Monday, 15 October 2018

Lipstik

Lipstik Arsip

SUATU senja yang tak ingin dilewatkan keindahannya. Matahari pun berangsur-angsur tenggelam. Aku berjalan-jalan untuk kencan bersama pacar ke sebuah tempat. Aku dipertemukan dengan sebuah keganjilan. Sebenarnya bukan keganjilan. Apa boleh buat itu dialami oleh pacarku sendiri. Tepatnya, sesuatu yang tak biasa. Ya, itu sama saja, hanya beda ungkapan, tetapi sama-sama sebagai sesuatu yang ganjil bagiku, karena hanya pada waktu itu aku menjumpainya pertama kali.

Aku terperanjat saat hidungku hampir menyentuh pipi pacarku, tepat di lekuk hidungnya. Segera aku menarik wajah dan menjauh dari pacarku, lalu aku memerhatikannya lekat-lekat. Ada pesona dan rona yang menggetar dalam hatiku.

“Kenapa sayang? Kok gak jadi menciumku?” tanyanya seakan merasa kecewa.

“Itu tuh,” jawabku tampak merasa aneh juga. “Coba kamu senyum sedikit.”

Aku meminta pacarku agar tersenyum. Dia pun mengikuti permintaanku. Seulas senyum merekah dari bibirnya, dan tampak giginya yang putih bersih bagai pualam. Lalu aku tertawa sambil menahannya. Tak pelak, akhirnya aku cekikikan.

“Senyumku lucu ya, sayang?”

“Bukan. Bukan senyummu yang lucu,” jawabku ngambang. Serentak ia bimbang.

“Terus, apa?”

“Gigimu tuh, merah macam berdarah blepotan seperti drakula!”

Secepat kilat ia mencari-cari sesuatu dalam tasnya. Ia mengangkat cermin pas di depan mukanya, lalu nyengir, dan tampak jelas giginya dalam pantulan cahaya cermin itu. Kening di wajahnya tampak mengkerut. Ia tak melirik sedikit pun padaku. Matanya fokus pada bayangan gigi dalam cermin.

“Gimana?” tanyaku sedikit meledek.

Pelan-pelan, ia meletakkan kembali cermin itu ke dalam tasnya. Tiba-tiba ia menyambar tubuhku dan mencium bibirku cukup lama. Sebenarnya aku suka sekali. Bekas lipstik sedikit memudar dalam benakku lantaran gejolak yang meledak-ledak dalam dada. Aku segera cari tisu untuk menghapus bekas bibirnya yang penuh lipstik, dan aku mendapatkan tisu itu dari pacarku sendiri. Kuhapus bekas lipstik dengan debar jantung yang masih mengentak dalam dada.

Tanpa mengajakku pacarku pergi ke toilet. Aku menyusulnya selang waktu sekitar lima menit. Sekalian saja mau cuci bibir dari bercak merah bekas lipstik itu. Tak baik juga dilihat orang ada bekas lipstik di bibir seorang lelaki, pikirku.

Ketika aku sampai di toilet, bibir pacarku sudah bersih dari bercak merah. Ia menungguku sambil berdiri di sampingku dekat wastafel, di mana aku sedang mencuci bibir yang memerah dari bekas kecupan bibir pacarku.

“Sayang, lipstikin aku, dong,” pintanya dengan merengek dan manja.

“Ah, manja amat sih kamu, sayang!”

Aku mencoba tak menghiraukan lebih jauh. Ia berdiri cemberut, sepertinya kesal karena keinginannya tak dituruti. Aku mencoba memandangnya dan kulempar seutas senyum, tetapi ia malah membelakangiku.

“Sini, mana lipsitiknya?”

Sebenarnya baru kali ini aku berkencan dengan pacarku setelah lama menahan gejolak rindu dalam hati. Hari-hari sebelumnya hanya pendekatan saja meski beberapa kali berpelukan saat jumpa. Dan saat ini, ketika aku akan memoles lipstik di bibirnya, ia sembari memejamkan mata.

Tiba-tiba ia menarik tubuhku sedikit lebih rapat. Detak jantungku semakin cepat saat perut kami saling bersentuhan, dan kurasai harum nafasnya yang tersendat-sendat. Aliran darahku semakin cepat. Mungkin ia merasakan sesuatu dari bagian tubuhku. Tetapi, ia hanya diam saja. Aku tak banyak bergerak, khawatir disangka yang bukan-bukan..

Ia mulai menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan-kiri. Aku pun mengikuti irama kepalanya agar bisa fokus memoleskan lipstik ke bibirnya. Tanpa terasa, saat aku mengikuti gerak kepalanya, sisi bagian perutku pun ikut tergerak. Sungguh itu menambah sensasi rasa nyaman yang sejak tadi sengaja kudiamkan. Aku pikir, ia juga sengaja menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan-kiri agar sesuatu yang lain juga begerak dan menghadirkan rasa nyaman.

“Sudah,” kataku sedikit menekan perutmya saat ia hendak melepas tubuhku dari pelukannya. Di sana, ada rasa nyaman yang berbeda ke dua kalinya. Pokoknya beda.

“Beneran sudah, sayang?”

“Iya, benaran.”

“Kayaknya belum.”

Serentak aku mencium pipinya. Kurasakan nafasnya sangat hangat saat menyentuh telinga yang menerpa wajahku. Detak jantungku semakin tak menentu. Ia tersenyum, lalu aku teringat dengan giginya yang penuh bercak merah tadi yang kini sudah bersih dan lebih membuatku bergairah ingin berpagut bibir lagi.

“Sayang, sini,” kataku mengajak ke sebuah tempat untuk duduk di area taman.

“Gincumu masih tebal. Biar gak blepotan dan membercaki gigimu, sini akan kuberi satu cara yang akan membuatmu tambah cantik dan mempesona.”

Dia mengikuti kata-kataku. Aku segera mencuci tangan kanan dan kiri. Aku kembali lagi ke hadapannya. Ia tetap memerhatikanku lekat-lekat. Mungkin ia berharap aku akan melumat bibirnya. Entahlah. Itu hanya pikiranku saja. Aku tak tahu secara pasti isi kepala dan getaran dalam hatinya.

“Coba senyum,” pintaku. “Lipstikmu belum mengena gigimu. Coba sedikit menganga.”

Ia pun mengikutinya lagi dengan manja. Mulutnya dibuka sedikit melebar. Aku memasukkan jari telunjuk tangan kanan ke mulutnya, dan memintanya agar mengemut dengan rapat. Aku sedikit menarik jari telunjuk dengan perlahan, dan kurasakan hangat nafasnya yang megap-megap dan menggoda pori-pori kulit dan bulu di punggung tanganku. Sekiranya bibirnya pas berada di ujung telunjuk, aku akan memintanya agar mulutnya dibuka, dan ia pasti akan mengikuti perintahku tanpa manja.

“Begitu caranya saat kamu selesai memakai lipstik supaya lipstikmu tak mencemari gigimu seperti tadi itu.”

Aku perlihatkan jari telunjukku. Ada bekas merah berbentuk kerutan bibir yang sedikit memanjang. Ia tersenyum dan sesekali mengadu bibir lagi. Mungkin itu dilakukan hanya untuk mengencangkan lipstiknya agar semakin menempel. Aku pikir, kadang ada cewek-cewek yang kuanggap seksi dan memakai high-heel, tetapi tak tahu cara memakai lipstik agar tampak lebih mempesona. Sejak saat itu, bibir pacarku selalu menyejukkan dipandang dan menggemaskan pikiran.

Jogja, 25 Februari 2018


*Junaidi Khab lahir di Sumenep, Madura. Selain menulis cerpen, juga menulis resensi dan artikel. Tinggal di kedai-kedai kopi di sepanjang Jln. Sorowajan Yogyakarta.

*Pernah tayang di www.desamondial.com, edisi 14 Oktober 2018.

1 comment: