Friday, 4 May 2018

Membaca Ulang Tradisi “Babakalan” di Madura

Novel Gaik Bintang

Judul : Gaik Bintang
Penulis         : Faidi Rizal Alif
Penerbit        : Zora Book
Tahun terbit : Cetakan Pertama, Januari 2015
Tebal : xx+300
ISBN : 978-602-70522-5-3
Presensi         : Khairul Umam*

Babakalan adalah salah satu budaya Madura yang dicoba diangkat dalam novel Gaik Bintang. Digambarkan bagaimana kisah Nur Imamah yang hidup di sebuah desa terpencil di Kabupaten Sumenep, bergelut dengan nasib itu. Sebagai sebuah ritual, babakalan mempunyai proses yang didahului oleh ngangin, arabas pagar, matoro’ oca, nyabak jajan hingga tongngebban. Di novel ini pun juga digambarkan bagaimana ketika iring-iringan keluarga Iqbal nyabak jajan (hal.80-84) dan tonggebban oleh pihak perempuan (hal.89-90).

Hanya saja, dalam novel ini babakalan tidak hanya dihadirkan sebagaimana adanya. Ia ada bukan untuk diamini sebagai sebuah kekayaan dan kedirian suatu suku bangsa. Wacana jender juga menempati peranan penting dalam tubuh novel. Sebagai tokoh utama, Nur Imamah adalah tokoh penting yang menolak budaya babakalan tersebut.
Dalam budaya babakalan di Madura (meski tidak semua) kecenderungan perilaku semena-mena orang tua terhadap anak perempuan. Hal inilah yang dicoba didobrak dalam novel ini.

Semangat perjuangan Nur untuk mengatakan bahwa perempuan juga patut diperhitungkan tergambar dalam dialog antara Nur dengan Mbaknya Manshur saat dia dengan kedua orang temannya diundang dalam tasyakuran hendak berangkatnya Manshur ke Mesir untuk melanjutkan kuliahnya (hal.194).

Namun, perjuangan itu bukan tanpa risiko. Ada banyak hal yang harus dia korbankan mulai dari cercahan orang-orang sekampung (hal.135-139), dianggap sebagai anak tidak tahu diri oleh Kiai Bahar calon mertuanya (115), hingga ditinggalkan teman-teman akrabnyanya (hal.229).

Novel ini merupakan proyeksi perlawanan terhadap tradisi babakalan yang telah mengakar. Faidi Rizal Alief mencoba menguak kembali keberadaan babakalan yang cenderung mengekang dan melemahkan kaum perempuan. Sebagai tradisi memang harus dipertahankan, namun bukan saatnya sisi yang kurang baik tidak dirubah.

Dalam novel ini penulis mengikuti konsep memelihara tradisi lama yang masih relevan dan mengambil yang baru yang lebih baik. Nur sebenarnya bukan tidak menerima dirinya yang ditunangkan, hanya saja ketika pertunangan bermaksud melemahkannya dan menjadi kendala atas cita-citanya di sanalah dia tampil dengan begitu jantan menentang.

Meski novel ini saya rasa masih reduksionis dengan kehadiran pengarang yang begitu kentara di dalamnya, dalam tokoh utama Nur, secara umum novel ini memberikan banyak informasi tentang seluk-beluk budaya babakalan di Madura yang mungkin belum kita ketahui seutuhnya.

Novel ini bisa dikatakan upaya dokumentasi terhadap tradisi yang ada dalam rangka penyadaran terhadap sukunya dan informasi terhadap suku lainnya. Uniknya, penulis tidak hanya menampilkan dokumen-dokumen, namun juga mencoba memebenahi celah yang terdapat di dalamnya dalam rangka perbaikan dan penyesuaian (akulturasi) terhadap zamannya. Sehingga, dengan ramuan yang pas dan meyakinkan kehadiran babakalanbukanlah lagi pantangan, tapi sesuatu yang niscaya dan dipertahankan dalam bentuknya yang lebih elegan. Selebihnya, selamat membaca.


*Presensi, pernah belajar di Pascasarjana Antropologi UGM Yogyakarta. Tinggal di Sumenep, Madura.

*Dimuat di Koran Madura, edisi 25 Mei 2015. 

No comments:

Post a Comment