Friday, 18 May 2018

Asal-usul Desa Lombang


Asal Usul Desa Lombang

SEKITAR abad ke-16, disinyalir bersamaan dengan Pemerintahan Pangeran Lor II,  hiduplah seorang kiai bernama Mahfud dan dijuluki Gurang Garing. Dia adalah sosok yang alim dan berwibawa. Dia keturunan kelima Sunan Kudus atau keturunan ketiga Sayyid Baidlawi Katandur. Dia hidup di sebuah tempat terpencil di sebelah timur pesisir Sumenep (Madura). Jaraknya sekitar 12 kilometer dari pusat kota kabupaten.

Tempat itu begitu asri. Pohon kelapa yang tumbuh tinggi dengan janur melambai gontai, pohon pisang yang tumbuh berjejeran membentuk barisan, dan pohon-pohon lain yang juga ikut menghias lingkungan menambah suasana sejuk dan membuat setiap orang yang datang rindu untuk kembali bertandang. Di pagi hari, udara begitu sejuk. Beraneka burung beterbangan, hinggap di dedahan, lalu berkicau. Tak ada yang mengganggu mereka. Bukan karena tak ada pemburu yang selalu siap siaga dengan ketapel kayu di tangan dan sudah cekatan memburu mangsa. Namun, kewibawaan kiailah yang mampu meredam gairah memburu mereka.

Kicau burung-burung semakin nyaring. Tidak hanya di dedahan, beberapa dari mereka juga tidak jarang turun ke tanah basah yang dipenuhi ulat-ulat daun yang sudah lama gugur dan mulai membusuk. Mereka mencari makan dengan membolak-balik daun-daun. Sesekali mereka terlihat mencakar-cakar tanah yang masih basah. Setelah puas, mereka kembali terbang dan bermain di dedahan. Sesekali masih berkicau.

Dari beranda musallah, dengan posisi bersila dan sebuah kitab di pangkuannya, Kiai Mahfud melihat semua peristiwa itu dengan takjub sambil tak lupa melafal tasbih kepada Allah atas kebesarannya yang telah menciptakan dunia dan isinya begitu sempurna. Saling melengkapi dan saling membutuhkan. Setelah menyaksikan segala rangkaian yang membuatnya tak henti melafal tasbih, dia kembali fokus pada pelajaran. Dan santrinya yang sudah sejak tadi menunggu dengan duduk bersila sambil menundukkan wajah menekuri kitab dimaknai dan dikaji.

“Hidup ini harus saling memberi. Kita hidup tidak sempurna, maka harus saling melengkapi,”  itulah kalimat pertama yang sudah pasti sangat dihafal hampir semua santrinya ketika mengaji di pagi hari.

“Maka, kuncinya harus rukun. Nah, rukun itu tidak hanya berlaku bagi kita sesama manusia. Makhluk Allah itu terlalu banyak untuk disederhanakan hanya pada manusia. Ada hewan.  Mereka pun banyak jenisnya. Ada tumbuhan. Yang ini juga jenisnya tak kalah melimpah. Ada alam semesta yang berupa tanah, batu, air, udara, dan sebagainya.” Sampai di sini, Kiai Mahfud menghentikan penjelasannya. Dia mengambil napas sebentar dan memperbaiki posisi duduknya yang mulai terasa tak begitu nyaman.

“Maka, semua makhluk ini harus selalu rukun. Nah, karena di antara makhluk-makhluk ini hanyalah manusia yang diberi kelebihan akal oleh Allah, maka sudah sepantasnya kita yang berperan banyak dalam menjaga kerukunan itu. Makanya, Tuhan itu menjadikan setiap manusia sebagai pemimpin. Jadinya, kita yang mengendalikan. Jangan justru kita yang merusaknya.”

