, serta Budhe Iis dan putrinya, Bella, telah menunggu. Gara ditawari pengin jajanan apa oleh mama dan budhenya. Ia bilang sate ayam. Di sisi selatan masjid, sejarak sepuluh langkah, ada pedagang sate ayam pakai sepeda motor yang sedang mangkal. Aku pun beranjak membelinya buat Gara.

Begitu kembali bersama sebungkus sate ayam, sekitar sepuluh menit berselang, kulihat mamanya sedang memeluk Gara. Sangat erat. Erat sekali: helai-helai angin pun takkan sanggup menyapih jarak keduanya.

“Sudah, sudah, Mah, nanti berat sendiri kalau mau pamit,” ujarku. Mereka saling berlepas pelukan, lalu Gara menerima bungkusan sate dariku, dan menyantapnya dengan lahap.

Rabu, 19 Juni 2019. Jika kau bersua denganku sepuluh tahun lagi, itu pun bila aku berumur panjang dan kau pun begitu, tanyakanlah padaku apa yang kukatakan dan kurasakan pada pukul 16.00 itu.
“Bagaimana perasaan Bapak ketika melepaskan Gara saat itu….?”

Sepuluh tahun lagi, pertanyaanmu itu masih akan sangat perkasa membuatku terdiam beberapa jenak, memaksa mataku terlontar ke ketinggian langit malam yang jelaga, lalu ingatanku melesat jauh, sangat jauh, ke setangkup wajah kecil yang amat kusayangi, yang tak lagi ada di depanku. Sebab, Gara anakku dan aku ayahnya, maka ia adalah selalu seorang anak berwajah kecil yang gemar merekahkan senyum dengan gigi putih berbaris di depanku. Baju kokonya hitam. Pecinya hitam. Sarungnya agak menggembung di bagian perut karena cara ia menggulungnya dibuntal-buntal begitu saja sekenanya, asal nyantol.

“Ayah mau ke mana? Aku ikut….” Gara selalu mengucapkan kalimat itu setiap aku akan pergi dari rumah, sejak ia berumur tiga atau empat tahunan. Siang atau malam. Hujan atau terang.

“Ayah mau ketemu teman, Le.”

“Teman siapa?”

“Ada teman bisnis.”

“Di mana?”

“Jauh, di Jalan Kaliurang.”

“Aku ikut ya….”

“Jangan, Le, besok kamu kan sekolah. Nanti saja kalau pas liburan, kamu boleh ikut.”

“Ehmm…ehmmm….” Wajahnya merengut kecewa, lalu membalikkan badan dari hadapanku, kemudian rebahan di depan tivi atau menjamah HP di meja.

Sepulang dari Jalan Kaliurang, nyaris pukul 00.00, tangan Gara-lah yang membukakan pintu garasi buatku. Wajah kecilnyalah yang kujumpai pertama kali. Suaranyalah yang pertama kali menyambutku.

“Kok belum tidur, Le?

“Aku nggak bisa tidur.”

“Kenapa?”

“Nunggu Ayah….”

Wajah kecilnya menyunggi rekahan senyum, deretan giginya yang putih berbanjar di kelopak depanku. Lalu… Aku tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata apa saja, selain segera mengelus kepalanya, menjamah pundaknya, dan menggandengnya masuk ke depan ruang tivi atau kursi panjang di dekat dapur.

“Mau mi?”

“Mau…”

“Sebentar, ya, Ayah buatkan.”

