Saturday, 9 June 2018

Rama Kae: Ramalan Musim dan Kematian yang Tak Bisa Dihentikan


Rama Kae


BAGI kami masyarakat Bandungan, Rama Kae adalah sosok lelaki sederhana, berwibawa,  relegius sekaligus misterius. Kehadirannya senantiasa menjadi panutan banyak orang. Tingkah lakunya terpuji. Tutur katanya yang lembut menyentuh hati. Yang pasti dia tidak pernah menebar rasa benci, iri, dengki, dan penyakit-penyakit hati lainnya yang berbahaya. Dia juga tekun beribadah dan tidak pernah bosan mengajak orang-orang untuk juga tekun beribadah. Di samping itu, banyak pula hal-hal yang tidak masuk akal dia lakukan, yang membuat orang-orang tercengang heran.

Begitulah selanjutnya, lelaki yang bertubuh tinggi, berkulit putih, serta selalu senang berjubah itu menjadi muasal dari adanya kami masyarakat Bandungan. Oleh karena itu, kami merasa perlu untuk tidak sekadar mengingatnya saja dan mengulang cerita untuk generasi selanjutnya, tetapi harus pula merawat peninggalan-peninggalan berharga miliknya baik yang berbentuk fisik maupun yang berbentuk ilmu dan etika.

Ibarat perjalanan panjang, sepertinya sosok Rama Kae itu adalah sejarah kami yang tidak akan pernah selesai diceritakan dalam bentuk lembaran-lembaran kertas ataupun dari mulut ke mulut. Selalu ada yang baru dan terasa perlu untuk diungkap ke permukaan.

Kisahnya ini memang tidak termaktub dalam sebuah buku seperti halnya kisah-kisah para raja Sumenep, tetapi kami memilikinya, kami mewarisinya dari lisan ke lisan. Kami ceritakan pula hal tersebut pada anak-anak kami agar mereka tahu dari mana asal mereka yang sesungguhnya. Bahwa beberapa ratus tahun silam, di sini, di Bandungan pernah berjaya seorang Tumenggung Huda.

Marilah kita lanjutkan saja kisahnya: Menurut Nyi Ma’mi (hanya untuk menyebut satu di antara sekian banyak keturunannya), salah satu keturunan Rama Kae yang masih ada sampai saat ini menuturkan bahwa sebenarnya Rama Kae itu memiliki nama asli Kiai Tumenggung Huda. Sebenarnya dia itu adalah sosok pendatang di kampung Bandungan ini. Dia berasal dari tanah Jawa. Meski tidak ada keterangan yang menyebutkan dari Jawa mana dia berasal, hanya saja menurut cerita, dia termasuk salah satu petinggi Kerajaan Sumenep pada masa itu.

Nama Rama Kae itu sendiri sebenarnya adalah julukan atau pemberian secara tidak langsung oleh orang-orang Bandungan. Bagi mereka, nama Rama adalah panggilan terhormat untuk seseorang. Panggilan tersebut juga merupakan panggilan bapak, yang artinya sosok Kiai Tumenggung Huda merupakan sosok yang dituakan, sebagai bapak yang mengayomi anak-anak dengan kasih sayang.

Kata Kae berarti berarti sosok kiai. Kiai bagi masyarakat Bandungan dan Madura pada umumnya menjadi salah satu dari tiga sosok sentral yang paling dihormati dan disegani. Seperti ungkapan falsafah Madura, Bhuppa’, Bhabbhu’, Ghuru Rato. Julukan ini tidak serta merta diberikan orang-orang Bandungan kepadanya tanpa alasan, melainkan panggilan terhormat ini karena sosok Kiai Tumenggung Huda sangat pantas untuk menyandangnya. Tinggi ilmunya dan sopan santunnya menjadi alasan kuat dirinya mendapat gelar Rama Kae.

