Thursday, 5 April 2018

Jhubeng

Jhubeng

“DASAR lelaki bajingan. Tidak tahu diuntung,” teriak Sadiyeh seraya menyabetkan celurit yang digenggamnya ke alat kelamin Rohim.

Rohim, yang sedang tertidur pulas, tiba-tiba bangun, berteriak, meringis kesakitan. Darah segar membanjiri sarungnya. Sambil menahan sakit, ia kembali berteriak kesetanan, “Apa yang telah kau lakukan, Yeh?”

Tanpa memedulikan teriakan Rohim, sambil mengusap keringat dan air matanya, Sadiyeh mengambil potongan alat kelamin suaminya yang berada di lantai, kemudian memasukkannya ke dalam plastik warna hitam. Setelah itu dia keluar dari dalam kamar, meninggalkan suaminya yang masih berteriak kesakitan di atas kasur.

Sambil menangis, Sadiyeh berjalan sedikit kencang menuju sungai yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumahnya.

Sesampainya di sungai, Sadiyeh langsung mengambil potongan alat kelamin suaminya dari dalam plastik, kemudian menghanyutkannya di air yang arusnya lumayan deras itu.

“Aku puas. Aku puas. Aku puas telah memusnahkan barang berhargamu, Rohim. Ha ha ha,” teriak Sadiyeh, tertawa terbahak-bahak.

Sadiyeh, perempuan berkulit sawo matang itu tega dan berani memotong alat kelamin Rohim karena suami yang sangat dicintainya itu menduakan dirinya. Ya, Rohim menikah lagi dengan perempuan lain.

Tidak bisa memberi keturunan. Itulah alasan Rohim menikah lagi. Lelaki berambut ikal itu merasa kesabarannya telah habis menantikan kehadiran keturunannya dari rahim Sadiyeh. Meski ia sangat mencintai Sadiyeh, namun baginya tidak ada cara lain untuk memiliki keturunan selain menikah lagi. Sebenarnya ia pernah punya ide untuk meminjam rahim perempuan lain, namun karena keterbatasan dana, ia urungkan niatnya itu. Pernah juga ia berencana minta izin dan meminta persutujuan Sadiyeh untuk menikah lagi. Namun, niatnya itu ia urungkan juga. Hanya perempuan bodoh yang merelakan suaminya menikah lagi, pikirnya.

Rohim memang sangat mendambakan kehadiran seorang anak di dalam keluarganya. Bahkan ia sudah menyiapkan nama untuk anak-anaknya semenjak masih pacaran dengan Sadiyeh.

“Sayang, kalau nanti anak kita laki-laki, akan aku beri nama Andrea Pirlo, biar jadi pemain sepak bola hebat seperti idolaku itu. Dan kalau perempuan, akan aku beri nama Rihanna, biar jadi penyanyi terkenal. He he he. Bagaimana menurut kamu?,” berkata Rohim pada Sadiyeh pada suatu hari, sesaat sebelum mereka menikah.

“Iya, Mas, aku setuju. Pokoknya, apapun nama yang kau berikan kepada anak kita nanti, aku pasti setuju,” kata Sadiyeh sambil tersenyum.

Sebenarnya bukan hanya Rohim saja yang punya keinginan untuk menikah lagi, tapi orangtua lelaki itu juga sudah sejak lama punya niat untuk menjodohkan Rohim dengan perempuan lain. Alasannya bukan cuma karena Sadiyeh tidak bisa memberikan keturunan, melainkan karena mereka memang tidak setuju pada pernikahan Rohim dengan Sadiyeh.

“Kenapa masih mau memadunya? Kenapa kau tidak ceraikan saja istrimu yang jhubeng itu?!” ujar orangtua Rohim pada saat Rohim minta pendapat dan persetujuan pada orangtuanya perihal keinginannya untuk menikah lagi.

“Tidak mungkin saya menceraikan Sadiyeh, Pak, Bu,” kata Rohim. “Saya sangat mencintainya.”

“Makan tuh cinta. Tidak ada gunanya mencintai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan.”

“Tapi, Pak…..,”

“Kamu tahu, bapak ingin sekali menimang cucu. Sudahlah, ceraikan saja Sadiyeh. Kan sejak dulu bapak sudah bilang kalau perempuan itu tidak cocok buat kamu.”

Ya, orangtua, terutama Musapran, bapak Rohim, memang tidak setuju pada pernikahan Rohim dengan Sadiyeh. Alasannya, Sadiyeh adalah anak dari Satrawi, lelaki yang pernah membuat dirinya frustasi. Satrawi-lah yang telah menghancurkan hubungan Musapran dengan Suminten. Waktu itu, Musapran sangat sakit hati. Bagaimana tidak, hubungan yang dijalaninya dengan Suminten selama hampir tiga tahun hancur gara-gara Satrawi melamar dan menikahi perempuan yang sangat dicintainya itu.

Musapran, yang pada saat itu dalam keadaan miskin, lamarannya ditolak oleh orangtua Suminten. Orangtua Suminten lebih memilih Satrawi yang lebih menjamin masa depan Suminten. Maklumlah, Satrawi pengusaha sukses, yang penghasilannya setiap bulan lebih tinggi sepuluh kali lipat daripada Musapran.

