Monday, 12 November 2018

Masa Lalu Maryam

Masa Lalu Maryam
IBU Sukatni tidak mau bicara lagi dengan putri semata wayangnya itu, yang baru lulus dari Oxford University tahun kemarin. Ia kecewa berat. Harapan agar Maryam bermanfaat pada partai berlambang kebo ireng itu bagai debu diterbangkan angin.

Apa boleh buat. Ibu Sukatni tak bisa menghalangi Maryam yang ingin dipertemukan dengan Pak Bowo, Ketum Partai. Pak Bowo mempersilakan ibu dan anak itu bertandang ke rumahnya, Jalan Menteng. Maryam selama satu jam lebih mempresentasikan gagasannya. Pak Bowo bangga dengan putri Ibu Sukatni itu, tapi perempuan paruh baya itu berseberangan dengan gadis berusia 27 tahun.

Sampai malam sangat larut, Ibu Sukatni belum juga mau menerima rencana ke depan dari Maryam. Sedangkan Pak Bowo berpihak pada Maryam dengan konsekuensi partai akan terbagi ke dalam dua faksi. Faksi idealis dan faksi realis.

Sepulang dari rumah Pak Bowo, sepanjang jalan di dalam Lamborghini mereka, Ibu Sukatni dan Maryam tetap cekcok. Tapi Maryam tetap menjaga batas kesopanan seorang anak pada ibunya. Ibu Sukatni menyesal dalam batin. Semula berharap Oxford sekadar membekali anaknya dengan ilmu politik. Tak disangka, pragmatisme juga mengubah pikiran putrinya itu.

***

Rasa kesal Bu Sukatni pada anaknya makin memuncak. Itu bermula sejak rapat internal partai berikutnya. Bu Sukatni melihat Pak Bowo semakin “di depan”, terkait pembicaraan mengenai perubahan arah kebijakan partai.

Akhirnya, Ibu Sukatni memilih untuk diam, melihat Pak Basuki melongo mendengarkan rivalnya bicara. Terbayang dalam pikiran Bu Sukatni, Pak Basuki mati kutu di hadapan gagasan unik Pak Bowo. Walau mereka berdua sama-sama founding-fathers partai, persaingan jadi ketum sangat panas. Penuh intrik.

Persis Seperti yang Bu Sukatni prediksi, beberapa elite partai akan bergabung dengan kubu Pak Bowo. Program-program tarbiyah, koperasi, pembangunan klinik kesehatan, rekrutmen kepengurusan, strategi pemenangan pileg dan penentuan koalisi, Pak Bowo mampu menjelaskannya di hadapan hadirin dengan sangat provokatif. Hal yang Pak Basuki tak bisa.

“Partai itu kendaraan merebut kekuasaan. Satu-satunya cara ya dengan dukungan massa sebanyak-banyaknya. Untuk menggaet suara hanya ada satu jalan, yaitu program yang konkret dan riil,” kata Pak Bowo menutup presentasinya.

Bu Sukatni melihat Pak Basuki yang sepaham dengan dirinya diam seribu bahasa. Raut muka hadirin yang disertai anggukan-anggukan kecil kepala mereka seakan menyatakan dukungan pada opsi Pak Bowo untuk memecah partai jadi dua faksi. Bu Sukatni menyesali Maryam, yang lebih memilih mem-backup Pak Bowo. Dan karena gagasan anak ingusan itu partai pecah dua faksi tidak terelakkan lagi.

***

Publik dan netizen ramai berkomentar. Sosial media penuh dengan kicauan yang chaos. Tak disangka, partai yang sangat religius dan berasaskan agama mempersilahkan kepengurusannya diduduki orang-orang kiri dari PKI maupun nasionalis. Beberapa nama yang dikenal tokoh Atheis juga penganut kepercayaan lokal digadang-gadang akan maju di Pileg tahun depan.

Bu Sukatni yang selalu mendampingi Pak Basuki menjadi saksi mata. Bagaimana kader dan anggota di kota-kota basis mengolok-olok Pak Basuki. Jubir partai. Imbasnya juga dirinya. Berbagai pembelaan dan komitmen yang dijanjikan mendapat respons sebelah mata dan cibiran. Orang mulai menilai rendah partai. Itu sama rasanya merendahkan harkat martabat dirinya sebagai individu. Bu Sukatni mencintai partai sudah seperti mencintai keluarga sendiri.

