Sunday, 9 December 2018

Yang Retak di Malam Ketujuh

Yang Retak Di Malam Ketujuh

KABAR duka itu datang tiba-tiba. Sungguh aku tak pernah mengira ayahmu akan secepat itu meninggalkan kita untuk selamanya. Aku ingat jam tujuh pagi tadi, ia masih duduk di teras rumah dan sempat mengajakku main domino. Sungguh aku menyesal tak mengiyakan ajakannya yang ternyata itu permintaan terakhir ayahmu.

Sekitar pukul sepuluh, keranda mayat yang di dalamnya membujur jasad ayahmu, dibawa oleh tetangga menuju liang lahat. Sebelum keranda itu keluar dari pekarangan rumah, Nenek menghentikannya. Kau menghampiri keranda itu dan berjalan bolak-balik di bawahnya sebanyak tiga kali sambil menangis. Kata nenek, perawan yang ditinggal mati ayahnya melaksanakan hal itu adalah keharusan.

Keranda itu dibawa menjauh dan semakin menjauh dari pekarangan rumah. Aku, sanak kerabatmu, dan para tetangga berbaris di belakang keranda seperti semut yang berbaris di pohon mangga di halaman rumah. Kau berada di antara ibu dan nenek, di barisan perempuan-perempuan cemeng; barisan yang tangisnya tak cepat usai.

***

“Saat Yuli masih dalam kandungan, aku bilang ke pamanmu, kalau anaknya lahir perempuan akan kujodohkan dia denganmu,” kata bapak setelah tahlilan di malam pertama. Kami berada di ruang tamu. Bapak satu-satunya laki-laki yang berada di hadapanku. Nenek dan ibu berjejer di samping kanannya. Mata mereka masih membengkak karena tangis tadi pagi. Sesekali kudengar sesenggukan di antara mereka, entah dari hidung siapa.

“Perempuan yang sudah bertunangan dan ditinggal wafat ayahnya harus dinikahkan sebelum lepas malam ketujuh,” nenek menimpali. Suaranya datar namun penuh tekanan.

Aku jadi paham maksud pertemuan ini. Dengan bermodal tunangan yang baru kuketahui, mereka berencana segera menggelar pernikahan, pernikahan kita, aku dan dirimu.

“Bagaimana?” tanya bapak. Aku tetap tak menjawab. Dadaku panas. Seperti ada bara saat mendengar cerita yang mestinya ia ceritakan jauh-jauh hari. Bara itu sangat mungkin melahapmu jika mereka tetap menambahnya dengan minyak tanah atau benda-benda lain yang mudah terbakar. Kecuali jika aku berbaik hati, menyiramnya dengan air mata.

Aku ingat dengan kejadian dua bulan lalu di Bukit Tinggi. Di tempat itu, disaksikan lima orang teman kuliah, aku berjongkok di depanmu lalu memberikan sekuntum mawar merah yang masih segar. Kau tersenyum sesaat setelah kunyatakan cinta. Ranum bibirmu dan manis wajahmu saat tersenyum semakin membuatku tergila-gila. Itu kali ketiga aku menembakmu, Yuli. Dan tentu kau juga masih ingat, bukan?

“Jika di dunia ini hanya ada seorang lelaki dan lelaki itu hanya dirimu, aku tetap tak akan memilihmu menjadi kekasih. Melajang adalah pilihan terbaik daripada hidup bersamamu,” jawabmu tegas. Mawar di tanganku kau ambil dan kau lempar ke bawah; ke jurang. Tubuhku mulai berair. Angin sepoi-sepoi yang menerpa kulitku tak mampu menghentikan aliran keringat dingin itu. Teman-teman tertawa melihatku.

“Telingamu masih normal bukan? Kalau kamu tak menjawab, aku anggap kamu setuju,” suara Bapak membuyarkan ingatanku. Suaranya meninggi.

“Aku dan Yuli masih kuliah. Tak mungkin kami menikah dalam waktu dekat. Aku juga masih belum punya pekerjaan,” kataku pelan.

Ruangan yang berukuran 3 x 4 meter sunyi beberapa saat. Hanya suara tetangga yang bermain domino di teras dan di halaman rumah yang terdengar sempreng. Mereka saling ejek dan tertawa terbahak-bahak. Di desa ini, sudah menjadi kebiasaan orang-orang menghabiskan malam di rumah duka dengan main domino  hingga malam ketujuh. Aku tak tahu sejak kapan kebiasaan itu ada.

“Kasihan adik sepupumu, Nak. Bila ia tak menikah hingga lepas malam ketujuh, ia hanya boleh menikah setelah seribu hari meninggalnya pamanmu. Dan itu semakin menambah umurnya yang kini sudah 22 tahun,” kata ibu.

“Dan keluarga almarhum pamanmu sudah pasti akan memusuhi kita. Bila itu terjadi, apakah kamu tidak malu pada tetangga?” tanya bapak.

“Sudah sudah. Tak usah paksa dia menjawab sekarang. Beri dia waktu empat hingga lima malam untuk berpikir,” ibu menjawab pertanyaan bapak dengan sebuah perintah. Aku tahu bapak tak akan berani membantah perintah ibu.

Bapak dan nenek sudah keluar saat ibu mengatakan sesuatu dengan mengiba. “Nikahi Yuli, Nak! Nikahi dia! Jika nanti setelah pernikahanmu berjalan satu bulan, kamu merasa tidak cocok, tak masalah kamu telak adik sepupumu itu,” ujarnya.

***

Menjelang senja di hari ketujuh kematian ayahmu, kita bertemu di dapurmu saat aku hendak makan. Ibu dan nenek memang tak pernah memasak di dapurku semenjak ayahmu meninggal. Di dapurmu, tiap menjelang petang selalu ramai oleh ibu-ibu tetangga. Mereka sibuk menyiapkan segala keperluan tahlilan.

“Aku minta maaf atas peristiwa yang terjadi di Bukit Tinggi dua bulan yang lalu. Kalau aku tahu status kita sudah bertunangan, aku tak mungkin melakukan itu,” ujarmu. Kau ulurkan tangan kanan padaku. Aku meraihnya lalu tersenyum.

“Terima kasih,” katamu setelah aku melepas tanganmu.

Aku mengangguk dan kau berlalu. Beberapa saat kemudian, aku melihatmu menyiapkan makanan. Kau  sibuk, sangat sibuk. Entah untuk siapa. Pertanyaan itu terjawab setelah kau membawanya padaku. Nasi, kuah, ikan, air dan makanan lainnya kau letakkan di hadapanku, di atas ranjang. Ya, di ranjang tua itu keluargamu biasa makan bersama dan kita makan bersama saat itu.

“Istri shalehah telah selesai menyiapkan makanan untuk suami tercintanya,” teman perempuanmu berbisik di telingamu. Suaranya terlalu nyaring untuk ukuran berbisik, atau sengaja dibuat nyaring biar aku juga mendengarnya? Entahlah. Detik itu, raut wajahmu menjadi kemerah-merahan seperti orang jatuh cinta.

“Semoga samawa,” kata ibu-ibu serentak. Aku tahu, mereka diam-diam menggunakan aba-aba agar serentak. Kau tersenyum malu. Sepertinya kau benar-benar jatuh cinta. Apa kau jatuh cinta padaku, lelaki yang dua bulan lalu kau campakkan?

Berikutnya, setelah selesai makan dan keluar dari dapur, aku ketemu ibu. Ia tersenyum. Ada bahagia di wajahnya. Mungkin ia melihat kita saat kita makan. “Bagaimana? Setelah tahlilan ya?” tanya ibu. Aku diam, sengaja tak menjawab. Aku lihat wajah ibu ceria, bahagia.

Setelah tahlilan, sebelum orang-orang pulang ke rumahnya masing-masing, bapak menggunakan penggeras suara meminta orang-orang untuk tidak pulang dulu. Katanya, pernikahan kita akan digelar malam ini. Beberapa orang aku lihat ada yang pulang.

Aku masuk ke kamar, menutup pintu, terlentang di atas kasur. Memejam mata adalah caraku berpikir jernih. Bapak masuk tanpa ketuk pintu. Ia menghampiri dan memintaku cepat keluar. Katanya penghulu sudah datang.

Ia marah, benar-benar marah saat kukatakan aku tak akan menikahimu. Telapak tangannya menyentuh pipiku kanan kiri. Pipiku memerah. Pendengaranku terganggu, seperti mendengar bunyi pompa air saat dinyalakan.

Bapak keluar kamar dengan membanting pintu. Ibu masuk. Memandangku. Aku juga memandangnya. Matanya mirip matamu, tapi matanya berair. Ia tak mengatakan apa-apa dan keluar juga saat kugelengkan kepala. Sama, ia juga membanting pintu meski tak sekeras bantingan bapak.

Di kamar, aku memandangi langit-langit sambil membayangkan apa yang akan terjadi di teras rumah, dan berharap apa yang kubayangkan benar-benar terjadi. Kau duduk di hadapan penghulu. Di sebelah kananmu harusnya ada aku, namun aku tak ada. Kau tetap menunggu, berharap aku datang meski menunggumu tergolong lama. Beberapa kali kau memperbaiki posisi dudukmu karena kesemutan menjalar di kakimu. Pak penghulu juga mulai gelisah. Beberapa saat setelahnya, bapak menghampirimu dengan muka sedih, tapi wajahmu tetap berseri-seri, bahagia. Saat bapak membisikkan sesuatu pada daun telingamu, tiba-tiba kau menjerit histeris. Lalu kau pingsan seperti saat kau kehilangan ayahmu. Aku tersenyum membayangkan hal itu benar-benar terjadi.

Hayalanku buyar manakala mendengar suara laki-laki mengucapkan kalimat sakral dengan fasih, “Saya terima nikah dan kawinnya Yuliyatin binti Muhammad Zakaria dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai.” Bulu kudukku berdiri. Buru-buru aku keluar kamar menuju teras rumah. Dan hatiku retak lagi, Yuli, saat melihatmu tersenyum di depan penghulu didampingi seorang laki-laki berjas hitam yang tanpa sepengetahuanku juga hadir pada malam ketujuh tahlilan ayahmu. Laki-laki itu pacarmu yang kini sah menjadi suamimu.

*Muhtadi Chasbien, lahir di Sumenep, tepatnya di Desa Rombiya Timur, Kecamatan Ganding. Beberapa cerpennya termuat di media cetak dan online. Selain mengabdi di SMK Sumber Mas, SMPI Mambaul Ulum dan MA Al- Maarif sebagai guru Mata Pelajaran Matematika, ia sedang berproses di Komunitas Kampoeng Jerami, Bluto.



*Pernah tayang di Haluan, edisi 15-16 September 2018.

No comments:

Post a Comment