Tuesday, 22 January 2019

Doa Ibu yang Dibuang (Bagian 3)


Doa Ibu Yang Dibuang 3
PENJELASANNYA sangat panjang. Yuni hanya terdiam mendengar cerita Sri yang sangat memilukan dan memalukan itu. Sejak ayah Sri poligami, ibu kandungnya hidup sendiri. Sri tak pernah menemui ibunya saat liburan kuliah. Dia lebih senang pulang ke rumah ayah dan ibu tirinya. Di sana, dia mendapat banyak kasih-sayang dari ayah dan ibu tirinya. Kebutuhannya pun terpenuhi.

Tapi, saat ayahnya meninggal ketika Sri sudah sebelas bulan di Rotterdam, hartanya diambil oleh ibu tirinya semua. Tak ada bagian untuknya. Apalagi untuk ibunya sendiri. Air mata Sri pun menetes perlahan-lahan. Untungnya, Pak De Sri berani mengulurkan tangan sebagai pamannya sendiri, saudara ibunya. Tapi malangnya, nasib buruk menimpa Pakdenya. Kini, ibu Sri harus tinggal sendiri sebatang karang tanpa saudara yang bisa membantunya.

“Iya Sri. Aku turut berduka,” kata Yuni dengan raut wajah penuh siraman duka.

Thank you so much, Yun.”

“Aku bawa gula merah ini, ya? Untukku saja.”

“Iya Sri. I am so sorry.

“Iya, iya tak masalah.”

Dua tangan Sri memegang pundak Yuni sembari menutupkan mukanya dengan sesunggukan tangis penuh haru dan malu. Tangis dalam tawa marasuki jiwanya. Jiwa Yuni pun seakan menyatu dengan jiwa Sri. Sri mulai membereskan barang-barang berharganya. Di lantai sudah tergeletak empat kopor besar. Yuni sedikit terhenyak. Tak mungkin cukup kamar apertemen yang ditempatinya jika barang-barang itu nanti dibongkar semua. Hara-harap cemas dalam diri Yuni mulai menjalar ke sekujur tubuhnya. Namun, dia menepis semua kemasgulannya. Tak mungkin Sri membongkar barang-barangnya. Yuni positif saja.

Lima menit setelah menelpon taksi, deru mobil di halaman kontrakan pun terdengar. Seorang laki-laki berkulit putih dengan topi mirip polisi Indonesia mengangkut barang-barang Sri. Yuni pun menemui madam Janeth di ruang tengah yang sedang baca koran. Sri tak berani ikut dan pamitan sendiri. Dia hanya mengekor di belakangnya.

Madam, me and Sri permit to leave this house.

Okay. I am so sorry for my attitudes.

Sri di belakang hanya sedikit menundukkan tengkuknya sebagai sapa salam permisi sebagaimana tradisi dalam hidup kesehariannya di Jawa. Yuni memasuki pintu taksi yang terbuka bagian samping kiri di belakang. Sri tampak lega dengan perpindahannya ke tempat Yuni. Tak ada percakapan di dalam taksi. Keadaan sunyi dan senyap menyelimuti setiap sudut ruangan taksi berukuran kecil itu.

Salju-salju di jalanan kelihatan seperti menatap perjalanan taksi yang ditumpangi oleh Yuni. Lampu-lampu kendaraan menyala seakan memberikan sinar terang bagi Yuni dan Sri yang diselimuti oleh salju kehidupan yang penuh duka. Sekitar dua puluh menit, taksi berhasil memasuki halaman apartemen tempat tinggal Yuni. Barang-barang dikeluarkan kembali oleh sang sopir dan dibawa ke lantai dua tempat Yuni bermukim.

Oh. What is this???

Sopir taksi yang mengangkut barang-barang terkejut. Yuni pun menoleh pada sopir taksi itu. Tangannya tak bergerak memegangi kardus berisi gula merah itu. Yuni  buru-buru menghampiri laki-laki jangkung berkulit putih itu. Dia pun mengibas-ngibaskan lengannya yang terkena gula merah yang meleleh kerana basah terkena butir-butir salju.

Oh. So sorry sir. It is just candy.

“Ada apa Yun?” Kepala Sri melongo di jendela kamar Yuni.

It is okay.

Is this candy from Indo?”

Yes, sir.

Yuni meminta maaf pada sopir tersebut. Dia tampak penasaran dengan gula merah dalam kardus yang sudah dipegang oleh Yuni. Lalu dia membuka sedikit dan mencoleknya. Dia mengangguk-angguk dengan mengacungkan dua jempolnya. Mungkin merasa enak dan lezat. Yuni pun menawarinya. Dia menyambut dengan baik. Yuni memberinya beberapa potong gula merah dalam kotak plastik kecil. Laki-laki itu mau membayar dengan uang beberapa gulden. Tapi Yuni menolaknya.

“Riddick.”

“Yunilasari.”

Riddick mengulurkan tangannya yang jenjang sembari memberikan kartu nama, di dalamnya tertera nomor yang bisa dihubungi. Senyum lebar pun terlihat dari gigi-gigi lelaki berkulit putih itu. Yuni membalasnya dengan senyum dan bahu yang sedikit membungkuk menirukan gaya Sri ketika menyapa madam Janeth tadi. Yuni berlalu di depannya dengan menjaga jati diri sebagai seorang perempuan Indonesia. Segera Riddick memasuki mobil sembari matanya melotot mengikuti langkah Yuni yang menuju apertemen.

Derekan pintu kamar menyambut Yuni bersamaan dengan Sri yang baru saja meletakkan keset khas Eropa di dekat pintu bagian dalam. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 19:00 waktu Rotterdam. Yuni mengecek jam tangan dan ponselnya, berusaha meyakinkan kenyataan itu. Barang-barang belum ditata rapi. Yuni dan Sri sudah tidak mampu menyanggah kedua pelupuk matanya. Orang-orang sudah menutup pintu untuk mengarungi lautan mimpinya. Malam itu, malam pertama Yuni hidup berdua dengan Sri setelah beberapa bulan hanya kadang berkunjung sebulan sekali ke rumah madam Janeth. Itu pun dia ditemui di halaman rumah madam Janeth oleh Sri.

***

Suara gerasak-gerusuk kertas, plastik, dan barang-barang di kamar mungil Yuni membangunkan tidurnya. Matanya masih terpejam, Yuni berusaha mencari asal suara-suara itu. Jam beker masih belum menjerit yang di-setting pukul 04:30. Yuni hanya meyakini itu Sri yang membereskan barang-barangnya. Dia menutup kelopak matanya lagi karena jam beker tak kunjung membangunkannya.

Tapi, tak lama matanya terpejam, dia kembali terbangun. Suara isak tangis dengan kata-kata pilu di samping kasurnya sangat mengusik. Yuni mencoba membuka mata meski jam beker belum berteriak. Sri sedang duduk dengan mukena putih. Yuni pandangi handphone, masih pukul 03:15. Hatinya terharu dengan Sri yang berdoa. Dia kembali memejamkan mata untuk pura-pura tidur lagi. (Bersambung...)





*Junaidi Khab, lahir di Sumenep, Madura. Pernah belajar di UIN Sunan Ampel Surabaya. Kini bermukim di Yogyakarta.

*Tayang di Minggu Pagi: NO 34 TH 71 MINGGU IV NOVEMBER 2018.

No comments:

Post a Comment