Tuesday, 6 November 2018

Ziarah

Cerpen Ziarah
JUMAT pertama di Kairo, paman mengajak aku sembahyang di Masjid Imam Syafi’ie. Masjid itu terletak agak jauh di pinggir kota, kata paman, dan paling tidak setengah jam sebelumnya kita sudah harus di sana agar kita bisa mendapat tempat. Aku setuju sekali, dan malah aku lantas jadi heran tatkala ia juga mengatakan bahwa selesai sembahyang nanti kami juga akan berziarah ke kuburan orang besar itu.

“Jadi, Imam Syafi’ie dikuburkan di sini?” tanyaku.

“Ya,” kata paman, “Dekat masjid itu.”

Sungguh, sebelumnya aku tidak pernah tahu bahwa imam besar itu dikebumikan di Kairo. Kukira nama masjid itu hanya diambilkan saja dari nama beliau, atau setidak-tidaknya, menurut pikiranku, adalah masjid di mana beliau pernah memberikan pelajaran-pelajaran. Tapi yang pertama ternyata benar juga, sebab masjid itu baru didirikan berdekatan dengan kuburan setelah orang alim itu meninggal dunia.

Kami naik bus kota, menyusur ke tenggara dalam terik matahari musim panas yang menggeletar. Dari paman aku juga tahu, ia sering sembahyang Jumat di sana. Dan tak jauh dari masjid itu ada lagi sebuah kuburan yang juga cukup terkenal. Di situ dikebumikan guru Imam Syafi’ie yang masyhur, yang bernama Waki’. “Dan kita,” kata paman, “juga akan berziarah ke kuburan itu.”

Aku tidak banyak bertanya dan duduk sambil sebentar-sebentar memandang ke luar jendela. Ia—adik ayahku— seorang mahasiswa pada fakultas sastra, telah menyelesaikan semua ujian akhirnya, dan sedang merampungkan risalah masternya tentang biografi Nabi Muhammad dalam kesusastraan modem. Sebenarnya, ia sama sekali tidak tertarik pada sastra, dan secara bersenda sering ia mengatakan bahwa sastra tak lebih dari omong-kosong belaka. Tapi secara telanjur dan tak dapat dielakkan lagi ia sudah tercebur di fakultas itu, dan dengan peras keringat, akhirnya ia sukses juga dengan gemilang.

“Kalau risalah yang sedang kutulis tidak bersangkutan dengan diri Muhammad, tentu sudah lama penulisan ini kandas,” katanya padaku suatu kali, “tapi karena kecintaanku pada nabi besar itu, adalah yang mendorongku untuk menyelesaikannya.” Dan dikatakannya pula kepadaku bahwa risalah itu mulai ia tulis bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan, tanggal di mana nabi terakhir itu pertama kali menerima wahyu (al-Quran). Aku tetap duduk, dan sekilas memandang padanya dengan ekor mataku. Ini lucu juga, pikirku.

Ia yang merasa tertarik untuk mempelajari seluk-beluk syariat tercebur dalam sastra, dan aku yang merasa tertarik dan cenderung pada sastra tercebur dalam syariat. Suatu hal yang cukup menggelikan tapi benar-benar terjadi, dan bukan cuma itu saja, suatu lakon yang cukup berat dan menekan bagi orang-orang yang memerankannya.

“Itu tembok apa?” tanyaku, tatkala kami di pinggiran kota dan melalui jalan yang di pinggir kanannya bertembok tebal dan tinggi.

“Entah,” katanya, “mungkin tembok kuburan atau... barangkali tembok kota dari zaman dulu. Entahlah.”

Bus terus menderu, berhenti pada beberapa perhentian. Orang-orang turun dan naik, hiruk bagai pasar di pagi hari. Akhirnya bus melalui jalan yang berbelok-belok pada bagian kota lama, menderu-deru cepat dengan klakson yang tak henti-henti, bergerit-gerit dengan debu-debu yang mengepul ke udara. Sopir ini gila, pikirku. Tapi kulihat orang-orang biasa saja,  seolah tak terjadi apa-apa dengan bus yang seperti mabuk itu.

Kami dan semua orang turun pada perhentian bis yang terakhir. Masjid itu hanya beberapa puluh meter dari situ, dekat sebuah pasar kecil yang berjejal-jejal dan hiruk-pikuk. Ketika kami sampai di sana, orang sudah penuh sesak. Dan tak lama kemudian terdengar kumandang azan yang mengalun-alun panjang dan merdu. Kami tidak dapat tempat dan sembahyang di luar masjid bersama orang-orang lain yang juga sudah banyak berjejal di situ. Inilah Masjid Syafi’ie, pikirku.

