Monday, 4 June 2018

Jaran Goyang Ma’na Midun

Jaran Goyang

JARAN Goyang layaknya kuda lumping itu dikurung dalam sebuah sangkar besi dengan panjang kali lebar yang tak memuaskan untuk kuda. Kuda tak lagi bisa bergerak sebagaimana kuda-kuda yang bergoyang lincah ketika mendengar tabuhan saronen yang biasa mengiringinya.

Banyak orang menganggap kuda dalam rangka acara pesta pertunangan dengan saronen sebagai pengiringnya, kuda akan bergoyang lincah, layaknya tari-tarian yang membuat orang terdecak kagum. Tapi, Jaran Goyang, kuda milik Ma’na Midun tidak pernah bergoyang lincah ketika diiringi saronen. Bahkan saat diundang ke acara pesta pertunangan atau acara-acara persemoan besar, justru mempermalukan Ma’na Midun.

Tidak, bukan hanya Ma’na Midun saja yang malu, melainkan seluruh keluarga yang sedang mempertunangkan putra-putrinya pun ikut malu. Sebab muka mereka terasa dikencingi dan dikotori oleh kotoran kuda milik Ma’na Midun yang tak bergoyang.

Jaran Goyang milik Ma’na Midun diundang karena setiap pagi kuda itu bergoyang lincah di kandangnya yang tak ada bebunyian saronen atau musik apa pun. Dalam latihan perharinya pun kuda itu bergoyang lincah tanpa tarikan tali dari dua sisinya. Namun ketika ditonton banyak orang, kuda Jarang Goyang itu diam, berjalan biasa saja, meski alunan musiknya membuat orang-orang menari mabuk kepayang.

Anehnya, ketika dikembalikan ke kandangnya, kuda itu bergoyang, lincah, dan terkadang mengangkat kakinya sambil menggeol-geolkan pantatnya. Ma’na Midun hanya heran dan tertegun. Ia begitu kecewa dengan kudanya. Ia tak menyangka kuda yang diniatkan untuk hadiah pernikahan dirinya untuk seorang yang teramat dicintainya justru kembali menguliti wajahnya sendiri.

Midun membeli kuda lantaran permintaan terakhir dari wanita yang bertahun-tahun ia cintai. Sejak usia lima belas tahun, Midun terperangkap cinta dengan si wanita. Kemudian Midun ditinggal merantau oleh perempuan yang dicintainya. Cinta membuat Midun tetap setia menunggu, meski ia tahu cintanya bertepuk sebeluh tangan. Tak sekalipun Midun menyerah untuk nyatakan cinta padanya. Semakin banyak ia ungkapkan perasaan cintanya, maka sebanyak itu pula ia mendapatkan penolakan.

Nyaris 100 kali Midun tertolak cintanya. Namun pada pernyataan yang ke Sembilan puluh Sembilan, Midun menangis dan memohon dengan sangat, dan akhirnya wanita itu menerimanya dengan syarat, yaitu membelikan sepasang kuda yang bisa menari, bergoyang sebagaimana kuda-kuda yang bisa ditunggangi ketika acara pertunangan. Midun senang menerima satu syarat itu. Meski terbilang berat, demi cinta syarat itu bagi Midun cukup ringan dibanding menanggung berat derita jika hidup tanpa wanita yang dicintainya.

Midun berjuang, bekerja keras banting tulang untuk memenuhi syarat dari cintanya. Tanpa kenal musim ia kumpulkan uang dengan keringatnya sendiri. Sementara harta Midun dalam bentuk sapi, kambing, bahkan ayam yang diternak oleh saudara dan tetangganya ditarik lagi sama Midun untuk menambah uang membeli kuda.

Akhirnya kuda yang lincah bergoyang di kandangnya tersebut yang Midun beli. Ia tertarik pada kuda harapannya sejak pertama melihat. Sebab Midun merasa, kuda yang ditemuinya itu mengerti apa yang Midun rasakan. Karenanya kuda itu bergoyang, menari mengangkat kaki depan dan pantatnya bergeol-geol, dan harganya tak terbilang mahal.