Ia akan terus menemaniku hingga mi goreng buatanku tandas dilahapnya. Kemudian ia kuminta naik ke kasur di kamar depan, di sebelah mamanya, untuk tidur. Ia pun tidur. Bersebelahan denganku. Kerap kutindihi, dengan sengaja, semata untuk kurasakan hangat kulit tubuhnya menjalari kulit tubuhku. Pori-pori kulitnya hangat, selalu hangat, menyelam ke dalam hatiku…

Kuelus kepalanya yang berpeci hitam, kubacakan salawat beberapa kali, kutatap sekujur wajahnya dan hatiku melepas jangkar di matanya yang jernih. ’’Le, kerasan ya di sini, baik-baik sama teman-teman, ikuti semua aturan dan perintah guru-guru, ya…”

Sejumlah santri yang rata-rata sepantar dengan Gara terlihat bercanda di sekitar emperan masjid ini. Suara kaki-kaki mereka bergedebak, berlarian. Cekikikan-cekikikan berlesatan. Dan, nun jauh di sana, di kampung masing-masing, para orang tua mereka tentulah sedang mengelus dada dan kepala menanggung epitaf rindu yang tak terperikan perihnya.

“Sebulan atau dua bulan, Gara insya Allah juga akan begitu, seperti mereka, kan?” gumamku seakan sedang mengajukan pertanyaan yang tak perlu jawaban kepada Tuhan.

“Ayah tenang saja, aku kayaknya sudah kerasan kok. Di sini banyak teman, jadi bisa enak mainnya, hehe…” Suara Gara menerabas bukan ke liang telingaku, tapi ulu hatiku. Merobek takhtanya di dalam sana dan terus membekas hingga berpuluh tahun kemudian begini.

“Amin, alhamdulillah,” ketika ucapan ini keluar begitu saja dari mulutku menimpali sahutan Gara, mataku terlontar ke seberang, ke jalanan, melintas kelindan tembus ke mana-mana, berpuluh tahun silam kala abah dan ibu yang telah tiada mengantarku ke Pondok Denanyar, Jombang, dan meninggalkanku di antara orang-orang asing itu.

Aku mengisak seusai salat Magrib berjamaah. Sejumlah anak sebayaku juga menangis. Ibu, bertahun kemudian saat aku telah jadi mahasiswa, berkisah tentang pilunya ia sampai berderai air mata di dalam bus selama perjalanan pulang ke Madura karena harus terpisah denganku, anaknya, dan aku tertawa ngakak seusai menyimak kisahnya.

Sekarang, Gara tak menangis, ia malah berkata mulai kerasan, dan tepat pada desiran ucapannya itu akulah yang justru menangis. Pondok membuatku menangis dua kali: dulu saat ditinggalkan orang tuaku dan kini saat mesti meninggalkan anakku.

Debu-debu, sesekali, berkesiut disaput angin. Dalam hitungan menit, senja akan sempurna tandang, lalu digulung kelam, semakin hitam, hingga sempurna legam.

Le, sudah sore, saatnya Ayah pulang. Ayah pamit dulu, ya,” kataku setelah memastikan air mataku tak lagi tersisa di kelopak mata. Bukankah sebaiknya anak tak boleh tahu bahwa ayahnya sedang menangis karena dera nestapa hidup menjadi seorang ayah?

“Iya, Yah…”

“Nanti hari Jumat, insya Allah Ayah ke sini lagi menengokmu.”

Ia mengangguk. Lalu kurenggut tubuhnya ke dadaku, kupeluk dengan sangat dalam, dalam, dan dalam sekali. Beri aku kata yang lebih tebal dari kata ’’dalam”, maka pelukanku masih lebih tebal lagi. Mamanya lalu memeluknya. Kemudian budhenya. Lalu kakaknya, adiknya, dan sepupunya. Mereka lantas menyeberang ke sisi kiri di depan masjid, aku melaju ke parkiran di sisi utara, Gara tampak berdiri di ujung teras masjid.

Nyaris sepuluh menit kemudian, aku baru berhasil melintas di depan masjid, di seberang Gara berdiri, di tempat tadi aku menangis. Dan Gara masih setia berdiri di situ! Ia berdiri dengan tangan melambai-lambai ke arahku di balik kemudi, berkali-kali mengecupkan jari-jari ke bibirnya, sembari memanggilku.