Masjid yang didirikan dekat kuburan pembawa salah satu mazhab itu tidak begitu besar, sederhana dan cukup indah. Di situ orang-orang sembahyang dengan bermacam-macam sikap. Ada yang bersedekap, ada yang cuma melunjurkan kedua belah tangannya ke bawah. Ada yang mengangkat kedua tangannya tatkala bangun dari rukuk, dan ada yang tidak. Dan cara duduk mereka pun dalam sembahyang itu berbeda-beda. Ada yang sembahyang sunah dulu sebelum shalat Jumat dimulai, dan ada yang tidak. Ada yang membaca niat sembahyangnya dan ada yang tidak. Dan mungkin ada yang menyebut Sayyidina Muhammad pada waktu membaca shalawat. Barangkali ada juga yang cukup menyebut Muhammad saja. Dan di antara mereka tentunya ada yang bermazhab Syafi’ie, ada yang Hanafi—yang banyak di negeri ini— ada yang Hanbali, ada yang Maliki dan lain-lain, dan mungkin juga ada yang menyatakan tidak bermazhab.

Tapi mereka sembahyang dengan tenang dan khusyuk tanpa memusingkan yang lain. Mereka tegak sebagai umat yang satu, saling menghargai dan hormat menghormati, tidak saling menyalahkan dan tuduh-menuduh serta sentimen-sentimen, yang cuma karena merasa diri sendirilah yang benar dan yang lain salah semua. Mereka sujud di masjid itu dengan hati yang satu, berdiri bagai satu bangunan yang kukuh tak tergoyahkan, dengan tujuan dan tekad yang padu.

Habis sembahyang kami duduk-duduk sebentar menunggu orang-orang yang berjubel ke luar, kemudian kami masuk dan sembahyang sunah di dalam masjid itu. Di dalam terasa sejuk, dan permadani yang terhampar di bawah begitu tebal dan lembut, seakan kaki jadi tenggelam tatkala menginjaknya. Kemudian kami menuju ke kuburan yang terletak di samping kanan masjid, terhubung dengan sebuah pintu, di bawah sebuah kubah yang cukup besar berhiaskan ayat-ayat Ilahi. Dan heran aku seketika tatkala kudengar di situ suara yang amat riuh. Lalu kulihat bergerombol-gerombol perempuan kampung, anak-anak, dan juga lelaki-lelaki yang habis sembahyang pada berkerumun dan memenuhi ruangan sekitar kuburan itu.

Agaknya di situ ada pintu lain yang dibuka sesudah sembahyang Jumat selesai, dari mana perempuan dan anak-anak itu masuk secara berjubel-jubel. Kami menunggu sampai ruangan itu tidak terlalu penuh, dan dari tempat aku berdiri, kulihat kuburan imam besar itu di antara kerumunan orang, dikelilingi oleh semacam pagar yang berjeruji indah dan berhiaskan ayat-ayat suci. Kudengar di antara mereka ada yang membaca doa keras-keras.  Ada yang seakan memekik-mekik, melolong-lolong, dan ada yang menangis tersedu-sedu. Mereka semua berkeliling di sekitar kuburan itu seolah sedang tawaf di sekitar Baitullah.  Dan sambil membaca doa, menangis atau melolong-lolong, mereka mengusap-usapkan kedua belah tangan mereka pada dinding dan jeruji yang memagari kuburan itu, menggosok-gosoknya, menciumnya berkali-kali, mengecupnya seakan-akan mengecup Hajar Aswad. Menggosok-gosokkan kedua belah pipi mereka, pakaian mereka dan sambil bergayut beberapa lama. Dan juga kulihat di antara mereka ada yang melemparkan kertas bertuliskan sesuatu. Mungkin berisi surat atau permohonan yang ditujukan kepada imam itu. Kasihan mereka, pikirku. Mereka tidak mengerti.

“Kenapa mereka berbuat demikian?” entah pada siapa pertanyaanku tertuju.

“Itulah,” sahut pamanku. “Negeri ini adalah tempat sekian banyak keganjilan dan perbuatan-perbuatan bodoh yang semacam dengan itu. Nanti engkau sendiri akan melihat macam perbuatan-perbuatan ganjil lainnya”

“Tidak dilarang atau dikasih penerangan yang benar?”

“Kukira sudah. Cuma barangkali sulit juga, karena mereka amat bersikeras memegang kebiasaan mereka yang begitu, terutama orang-orang kampung. Atau mungkin juga kurang ada perhatian yang sungguh-sungguh. Entahlah”

“Al-Azhar?”

“Itulah. Di sini ada sama-sama hidup paham-paham yang satu sama lainnya seperti bumi dengan langit. Dari paham dan pikiran-pikiran yang maju, sampai pada paham dan pikiran-pikiran yang masih dipenuhi oleh kejahilan-kejahilan dan khurafat.”

Kami memasuki ruangan itu tatkala orang-orang sudah banyak yang keluar. Di situ kami berdoa. Di situ kukenang orang besar itu, jasa-jasa yang telah diabdikannya pada Islam, pada kemanusiaan, dan pada ilmu pengetahuan. Orang yang sederhana itu dilahirkan di Ghaza pada tahun 150 Hijriah, berdarah Quraisy dan dibesarkan di Makkah. Sejak kecil ia hidup dalam kemiskinan bersama ibunya, sebagai anak yatim yang ditinggal mati oleh ayahnya.

Namun, sejak kecil sudah tampak tanda-tanda kesungguhan dan kecerdasan otaknya yang mengagumkan. Setelah dihafalnya al-Quran dan hadis-hadis Rasul, ia pergi dan hidup bersama dengan sebuah suku Arab yang masih sederhana selama kira-kira sepuluh tahun. Di sana ia memelajari adat-istiadat mereka, kebiasaan-kebiasaan dan bahasa mereka yang masih asli. Dua hal yang amat digemarinya ialah menuntut ilmu dan memanah. Di situ pula ia belajar memanah sampai begitu mahir. Dan dalam sepuluh kali panahannya, sepuluh kali pula ia akan mengena sasaran dengan jitu. Sesudah itu ia pergi ke Madinah menuntut ilmu pada Imam Malik. Sebelum pergi, dipelajarinya dulu buku karangan Malik yang terkenal.  Dan ketika tiba di Madinah dan berjumpa dengan imam besar itu, timbullah firasat Malik akan kebesaran si pemuda, lalu bertanya, “Siapa namamu?”

“Muhammad.”

“Hai, Muhammad, takwalah pada Allah dan jauhilah maksiat.”

Di situlah pemuda Muhammad Ibnu Idris Asy-Syafi’ie itu belajar sampai Imam Malik meninggal dunia. Sepeninggal Malik, Syafi’ie pergi ke Makkah mengunjungi ibunya ke Yaman, kemudian pergi ke Irak mempelajari fikih Imam Abu Hanifah. Abu Hanifah yang meninggal bertepatan dengan tahun dilahirkannya Syafi’ie adalah seorang rasionalis, yang dalam fikihnya banyak mengutamakan pemecahan dan penganalisaan secara pikiran. Sedangkan Malik adalah seorang ahli hadis yang dalam fikihnya mengutamakan dalil nash hadis Rasul. Kelebihan kedua imam itu bertemulah dalam diri Syafi’ie, hingga ia melahirkan fikih baru yang memadukan dan menjajarkan kekuatan penganalisaan rasional dengan kesahihan dalil nash hadis. Ia tidak saja seorang ahli hadis, tapi juga seorang ahli pikir yang tajam.

Setelah kira-kira dua tahun Syafi’i’e kembali lagi ke Makkah dan memberikan pelajaran-pelajaran di Masjidil Haram. Pada waktu itulah Ahmad Ibnu Hanbal, yang nantinya membawakan mazhab Hanbali, bertemu dengan Syafi’ie dan mengagumi ilmunya. Kemudian Syafi’ie pergi lagi ke Irak untuk kedua kalinya, dan akhirnya ke Mesir sampai meninggal dalam usia 54 tahun.

Kami kenang semua jasa beliau yang tak terlupakan. Orang yang ramah dan tulus itu tidak saja ahli fikih, mahir dalam bahasa dan sastra, tapi juga seorang sastrawan, dan seorang penyair yang ulung. Apabila ia membaca al-Quran, orang yang mendengarnya tentu akan menangis karena keharuan dan keindahan bacaannya. Kami kenang semua itu. Kami kenang tatkala kami berdiri dekat pembaringannya, di mana ia kembali ke bumi, di mana anak manusia itu kembali menghadap Tuhannya.