Tanpa berpikir panjang Midun membawa pulang dan melatihnya sembari menunggu tanggal pernikahan. Wanita yang dicintainya pun merasa senang dengan sedikit cemas mengembang di bibirnya. Tak habis pikir, ia akan menjadi istri seorang lelaki yang ia tolak dengan segala cara. Ia pun tak dapat membantah lagi, tak dapat mengelak dengan alasan apa pun, sepasang kuda yang bergoyang, siap menari dan meramaikan pesta pernikahannya dengan Midun. Ia memang nampak sedikit kecewa. Ingin rasanya ia mencari alasan lain, tapi ia mencoba menerimanya dengan rasa getir yang tersimpan di belakang bibirnya.

Kuda itu diberangkatkan dari rumah Midun bersama iringan saronen. Midun terkejut, kudanya hanya berjalan biasa, tidak lincah, tidak bergoyang sebagaimana biasanya, sebagaimana hari-hari di kandangnya, ketika latihan dan sebagainya. Midun tak tahu harus bagaimana. Midun diiringi rombongan keluarga besar. Midun yang telah terbiasa sebagai pengantin berada di belakang para tetua adat, tokoh-tokoh agama dan tetua desa. Midun menunggangi kuda kebanggaannya, di sampingnya berjalan kuda tanpa penunggang. Kuda itu disiapkan untuk wanita yang telah menunggu di rumahnya yang telah jauh-jauh hari pula menyiapkan segalanya dalam menerima lamaran besar-besaran ini.

Musik saronen terus melengking, seakan-akan musik saronen itu hanya dibuat untuk Midun dan tak akan dipakai lagi. Meski kuda itu sama sekali tak bergoyang sekali, Midun tetap berangkat tanpa rasa cemas dan khawat. Rombongan keluarga Midun disambut dengan musik gamelan yang tabuhannya sangat nge-pop, di halaman rumah calon istrinya itu, ada penari layaknya boy-girlband, tarian-tariannya mirip dengan India, nuansa India-nya begitu terasa, begitu menyentuh dada. Midun terpukau dengan sambutan itu. Tak nyangka akan disambut dengan tarian-tarian yang membahana dan menggelora.

Ketika penari-penari itu membelah menjadi dua bagian, terlihatlah wanita, calon istrinya yang telah menunggu di singgasana pengantin. Di bibirnya masih tersimpan kegetiran dan kecemasan, matanya bertanya-tanya dan berkaca-kaca. Midun sedikit gugup, rombongan Midun mempermainkan musik saronen-nya, tapi sayang kudanya tetap saja diam. Semua orang ingin melihat kuda Midun beraksi di halaman rumah itu. Midun cemas, keringat-keringat kecemasan mengalir di pipinya, bulir-bulir kecemasan mengucur dari sudut matanya. Tapi darah hangatnya menghancurkan semua itu. Acara pernikahan, sebagai tali mengikat janji hendak dimulai, wanita itu menahan acara itu.

“Sebentar, saya belum melihat kuda itu bergoyang, menari sebagaimana yang saya minta,” ucap wanita itu.

“Kuda itu akan bergoyang jika kita berdua menungganginya dalam perjalanan menuju rumah kita,” tukas Midun.

“Tidak. Perlihatkan dulu tarian serta goyangan kuda itu, jika benar kuda itu bergoyang sebagaimana namanya, Jaran Goyang, aku siap menjadi istrimu.”

Midun memberikan aba-aba untuk memulai musik saronen. Musik itu pun ditabuh begitu asik. Orang-orang bergoyang menikmati tetabuhan saronen. Tapi sayang, kuda Jaran Goyang Midun tidak bergoyang sama sekali. Kuda itu justru tertunduk lesu, lemas, dan menunjukkan kecemasan dirinya sendiri. Semua mata tertuju pada sepasang kuda yang diam, lesu, lemas, dan kecemasan atas dirinya.