Kiai yang sudah mulai beranjak sepuh ini sesekali melirik santri-santrinya yang sedang khusuk menekuni baris-baris kitab yang sebentar lagi akan dikajinya. Meski penjelasan Kiai Mahfud lebih banyak dari membaca teksnya, santri-santri itu tak ada yang berani mendongakkan wajah. Mereka memilih mendengarkan saja dengan pura-pura melihat kitab di pangkuannya. Harapan kiai, mungkin ada yang hendak bertanya atau meminta penjelasan ulang jika sempat terlewatkan. Namun, tak ada tanda-tanda harapannya tersambut oleh santri yang sedang duduk di hadapannya itu.

“Kerukunan bagi sesama manusia artinya kita harus saling menghormati. Tidak boleh saling mencela apa lagi saling menyakiti. Kita juga harus menghormati tradisi yang ada karena itu sudah dilakukan sejak lama. Jika pun tradisi yang ada dirasa tidak cocok dengan ajaran agama, bukan berarti kita lantas memberangusnnya. Kita bisa mengubahnya perlahan dengan melakukan beberapa penyesuaian-penyesuaian. Nah, seperti itulah yang diajarkan leluhur kita Wali Songo di tanah Nusantara ini. Makanya, Islam berkembang pesat.”

“Kerukunan untuk semua makhluk Allah baik bagi tumbuhan, hewan, dan alam semesta merupakan buah dari upaya manusia agar tidak mengeksploitasinya secara berlebihan, tamak, dan tidak beradab. Sebagian binatang kita sembelih untuk dimakan tidak masalah selama cara menyembelihnya baik dan tidak menyiksa. Terpenting juga kita harus menjaga kelangsungan hidup mereka agar mereka tidak punah. Kerukunan untuk alam semesta, kita jangan sampai mengeksploitasinya hingga melebihi batas kemampuannya. Menebang pohon tidak masalah selama tidak terlalu banyak dan selalu diusahakan penggantiannya. Jika hidup seperti itu bisa kita jaga, Insyaallah hidup akan selalu indah.”

Kembali terdiam sambil menelisik seluruh santrinya yang masih menunduk menekuri kitab-kitab yang terbuka lebar.

“Kuncinya dari keharmonisan ini hanyalah satu. Bersyukur.”

Setelah menerangkan pentingnya keharmonisan yang begitu panjang lebar, kiai yang kharismatik dengan penampilan sederhana itu kembali melanjutkan mengaji kitab. Biasanya, kitab fiqh menjadi pilihan untuk pagi hari. Setelah itu kitab tasawuf dan ilmu tajwid. Bimbingan shalat selalu diutamakan bagi santri baru. Biasanya, santri baru ini selalu berada dalam pengawasan khusus Kiai Mahfud hingga benar-benar paham dan sudah bisa dibiarkan melakukannya sendiri. shalat adalah yang utama. Ia adalah tiang agama. Hidup yang baik haruslah dimulai dari shalatnya.

Di tempat terpencil itu, yang kemudian diberi nama Kampung Lambi Cabbi, dia hidup sebagaimana seorang santri. Setiap hari waktunya dihabiskan untuk mengabdikan diri pada ilmu agama. Semakin hari santrinya terus bertambah. Santri yang dinyatakan lulus pun juga terus bertambah. Mereka pulang ke kampungnya masing-masing. Di sana mereka mempraktikkan ilmu agama yang telah diterimanya selama di pondok. Namun, tak semua kabar itu baik. Beberapa kabar buruk juga datang silih berganti.

Diceritakan, di sebuah pesisir utara yang terletak sekitar 12 kilometer dari tempat Kiai Mahfud tinggal, ada sebuah pelabuhan besar tempat pedagan dari berbagai daerah di Nusantara atau pun dari benua lain bertandang dan melakukan transaksi. Setiap hari pelabuhan itu selalu sibuk. Ia terus berdetak berpacu dengan irama pedagang yang semakin hari terus berdatangan dari berbagai daerah dekat ataupun jauh.

Tak jarang para pelancong memilih menetap dan menikah dengan penduduk sekitar. Kemudian mereka mendirikan tempat tinggal permanen hingga terciptalah perkampungan di balik debur ombak yang seolah-olah memanggil rezeki setiap hari.