Hubungan Maryam dan ibunya semakin memanas. Malam demi malam, rumah mereka menjadi ajang debat. Maryam berargumentasi bahwa mensejahterakan rakyat jauh lebih utama dari bualan kosong dengan janji-janji surga atau mendirikan ‘kerajaan Tuhan’ di muka bumi. Kata-kata ideologis kasar itulah yang membuat hati Bu Sukatni perih.

Sungguh Bu Sukatni tak habis pikir. Anak yang sejak kecil dididik di pesantren bisa berubah seperti itu. Hanya setelah sekian tahun kuliah di luar negeri.

Maryam membuka tasnya, lalu mengeluarkan kan berkas-berkas berisi laporan keuangan yang berputar berkat koperasi yang dikelolanya.

“Jika Mama berpikiran idealis terus, uang partai tak akan segini banyaknya,” kata Maryam, membanggakan prestasinya yang dicapai beberapa bulan terakhir.

Maryam juga menunjukkan beberapa planning yang disetujui oleh Pak Bowo. Tapi, walau begitu, Maryam bukan pengurus harian partai. Dan Pak Bowo lebih setuju strateginya itu.

Bu Sukatni merasa kalah telak. Bahkan sebagai seorang ibu, dirinya tak membayangkan mampu mengelola manajemen serumit itu. Yang sarat politik dan kepentingan.

***

Galau hati Bu Sukatni menemukan dermaga untuk berlabuh.

“Bowo makin naik daun saja. Kamu tahu itu…,” ujar Bu Sukatni sambil memotong daging steak dengan pisau di tangan kirinya.

“Rasa-rasanya, aku tak mungkin menggantikan posisi Bowo periode depan,” balas Pak Basuki menyeruput juice jambu, lalu menyulut sebatang rokok di bibirnya.

“Kamu pesimis?” Bu Sukatni menghentikan makannya dan mendesak dapat jawaban.

“Entahlah. Putrimu itu gadis yang pintar. Aku turut kagum…”

“Jangan bilang begitu. Berikan aku waktu.”

“Sampai kapan? Hingga hari ini kamu tak berhasil membujuknya…”

“Setidaknya sebelum Rakernas tahun depan…”

“Apa jaminanmu?” tanya Pak Basuki.
“Dia bukan saja anakku, tapi anakmu juga…,” jawab Bu Sukatni.

“Kamu yakin bisa mengubah pikiran anak itu?”

Bu Sukatni mengangguk, dan mendapat balasan berupa senyum manis dari lelaki tambun dan botak itu.

***

Perenungan panjang dan mendalam menyita waktu Bu Sukatni semenjak makan malam berdua dengan Pak Basuki itu. Terbersit satu-satunya pilihan untuk segera menyelesaikan konflik internal partai; kubu Pak Bowo dan kubu Pak Basuki, adalah terlebih datang ke Pak Bowo, untuk membatasi gerak bebas Maryam.

“Kapan kamu akan mengakhiri permainan ini, Bowo?” Bu Sukatni melonggarkan hijabnya.

“Malam-malam gini, kamu ajak aku keluar hanya untuk itu? Aku pikir kita hanya ingin makan malam berdua saja…,” balasnya dengan senyuman penuh kemenangan.

“Kamu egois. Demi tujuan pribadi, partai kamu korbankan…,” kata Bu Sukatni sedikit menggebrak meja.

Gelas dan piring sedikit bergetar.

“Apa tidak sebaliknya? Coba lihat kas partai, berapa uang kita… lihat juga orang-orang Kristiani dan orang-orang merah, semakin banyak kan massa kita?”
“Cukup. Buang basa-basimu itu. Ini semua kamu lakukan hanya untuk membuktikan dirimu lebih hebat dari Basuki, iya kan? Hanya karena sakit hatimu; karena aku dulu lebih memilih dia daripada kamu.”

Pak Bowo mengalihkan pandangannya ke jalanan kota, yang kerlap-kerlip dengan lampu mobil, juga gedung-gedung pencakar langit.

“Lihatlah aku. Tatap mataku,” pinta Bu Sukatni, “… kamu itu orang baik. Teman-teman mempersepsimu sebagai orang baik. Prestasimu membesarkan partai semakin mengharumkan namamu. Kenapa kamu mau mengotorinya dengan berubah ideologi? Jadi pragmatis begini… Menjijikkan…”

“Diam! Jangan lanjutkan lagi,” suara Pak Bowo meninggi. Tatapannya tajam ke bola mata Bu Sukatni.