Sudah satu jam lebih mereka menunggu, tapi hasilnya nihil. Para musisi saronen pun menghentikan saronen-nya. Mereka terlampau lelah menabuh musik itu. Sedangkan kudanya tak mendengar adanya musik pengiring itu.

“Maaf, Dun. Kudamu terdiam. Itu tak layak untuk pesta pengantin kita. Sekali lagi maaf. Pernikahan ini batal, tak apa semua biaya ini-itu hangus, itu tak ada artinya sama sekali. Meskipun alasan ini tak logis. Tapi kau sendiri tak mampu memberikan hadiah yang kuinginkan. Yang kuinginkan adalah kegigihan untuk berjuang mendapatkan dengan cara memberikan apa yang kuminta. Jika di awal saja kau tak sanggup memberi, bagaimana nanti ke depannya. Dan kukira, permintaan tak terucap dariku, dari diri kita, dari alam bawah sadar, mungkin akan lebih berat dari semua ini. Maaf, sekali lagi maaf. Pernikahan ini harus batal.”

Musik sambutan beserta tarian-tariannya itu kembali membahana, tapi musik itu tak terasa sambutan. Tapi musik pengantar untuk segera pergi dari halaman rumah wanita pujaan Midun.

Midun pun kembali bersama rombongan keluarga besarnya yang dipermalukan dua kuda itu. Kuda berjuluk Jaran Goyang yang sama sekali tidak bergoyang. Gejolak dalam dirinya adalah membunuh kuda itu dan membunuh dirinya, tapi orang-orang menahannya. Sejak itu dirinya hanya merasakan senyap yang tak terhingga.

Segala dunia dan isinya adalah senyap. Pada akhirnya Midun tetap merawat kuda-kuda itu, kuda berjuluk Jaran Goyang yang tak bergoyang menjadi kendaraan dirinya ketika bepergian bersama istrinya yang ia dapat beberapa bulan setelah gagal menikah itu.

Setiap malam, Midun menunggui kudanya di kandang yang penuh dengan tai. Nampak ada cahaya kecil yang bergerinapan memancar dari berserakannya tai-tai kuda. Midun terkejut dan kaget, ada gerangan apa. Jika disenter, tak ada sesuatu yang aneh, tetap saja yang ada adalah tumpukan tai-tai kuda. Dan Midun tak lagi mengenang kegagalan menikah dengan wanita yang teramat dicintainya.

Pagi harinya Midun cepat-cepat ke kandang kudanya, memeriksa segala apa yang terjadi dengan di kandang kuda itu. Ia melihat ada bercak-bercak kuning di antara tumpukan-tumpukan yang hitam itu.

"Apa ini?" tegunnya.

Kuda itu kencingnya, diawal lancar, tapi akhir-akhir, kencing kuda hanya menetes, tapi tetesan cepat, dan itu berbeda dari kencingnya, warnanya kuning keemasan, aromanya pun membuat Midun ingin mencobanya. Setelah melihat sekeliling, ternyata kencing-kencing terpetak dengan sendirinya, ada dua bagian, ada yang teramat bau dan ada yang aromanya membuat ia ingin mencicipinya. Midun pun mencicipi kencing yang lebih kental itu. Terasa manis.

Kuda, kencing manis. Pikirnya. Ia kembali mencicipi. Rasa jijik dan mual-mualnya menghilang seketika dari perutnya. kencing kuda itu sangat manis sekali. Teramat sangat manis. Midun kembali pada tai kuda itu yang ada bercak-bercak kuning keemasan. Ia memilahnya. Dengan sabar, dikumpulkan benda-benda kecil yang kekuning-emasan itu. Setelah cukup banyak, kerikil-kerikil kuning emas itu disandingkan dengan emas kepunyaan istrinya. Sama. Persis. Tak ada sedikitpun perbedaan. Midun kembali ke kandangnya dan mengumpulkan tai-tai kuda yang telah menumpuk-mengering, ia kembali membasahinya, benar. Sangat banyak sekali bercak kuning yang ada pada tumpukan tai kuda itu. Setelah dibasahi, tai-tai itu disaring, dipisahkan. Kerikil-kerikil kuning emas itu sangat banyak.

Tak terpikir olehnya bahwa kuda itu tak bertai emas.

Sejak diketahui bahwa kuda berjuluk Jaran Goyang itu bertai emas, berkencing  manis, banyak orang ramai berkunjung untuk melihatnya, sekarang kuda itu terkurung dalam sangkar besi yang panjang kali lebarnya tak memuaskan untuk kuda-kuda itu. Sepasa kuda itu tak bisa lagi bergoyang dalam kandangnya, tak bisa lagi mengangkat kaki depannya, tak bisa lagi menggeol-geolkan pantatnya. Jeruji besi yang mengurung kuda itu terbungkus dengan kain merah. Sekarang kuda itu tak bisa dilihat seperti sebagaimana dulu yang tak terbungkus tak ada dalam jeruji besi. Orang-orang yang melihatnya harus membayar lima puluh ribu untuk sekali masuk. Sekarang telah berdiri bangunan yang menaungi sangkar besi yang terbungkus kain merah itu.

Bangunan itu dijaga oleh empat lapisan penjaga. Terluar adalah polisi, kedua adalah tentara, ketiga adalah para pendekar bertangan besi dan keempat adalah tokoh agama yang berada di empat arah mata angin. Mereka seakan-akan menjaga kekayaan mereka sendiri. Dan sejak itu tak ada lagi yang boleh melihat kuda itu lagi dan bahkan Midun sendiri tak punya kuasa untuk melihat kudanya. Midun diusir dengan cara diberi uang untuk jalan-jalan ke berbagai negara, tapi setelah pulang, ia sudah tak punya hak milik terhadap kuda itu dan bahkan tak punya hak untuk melihat kuda itu lagi.

Midun hanya mendengar, bahwa dari hidung kuda itu keluar gas yang bisa digunakan untuk memasak dan sebagaimana fungsi gas pada umumnya. Midun baru sadar bahwa setiap hari ia selalu mencium aroma gas di kandangnya, tapi ia tak tahu dari mana gas itu berasal.

Suatu malam Midun bermimpi tentang kondisi kuda itu yang ditubuhnya menancap ribuan jarum suntuk untuk menyedot darah, menyedot gas dan banyak lainnya, segala urat dari kuda itu berujung pada jarum suntuk yang mengalirkan segala bentuk kekayaan yang keluar dari kuda-kuda itu. Midun terbangun.

Kuda sekecil itu terus dihisap. Diambil darahnya. Diambil ini-itunya.

"Sebentar lagi kuda itu akan mati. Kuda itu akan segera mati. Kuda itu akan segera mati," ucap Midun pada dirinya sendiri.

Yogyakarta, Februari 2016


*M. Toyu Aradana lahir di Longos, Sumenep, Madura, 25 Juli 1990. Mahasiswa Pascasarjana UIN Suka Yogyakarta ini pernah aktif di Komunitas Masyarakat Bawah Pohon dan UKM Teater ESKA Yogyakarta. Selain menulis cerpen berbahasa Indonesia, ia juga produktif menulis cerpen berbahasa Madura. Kumpulan cerpen berbahasa Madura-nya yang sudah terbit, "Embi' Celleng Ji Monentar" (Halaman Indonesia, 2016). Dalam waktu dekat ini, novel pertamanya (berbahasa Madura) bakal terbit.

*Pernah tayang di Nusantaranews.co, edisi 3 September 2016.

1 comment: