Friday, 30 November 2018

Lokalitas Kisah di Tanah Madura

CAROK merupakan pertarungan sadis dengan menggunakan senjata tajam yang dilakukan oleh lelaki pemberani, katakanlah lelaki kesatria satu lawan satu. Siapa sih yang tak mengenal tradisi carok asal pulau Madura ini. Semua orang bahkan sebagian dunia mengenalnya, bahwa carok merupakan tantangan bagi mereka-mereka yang miris sekali melencengkan aturan-aturan pernikahan yang tak sesuai dengan harapan agama. Biasanya, carok dijadikan jalan terakhir untuk memutuskan permasalahan, hingga muncullah tradisi carok itu sendiri yang disebabkan oleh lalainya kesadaran manusia terhadap maraknya perselingkuhan.

Salah satu keberagaman negeri yang harus dijaga adalah budaya. Lokalitas budaya Madura memang erat kaitannya dengan menantang keadaan. Tak ubahnya misterius-menegangkan. Komposisi itulah yang hingga kini masih kental dan melekat di tanah Madura, seperti carok misalnya.

"Selama empat puluh empat puluh malam, Hamid melakukan ritual sebagaimana yang disarankan Ki Yusuf. Bibirnya yang kering penuh garis-garis pecah, tekun melafazkan zikir. Napasnya jauh dihujam ke dasar dadanya dengan getar basmalah. Detak jantungnya lebih teratur. Sementara matanya kerap menampung bayangan sosok Minhad yang bengis" (hal 40)

Dalam buku ini, Minhad merupakan musuh bebuyutan Hamid. Beberapa kabar yang telah beredar di tengah riuhnya masyarakat, bahwa perseteruan itu terjadi disebabkan ulah Minhad yang mengganggu istri Hamid. Bagi Hamid, istri merupakan martabat dan merupakan simbol kekuatan cinta. Barangkali Hamid tak kuat menahan api bara emosi. Maka terjadilah pertarungan carok yang disebabkan ulah Minhad pasca menggangu istri Hamid.

Beberapa orang tahu, bahwa terjadinya carok ini tidak akan lepas dari kenakalan para suami-suami bejat. Dari itulah Hamid mencari dukun solusi sesuai jalan terakhir persis kisah yang diceritakan oleh A. Warits Rovi dalam buku 'Dukun Carok dan Tongkat Kayu' ini. Kita semua juga diajak mendalami kebudayan dan substansi orang-orang desa yang hidup besar di pulau Madura. Berbagai kisah ekstrim yang apik dan menarik bisa ditemui di dalam kumpulan cerpen ini.

Buku ini merupakan kesesuaian dan keselarasan hidup yang sebetulnya sangat memantang kehidupan pemuda di pulau Madura. Beberapa kumpulan kisah ini telah dieksplorasikan lewat fiksi yang bereksperimen melalui alur-alur sejarah. Selain kebudayaan dan lokalitas budaya, ada banyak memoar kisah yang ditampung manis dalam buku kumcer ini. Salah satunya kehidupan anak-anak siwalan yang identik dengan tantagan seribu hadangan ketika memanjat pohon siwalan. Terlebih kita diajak untuk menjadi jiwa yang pemberani sesuai norma dan agama.

*Presensi, alumnus Madrasah Alhuda, Gapura, Sumenep.

*Pernah tayang di Kedaulatan Rakyat, edisi 11 November 2018.


Dukun Carok dan Tongkat Kayu


             Judul       : Dukun Carok dan Tongkat Kayu 
             Penulis    : A. Warits Rovi
             Penerbit  : Basabasi, Yogyakarta
             Cetakan   : Pertama, September 2018
             Tebal       : 166 halaman
             ISBN       : 978-602-5783-34-0
             Presensi : Saiful Bahri*

No comments:

Post a Comment