Rama Kae Tumenggung Huda hidup menjadi produk Bandungan sudah beberapa ratus tahun yang lalu. Seluruh keluarganya sangat mudah beradaptasi dengan masyarakat sekitar yang sebelumnya sudah bertempat tinggal lebih dulu. Sebagai orang baru, dia tidak pernah lupa bagaimana cara bergaul dengan penduduk setempat.

Menjaga etika yang baik  dan akhlak yang terpuji, tidak menyakiti perasaan orang lain, sabar, ramah, dan tidak menutup diri menjadi modal bagi diri dan keluarganya untuk bisa melangsungkan hidup tanpa rintangan. Karena itulah, dia tidak hanya disegani orang-orang, melainkan juga disayangi, dihormati, serta selalu dijadikan tempat untuk mengadu. Meminta pertimbangan, dan nasihat oleh masyarakat sekitar. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk bisa berkembang dan mengembangkan keinginannya untuk mengajak orang-orang ke jalan lurus yang diridhai Allah. Dalam waktu singkat, banyak orang yang datang kepadanya untuk segala macam urusan, mulai dari urusan yang sangat sederhana, seperti urusan keluarga hingga persoalan budaya dalam ruang lingkup yang lebih besar.

Sepulang dari rumahnya, orang-orang tersebut seperti mendapat pencerahan dan ketenangan, pikiran yang longgar dan akal yang tidak sempit. Padahal sebelumnya mereka seperti tidak mendapatkan jalan keluar, pikiran yang buntu, dan hati gelisah. Lantas orang-orang itu sepanjang jalan, di rumah, di ladang dan di mana saja berada, mereka berpikir dan yakin bahwa Rama Kae bukanlah manusia biasa seperti manusia pada umumnya. Dia sosok Wali Allah yang setiap ucapannya dan pengobat luka hati. Setiap tatapan matanya adalah tetesan embun yang membawa kesejukan luar biasa. Setiap gerak tubuhnya menimbulkan getar-getar kecil yang menyenangkan.

Setiap kali berpapasan dengannya, orang-orang akan memilih berhenti sebentar, berbicara, atau hanya sebatas bertegur sapa. Sebab dengan demikian, mereka akan mendapatkan sebuah ketenangan yang pada hakikatnya tidak bisa diceritakan lewat tulisan dan lisan. Ketenangan yang tidak bisa digambarkan dengan cara apa pun.

Inilah awal kewaliannya dipahami oleh masyarakat sekitar. Semakin hari dia semakin disegani saja oleh orang-orang yang mengenalnya. Semakin hari dia semakin dihormati oleh semua kalangan. Penghormatan yang luar biasa itu tidak lantas dijadikan alat untuk mengambil keuntungan bagi diri dan keluarganya. Dia tetap memposisikan dirinya sebagai seseorang yang membutuhkan orang lain untuk melangsungkan hidupnya. Dia tetap menjaga kedekatan dirinya dengan orang-orang sekitar. Dia tetap menjauhkan kebencian agar tidak menguasai hatinya, meski beberapa orang ada yang membencinya.

“Apa perlu kami menegurnya, Ke?” tawar seseorang pada suatu ketika ada yang acuh tak acuh pada diri Rama Kae.

“Tidak usah. Nanti malah kebencian lain yang menguasai hatimu. Kalau itu terjadi, bisa-bisa mengundang kebencian lain dan sudah pasti akan terjadi permusuhan yang memecah satu sama lain,” balasnya dengan tenang dan nada suara yang tetap lembut.

“Biarlah, kita tunggu saja. Suatu saat dia akan menyadari kesalahannya. Lagi pula sebenarnya dia itu belum sadar saja, bukan tidak mau sadar,” lanjutnya, menenangkan suasana yang tegang. Kata-kata Rama Kae dan telapak tangannya yang mengusap-usap pundak lelaki itu begitu mudah memadamkan kemarahan.