Di pesisir yang telah menjadi pusat ekonomi bagi warga dan pedagang yang datang dari luar daerah, mereka hidup begitu makmur. Kegersangan pasir tandus dan hamparan pasir yang jarang tetumbuhan mampu hidup di sana, bukanlah suatu petaka dan pertanda buruk. Semua kebutuhan hidup dari pangan, sandang, papan telah tersedia. Perputaran uang begitu deras dan merata. Hidup masyarakatnya cukup bahagia.

Namun, kebahagiaan yang datang silih berganti dan kemakmuran masyarakat telah begitu melenakan mereka. Mereka telah lupa cara bersyukur. Bermulalah malapetaka itu datang menimpa.

Pada awalnya, mereka hanya suka berkumpul di malam hari sambil ngerumpi banyak hal mulai dari yang sangat tidak penting sampai sesuatu yang berkaitan dengan bisnis. Mereka nongkrong di warung-warung warga yang menyediakan kopi dan beberapa makanan ringan pengganjal perut.

Malam merupakan pilihan satu-satunya berkumpul karena hanya saat itulah mayoritas kegiatan ekonomi penduduk terhenti. Bagi mereka, malam adalah waktu yang tepat untuk beristirahat dari segala penat yang telah tumpah seharian penuh. Berkumpul adalah cara terbaik untuk saling berbagi setelah seharian berpencar mencari nafkah mungkin saja bersitegang saling mempertahankan gengsi di hadapan pembeli yang datang dari jauh.

Entah siapa yang pertama kali membawa ke kota pesisir itu. Tiba-tiba saja permainan judi telah ramai. Hampir bisa dipastikan mereka yang berkumpul di sebuah warung sedang ngerumpi dan bermain judi. Waktu berkumpul pun telah berubah 180 derajat. Mereka tidak hanya menghabiskan separuh malam, bahkan sepenuh malam mereka harus melek demi memenangkan permainan. Mereka yang menang harus terus menjaga kemenangannya hingga yang lain menyatakan takluk dan menyerah untuk bertanding lagi.

Sejak saat itu, warung-warung bertahan hingga semalam suntuk. Keramaian itu menjadi pemandangan lain di malam hari. Siang mereka sibuk mencari rezeki untuk tetap bertahan hidup dan menumpuk harta, sedangkan malam harinya mereka bertaruh untuk lebih kaya lagi. Tak ada yang peduli jalan yang mereka tempuh. Yang paling penting adalah keuntungan. Meski sebenarnya permainan itu lebih banyak membuat mereka kalah, tapi janji kemenangan yang menggiurkan jauh lebih menarik perhatian kaum laki-laki yang sedang berkumpul.

Untuk dapat bertahan hingga sepenuh malam dan besoknya harus kembali bekerja lebih keras, maka mereka mulai terbiasa minum-minuman keras yang sudah mulai tersedia di beberapa warung. Bagi warung-warung yang bertahan tidak menjualnya biasanya mereka mulai sepi pelanggan. Mau tak mau harus juga menyesuaikan sehingga penjualan minuman keras sudah menyebar ke seluruh kota pesisir itu.

Pada awalnya, beberapa santri Kiai Mahfud yang tinggal di sana masih bersikukuh mempertahankan ilmunya dan berani mengatakan tidak pada kebatilan. Mereka memilih diam di rumah di malam hari dan hanya keluar pada siang hari. Mereka masih sering membaca kitab-kitab yang pernah dikaji di pondok dulu. Mereka pun masih mengerjakan shalat malam dan bermunajat kepada Allah, meski berbagai cibiran mulai datang menghunjam dan menekan.

“Ah, sok alim.”

“Anak bhuru teddhas (istilah lain dari anak bau kencur) sudah berulah.”

“Jangan jaim-lah. Ayo, ikutan saja! Kami tidak melarang kok. Malah kami akan lebih senang karena tambah ramai.”

“Ha ha ha.....”

Pelan-pelan tapi pasti, ocehan-ocehan yang datang bertubi-tubi di berbagai tempat membuat hati beberapa santri dari Kiai Gurang Garing ciut. Mereka mulai tak enak jika dilihat sedang beribadah dan membaca kitab. Jumlah mereka yang tak seberapa memang tak bisa berbuat apa-apa. Maka, mereka memilih untuk beribadah dan belajar sembunyi-sembunyi. Malam hari, beberapa dari mereka memilih bergabung sepanjang malam bersama warga kota pesisir itu.

Awalnya, hanya bermaksud menghilangkan prasangka. Namun, ketika mereka mulai masuk dan berkumpul bersama, tarikan untuk mengikuti irama dan ritme masyarakat sekitar kiat menguat. Dan hal yang tak diinginkan terjadilah. Mereka mulai mencoba meminum arak sedikit demi sedikit dan bermain judi sesekali. Kebiasaan yang dipupuk terus-menerus dan didukung oleh lingkungan yang kuat akhirnya memaksa mereka sama sekali lupa akan kesantrian mereka. Jadilah mereka bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat yang berubah itu. Kehidupan semakin liar. Orang-orang yang berdatangan dengan maksud berdagang, tidak hanya membawa rempah-rempah, kain, dan segala keperluan kehidupan sehari-hari. Mereka juga sudah mulai berani membawa seorang penghibur yang menemani penjudi-penjudi itu sepanjang malam.

Biasanya dibikin seminor mungkin. Wajahnya yang dipoles lipstik sedemikian rupa dengan parfum menyengat hidung setiap laki-laki yang sedang mabuk dengan gaya bicara merayu dan mendayu mampu membuat malam semakin hingar-bingar, dan permainan judi semakin menjadi-jadi di setiap jengkal kota pesisir itu. Yang paling ekstrem, perempuan-perempuan juga “menyediakan” tubuhnya untuk dinikmati dengan imbalan setimpal, maka mulai berdirilah warung remang-remang.

Kehidupan kota pesisir itu berubah drastis. Kaum laki-laki mulai tak betah di rumah. Siang hari mulai malas-malasan untuk bekerja. Perdagangan dikuasai oleh orang-orang asing yang memang sengaja memanfaatkan situasi itu. Warung remang-remang dan penjualan minuman keras semakin laku keras. Sedangkan kaum Hawa mulai khawatir akan ditinggalkan oleh suami-suami mereka.

Dalam waktu dekat, istri-istri mereka mulai berubah. Mereka juga enggan bekerja. Mereka hanya berdandan dan memperindah dirinya agar tidak kalah dengan perempuan-perempuan jalang yang sengaja didatangkan dari luar. Mereka mulai melirik dan menggoda setiap lelaki yang lewat. Tak peduli para lelaki itu sudah beristri atau tidak. Bagi mereka yang penting adalah berhasil menggoda lelaki-lelaki itu untuk menidurinya. Dengan cara itulah mereka bisa balas dendam terhadap suami-suami mereka dan juga mendapatkan penghasilan yang lebih menguntungkan.

Semakin hari kehidupan kota pesisir itu semakin parah. Utang karena kalah judi menumpuk. Perekonomian mulai dikuasai orang asing yang datang dari negeri entah. Kebutuhan sehari-hari juga menuntut diberi bagian. Kebergantungan untuk berjudi begitu menggebu. Keinginan untuk bersenang-senang dengan perempuan cantik yang dibanderol dengan harga tak begitu mahal juga meluap-luap. Kekacauan dalam diri mereka pun mulai terjadi.

Hal itu berdampak pada terjadinya peristiwa perampokan yang sesekali menelan korban jiwa. Sesekali ditemukan perempuan penghibur mati berlumuran darah dari kedua bibir dan bagian belakang kepalanya di kamar yang sengaja dibuat khusus melayani pelanggannya. Perkosaan pada anak perempuan di bawah umur juga mulai marak. Pertengkaran antara pedagang asing dengan masyarakat karena mereka terus menagih utang setiap bertemu juga sering terjadi.

Kota menjadi tidak aman. Orang-orang saling curiga, pedagang-pedagang yang datang dari negeri seberang mulai waspada. Mereka memperkerjakan satu dua orang pengawal yang siap mati membelanya. Namun, berkumpul di malam hari dan tetap berjudi telah menjadi pekerjaan yang tak bisa terhindarkan meski setelah lewat tengah malam selalu saja ada percekcokan dan perkelahian yang berujung pada kematian. Dalil-dalil moral dan etika yang pernah menjadi pedoman sudah tidak lagi diindahkan.

Akhirnya, berita itu sampai di telinga Kiai Mahfud. Salah satu santri beliau baru saja sowan dan memberi kabar pada beliau tentang kejadian yang sudah di luar etika kesantrian itu. Sekilas Kiai Mahfud termenung dan menerawangkan pandang ke daun yang sedang melambai. Sesekali beliau mengangguk dan menggeleng pelan.

Setelah beberapa lama merenung dan mempertimbangkan banyak hal, diputuskanlah bahwa Kiai Mahfud harus hijrah ke sana. Dia harus melihat sendiri dan mengajak kembali masyarakat yang sudah terlanjur kehilangan kendali kembali ke jalan Allah.

Setelah menitipkan pondok pada anak-anaknya dan berpamitan kepada santri, Kiai Mahfud berangkat dengan segenggam harap bahwa penduduk kota pesisir itu dan beberapa santrinya bisa kembali terselamatkan dan kembali ke jalan yang benar. Setiap langkah dia kokohkan dengan istighfar. Setiap embusan napas dia kuatkan dengan tasbih. Setiap pandangan mata dia tajamkan dengan shalawat Nabi. Tak henti-hentinya dia membacanya silih berganti hingga benar-benar sampai di tempat tujuan.

Di daerah yang gersang dan panas itu, dia segera menemukan hawa berbeda. Panas yang disebabkan oleh sinar matahari langsung dan embusan angin yang kencang mengabarkan sesuatu yang sama sekali baru. Dia hela napasnya berkali-kali. Beristighfar beribu kali. Ditatapnya masyarakat yang sibuk melakukan bisnis tanpa ingat waktu shalat telah tiba.

Sehari saja di kota pesisir itu, dia sudah menangkap banyak kejanggalan. Malam hari dia keliling. Dia menyamar sebagai seorang pelancong yang sedang mencari tempat berlindung. Tak ada yang mempedulikannya. Kaum laki-laki sibuk dengan perjudian yang sedang berlangsung di berbagai penjuru, mabuk dengan seorang wanita duduk di pangkuannya atau sedang membelai mesra punggung-punggung mereka. Beberapa di antara mereka buru-buru masuk ke dalam bilik kecil dan  menghilang di balik pintu yang sama sekali tak kokoh.

Setelah beberapa lama tinggal dan melihat peristiwa mengerikan itu, maka diputuskanlah bahwa Kiai Mahfud harus segera melaksanakan misinya. Menyebarkan ajaran agama dan mengajak semua masyarakat di saja ke jalan yang benar. Didatangilah satu persatu dari mereka. Dimulai dari warga yang pernah menjadi santri di pondoknya. Lalu, dengan berteman santri yang sengaja ditempatinya selama kota itu, dia berjalan dari rumah ke rumah yang lain. Sesekali diadakan sebuah acara besar dengan menghadirkan semua masyarakat di kota tersebut.

Namun, usaha yang begitu keras dan menghabiskan banyak tenaga tak juga membuahkan hasil. Dalam dzikirnya dia merenung. Adakah yang salah dengannnya sehingga semua kata-katanya tak ada yang menghiraukan bahkan santrinya sekalipun. Pintu-pintu pertaubatan sepertinya sudah tertutup rapat dan terkunci sedemikian rupa. Seketika tangis itu pecah dan membasahi kedua pipinya. Dalam hening dia memohon kepada Allah ketabahan dan petunjuk-Nya.

