Saturday, 3 November 2018

Memotret Peristiwa Sepanjang Jalan Raya


Celoteh JalananJudul             : Celoteh Jalanan
Penulis          : M. Faizi
Penerbit        : Basabasi, Yogyakarta
Cetakan        : 1, Maret 2017
Tebal            : 178 Halaman
ISBN            : 978-602-61160-4-8
Presensi       : Fathor Razi*

Setiap perjalanan selalu menghadirkan banyak pengalaman. Tentu ada banyak peristiwa yang bisa dituliskan sebagai dokumentasi atau sekedar diary. Sehingga ada bekas dari perjalanan kita. Misalnya seperti fenomena jalan raya (lalu lintas) yang penuh dengan kesemrawutan, ketidakpedulian, dan arogansi.

Mungkin kita pernah mengalami kejadian-kejadian yang menuai rasa jengkel, marah, misuh-misuh, bahkan sampai terjadi adu fisik antara satu pengendara dengan pengendara lain karena tidak mengalah selama berkendara di jalan raya. Buku celoteh jalanan yang ditulis M. Faizi ini lebih dari sekadar catatan. Di dalamnya kita akan menemukan kisah-kisah inspiratif, etika berkendara, dan kepedulian kepada pengendara lain yang juga memiliki hak.

M. Faizi sangat cerdas dalam memotret peristiwa di jalan raya. Selain memiliki kemampuan menulis dengan sangat canggih, penyair yang suka berkopyah itu juga memiliki kesukaan traveling dengan menempuh perjalanan dari satu terminal ke terminal lain, dari satu kota ke kota lain, dari satu daerah ke daerah yang lain.

Di antara sekian peristiwa yang dipotret M. Faizi ialah banyak pengendara yang seenaknya membunyikan klakson sepanjang jalan atau menyalakan lampu tanpa memedulikan pengendara lain. "Klakson itu ibarat mulut bagi kendaraan bermotor, sedangkan lampu utamanya ibarat matanya", tulis M. Faizi dengan sangat kocak dalam catatan berjudul "Klakson Mulutmu, Lampumu Matamu" (Hal. 64).

Dalam catatannya yang berumbul "Polusi Udara", misalnya, M. Faizi mengisahkan pengalamannya sejak kecil hingga kini tentang tiga sumber polusi suara yang memiliki tingkat kebisingannya sendiri-sendiri. Menurut Faizi, selain knalpot dan mesin, tingkat kebisingan yang paling tinggi adalah bunyi klakson yang menurutnya sudah berubah fungsi.

Peristiwa yang diulas M. Faizi tersebut jarang kita sadari. Betapa sering kita memosisikan diri sebagai raja di jalan raya, sehingga tanpa merasa berdosa kita bersikap ugal-ugalan dan membahayakan keselamatan pengendara lain. Membaca buku ini di satu sisi sebagai pedoman etik berkendara di sisi lain dapat memungut hikmah-hikmah berserakan di sepanjang jalanan.



*Presensi, Alumnus Magister Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

*Pernah tayang di Kedaulatan Rakyat, edisi 7 Agustus 2017.

No comments:

Post a Comment