***

Kita lewat saja dulu cerita tentang perbincangan Rama Kae tadi dan pindah sebentar ke sebuah rumah di ujung kampung tempat Rama Kae dan keluarganya tinggal. Sebuah rumah yang tidak terlalu sederhana sekadar menyebut salah satu untuk rumah orang kaya. Tegak berdiri di antara pohon-pohon kelapa dan siwalan yang menjulang. Rumah itu cukup mencolok, sebab memang berbeda dengan kebanyakan rumah di kampung itu.

Sesampainya di rumah, orang yang tadinya ciut pada Rama Kae dengan pandangan yang menyinggung perasaan tidak enak badan. Sepanjang malam badannya panas meriang. Dalam mimpi, dia bertemu dengan sosok lelaki kekar berjubah putih dengan wajah yang teduh. Lelaki berjubah itu lantas berkata dengan nada yang tidak marah, “Pikirkanlah, apakah kamu sudah melakukan kesalahan pada orang lain?”

“Maksudmu?”

“Kalau pernah, sebaikanya kamu datang menemui orang itu dan meminta maaf padanya,” lantas lelaki berjubah itu pun raib begitu saja seperti ditelan awan putih.

Dalam beberapa menit lelaki itu mengernyitkan dahi. Matanya menatap kosong. Dia benar-benar dibuat bingung oleh perkataan lelaki misterius barusan. Diulanginya ingatannya kembali. Mulai dari dia berangkat dari rumah tadi pagi hingga sore dan tiba kembali ke rumah ini. Ia terperangah ketika mengingat sebelum sampai di rumah. Ia menciutkan sapaan seseorang di ujung kampung itu.

“Benar. Tadi siang saya menaruh kebencian, iri, dan dengki pada Rama Kae yang terlalu disegani itu!” gumamnya dalam hati setelah dia terbangun dari mimpinya. Dan esok harinya, pagi-pagi sekali, dia mendatangi rumah Rama Kae. Dan seperti dalam mimpinya, dia benar-benar datang dengan tujuan untuk minta maaf. Anehnya, sebelum kakinya menginjakkan halaman rumah Rama Kae, tubuhnya yang tadinya masih panas meriang hilang begitu saja.

Sejak saat itu, dia pun banyak bercerita tentang keanehan-keanehan itu pada orang lain agar mereka menghormati lelaki itu. Menghormati orang asing yang datang dengan membawa kasih sayang, bukan malah menebar sebanyak mungkin kebencian yang akan membawanya pada penderitaan yang paling menyakitkan.

Tersebarlah kabar baru itu ke pelosok desa tentang karomah dan kewalian Rama Kae hingga orang-orang semakin menaruh rasa hormat, rasa kagum, dan rasa berlindung di bawah kelembutan sikapnya, kecuali orang-orang yang masih belum mengenal dirinya sendiri. Orang-orang itu kelak dalam cerita ini akan dimunculkan kembali.

Pagi itu, sebatang kayu yang sepintas tidak memiliki makna dan arti apa-apa ditancapkan oleh Rama Kae dengan mengucap lafadz basmalah. Kayu itu ia niatkan untuk mengikat tali kekang kuda putihnya yang jangkung dan gagah perkasa. Kuda itu persis seperti kuda seorang panglima perang yang akan pengalaman di medan pertempuran.

Siapa sangka, dari sebatang kayu sebesar lengan manusia tumbuh menjadi sebatang pohon kecil, beranting cukup rindang, dan berdaun lebat. Tidak ada yang menyangka pula kelak pohon ini akan berguna sekali menjadi tanda pergantian sebuah musim. Kami menamainya sebagai pohon nanggher, sebuah pohon yang ternyata bisa hidup lebih dari ratusan tahun, sejak masa hidup Rama Kae hingga masa kami saat ini.