“Yah, Ayah.”

Le, dadah, assalamualaikum.” Mobilku berhenti di tengah jalan, kemacetan sejenak mengular, hingga seseorang melambaikan tangan kepadaku memberi isyarat supaya aku segera melaju. “Le, baik-baik ya, Nak…”

Kalimat terakhir yang bisa kukatakan itu merobek kembali takhta hatiku dan deraslah hujan di mataku di depan kemudi. Ini kali ketiga aku menangis di pondok. Istri dan kerabat segera naik ke mobil di tepi jalan, berseberangan dengan tubuh Gara yang masih tampak mematung di ujung teras masjid.

Aku sengaja tak menolehinya lagi. Sengaja, Le!

Ia tak boleh tahu bahwa ayahnya menangis karena kehilangannya. Toh, tak semua hal tepat baginya untuk tahu hari ini dan biarlah waktu yang kelak akan memberitahunya betapa melepaskannya di pesantren merupakan peristiwa hebat yang membuatku menginsafi satu hal perihal pernah sombongnya aku kepada Tuhan. Dulu, aku pernah berkata di depan jamaah pengajian bahwa aku pasti tidak akan meneteskan air mata seumpama di suatu masa Tuhan menakdirkanku lebih dahulu kehilangan anakku sebelum anak-anakku merasakan luka kehilanganku.

“Aku ternyata sombong sekali ketika mengatakan hal itu atas nama kukuhnya tauhidku kepada-Nya. Tapi, aku tak bohong ketika barusan berkata padamu bahwa kepergian Gara dari rumah ini adalah kehilangan yang masih mengandung harapan nyata untuk berjumpa lagi dengannya di Jumat yang akan datang, yang sungguh harapan itu tak lagi ada dalam perpisahan karena melepas kematian,” kataku kepada mama Gara.

Mama Gara terdiam, mengusap matanya yang berlinang, dan pelan-pelan kembali melanjutkan makan malamnya dengan tidak lahap. Kulihat ada Gara di piringnya, di setiap suapannya, di setiap kunyahannya, di setiap kedipan matanya, di setiap tetes air matanya. Dadaku nyeri, sangat nyeri. Sebab, Gara anakku dan aku ayahnya…

“Jadi, bagaimana perasaan Bapak saat melepaskan Gara saat itu?”

Kumasuki kamar Gara yang diisi 12 anak dengan langkah tergesa. Sungguh tak sabar ingin menatapinya, memelukinya. Ia tak ada di kamar!

Aku pun keluar, menaburkan pandang ke segala penjuru, mencari hatiku yang berwajah kecil itu dan senyumnya yang kuhafal sehafal-hafalnya. Selarik suara yang amat kukenal menerpaku tiba-tiba dari arah belakangku. Suara Gara!

Leee…..” Kupeluk ia, kuelus kepalanya. Sepiring nasi putih tergenggam di tangan kanannya dengan bibir piring ditempelkan begitu saja ke baju kokonya. Beberapa butir nasi menempel ke baju kokonya. Kau benar-benar tetap anakku yang kecil itu, Le….

“Kok makannya nggak ada lauknya, Le?

“Iya, kantinnya masih tutup jadi cuma dapat nasi dan sayur. Kalau lauknya kadang pakai abon, dikasih teman.”

“Pernah makan tanpa abon?”

“Ya pernah. Nasi sama sayur asem saja.”

Melepaskan Gara. Tanganku menggandengnya menuruni tangga kamarnya, lalu melaju ke luar, ke sebelah pondok, setelah kukatakan mamanya sedang menunggu di luar dan membawakannya banyak ayam goreng KFC kesukaannya.

“Sebagian nanti kukasih teman-teman kamar ya, Yah. Kasihan pada lama nggak makan ayam goreng.”

Inilah, Le, apa yang dulu ayah maksudkan dengan gumaman betapa pintar ilmu saja, taklim, tidaklah cukup untuk menyelamatkanmu dari pagebluk cebong dan kampret. Kau harus menarbiyahi hatimu agar jernih dengan laku-laku riyadhah di sini sehingga akalmu, ilmumu, bisa terpancari kejernihannya.

Gara menyantap dengan sangat lahap setiap iris ayam goreng KFC bawaan mamanya. Sesekali terdengar suaranya bercerita tentang sandal, sikat gigi, odol, dan gantungan bajunya yang di-ghasab, juga ziarah kuburnya ke makam Mbah Mufid.

“Siapa?” tanyaku.

“Mbah Mufid.”

“Kamu sudah bisa bilang Mbah sekarang, ya, Le.”

“Ya kata teman-teman semua juga bilangnya Mbah Mufid gitu, Yah.”

“Memangnya siapa beliau, Le?

“Pendiri pondok ini.”

Tentu aku hanya sedang mencandainya dengan pertanyaan itu. Ia telah benar-benar menjadi santri—sebagaimana aku dulu.

Tetapi, aku sama sekali tak secuil pun menyelipkan candaan tatkala di sore hari, seusai asar, pamit kepadanya sembari berdoa di dalam hati: Ya Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karuniakanlah mata air kasih dan sayang-Mu kepada anakku ini berupa ilmu-ilmu yang bermanfaat; ilmu-ilmu yang mengalirkannya pada danau kesalehan, bukan sekadar kealiman, dan lautan akhlak karimah, agar kelak ia tumbuh menjadi sosok yang migunani tumraping liyan. Amin.

Sekarang, kau sudah berhasil merasakan derasnya bah perasaanku saat melepaskan Gara?

Putih, gemuk, dan lembek, seperti gajih. Namanya belatung. Ketika belatung-belatung semakin riuh keluar-masuk dari seluruh lubang tubuhku, termasuk telingaku, makin sempurna memamah jasadku, kepalaku, dan seluruh kenangan di dalamnya, hingga aku tak lagi berbentuk serupamu, dan kau pasti akan jijik benar umpama menyaksikan keadaanku, di suatu malam yang gigil dan kelam, sangat kelam. Seorang lelaki kusaksikan dari balik awan-awan seputih kapas sedang menangis seorang diri hingga dadanya bergelombang di teras belakang rumahnya seusai membaca cerita lama ini.

Untukmu di alam kubur, Yah, Al Fatihah, bisiknya dalam hati sembari menyeka air mata. Dialah Gara, anak ayahnya, aku, yang sore tadi tersayat-sayat hatinya karena mesti melepaskannya di sebuah pesantren yang terkenal dengan amaliah salawat, yang selalu membukakan pintu garasi untukku di malam-malam yang panjang.

“Kok kamu belum tidur, Le?” tanyanya.

“Aku nggak bisa tidur,” jawab anaknya.

“Kenapa?”

“Nunggu Ayah…”

“Mau dibuatkan mi goreng?”

“Mau…”

Lalu ia membuatkan mi goreng kesukaan anaknya dan menemaninya makan sampai tandas. Kemudian keduanya bergandengan tangan masuk ke kamar depan dan tidur bersebelahan sambil saling memeluk sampai jelang subuh.

Air mata adalah bahasa kehidupan yang paripurna.

Puisi tersebut dipahatnya di batu nisan ayahnya yang siang malam dikiriminya Fatihah—suatu kelak, ia pun akan diberikan pahatan itu oleh anaknya. Agar aku sama dengan ayahku, tuturnya kepada istri dan anak-anaknya

Jogja, 1 Juli 2019

*Edi AH Iyubenu adalah cerpenis dan esais, tinggal Jogja. Bisa ditemui di jagat Twitter lewat akun @edi_akhiles
*Dimuat di Jawa Pos, edisi 21 Juli 2019.

No comments:

Post a Comment