Wednesday, 9 May 2018

Blater

Mata Blater

MULA-mula suara dentam besi, lalu suara gumam seseorang dari balik sebuah bilik samping rumah. Segaris cahaya senja bergelayut seperti jemari memungut bayangan kecil tudung pintu yang sedikit miring. Sebentar kemudian bayangan itu kabur tak tertangkap pandang. Sekarang kembali dentam besi berbunyi, kali ini disertai gumam Madrusin, yang samar terdengar, sesamar suara lengking seorang petani dari atas gubuk kecil di pematang sawah mengusir burung pipit yang setiap saat datang mematuk bulir-bulir padi yang sudah menguning. Tetapi tak lama berselang, dentam besi itu, gumam itu, mendadak serupa suara petir. Kemudian dari balik bilik itu berlesatan pernik-pernik cahaya merah, berhamburan hingga membuat seseorang yang kebetulan lewat ketakutan, lari terbirit-birit sebelum akhirnya kembali mendatangi rumah Madrusin dengan membawa banyak orang. Kadang mereka berdesakan saling mendahului, meski tak sedikit di antaranya diam-diam mengurungkan niat, lalu berbelok ke arah jalan lain.

“Celaka! Siapa itu orang membuat gara-gara?” seseorang mendesis, menoleh ke belakang sebelum akhirnya berjalan lekas.

Demikianlah. Sebuah isyarat telah hinggap dalam benak Madrusin–lelaki dengan sorot mata setajam ujung celurit yang siap menghunjam, mengiris-iris tubuh orang yang lancang membangkang terhadapnya.

Bukan. Bukan. Ya, bukan tanpa sebab ia bergumam pada saat ia memandai besi itu. Ia bergumam karena suara aneh yang membuatnya tersentak; ketika ia mendongak, seekor kucing hitam melintas tiga kali persis di depannya dan sesaat berselang terdengar suara pelepah pohon jatuh menerpa bubungan rumahnya.

Lekas Madrusin beranjak dari tempat duduknya dan memasang celana komprang. Setelah mengikat kuat celana itu kuat-kuat, ia selipkan sebutir akik berwarna cokelat ke dalam kopyah hitam kumal yang tingginya sejengkal tangan. Lalu, seusai menebar pandang ke sekeliling ruangan sempit yang penuh asap itu, Madrusin menghentakkan kaki tiga kali di ambang pintu yang membingkai senja. Cah. Mulut Madrusin komat-kamit merapal mantra. Lihatlah Madrusin semakin bertambah gagah. Sepasang matanya memerah menahan amarah. Orang-orang yang berkumpul di halaman rumahnya terkesiap dan memelototinya diam-diam.

“Dengar suara itu, Jib!” seru Madrusin.

Dengan sigap Tanjib yang semula berada di antara kerumunan orang-orang segera tanggap dan mendekat.

“Suara perempuan,” tukas Tanjib.

Orang-orang bertukar pandang dengan raut wajah pias. Bahkan satu-dua-tiga orang saling melirik penuh selidik, dalam diam antara mereka saling berbisik, mencoba menebak sesuatu yang terasa janggal saat Madrusin tadi memanggil Tanjib. Bagaimana tidak? Bukannya setiap akan ada kericuhan atau sesuatu yang berkenaan dengan keributan, Madrusinlah yang lebih tahu?

“Suara Sati, Kak,” bisik Tanjib.

Orang-orang melongo tak percaya.

“Jangan sebut nama itu!”

Dua telinga Madrusin memerah. Sepasang matanya membelalak seperti akan lepas dari cangkangnya. Gemeretak giginya membuat tegang orang-orang di halaman.

Pandangan mata Madrusin jauh menerawang ke pematang. Tanjib terlihat bergegas menjauh.

“Segera kembali. Beri aku kepastian!” seru Madrusin.

“Kenapa ia tak berangkat sendiri?” seseorang berbisik.

“Sssst. Matilah baik-baik!” orang lain memperingatkan.

“Tanjib benar,” seorang lainnya spontan bergumam dan segera menutup mulut dengan telapak tangannya.

“Maksudmu?”

“Suara Sati.”

“Ya sudah beberapa hari ini Sati sering kesurupan. Kabarnya dipaksa.”

“Hus!”

Gugusan awan bergerak lambat. Desir angin menggiring bau celatong sapi dari dalam kandang. Rerumputan malas berayun. Jauh di pekarangan, cahaya senja menggantung di antara ranting-ranting kering, sementara bayangan orang-orang semakin panjang. Di tengah suasana yang tiba-tiba hening itu, seekor kucing berwarna hitam melintas di tengah kerumunan hingga membuat salah seorang tersentak kaget dan berteriak, “Celeng!”

Sontak, ketika mendengar teriakan latah, Madrusin melirik. Orang-orang menunduk.

