Tuesday, 18 December 2018

Doa Ibu yang Dibuang (Bagian 2)


Doa Ibu Yang Dibuang 2
YUNI menghela nafas panjang. Rasa benci dalam hati Sri yang terkesumat karena malu memiliki ibu tunaaksara itu, mulai sirna. Yuni hanya membiarkannya saja tetap terpaku dengan butir-butir salju yang tak mau reda itu. Ia termenung di tengah-tengah kesedihan Sri. Tak banyak kata-kata dan saran yang disodorkan pada Sri. Ia mau menunggu sampai Sri sendiri yang meminta saran dan nasehatnya. Ia takut serba salah jika terlalu banyak komentar tentang kehidupannya.

“Aku turut berduka atas peristiwa yang menimpa Pakdemu, Sri.”

“Iya. Terimakasih...” katanya. “Yun, aku bingung.”

“Bingung kenapa, Sri?”

“Aku harus singgah dari rumah sewaan milik Madam Janeth.”

“Untuk sementara kamu boleh tinggal bersamaku di sini, Sri.”

“Iya, Yun. Terimakasih,” matanya menerawang, entah apa yang dipikirkan oleh Sri. “Tapi, aku tidak tahu harus membayar tunggakan tempat tinggalku dengan apa selama tiga bulan ini.”

Tiba-tiba jantung Yuni seakan berhenti berdetak. Ia tak mampu memberikan solusi atau saran jika dihadapkan dengan keuangan seseorang. Sementara ia sendiri di Rotterdam hanya hidup sebatang karang yang bertahan hidup dengan biaya beasiswa dan usaha kecil-kecilan dari berjualan buku. Yuni diam sejenak. Ia mencoba menenangkan pikiran dan berusaha menemukan solusi untuk Sri. Ia mengingat-ingat jumlah saldo tabungannya yang tersisa dari beasiswa dan dari hasil penjualan buku.

“Sri, aku ada sisa tabungan beberapa gulden,” kata Yuni sembari menatap Mata Sri yang sembab. “Jika kamu mau, sebagian mau kupinjamkan untuk membayar tunggakan pada Madam Janeth.”

“Tapi, aku harus usaha apa untuk menggantinya Yun?” Sri mengeluh lalu terdiam. “Aku ini bodoh dan pemalas, Yun...” katanya sembari terisak tangis.

“Nanti kita usaha together. Kamu bisa gabung denganku berjualan buku. Jika ada ide lagi, silakan kamu kerjakan selain gabung denganku untuk jualan buku.”

Sejenak, Sri diam. Tangisannya masih tergambar dari sorot matanya yang masih berlinang. Tapi, raut wajahnya tampak berkerut. Ia mencari ide lain yang mungkin bisa dikerjakan untuk mendapat gulden selain ikut berjualan buku bersama Yuni.

“Iya, Yun. Terimakasih,” ucapnya dengan menatap mata Yuni. “Tapi, aku boleh kan join with you satu kamar?”

“Boleh, Sri. Kita jadikan kamar apartemenku ini milik kita berdua.”

“Terimakasih, Yun.”

Yuni pun mengangguk dan mengiyakan dengan memberi dua acungan jempol kepadanya. Sri pun memeluk erat tubuh Yuni yang lebih kecil dari badannya. Kehangatan persahabatan sangat terasa. Sri pun mengajak Yuni dengan beberapa gulden untuk membayar uang tunggakannya pada Madam Janeth. Yuni pun bersiap diri dengan jaket super tebal untuk bantu-bantu Sri boyongan.

***

Ruangan itu cukup luas. Room fresh conditioner terasa menyejukkan di tengah embusan salju yang mulai menelusup masuk melalui celah jendela. Ruangan itu cukup mewah. Jam dinding duduk berukuran besar seakan bersedih akan ditinggal oleh gadis sesemampai dan secantik Sri. Detak-detak jarumnya bagaikan jantung yang baru tersadar dari koma. Yuni menunggu Sri yang sedang membayar uang tunggakannya pada Madam Janeth.

Satu per satu baju dan pakaian serta barang-barang di kamar itu dimasukkan ke dalam kopor. Tak ada barang yang tertinggal. Hanya benda permanen  sebagai hiasan kamar yang dibiarkan begitu saja. Tanpa sengaja Yuni menemukan kardus di bawah kasur Sri. Ia menarik kardus berukuran sedang itu.

“Sri, what is this?” tanya Yuni dengan kaget sambil menunjuk kardus di hadapannya.

“Oh, sorry. Itu buang saja ke tong sampah.”

Sri dengan santai mengambil kardus itu dari hadapan Yuni. Ia membawanya ke tong sampah di halaman depan kontrakan rumah Madam Janeth. Yuni hanya terheran. Pikirannya tak karuan. Teka-teki dalam pikirannya semakin bertambah dan rumit. Dia harus tahu isi kardus itu. Dia menghampiri tong sampah itu setelah Sri sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam kopor. “Betapa mubadzdzir-nya Sri!” Dia membatin setelah melihat isi kardus itu. Gula merah. Ya, gula merah yang sangat mahal harganya di rumah Yuni, Palembang. Lalu dia membawa kardus itu beserta isinya.

“Lho, Yun. Why did you  take it again?”

“Sorry,
Sri. I like this candy.”

“Ya sudah ambil kamu saja.” Sri tampak cuek dan tak peduli dengan gula itu.

“Kenapa kamu membuang candy ini?” tanya Yuni penuh keheranan.

“Aku tidak suka candy,” katanya dengan judes.

“Right, tapi kenapa kamu tak dikasih padaku saja tadi?” Yuni masih ngotot.

Sri terdiam. Mulutnya bagai dijahit dengan menahan emosi yang seakan mau membuncah. Bibirnya bergetar berat menahan kata-kata yang disembunyikan di balik candy itu. Yuni mencoba mendekatinya. Tapi, dia berpaling darinya. Yuni berusaha memahami. Sepertinya Sri ada masalah dengan candy itu. Rasa ingin tahu Yuni pun terus menggantung dan menggelayut dalam pikirannya.

“Sri, I am so sorry. Aku minta maaf jika ada kata-kata atau ulahku yang menyesakkan dirimu.”

“Right. It is okay. Tak apa-apa, Yun. Aku hanya egois dan malu saja dengan candy itu. Candy itu pemberian ibuku waktu aku akan berangkat ke Rotterdam. Aku merasa malu dengan keadaan ibu yang tak punya apa-apa. Berbeda dengan ayahku dengan istri barunya yang membiayaku dengan banyak uang,” kata Sri dengan penjelasan panjang sembari menahan air yang akan meluap dari lautan matanya.

“Sejak ibuku minta cerai. Dia tidak diberi sisa harta oleh ayahku hingga ayahku meninggal. Waktu aku akan berangkat ke Rotterdam dia hanya memberikan sekardus gula merah yang dibeli dari salah satu tetangga.” (Bersambung...)


*Junaidi Khab lahir di Sumenep, Madura. Pernah belajar di UIN Sunan Ampel Surabaya. Kini bermukim di Yogyakarta.

*Tayang di Minggu Pagi: NO 33 TH 71 MINGGU III NOVEMBER 2018.





No comments:

Post a Comment