***

Baiklah, mari kita lanjutkan terlebih dahulu cerita ini pada seekor kuda milikinya yang ternyata juga akan menjadi muasal dari beberapa sejarah nama-nama di sekitar kampung kami Bandungan. Kuda itu di mata Rama Kae, selain menjadi sebuah kendaraan, ternyata juga menjadi hewan piaraan yang disayangi. Maka tidak heran bila setiap pagi ia rutin memandikannya ke sungai kecil yang airnya mengalir sepanjang musim penghujan.

Rutinitas inilah yang masyarakat sekitar dinamakan sebagai Tojharan, sebuah sungai kecil yang di kedua sisinya terdapat batu yang menghampar lebar. Itulah sebabnya, asal muasal kata Tojharan. Gabungan dari kata “To”, asal kata “Bato” yang berarti batu. Jharan yang berarti kuda. Nama ini lahir begitu saja dari orang-orang Bandungan.

Sampai saat ini, nama itu melekat di telinga kami. Menurut cerita yang berkembang, ketika datang ke sungai ini pada malam hari, akan terdengar bunyi ringkikan kuda yang begitu perkasa. Peristiwa ini menjadi tanda besar bahwa jauh sebelum kami ada, ratusan tahun silam, di tempat memang menjadi tempat mandi kuda putih milik Kiai Tumenggung Huda.

Di sebelah barat daya Bandungan, ada sebuah  perkampungan lain juga yang tidak begitu  banyak penduduknya. Tergodalah hati Rama Kae untuk juga berkumpul, bermain, dan berbaur dengan penduduk tersebut. Tujuannya adalah untuk menjalin silaturrahim yang baik sesama manusia sebelum (akhirnya) mengajak mereka tekun beribadah sebagai bekal di akhirat kelak.

Setiap kali datang ke tempat itu, Rama Kae selalu mengendarai kuda putih kesayangannya. Ia juga selalu mengikat tali kekang kudanya ke sebuah pohon rindang di tengah-tengah kampung. Di tempat itulah kaki kuda putih itu menggaruk-menggaruk tanah hingga rumput yang tumbuh kering dan mati. Masyarakat kemudian memberi nama kampung itu Parama’an,  yang memiliki arti tempat kaki kuda menggaruk tanah.

Tidak bisa dipungkiri kemasyhuran Rama Kae atau Kiai Tumenggung Huda. Namanya  tersebar luas hingga ke luar kampung Bandungan. Kabar ketenarannya ternyata melahirkan dua pandangan: Pandangan pertama adalah orang-orang yang mengakui dengan suka rela,  sedangkan pandangan kedua adalah orang-orang yang tidak bisa menerima kabar itu. Di antara mereka ada yang langsung menaruh kebencian yang mendalam. Ingin membuktikan langsung apakah benar yang dikatakan oleh banyak orang tentang kehebatan Kiai Tumenggung Huda.

Ada lelaki berkumis tebal dan bertubuh jangkung semakin penasaran. Menurutnya, kelak namanya akan kalah dikenang dibanding nama Rama Kae, jika semua itu tetap dibiarkan. Ketika baru pulang membeli beras, dia berjalan lewat jalan setapak pematang sawah. Dengan mata yang tajam, langkah gontai, dan dada membusung, lelaki sombong itu berharap bisa bertemu dengan Rama Kae. Dia ingin melihat seperti apa orangnya.

“Saya benar-benar penasaran,” gumamnya.

Dari jauh dia sudah melihat sebuah gubuk sedehrana dengan langgar kecil tempat anak-anak mengaji, dan sebuah pohon besar rindang di sampingnya. Dadanya semakin berdebar ingin melihat dari dekat tubuh lelaki yang sangat kesohor itu. Dengan ilmu kesaktian yang dia miliki serta modal sombong yang menjulang, lelaki itu tidak berhenti berharap ingin bersua langsung tanpa sapaan sebagaimana yang biasa dia lakukan.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sungguh dia benar-benar merasa sangat gembira karena keinginannya terpenuhi. Dia bertemu dengan lelaki berkulit putih dan selalu memakai jubah putih itu. Dan kebetulan Rama Kae sedang menuntun kuda kesayangannya menuju pohon besar.

