Monday, 24 September 2018

Tangisan dari Bawah Tanah



Tangisan-Dari-Bawah-Tanah

SETIAP kali bercermin, ia semakin melihat jelas apa yang berada dalam raut wajahnya. Kadang ia berkaca sambil menilik-nilikkan mukanya. Ya, menilik-nilikan mukanya bukan karena ada bekas coretan luka di pipi kanannya. Melainkan lebih dari itu.

Malam itu, di hadapan cermin, pikirannya terus dibiarkan melayang jauh pada suasana yang ia lihat sebelumnya, ketika sepasang matanya melirik padang rumput hijau yang terhampar di belakang kamar yang sedang ia tempati. Di situ tampak sebuah siluet dari masa yang menarik keinginannya untuk memutuskan tinggal di tempat ini. Waktu itu ia masih seumuran anak SMP, banyak hal menarik di tempat ini. Negeri Bar-Bar, begitu orang-orang menyebutnya. Sebuah negeri yang letaknya lumayan jauh dari arah pantai. Tapi, keindahannya, jauh melebihi pemandangan dan suasana pantai ketika matahari mulai bersenyawa dengan warna jingga. Dan juga burung-burung yang beterbangan kala sore mulai redup menjemput kembali para nelayan ke peraduan tempat di mana mereka akan menghitung bulir keringatnya yang di peroleh dari luasnya samudera tanpa tepi itu.

Negeri Bar-Bar mempunyi keindahan yang lain. Keadaan alamnya yang bersih, berbagai tanaman bunga terlihat berjejer begitu rapi di tepi jalan ketika menuju rumah Kiai Halim, dan juga para warganya yang ramah. Apalagi tentang cerita seorang perempuan seumurannya  yang berambut merah itu. Tentu hatinya sangat senang bila Ramdahan hampir tiba. Karena pada saat itulah, Negeri Bar-Bar mengadakan se-syukuran setiap tahunnya.

Sebagai adik dari seorang kakak yang menjadi abdi di Negri Bar-Bar, tepatnya di rumah kiai Halim. Tentu ia akan senang, karena saat itu ia akan bertemu kembali dengan perempuan yang berambut merah putra kiai Halim yang telah lama di pujanya. Walaupun itu hanya sebatas saling pandang dari jauh. Baginya memang sangat tidak mungkin untuk mendekatinya, apa lagi sampai menjalin hubungan serius dengan perempuan berdarah biru itu. Ia hanya seorang tamu dari kakak yang menjadi abdi rumahnya.

Namun, masa itu sudah hambar. Tidak ada lagi yang patut dibanggakan dari negeri Bar-Bar dan perempuan berambut merah itu, selain puing-puing kenangan yang berserakan di tempat-tempat yang sering kali dilihatnya. Semenjak kepergian kiai Halim, suasana di negeri Bar-Bar mendadak berubah. Berbagai tanaman yang dulu berjejer rapi pada jalan yang menuju rumah Kiai Halim telah mati. Penduduk kampungnya sudah tak lagi ramah, apalagi setelah kabar yang menghantam dirinya, bahwa perempuan yang sering ia puja itu telah diusir oleh beberapa warga, karena mensekap seorang lelaki dalam kamarnya. Sungguh, itu di luar dugaan.
***

Lelaki itu beranjak keluar, meninggalkan beberapa potong ingatannya pada sebuah cermin yang dari tadi menggambarkan sosok wajahnya sendiri.

Malam itu, dari depan kamarnya, ia melihat seorang kakek yang setiap hari menjelang sore selalu menabur kembang di atas kuburan Kiai Halim yang selalu terlihat basah oleh air. Entah itu air apa dan dari mana. Yang jelas, bukan siraman air hujan. Tidak mungkin ada hujan di musim seperti ini. Langit masih seterang kemarin. Tidak ada gumpalan mendung yang mengabarkan hujan akan datang. Tapi setiap kali ia lihat kuburan Kiai Halim yang berada di samping jalan itu, tanahnya selalu lembab oleh air yang terus mengalir ke samping kuburannya. Kadang air itu mengenang di atas gundukan tanahnya. Kadang juga, air itu  mengalir sampai merambat ke jalan-jalan, bahkan ke segala arah.

Lelaki itu kini beranjak dari depan kamarnya. Di hampirinya seorang kakek tua yang masih sibuk menaburkan kembang di atasnya kuburan Kiai Halim.