“Kamu tahu sendiri, aku ini orang kotor. Sejak semula aku ini menjijikkan. Dan karena itu, kamu memilih Basuki daripada aku. Iya, kan? Jawab!”

“Lupakan masa lalu. Kita sedang bicara partai sekarang.”

“Omong kosong. Kita semua pura-pura hidup di masa kini.”

“Tapi kan kita sekarang sudah impas,” suara Bu Sukatni melemah.

“Impas apa maksudmu?” Pak Bowo menunjukkan wajah penasaran.

“Kamu sudah mendapatkan dukungan Maryam. biarkan aku tenang sama Basuki,” jawabnya datar.

Pak Bowo menarik napas panjang dan membetulkan duduknya.

“Nini, dengarkan kata-kataku…” Pak Bowo mendekatkan bibirnya ke telinga Bu Sukatni.

“Aku siap mengundurkan diri dari partai, dan Basuki bisa menggantikan posisiku dengan satu syarat,” ujar Pak Bowo dengan sedikit menjulurkan kepalanya ke arah Bu Sukatni.

“Bilang pada Maryam dengan jujur, bahwa dia adalah darah dagingku.”

***

Kata-kata terakhir Pak Bowo lebih menyeramkan daripada hantu dalam hidup Bu Sukatni. Minggu demi minggu Bu Sukatni lebih banyak diam, mengurung diri di rumah, dan jarang ikut rapat partai.

Andai hari itu bukan hari kebahagiaan partai, yang berhasil menempatkan 70% kadernya di dewan perwakilan daerah,  Bu Sukatni tidak akan datang ke acara sukuran di rumah salah satu anggota dewan yang baru terpilih dari Dapil yang mayoritas Kristiani dan orang-orang merah. Dia harus ikut merayakannya walau kemenangan itu prestasi kubu realis, arahan Pak Bowo.

Bu Sukatni didampingi suaminya dan Maryam datang ke acara itu. Begitu pula Pak Bowo dan Pak Basuki. Mereka berdua datang dengan keluarga masing-masing; anak dan istri mereka.

Tampak di mata Bu Sukatni, Maryam meninggalkan dirinya dan suaminya. Maryam berjalan ke meja yang tak jauh dari tempatnya. Maryam menghampiri keluarga Pak Bowo, beramah-tamah dengan istri dan anak-anak Pak Bowo.

Tapi Maryam juga menyempatkan diri untuk menghampiri meja Pak Basuki dan keluarganya. Bersalaman dengan istri Pak Basuki dan menyapa anak-anaknya. Walau kemudian, Maryam ikut bergabung dengan meja Pak Bowo. Dan terlihat hangat berbincang dengan istri Pak Bowo.

Bu Sukatni tidak membayangkan. Apa yang akan terjadi bila dirinya harus bilang pada Maryam bahwa ayahnya yang sesungguhnya adalah Pak Bowo. Apa pula yang akan menimpa pada masa depan partai bila status Maryam terungkap ke publik.

“Dinda kok melamun?” seorang lelaki yang duduk di samping Bu Sukatni menegur istrinya.

“Oh, sorry, Kanda,” jawabnya menyembunyikan perasaan, “Bunda cuma sedikit pusing saja.”

“Kita pulang duluan saja ya?”

“Baiklah. Ide bagus kayaknya.”

“Bagaimana dengan Maryam?”

“Biarkan saja dia di sini sampai pestanya selesai.”

Bu Sukatni pulang bersama suaminya, seorang lelaki tua berusia 60-an, duda tanpa anak, pebisnis real estate yang sukses, yang kini sedang mengembangkan sayap bisnisnya dengan membuka perusahaan penerbangan baru Tiongkok-Jakarta.

Pikiran Bu Sukatni campuraduk; masa depan partai atau masa lalu putrinya, Maryam.


*Imam Nawawi lahir di Sumenep, Madura. Selain menulis cerpen, juga menulis esai dan menerjemah buku-buku Arab. Kini studi di Pascasarjana Prodi Middle East Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

*Pernah tayang di Harakatuna, edisi 5 Februarti 2017. 

No comments:

Post a Comment