Setengah jam telah lalu. Ketika kami meninggalkan tempat itu, terasa dalam diriku bahwa aku telah menziarahi seorang manusia pejuang yang ulet dan tabah. Seorang anak yatim-miskin yang berjuang menempuh hidupnya, berjuang demi keluhuran agamanya, dan yang telah berhasil dengan cemerlang. Kami berjalan ke luar, melalui pasar yang tadi, perhentian bus, terus ke utara dan tiba di sebuah makam dalam bangunan tembok yang menyerupai sebuah rumah.

“Inilah kuburan Waki’,” kata paman, “salah seorang guru Imam Syafi’ie.”

Kami masuk melalui sebuah pintu. Di dalam, seorang perempuan dan seorang anak kecil sedang duduk di lantai. Selain itu tak ada lagi, cuma kami berdua yang kemudian berdoa dekat kuburan orang alim itu. Pada tembok yang berhadapan dengan kami, kulihat dua baris tulisan dengan warna hitam, yang tampak amat jelas dari tempat kami berdiri.

“Itulah salah satu syair Syafi’ie,” kata paman, “yang menunjukkan hubungan beliau dengan Waki’.”

Kubaca baris-baris syair itu: Aku mengadu pada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu ia menunjukiku agar aku meninggalkan maksiat. Dan memberitahukan padaku bahwa sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak dilimpahkan pada orang yang berbuat maksiat.

Syafi’ie belajar pada Waki’ tatkala mereka masih di Irak. Keduanya kemudian disemayamkan di lembah yang sama dan tak berjauhan satu sama lain.

Beberapa minggu sesudah itu, kami datang lagi sembahyang di masjid itu. Dan beberapa hari sebelum bulan puasa kami datang lagi. Di masjid itu banyak sekali bersembahyang orang-orang tua miskin yang sudah lemah dan tak dapat lagi bekerja. Mereka nampak amat menderita dengan tongkat mereka untuk berjalan, dan dengan pakaian mereka yang bertambal-tambal.

Paman menyuruh penjaga masjid yang ada di situ untuk membelikan roti untuk mereka semua, termasuk perempuan-perempuan miskin yang ada di luar. Kemudian membagi-bagikan makanan itu kepada mereka sampai tak ada yang ketinggalan. Tampak mereka berterima kasih sekali, dan memandang pada kami dengan wajah yang berseri-seri.

Ketika kami keluar dan akan meninggalkan masjid, terdengar di antara perempuan itu berbisik satu sama lain, “mereka itu Cina atau Jepang?”

Seorang pemuda yang sejak tadi memperhatikan kami berbisik pada perempuan itu, “tidak, mereka Indonesia.”

Aku cuma menoleh sebentar dan tersenyum. Kalau kami berbuat sesuatu yang boleh dianggap baik, bisikku dalam hati. Bukan saja karena kami adalah bangsa dari kepulauan sepanjang khatulistiwa itu, tapi yang terutama adalah karena kami orang Muslim. Dan juga kami tidak ingin melihat kemiskinan dan penderitaan berlarut-larut di mana-mana.

Kalau kemudian aku sembahyang lagi di masjid itu dan berziarah ke kuburan sang Imam, masih saja kulihat orang-orang yang menimbulkan rasa kasihan dan penyesalanku itu. Bondongan orang-orang itu masih juga berkeliling-keliling di situ, memekik-mekik, menangis dan melolong-lolong. Mereka masih bergayut-gayut pada dinding dan jeruji kuburan itu, mengusap-usap, menciumi dan mengecupinya berulang kali. Kupikir manusia yang terbaring dalam perut bumi itu adalah manusia biasa saja. Bagaimana pun ia hanya seorang makhluk Tuhan yang tak beda dengan lainnya.


*M. Fudoli Zaini lahir di Sumenep, Madura, 8 Juli 1942, meninggal di Surabaya pada 6 November 2007, adalah salah satu tokoh sastra Indonesia yang dikenal sebagai cerpenis beraliran sufisme. Kebanyakan cerpen Fudoli berlatar Timur Tengah dan mengisahkan pengalaman pribadinya.

*Cerpen ini terhimpun dalam Kumpulan Cerpen Ziarah Batu-Batu Setan (Cantrik, 2018).

No comments:

Post a Comment