“Tidak mungkin. Lengkingan itu…” kata seseorang dengan diam-diam sembari menghindari tatapan Madrusin.

“Sati maksudmu?” bisik orang lain.

Hening. Dari bubungan rumah Madrusin tampak tiga ekor burung gagak terbang berputar-putar. Segaris cahaya senja rebah menerpa jendela.

“Ya, pasti. Sati….”

“Ssstt!”

“Nyatanya sampai sekarang Sati tak dapat suami.”

“Bukannya tak dapat suami. Tapi, Sati memang tidak suka pada Indrajid.”

“Indrajid?”

“Ya, Indrajid, calon suami Sati.”

“Oh,” seperti sudah mengerti, seseorang berseru.

“Jadi?”

“Sati!”

“Huh!”

Ya, tapi kenapa Madrusin masih berdiri di sini? Atau mungkin sengaja Madrusin tak segera beranjak karena tidak ingin mengulang peristiwa setahun silam, ketika dirinya dimaki sebagai bajingan oleh orangtua Sati?

***

“Bagaimana?” tanya Madrusin

“Orang-orang masih berkumpul di sana,” Tanjib mendekat dan berbisik.

“Sati?” Madrusin melirik penuh selidik, lalu mengumpat, “Tengik!”

Ada yang terus menggelitik dalam benak lelaki yang dikenal antara lain sebagai pendekar dan blater itu. Madrusin satu-satunya lelaki yang ditakuti oleh penduduk dan juga terutama oleh kalangan blater lainnya. Hah! Ia bukan hanya ditakuti oleh kalangan warga biasa, tapi kiai sekalipun takut kepadanya! Tidak. Kiai bukan semata-mata takut, tetapi cemas bila Madrusin dan anak buahnya bikin onar–bukan lantaran ia berbadan kekar dengan urat menyembul, bukan pula karena ia banyak mempunyai ilmu-ilmu kesaktian dan kekebalan.

“Sati?” tanya Madrusin lagi.

“Ya, Sati.”

Sejenak kemudian, Madrusin masuk ke dalam bilik tempat ia memandai besi. Ketika ia membuka pintu, bayangan tubuhnya rebah diterpa cahaya senja yang menyelinap masuk.

***

“Sati!” sembari membuka bungkusan kecil berisi dupa ia berucap pasti. Dari sepasang bibirnya yang hitam terkulum senyum sambil membayangkan sesosok tubuh terkapar dengan darah tercecer. Kelebatan bayangan orangtua Sati merasuki liang ingatannya, hingga dendam yang lama bersemayam dalam dirinya lantaran keinginan menikahi Sati tak diberi restu kembali berkobar.

“Harga diri tak bisa dijual beli. Mesti dijunjung tinggi!” gumamnya.

Memang siapakah tidak kenal dengan perempuan semampai dan langsat yang senantiasa mengundang hasrat untuk selalu dipandang itu? Ya, Sati. Lentik matanya. Lengkung alisnya bagaikan celurit hingga orang yang bersitatap dengannya tertikam kekaguman.

Namun, siapa satu-satunya orang yang berani mengganggu perempuan itu? Meski Sati sudah sah menjadi calon istri Indrajid, orang-orang tahu, diam-diam Sati masih menjalin hubungan dengan Madrusin. Tapi kepalang, nasib tak bisa ditimang. Setelah hubungan keduanya diketahui orangtua Sati, Madrusin tak lagi diizinkan berkunjung, bahkan bertemu. Dan yang lebih menyakitkan adalah ketika orangtua Sati mengusir Madrusin lantaran ia keturunan seorang tokoh blater yang selalu dipandang miring.

“Hanya darah yang akan membuat bapakmu sadar, Sati,” kata Madrusin.

Sati meringis. Terasa tubuhnya seperti diiris. Ingin ia memberontak kepada bapak dan ibunya. Dalam hati, Sati turut membenarkan pernyataan Madrusin bahwa hanya dengan kekerasan sikap bapaknya akan sedikit lebih bijak. Tetapi ia juga tidak terima kalau Madrusin, lelaki yang ia cintai, harus membunuh orangtuanya.

“Mereka orangtuaku,” Sati mendebat.

“Kamu tak mau jadi istriku?” geram Madrusin, “Kau akan celaka.”

Demikianlah pembicaraan ketika keduanya, Madrusin dan Sati, bertemu di sebuah pematang menjelang petang.

***

Lebih baik mati berkalang tanah daripada menanggung hinaan orang. Harga diri harus dijunjung tinggi. Begitu selalu Madrusin mengawali pembicaraan di setiap pertemuan. Kalau benar kabar bahwa Sati menangis karena diancam oleh Indrajid dan dipaksa orangtuanya untuk minum air kembang setiap saat, maka, tak pelak lagi, tiba saatnya bagi Madrusin memperlihatkan keperkasaannya sebagai lelaki. Ia menganggap Indrajid dan orangtua Sati telah melampaui batas. Maka, bergeraklah.

“Keparat! Bajingan tengik!” umpat Madrusin sambil menatap kain panjang berwarna merah yang melilit celurit yang menggantung di balik pintu. Kepada Tanjib ia meminta sabut kelapa, dupa, dan air kembang. Tak lama kemudian, asap dari sabut kelapa itu mengepul dan bau kemenyan menyeruak memenuhi ruangan yang hening. Madrusin kepalkan tangan setelah ditangkupkan pada sabut kelapa yang mengepulkan asap dan bau kemenyan. Tampak dari sela jemarinya asap dupa berebut mengepul, dan dengan tangan yang masih dipenuhi asap itu, diambilnya celurit. Diusapnya senjata itu beberapa kali sebelum akhirnya ia membuka sarung celurit itu.

Sejenak, Madrusin berdiri di balik pintu dan membuang pandang ke sudut-sudut ruangan. Lalu ia bergegas menyusuri jalan setapak. Orang-orang yang melihatnya hanya mengernyitkan dahi. Tentu mereka tidak perlu bertanya lagi hendak ke mana Madrusin. Masing-masing hanya bisa berharap, berdoa untuk keselamatan Madrusin.

Cah. Madrusin tak perlu menoleh. Dengan wajah bengis ia berkata pada dirinya sendiri, “Sati bersiaplah! Aku nikahi kamu.” Derap kakinya bagaikan langkah-langkah kaki sapi karapan. Daun-daun tak berayun. Ilalang menunduk.

Tiba di ambang pintu rumah Sati, ia pandangi sekitar, lalu meludah ke kanan dan kiri. Dari dalam ruangan terdengar percakapan dua orang, sesekali disela suara seorang perempuan terisak. Cah. Gemeretak gigi Madrusin tertahan saat mendengar isak suara itu.

Di ruang depan rumah Sati, tampak Sati duduk bersama Muksin, bapaknya, dan Indrajid, calon suaminya. Mereka mengelilingi sebuah meja kayu. Ada secangkir kopi di situ–mungkin disuguhkan oleh Sati untuk Indrajid.

Seusai berucap salam, tanpa menunggu jawaban dari dalam, Madrusin langsung masuk dan duduk bersebelahan dengan Sati. Ketiga orang itu terkejut. Madrusin tak acuh. Segera Muksin menyuruh Sati masuk ke ruang dalam. Namun, ketika Sati hendak berdiri, Madrusin langsung memegang pergelangan tangan Sati dan memberinya isyarat agar tetap duduk.

Indrajid dan Muksin memandang nyalang pada Madrusin, yang justru tampak semakin tenang melihat reaksi mereka yang gelisah. Pelan-pelan Madrusin mengeluarkan sebilah celurit dari balik punggungnya. Lalu, dengan celurit itu dipotongnya tiga helai rambut Sati, yang kemudian dimasukkannya ke dalam cangkir kopi. Sambil meletakkan celurit di atas meja, Madrusin berganti-ganti menatap Muksin dan Indrajid.

“Tanpa mengurangi hormat, izinkan putri Bapak menjadi istri saya,” kata Madrusin dengan dengan nada sangat tenang.

Lalu, Madrusin mengambil kembali ketiga helai rambut Sati dari dalam cangkir kopi, dan ditaruhnya persis pada gagang celurit.

Yogyakarta, 2007- 2008

Keterangan
Blater : Ksatria lokal Madura

*Mahwi Air Tawar, lahir di pesisir timur Sumenep, Madura, 28 Oktober 1983. Selain mengikuti berbagai program sastra di berbagai wilayah di Indonesia, ia juga mengikuti Bengkel Sastera Majelis Sastera Asia Tenggara (Mastera). Sejumlah cerpen dan puisinya terbit di pelbagai surat kabar. Kumpulan cerpennya yang sudah terbit, antara lain, Mata Blater (Cetakan pertama, Mata Pena-2010 & cetakan kedua, Sulur-2017) dan Karapan Laut (Komodo Books-2014). Buku Mata Blater terpilih sebagai karya fiksi terbaik oleh Balai Bahasa Yogyakarta, 2012. Buku kumpulan puisinya yang sudah terbit, Tanéyan (Komodo Books-2015), Lima Guru Kelana ke Lubuk Jiwa (Sulur-2017), dan Tanah Air Puisi, Air Tanah Puisi (Arti Bumi Intaran-2016. Kini ia menjadi redaktur Majalah Pusat, Jakarta.

*Cerpen ini terhimpun dalam buku Mata Blater (Cetakan pertama, Mata Pena-2010 & cetakan kedua, Sulur-2017).  

No comments:

Post a Comment