“Mengapa sering sekali Kakek ke sini?” tanyanya.

Kakek itu diam sejenak, kemudian ia bersimpuh di atas rumputan yang masih basah oleh aliran air dari atas kuburan Kiai Halim. Buliran air di atas rumput itu tampak seperti butiran-butiran mutiara yang berserakan. ketika sinar rembulan terus membagikan cahayanya pada malam yang begitu sunyi.

“Entahlah, kakek juga tidak tahu. Tapi, banyak hal yang mesti kamu tahu tentang kuburan ini.” Kata kakek itu sambil menundukkan mukanya ka arah kuburan Kiai Halim yang sedari tadi ditaburi kembang.

Kemudian, lelaki itu menghampirinya. Ia duduk di sampingnya dengan rasa heran yang membuat dahinya mengkerut.

Dahulu, semenjak Kiai Halim masih hidup. Negeri ini begitu tenteram. Kehidupan warganya tidak seperti sekarang. Tapi, semenjak ia pergi, kerisauan bertebaran di mana-mana. Bahkan, keturunannya pun telah dipandang buruk oleh sebagain warga. Apalagi setelah diketahuinya bahwa putri pertamanya itu menyimpan seorang lelaki dalam kamarnya. Sungguh hal itu membuat orang-orang kabur dari kampungnya sendiri. Dan perlu kau tahu, air yang mengalir di atas kuburan Kiai Halim ini bukanlah siraman air dari para peziarah. Bukan pula siraman air hujan yang turun dari langit. Itulah air tangisan.

“Air tangisan?” lelaki itu tampak semakin heran mendengar perkataan seorang kakek tua itu.

“Ya. Itulah air mata kesedihannya.” Beberapa hari yang lalu, saya bermimpi melihat almarhum ini menangis. Ia tampak mengenakan baju putih yang diselempangkan pada sebelah bahunya. Dengan air matanya yang terus berlinang dia memohon kepada sesosok mahluk yang saya tidak tahu itu siapa. Mahluk itu begitu aneh di hadapan saya, ia tampak seperti semburat cahaya. Mata saya tidak bisa melihat jelas sosok mahluk yang diajaknya bicara. Berkali-kali ia memohon kepada sosok mahluk aneh itu untuk dihidupakan kembali dari kematiannya. Namun sosok aneh itu tidak mengizinkannya jika ia dikembalikan lagi pada dunia. Sebab, kematian dan kehidupan tidak bisa dipinta oleh siapa pun dan apa pun alasannya. Kematian hanyalah kuasa diri-Nya. Kata sosok yang bercahaya itu.  

Namun, ia tetap memohon dengan segala cara agar kembali dihidupkan. Ia memohon dengan sangat. Kadang ia bersujud di hadapan mahluk aneh itu sambil terus menangis. Namun hasilnya tetap saja. Mahluk aneh itu tetap tidak membolehkannya. “Mengapa kau masih memilih hidup di sana dari pada tempat yang nyaman di alam ini,” kata-nya sebelum mahluk itu pergi.

Kemudian, beberapa saat setelah itu, mata saya hanya bisa melihat almarhum Kiai Halim yang terus menangis. Lalu almarhum itu menghampiri saya yang sedari tadi melihat percakapan mereka dari jarak jauh. Ia menghampiri saya sambil menagis dan berkata: Jika kau meliaht kuburanku penuh dengan  genangan air yang terus mengalir. Ketahuilah, bahwa itu adalah air mata tangisku untuk anak cucuku dan orang-orang di Negri Bar-Bar. Begitu tuturnya. Lalu almarhum itu menghilang dari pandangan saya.   

Seusai menuturkan ceritanya. Kakek itu menunduk dengan memejamkan matanya erat-erat. Seakan ia menyimpan kesediahan yang begitu dalam. Malam itu langit tampak semakin gelap. Tak ada bintang. Cahaya bulan pun perlahan meredup.

“Lalu, bagaimana kabar putrinya itu, Kek?”

“Entahlah, kakek juga tidak tahu,” ujarnya pelan.

Kutub, 2018

*Saleojung, lelaki kelahiran Sumenep Madura. Kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Fakultas Dakwah dan Komonikasi. Aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) dan Sanggar Nuun Yogyakarta. Email. saleojung@gmail.com

*Pernah tayang di Suara Merdeka, edisi 23 September 2018.

1 comment: