Sunday, 24 March 2019

Peramal Cuaca


Peramal Cuaca

HARI esok hujan diperkirakan turun beserta angin lebat, sekiranya begitu kata-kata yang sempat didengarnya dari stasiun televisi swasta. Lagi-lagi dia tak ingin percaya pada ramalan cuaca.

“Halah, itu hanya ramalan saja, omongan mereka para pembual yang tak memiliki penghasilan lain selain meramal dengan embel-embel ilmiah”, katanya dengan wajah sinis sambil berdecak lidah. Namun sebenarnya bukan itu yang dibencinya. Ada kekesalan yang masih mengganjal dalam hatinya, sehingga kata-katanya berlepasan tak terkendali. Suatu hal tentang masa lalunya itu yang tak ingin diingatnya kembali, lagi-lagi tentang cuaca.

Sudah lama Sarnito merasa resah dengan keadaan cuaca di desanya. Resah kepada kemarau yang semakin kerasan menguasai belahan bumi yang sedang ditempatinya. meskipun belahan bumi itu tak pernah mengeluh rasa panas, tetapi berbeda dengan Sarnito, sudah berhari-hari ia mengeluh. 

Ketika Menjelang siang, Sarnito melewati pusat keramaian di sebuah lapangan sepak bola. kedudukan Matahari pada waktu itu semakin memuncak dan mulai merekahkan kelopaknya yang memancarkan sinar panas. Orang-orang tampak hilir-mudik seperti sekawanan semut. Berjalan dengan langkah tergesa-gesa, sesekali terlihat ada yang berteduh dibawah bayangan dari pantulan rumah pemukiman warga yang terletak di seberang lapangan ataupun mencari tempat berteduh untuk duduk  di bawah pohon rindang.

Keramaian di lapangan saat itu sebab ada Festival layang-layang, yang rutin dilaksanakan setiap tahun di desanya. Akan tetapi mereka lebih akrab menyebutnya dengan istilah Arésan. Karena pada acara itu tidak hanya menjadi hiburan semata, melainkan disematkan juga arisan-arisan seperti pada umumnya.

Akan tetapi Sarnito tidak bermaksud untuk menyaksikan Arésan tersebut, melainkan dia hendak menuju ke kediaman Ripin, Satu-satunya dukun sumur di desanya. Sarnito membutuhkan jasa Ripin untuk memeriksa keadaan sumurnya yang beberapa hari ini tidak menghasilkan air. Akan tetapi usahanya bertemu Ripin sia-sia untuk yang kedua kalinya. Pesan yang dia titipkan kepada Ripin kemarin itu ternyata lupa disampaikan istrinya. Dia pun pulang dengan tangan hampa  membawa kekecewaan.

Keesokan hari di teras rumah sederhananya, Sarnito merasa sedikit lega karena siang itu ia tak ingin beranjak  ke mana-mana. Mencoba melupakan Sumur yang kering dirumahnya itu. Betapa ia akan kecewa untuk ketiga kalinya jika kembali ke rumah Ripin, atau mungkin  betapa ia akan kebingungan di jalan sesekali mencari tempat berteduh seperti para pejalan kaki itu. Sesekali ia ingin sejenak merenungkan kenampakan alam yang mulai dibencinya itu: Kekeringan, udara panas, bau keringat, dan kekurangan air. Jika kemarau terus berkepanjangan, hal itu berarti akan ada yang terancam, akan ada yang mati—seperti hewan-hewan ternak di kandangnya hingga pohon jagung yang telah gagal panen di kebunya.
Warna langit yang semakin mencolok dan awan yang tampak seputih kapas itu menandakan bahwa sedikit harapan hujan akan turun. Sarnito beranjak dari tempat duduknya diteras bagian depan rumah, masuk ke dalam rumah, dan kembali lagi dengan membawa surat kabar langganannya yang selalu datang terlambat. Beberapa tahun terakhir ini,  Ia mulai bisa dan biasa berlama-lama duduk di teras selama musim kemarau. Selain dia telah memiliki penghasilan tetap dari Warung kulakannya di Jakarta, ia juga mendapat sedikit penghasilan dari bertani dan berternak di desanya. Hal itulah yang membuatnya tidak begitu menghiraukan jika hewan ternaknya mati, atau panennya gagal. Yang ia hiraukan hanyalah ketika air benar-benar tidak dapat lagi ditemukan dan mengancam kelangsungan hidup dirinya beserta keluarga.

Sepertinya kemarau juga telah membuatnya mengingat lagi pada kematian. Kematian ayahnya belasan tahun yang lalu. Ayahnya terkenal klenik yang diakui kesaktiannya oleh warga setempat sebagai pawang hujan. pernah suatu ketika menjelang malam, ayahnya memerintahkan untuk mencari Sapu lidi, Tiga belas buah cabai Lombok, dan Garam yang harus diambil langsung dari tambaknya.

“Buat apa, Pak?” tanya sarnito penasaran saat itu. namun, tanpa sedikitpun berucap ayahnya melambaikan tangan kanannya kearah depan sebagai isyarat agar Sarnito segera menuruti perintahnya itu.

