Wednesday, 12 December 2018

Doa Ibu yang Dibuang (Bagian 1)

Doa Ibu Yang Dibuang Bagian 1

SALJU-salju berserakan di halaman kontrakan rumah Sri. Angin berembus lirih dan menerpa setiap wajah yang berhasil disingkap kain penutupnya. Hawa dingin menusuk pori-pori kulit dan paha-paha yang terbuka. Tapi, mereka kadang tanpa peduli membiarkan paha dan tubuhnya disentuh oleh butiran-butiran salju. Tak ada burung berseliweran. Keadaan menjadi beku seiring perasaan Sri yang juga mulai menjadi kristal.

Sri hanya duduk terpaku di tepi ranjangnya usai disemprot kata-kata oleh pemilik rumah mewah itu. Yang terdengar hanya suara rengekan dari pojok ruangan berukuran empat persegi. Ibu pemilik yang mulai tadi menyiram Sri dengan kata-kata, kini menyapu halaman rumahnya. Gemuruh bagai akan turun hujan tetap saja terdengar meski ibu itu berlalu-lalang di halaman rumahnya.

Excuse me, Madam.”

Yuni menyelinap di sebelah madam Janeth untuk masuk ke ruangan tempat Sri terisak tangis. Madam Janeth hanya melirik dengan angkuh padanya. Begitulah orang Rotterdam berdarah Amerika itu. Yuni berjalan terus saja menghampiri Sri yang sedang duduk dengan air mata menganak sungai. Sebagai anak seperantauan dari Indonesia atas beasiswa dari pemerintah, ia turut terpukul jika temannya sedih atau ditimpa persoalan.

What happens, Sri? Kenapa kau menangis?”

Tak ada suara ketika Yuni menyapa dari belakang di pinggiran kasur putihnya. Tangan Sri cepat-cepat bergerak ke wajahnya. Air asin yang menetes dihapus, lalu menoleh ke arah Yuni dengan mata merah. Ia berusaha menutupi celah tempat air matanya mengalir. Tapi, air asin itu tetap saja tampak berusaha mengalir di pelupuk matanya saat dipandangi lebih dekat oleh Yuni.

“Tunggakanku sudah tiga bulan belum terbayar. I have no money.”

Mulut Yuni bagaikan dikunci seketika mendengar keluhan Sri. Sejak setahun tinggal di Rotterdam, ia tak pernah mengeluh persoalan keuangan. Yuni tak berdaya jika dihadapkan dengan persoalan keuangan. Kehidupam Yuni juga pas-pasan dengan menyimpan setiap ada lembaran gulden yang diperoleh. Berbeda dengan Sri yang selalu mendapat jatah bulanan dari orang rumahnya sendiri di Indonesia.

“Lho, why? Apa kamu tak mendapat kiriman?”

Yuni setengah kaget setelah mendengar pengakuan Sri. Ia pun duduk di sebelahnya. Ia memberikan pundaknya kepada Sri untuk bersandar dan meredekan gejolak emosi yang diterjemahkan melalui tetesan air mata.

“Iya, aku sudah tiga bulan tidak mendapat kiriman money.”

“Memang your parents lupa atau bagaimana?”

“Bukan orang tuaku, Yun. Pakdeku yang membiayai kuliah dan hidupku di Rotterdam ini.”

Yuni berpikir ulang. Pikirannya berputar dan berusaha menyelidiki tentang kehidupan Sri yang tampak misterius. Sri baru bercerita setelah dirinya dan Yuni merebahkan diri di atas spring-bed. Sri ternyata tak begitu peduli dengan kedua orang tuanya. Lebih-lebih ibunya yang tak mengerti baca-tulis. Awal mula Sri kuliah di tanah airnya atas biaya dari orang tuanya. Ayahnya menjual sawah dan ladangnya untuk membiayai pendidikannya. Hingga Sri lulus strata satu. Tapi, ayahnya telah meninggal dunia ketika Sri sebelas bulan di Rotterdam. Mulai saat itu, biaya hidup dan kuliahnya ditanggung oleh Pakdenya yang menjadi anggota dewan.

***

Hawa dingin di ruangan tampak begitu senang dan bermain-main di atas butiran salju. Tak ada baju hangat yang mampu menyelimuti tubuh, kecuali tubuh yang menghangatkan diri atau ada air hangat akan membuat kita menetap sedikit lebih lama. Jarum jam menunjukkan pukul 07:15 waktu Rotterdam.

Musim dingin bersalju saat ini menunda sang fajar hadir di lingkungan Rotterdam dan kota-kota lainnya di Eropa. Embusan angin dan salju tipis memasuki celah-celah di setiap sudut jendela apartemen yang dihuni oleh Yuni. Yuni menghangatkan diri dengan segelas teh hangat yang dibawa dari Indonesia. Tak seberapa lama pintu apartemennya ada yang mengetuk dengan suara yang akrab di telinganya.

“Yun...,” katanya dari luar pintu.

Yuni pun beranjak dari kursi. Ia membuka pintu dengan perlahan dan memastikan gerangan orang yang datang. Ia melihat Sri tampak penuh kesedihan yang mendalam. Ia tak berani membuka percakapan di kala keadaan seperti ini. Khawatir melukai perasaan Sri yang mungkin berada di negeri antah berantah.

“Yun, I’m so sad now. Pakdeku ditangkap komisi pemberantasan korupsi.”

Where did you know about it? Is that right?!”

Sri hanya mengangguk sepenuh hati yang diikuti oleh pelukan pada tubuh Yuni. Air mata Yuni pun tak terasa menetes. Ia berusaha menenangkan hati dan perasaan Sri yang sedang kacau. Punggungnya dielus dan ditepuk-tepuk perlahan yang terbalut oleh jaket hitam tebal dan berbulu di bagian lehernya. Tak banyak percakapan di ruang berukuran tiga kali empat persegi itu. Yuni lagi-lagi memilih diam. Ini persoalan uang negara dan perasaan Sri serta kehormatan keluarganya.

I don’t know, apa yang harus kulakukan sekarang, Yun?” kata Sri putus asa.

You must be patient. And, bagaimana dengan kabar ibumu?” tanya Yuni setengah prihatin.

Yuni keceplosan. Ia lupa jika Sri tak begitu menyukai dengan keadaan ibunya yang tuna aksara. Tapi, ia harus tahu kondisinya. Setidaknya Sri harus mencari kabar tentang keadaan ibunya. Tak ada keluarga lagi selain ibu. Mungkin itu menjadi tempat ia kembali satu-satunya nanti. Yuni tak mau Sri harus menjadi wanita tuna susila di Rotterdam jika ia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sri tak bergerak sama sekali dalam dekapannya. Yuni yakin, ia sangat kaget dengan pertanyaannya. Lalu, Sri bangun dari dekapannya. Kemudian, ia menepi ke jendela dan menatap butir-butir salju yang berjatuhan di luar. Air matanya tampak membasahi pipinya yang putih.

“Aku tidak tahu, Yun. I am full of sins to my mother.” 
(Bersambung....)

*Junaidi Khab, lahir di Sumenep, Madura. Pernah belajar di UIN Sunan Ampel Surabaya. Kini bermukim di Yogyakarta.

*Tayang di Minggu Pagi: NO 32 TH 71 MINGGU II NOVEMBER 2018.

No comments:

Post a Comment