“Kebetulan sekali. Akan saya ganggu kudanya dengan mantra saya,” harapnya penuh gembira.

Dan betul sekali, ketika lewat di samping Rama Ka yang baru selesai  mengikat tali kekang, kuda itu langsung melonjak tiba-tiba seperti ada yang melemparnya dengan batu. Tidak hanya itu, kuda putih yang perkasa itu meringkik-ringkik mengerikan. Rama Kae punya cara tersendiri untuk menenangkan kudanya yang menggila itu. Diusapnya kepala dan pundak kuda kesayangannya itu dengan lembu. Dan kuda itu pun berhenti mengamuk.

“Maaf, apa yang tuan bawa itu? sampai-sampai kuda kesayangan saya menggila seperti tadi. Seperti ketakutan ketika melihat dua karung sak yang tuan pikul itu,” tanya Rama Kae dengan lembut agar tidak menyinggung, apalagi sampai melukai hati orang asing itu.

“Oh, ini?” lelaki berkumis tebal itu balik bertanya dengan nada yang enteng. “Bukan apa-apa, kok. Ini hanya dua karung garam yang saya bawa,” tambahnya.

“Oh, begitu?” kata Rama Kae sambil tersenyum. Ia hanya mengangguk-angguk pelan,  padahal ia tahu bahwa di dalam karung itu isinya adalah beras. Ia membiarkan saja lelaki itu membohongi dirinya. Ia tidak menegurnya. Dalam hatinya ia berharap suatu saat lelaki itu bisa sadar akan kebohongannya tadi. Menurutnya, satu kebohongan akan membuat seseorang sengsara dan menderita.

“Tidak mampir dulu, Tuan untuk sekadar minum kopi dan ngobrol?” tanya Rama Kae.

“Oh, tidak. Saya sedang keburu,” jawab lelaki itu, kecut.

Berlalulah lelaki itu dengan membanting tatapan yang sinis kepada Rama Kae. Rama Kae tetap membalasnya dengan senyum yang renyah.

Sepanjang jalan, lelaki berkumis tebal itu tertawa sendiri. Dia merasa sudah menang. Ternyata kehebatan lelaki pendatang itu tidak sebagaimana yang dia dengar dari orang-orang. Ternyata Rama Kae tidak lebih seperti kebanyakan lelaki di kampungnya. Terbukti dia sudah berhasil  membuat kudanya gila, meski tidak dalam beberapa lama berhasil tenang kembali.

Sepanjang jalan pula, setiap kali bertemu dengan seseorang, lelaki itumesti bercerita tentang dirinya yang telah berhasil membuat kuda kesayangan Rama Kae gila. Dia terlalu membanggakan dirinya. Dirinya terlalu mengunggulkan kehebatannya, berharap orang-orang lebih memilih dirinya untuk dihormati, disanjung, dituakan, dan disegani daripada Rama Kae.

Dia tidak sadar, ada sesuatu yang besar telah terjadi pada dirinya. Dia terlalu asik bercerita tentang kehebatan dirinya yang telah berhasil membuat kuda itu meringkik-ringkik penuh amarah. Dia lupa bahwa dirinya di luar kesadarannya akan dibuat menangis oleh keadaan lain.

Sesampainya di rumah, dengan sisa tawa yang tawar, dia menceritakan peristiwa yang menakjubkan tadi. Dalam hatinya dia seperti tidak berhenti untuk bercerita dan terus bercerita. Sampai semua orang benar-benar mengaguminya. Sampai semua orang benar-benar patuh pada setiap perintahnya.

“Kak, Kak,” panggil panik istrinya dari dapur.