Gara-gara kejadian yang sangat menyakiti hati dan perasaannya itu, Musapran hampir mati ditabrak truk. Satu hari setelah pernikahan Satrawi dengan Suminten, ia dengan sengaja tiduran di tengah jalan raya supaya tubuh gempalnya dilindas truk. Untunglah, pada saat kendaraan yang besar itu mau melindas tubuhnya, datanglah malaikat yang menyelamatkannya. Malaikat yang telah menyelamatkannya dari kematian itu tidak lain adalah seorang perempuan yang sekarang telah melahirkan Rohim.

Begitulah alasan Musapran perihal ketidaksetujuannya atas pernikahan Rohim dengan Sadiyeh.

“Bapak lebih setuju kalau kamu menceraikan istrimu itu, dan menikah lagi dengan perempuan yang bisa memberimu seorang anak,” berkata Musapran pada Rohim. “Buat apa mencintai perempuan jhubeng.”

Setelah mendengar pernyataan dan usulan orangtuanya, Rohim jadi galau. “Tidak, tidak. Aku tidak mungkin menceraikan Sadiyeh. Aku sangat mencintainya,” katanya dalam hati. “Tapi aku sangat merindukan kehadiran seorang anak di dalam keluargaku,” ia menggaruk-garuk rambutnya, yang sebenarnya tidak gatal.

“Kalau kamu memang mau menikah lagi, bapak punya teman, yang kebetulan anak perempuannya baru bercerai dengan suaminya,” ujar bapaknya, membuyarkan lamunannya.

“Maksud bapak, bapak mau menjodohkan saya dengan anak dari teman bapak itu?” tanya Rohim.

“Sekarang terserah kamu. Yang jelas, bapak sangat mendukung dan setuju jika kamu mempersunting anak teman bapak itu. Kamu tahu kenapa anak teman bapak itu bercerai dengan suaminya? Dia juga punya masalah sepertimu. Suaminya divonis jhubeng oleh dokter.”

Rohim tidak berkata apa-apa. Namun Musapran tahu kalau anaknya itu sedang bingung.

“Sudahlah, Him, nikahi saja putri teman bapak itu. Tenang saja, bapak tidak akan bilang pada istrimu kalau kamu menikah lagi,” ujar Musapran, meyakinkan Rohim.

Entah kenapa, tanpa memikirkan usulan dan saran bapaknya, kepala Rohim mengangguk dan langsung menyutujui usulan dan saran bapaknya itu.

* * *

“Kenapa kamu mengkhianati dan menduakan aku, Mas?” gumam Sadiyeh seraya melemparkan kerikil ke sungai. “Aku tahu kenapa kamu menikah lagi. Tapi kenapa kamu tidak bilang sama aku kalau menikah lagi?” ia kembali menangis.

Sementara Sadiyeh masih menangis di tepi sungai, Rohim meringis kesakitan di kamarnya, “Aduuuuuh, sakiiiit. Tolong, tolong.”

Rumah Rohim pun mulai dibanjiri orang-orang yang mau melihat keadaan Rohim. Dan melihat kondisi Rohim yang semakin labil, kepala desa dan para warga membawa Rohim ke rumah sakit.

Tidak lama setelah Rohim dibawa ke rumah sakit, kerabat dan tetangganya pun berangkat mencari Sadiyeh yang menghilang.

“Ayo cepat cari perempuan itu, nanti keburu kabur,” perintah salah satu kerabat Rohim sambil mengeluarkan celurit dari balik jaketnya.

Sesampainya di tepi sungai, mereka tidak menemukan Sadiyeh.

“Ayo cepat keluar, serahkan dirimu. Kamu sudah terkepung,” teriak salah satu kerabat Rohim dengan suara lantang.

Sudah sekitar satu jam lebih mereka mencari Sadiyeh di sungai, namun Sadiyeh tetap tidak kelihatan batang hidungnya. Karena tidak ada tanda-tanda kalau perempuan itu ada di situ, mereka memutuskan untuk mencarinya di tempat lain.

Mereka pun beranjak dari sungai. Namun, baru tiga langkah mereka berjalan, tiba-tiba mereka mendengar teriakan seseorang dari balik pepohonan yang lebat, di sebelah utara tepi sungai, “Tolong, tolong.”

Mereka pun langsung lari, menghampiri seseorang yang berteriak itu.

Betapa terkejutnya kerabat dan tetangga Rohim ketika melihat tubuh Sadiyeh berlumuran darah dengan pisau tertancap di perutnya.

Yogyakarta, 2013

Keterangan:
*Jhubeng (bahasa Madura) artinya mandul.


*Fajri Andika lahir di Sumenep, Madura. Alumnus Sosiologi UIN Suka Yogyakarta. Kini tinggal di Yogyakarta.
*Pernah tayang di surat kabar "Minggu Pagi", edisi Minggu II, Juni 2013.

No comments:

Post a Comment