“Bagaimana pun mereka adalah makhluk Allah yang kebetulan saat ini masih tersesat di jalan gelap-gulita. Semoga kelak, mereka sadar dan kembali ke jalan-Nya,” dia membatin di antara desir udara dingin di penghujung malam yang basah.

Setelah sekian lama upayanya tak membuahkan hasil, Kiai Mahfud masih saja menyabarkan diri untuk terus berdakwah dengan telaten sambil menyesuaikan dengan kebiasaan masyarakat sekitar. Dia juga berusaha menggaet anak-anak untuk diajari ilmu agama dengan harapan bisa memutus mata rantai maksiat yang sudah merajalela di kota itu. Hanya beberapa orang saja yang mengizinkan anaknya mengaji. Selebihnya, mereka lebih suka mengajak anaknya membantu mencari rezeki, menunggui rumah atau disuruh menemani dalam bermain judi.

Kiai Mahfud termenung dalam sambil berdzikir semakin kencang. Kembali air matanya jatuh membasahi pipi dan surbannya. Dihitungnya sebuah langkah. Dipertimbankannya sebuah keputusan. Diulang berkali-kali dan dihela napasnya dalam-dalam.

Dalam suasana bimbang dan dilema itulah, kemudian terucap dari bibirnya yang rekah dan lisannya yang begitu fasih sebuah sumpah dan doa yang menggetarkan seluruh jagat raya. Hatinya sungguh perih, tapi tak punya banyak pilihan. Jalan itulah yang harus dia tempuh, meski harus memakan korban. Paling tidak bisa memutus sebuah generasi yang sudah terlanjur hancur. Dia memohon sebuah penyakit segera diturunkan. Penyakit yang sulit disembuhkan dan mampu membunuh penderitanya dalam waktu singkat. Dia meminta penyakit ta’un. Dia berdoa sungguh-sungguh dengan penuh khusuk. Dan doa itu terkabullah tanpa menunggu waktu lama.

Puluhan masyarakat di kota pesisir itu menderita sakit perut yang sangat parah dan sulit diobati sedang mencari dukun dan atau tabib juga tak memungkinkan. Penyakit itu menyerang siapa saja dan kapan saja. Saat mereka sedang istirahat, sedang bekerja, sedang bercengkerama dengan keluarga, bahkan sedang berjudi dan berzina. Dalam sekejap, jumlah orang meninggal membludak tak terkendali. Masyarakat menjadi sibuk dan kebingungan. Belum selesai mengurus satu jenazah, sudah terdengar kembali berita duka. Begitulah setiap hari mereka hanya disibukkan mengurus jenazah yang terus berjatuhan dan semakin meledak jumlahnya.

Pada puncaknya kesibukan dan kebingungan dalam mengurus jenazah-jenazah itulah kemudian terbersit sebuah usul untuk menggali lobang besar untuk para jenazah. Sehingga mereka bisa menghemat tenaga yang sudah dipastikan esok harinya akan ada lagi jenazah-jenazah dengan jumlah yang lebih banyak lagi.

Kiai Mahfud yang masih tinggal di kota  pesisir itu terkena imbasnya. Dia juga menderita penyakit yang sama sehingga meninggal dunia dan dimakamkan di sana. Dari peristiwa lobang besar itulah kota pesisir itu kemudian diberi nama. Namun, kemudian hari anak cucu mereka yang masih tersisa menyebutnya dengan kata Lombang.


*Khairul Umam lahir di Sumenep, Madura. Menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi buku. Tulisan-tulisannya telah dimuat di media massa dan beberapa antologi bersama. Kini penulis yang pernah belajar di Pascasarjana UGM Yogyakarta ini tinggal di tanah kelahirannya.

*Naskah cerita rakyat ini terhimpun dalam “Bunga Rampai Cerita Rakyat Sumenep: Mutiara yang Terserak” (Rumah Literasi Sumenep, 2018).




No comments:

Post a Comment