“Ada apa?” sontak lelaki sombong itu melonjak dan langsung meluncur ke dapur mengira sudah terjadi sesuatu pada isterinya. Betul sekali, sesampainya di dapur, dia harus mengernyitkan dahi ketika melihat yang sudah terjadi. Sesuatu yang sangat tidak masuk akal.

“Apa ini?” tanya istrinya heran. Sementara dia benar-benar tidak memiliki jawaban selain tercengang.

“Bukankah saya menyuruh Kakak untuk membeli beras? Mengapa yang kakak bawa malah garam? Kita akan makan garam?”

Ya, lelaki itu ingat ketika Rama Kae bertanya tentang yang dia pikul, dia mengelabuhinya dengan menjawab garam, padahal yang dia pikul adalah beras. Dua sak beras itu telah berubah menjadi garam persis sebagaimana yang dia katakan.

“Ini tidak mungkin.”

“Apanya yang tidak mungkin? Kakak kira saya salah lihat?”

“Ini pasti sihir.”

Peristiwa menakjubkan itu ternyata tidak membuat dirinya sadar dan mengakui kesalahannya. Kebenciannya semakin berkobar. Rasa dengkinya semakin menggunung.

Keesokan harinya, lelaki sombong dan congkak itu pun datang ke rumah Rama Kae dengan dendam membara. Dia akan melakukan yang lebih parah pada lelaki yang gemar berjubah itu. Dia tidak hanya ingin kuda kesayangannya itu meringkik gila. Kalau perlu lebih dari itu. Dia tahu kalau niat dan kedatangannya itu sudah lebih dulu diketahui oleh Rama Kae. Hanya saja dirinya tetap berpura-pura tenang dan tidak tahu menahu.

Disambutnya kedatangan lelaki congkak itu dengan senyum yang ramah. Dipersilakan lelaki itu duduk dengan sopan ke langgar kecil, tempat dirinya biasa menerima tamu-tamu. Tidak sedikit pun di dalam hatinya ada rasa benci, meski sebenarnya dia sudah tahu niat tamunya itu. Sifat dan sikap yang lemah lembut tetap dia tunjukkan pada tamu yang nyata-nyata ingin mencelakai dirinya.

Sebentar setelah mempersilakannya duduk, Rama Kae pamit keluar. Tidak dalam waktu yang lama, akhirnya Rama Kae muncul dari balik pintu dapur membawa secangkir kopi (dia memang terbiasa melakukan semua ini pada setiap tamu yang datang ke rumahnya), tidak terkecuali pada tamu yang saat ini datang dengan dendam yang membara. Dendam yang lahir karena rasa malu pada istrinya yang kesal ketika melihat beras yang dia bawa ternyata berubah garam.

Pertemuan sudah berjalan lebih dari 30 menit. Tidak ada tanda-tanda permusuhan di mata lelaki berkumis tebal itu, bahkan dirinya sendiri merasa begitu tenang berada di sisi Rama Kae. Dia juga tidak menyangka bahwa niat buruknya yang ingin mencelakai Rama Kae berubah menjadi ketakziman yang mendalam dan kekaguman yang diam-diam. Persis sebagaimana yang diceritakan orang-orang, setiap kata yang keluar dari mulut Rama Kae adalah kesejukan yang membawa kedamaian dalam hati. Dan hari ini dia benar-benar merasakannya sendiri.

Lebih-lebih ketika dia dengan mata kepala sendiri melihat sesuatu yang sangat tidak bisa dinalar oleh akalnya sendiri, rasa kagumnya bertambah. Rama Kae dengan tenang, melepas jala dan menjaring ikan di sepetak sawah persis di samping langgarnya. Aneh luar biasa, sepetak sawah yang dia lihat berubah menjadi kolam tempat ikan-ikan segar berlarian. Dan ketika jala itu ditarik, menggelaparlah ikan-ikan gemuk dan segar.