Sikap Sarnito yang masih lugu saat itu hanya menuruti saja perintah ayahnya. Dia pun berjalan mencari benda-benda tesebut dengan keadaan hati yang tetap dalam kebingungan sambil sesekali mulutnya tampak berkomat-kamit untuk mengingat benda-benda pesanan ayahnya itu. Singkat cerita, Sarnito baru mengetahui keperluan ayahnya atas benda-benda itu ketika ritual berlangsung. Ya, Ritual mencegah hujan yang diketahuinya dari salah seorang tetangga.

Sarnito baru mengingat sesuatu bahwa dua hari yang lalu, beberapa orang pria menemui ayahnya, sepengetahuan yang didapat dari ibunya mereka adalah suruhan Bos pemilik tempat Wisata yang membutuhkan jasa ayahnya untuk mencegah hujan turun. Selain pada waktu itu sedang musim penghujan beberapa hari yang akan datang pun merupakan malam tahun baru yang tentunya sebagai momen paling berkesan yang dapat di rayakan setahun sekali. Tempat wisata yang dimaksud sangat tidak asing lagi dalam benak masyarakat. konon, omset yang didapat pada tahun baru sebelumnya, bisa membuat pemilik tempat wisata itu mampu membeli rumah di kota. dan jika tahun baru kali ini omsetnya meningkat ayah dijanjikan untuk diberi lahan tanah yang cukup luas milik bos pemilik wisata itu. Setelah melihat ritual itu Sarnito bersikap tidak peduli sebab kepolosannya. Dia tak lagi memikirkan apapun dan menganggap hal yang dilakukan ayahnya itu adalah hal yang biasa.

Keesokan harinya menjelang sore, awan terlihat kelabu seperti biasa pertanda akan turun hujan. Dengan mata polosnya Sarnito menangkap wajah Ayahnya sedang dalam keadaan cemas. Tanpa bertanyapun setidaknya dia mengetahui kecemasan yang sedang dirasakan ayahnya itu. Dengan disadari dirinya pula ikut merasakan kecemasan itu. dia menduga bahwa hujan akan turun nanti malam bertepatan tahun baru.

Dan ternyata dugaannya benar, lepas waktu maghrib hawa panas terasa seperti biasanya jika akan turun hujan. Tanpa meragukan dugaannya lagi, butiran gerimis mulai terlihat disusul dengan hujan lebat pada malam itu.

Sarnito melihat kebingungan  ayahnya menjadi-jadi. Dia mengikuti langkah ayahnya beranjak keluar rumah menghampiri tempat ritual yang dimaksud. Sarnito menyaksikan ayahnya yang sedang berteriak dengan penuh amarah. Tindakan ayahnya tampak tak terkendali hingga pada akhirnya, Sarnito melihat ayahnya terperosok kedalam selokan yang tidak jauh dari tempat itu. Sarnito menghampiri Ayahnya yang dalam keadaan tidak sadar dan berlumuran darah dikepalnya akibat benturan keras itu. sejak itulah nyawa ayahnya tak tertolong hingga menghembuskan nafas terakhir. Ditambah keesokan harinya tamu-tamu yang tentunya memesan jasa ayahnya itu datang untuk menagih kembali uang muka yang telah diterimanya.

Sebuah maut  yang disaksikan Sarnito secara langsung kini teringat kembali dalam benaknya di masa tua. Dalam keadaan musim yang berbeda, dia merasakan kemarau ini adalah imbas dari perilaku ayahnya itu. Dia merasa ini adalah tulah ritual Pencegah hujan dahulu, ada kaitannya dengan kemarau panjang saat ini. Pikirannya mulai tak terkendali. Di teras rumahnya dia melihat pohon jati yang sudah lama meranggaskan daunnya sampai tak tersisa itu seakan murka padanya. Diamnya seakan mencaci dirinya:

“Semua ini salahmu, Manusia!”, “Kamu yang turut membantu menghukum kami dahulu! “Dengan kebodohanmu itulah ayahmu Binasa!”; “Kamu yang tidak menghalangi niat buruk ayahmu yang hanya mementingkan perutnya!”; “Dan rasakan hukum alam ini!”

Tubuh Sarnito tegang dan gemetar, pikirannya melesat-lesat seakan tak sadar, air matanya tumpah. Dan jika sudah seperti itu,  penyesalanlah yang mungkin dapat merubah musim. Dan satu hal lagi, berhenti untuk percaya pada ramalan cuaca beserta peramalnya.

Yogyakarta, Desember 2018

*Amir Fiqih lahir di Jakarta, 2 Februari 1995, berdarah Sumenep, Madura. Kini tinggal di Perum POLRI Gowok Blok C2 NO.112, Caturtunggal, Depok Sleman DI Yogyakarta. Aktif di komunitas Literasiaa IAA Yogyakarta.

*Cerpen ini masuk dalam antologi cerpen “Pasir Mencetak Jejak dan Biarlah Ombak Menghapusnya” oleh Komunitas APAJAKE.

No comments:

Post a Comment