“Sungguh, ini tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang,” gumamnya begitu lirih sambil meletakkan telapak tangannya tepat di atas detak jantungnya. Air matanya jatuh setetes demi setetes. Terkutuklah dirinya yang telah membenci orang yang disayang Allah. Dia menyesal. Benar-benar menyesal. Dan dia meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuatnya itu.

“Tunggu sebentar. Setidaknya sampai ikan-ikan itu matang dan kita nikmati bersama,” Rama Kae mencegah lelaki itu pulang.

Lelaki itu benar-benar salah tingkah. Awalnya dengan modal kebencian dia ingin mencelakai Rama Kae, tetapi saat ini justru orang yang dia benci itu malah mengajaknya makan.

***

Kini, kita kembali ke pohon yang semakin menjulang tinggi itu. Rerantingnya yang terus bercabang semakin membuat rindang dan teduh. Lalu membuat sarang dan beranak-pinak di sana. Bahkan hampir setiap pagi orang-orang Bandungan yang sempat akan ke pohon itu unuk menunggu ikan laut jatuh seperti halnya orang menunggu buah jatuh dari ranting pohon. Ya, ikan-ikan itu dibawa burung-burung dari laut dan mungkin sesampainya di pucuk pohon ikan-ikan itu terjatuh.

Tidak ada satu pun pada saat itu yang tahu bahwa pohon yang terus berbagi rezeki berupa ikan-ikan dan tentu keteduhannya itu kelak akan menjadi tanda tentang perubahan musim. Bagaimana tanda itu bisa terbaca? Mari kita simak bersama bagaimana Rama Kae kembali menunjukkan hal-hal yang membuat semua orang tercengang kagum:

Pada suatu hari di musim kemarau, bersama beberapa orang, Rama Kae duduk santai di bawah pohon nanggher yang tidak lagi teduh ketika di musim penghujan. Daun-daunnya meranggas dan berguguran ke tanah. Tinggal reranting saja yang angkuh. Salah seorang di antara mereka tiba-tiba menanyakan tentang kapan musim penghujan tiba.

“Tidak akan lama lagi sepertinya.”

“Belum tentu juga. Bisa saja masih lama,” sambut yang lain.

“Menurut perhitungan, ini sudah memasuki musim penghujan. Hanya saja entah kenapa belum juga setetes air pun turun,” lelaki satunya juga ikut menyahut.

“Kalian perhatikan saja itu,” kata Rama Kae sembari mengarahkan jari telunjuknya ke reranting besar di bagian timur laut. Sontak, orang-orang yang hadir dalam pertemuan santai itu membuang pandangannya persis ke arah yang ditunjuk Rama Kae.

“Memangnya kenapa, Ke?” tanya salah satunya.

“Bila sudah berdaun ranting itu, berarti musim hujan akan segera tiba. Tidak lama. Tetapi lihatlah, beberapa pupus daun sudah mulai menyembul.”

“Itu artinya?” tanya seorang warga.

Rama Kae mengangguk pelan dan tersenyum.

Begitulah, akhirnya orang-orang Bandungan tidak akan pernah membajak kebun, ladang, dan memulai menanam jagung, meski hujan berkali-kali turun selama ranting yang dimaksud itu belum berdaun. Jika tidak, mereka harus siap tanamannya meranggas karena kekurangan air pada suatu hari nanti. Sebab, hujan-hujan itu sebenarnya bukanlah hujan musim penghujan, melainkan hujan yang hanya numpang lewat.

Hingga kini, kepercayaan itu tetap melekat kuat di benak kami. Kami akan memulai membajak kebun dan sawah jika ranting di bagian timur laut yang ditunjuk Rama Kae itu sudah berdaun. Jika tidak, kami akan bisa melakukan apa-apa karena hujan tidak akan turun. Benar-benar tidak akan turun.

Kini, usia Rama Kae sudah semakin sepuh. Tulang-tulangnya pun sudah tidak sekuat dulu ketika masih muda. Kulitnya yang kuat dan segar kini terlihat sudah mulai mengerut. Sudah banyak jasa-jasanya untuk Bandungan. Berkat perjuangan, kegigihan, dan kelembutan sikapnya membuat kampung kami ini menjadi kampung yang subur, aman, dan tenteram. Orang-orang yang dulu membencinya kini berbalik menjadi santri-santrinya yang suka bertapa dan menyepi.

Lengkaplah rasanya hidup Rama Kae di kampung ini. Menjadi muasal dari sejarah nama Parama’an, Sungai Tojharan, Kaju Raja, dan perihal tanda-tanda pergantian musim tersebut. Ada satu nama lagi yang masih belum disebutkan dalam cerita ini, yaitu nama Buju’ Lanceng. Nama ini ada dalam kisah berikut ini. Yaitu tentang peristiwa menyedihkan dan dia tidak bisa mengungkapkan pada siapa pun, termasuk pada istrinya dan anak lelakinya sendiri. Biarlah mereka semua mengetahuinya pada saatnya tiba.

Tepat sekali, ketika hari itu tiba, hari di mana dia akan melihat banyak orang menangis karena sedih, merasa kehilangan, dan semacamnya. Dia sudah mengetahui lebih dulu peristiwa menyakitkan itu akan terjadi hari ini sebelum orang-orang terdekatnya tahu, sebelum tangis itu benar-benar tenggelam, dan sebelum kuda putih kesayangannya itu meringkik sedih.

Bahwa hari ini sudah menjadi garis hidup bagi anak lelakinya untuk mengembuskan napas terakhirnya sebelum dia sempat menikah. Orang-orang akan tercengang heran dan tidak percaya. Sebab pada hakikatnya, putra Rama Kae itu tidak terdengar menderita sakit sebelum-sebelumnya.

“Itulah takdir,” ucapnya tenang pada semua orang yang turut hadir di rumahnya.

“Sehebat apa pun manusia, sesakti apa pun dia, dan setangguh apa pun kekuatannya, tidak akan pernah ada yang benar-benar bisa melawan kehendak Allah, termasuk dengan diri saya.”

Orang-orang yang hadir hanya bisa menunduk sambil membenarkan kalimat Rama Kae itu. Putranya itu kemudian dimakamkan di Parama’an. Maka dikenallah di kampung tersebut dengan Bhuju’ Lanceng. Lanceng yang berarti lajang atau belum pernah menikah. Ini mengacu pada putra Rama Kae yang meninggal sebelum menikah.

Sementara kami di sini, sampai pada detik ini, tidak ada yang benar-benar tahu tentang kisah Rama Kae selanjutnya, tentang kematiannya, dan di mana letak makamnya. Hanya saja sosoknya masih sering hadir pada beberapa orang, termasuk keturunannya dan orang-orang yang dia kehendaki untuk ditemui. Dia selalu hadir dalam mimpi.

“Saya tidak mati. Saya masih hidup. Dan kamu tidak perlu tahu aku ada di mana,” itulah ucapannya setiap kali hadir dalam mimpi. Kami sangat mempercayainya, sebagaimana kami yakin pula bahwa para Wali Allah tidak pernah mati meski jasadnya tidak bisa melakukan apa-apa.


*F. Rizal Alief merupakan nama pena dari Faidi Rizal. Lahir di Sumenep, Madura, 15 September 1987. Pernah belajar di UIN Suka Yogyakarta. Menulis cerpen, puisi, dan esai. Tulisan-tulisannya dimuat di media massa dan antologi. Bukunya yang telah terbit: Alief Bandungan (Puisi, 2015), Gaik Bintang (Novel, 2015), dan Purnama di Langit Pangabasen (Novel Biografi Kiai Hosamuddin Pangabasen, 2015). Kini mengabdi di Madrasah al-Huda Gapura Timur, Sumenep, Madura.    

No comments:

Post a Comment