Tuesday, 10 April 2018

Duri

Duri

JANGAN artikan aku merapikan dasinya, mengelap sepatunya sampai mengkilap, menyiapkan tasnya, bukti baktiku. Seminarnya kali ini bertema ’Revitalisasi Nasionalisme Kaum Perempuan’ di kantor Kemendikbud.

Sungguh, sama sekali aku tak bangga. Kaum perempuan di negeri ini mengelu-elukannya. Media cetak dan elektronik memuji perjuangannya mengangkat derajat wanita. Kaum intelektual, akademisi, aktivis, mengagumi buku-bukunya yang kritis; menggugat ketidakadilan dan kekerasan domestik.

Semua hal yang kulakukan hanya untuk menyembunyikan sisi lain suamiku, terutama kelakukannya di rumah. Dia berkali-kali menamparku bila lupa membuatkannya kopi. Meludahi wajahku bila tak menyemir sepatu kulitnya sebelum bepergian.

Tempo hari ada seorang wartawan ke rumah. Bertanya kehidupan keluarga kami, prinsip-prinsip yang dibangun, dan peran istri pada kesuksesan suami. Dengan senyum berat dan perih, sambil didengar suami yang duduk di sebelah, aku bilang; tak ada pejuang feminis yang berhasil tanpa sukses membangun keluarga sakinah.

Hari itu aku buru-buru permisi. Tak bisa berlama-lama melayani pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Bukan malas, tapi lambung kananku sakit, memar berwarna biru lebam. Semalam baru saja ditendang suamiku.

Ceritanya, aku duduk di lantai, menyetrika baju-baju yang baru diangkat dari jemuran. Gerimis sore membuatnya lembab. Tiba-tiba dia datang dari arah belakang dan menerjang lambungku. Katanya, aku tidak memindahkan file power point dari komputer ke laptop. Ketika mengisi simposium di depan mahasiswa, dia kehabisan materi dan merasa sangat malu.

***

Di ibukota ini, teman dekatku hanya Aisya, seorang perawan tua yang menjadi tetanggaku. Kepadanya aku berkeluh kesah. Menumpahkan segala derita. Pulang kampung mustahil. Ayah ibu meninggal di usia 70-an. Keluarga besar merantau entah ke mana. Desa kami memang tidak sesubur dulu saat aku kanak-kanak.

Aisya berulang kali menasihati. Bahkan menggoblok-goblokanku. Banyak LSM siap membantu, katanya. Menjebloskan suamiku ke penjara atas tuduhan kekerasan. Tapi aku menolak kemurahan hatinya.

Suatu hari, mungkin saking geramnya, Aisya mengundang Farah, teman sesama aktivis, makan malam di rumahnya. Farah bekerja di Komnas Perempuan. Aku juga datang ke acara makan malam itu.

Dua jam lamanya aku diinterogasi Farah didukung Aisya. Terpaksa, semua luka kuceritakan. Tapi, di ujung pembicaraan, aku tekankan pada mereka berdua, agar aib ini tidak menyebar. Bila sampai bocor, aku mengancam mereka dengan tuduhan pencemaran nama baik.

Sepulang dari rumah Aisya yang cuma berjarak 50 langkah dari rumahku, suamiku menyambut dengan rotan di tangan. Diam-diam, dia mengintip dari balik jendela. Memerhatikan mobil yang parkir di depan rumah Aisya. Mobil dengan logo Komnas Perempuan di kaca belakangnya.

Bukan saja dicambuki, aku didorong keras. Tersungkur ke lantai, pelipis lecet, darah segar menetes. Tampaknya dia belum puas. Mukaku diinjak-injak dengan kakinya. Rambut dijambak dan dihempaskan lagi. Hingga pandanganku gelap waktu itu.

***

Sekujur tubuh terasa dingin. Malam semakin larut. Entah berapa jam aku tergeletak di lantai. Tak sadarkan diri. Juga tak ada detak jarum. Suara teriak-teriak suamiku depan televisi. Seperti biasanya, minggu malam pertandingan Premiere League.

Dengan merangkak aku menghampiri. Bersimpuh di depan kakinya yang duduk di sofa. Air mataku menetes di punggung kakinya.

”Maafkan aku, Pa….”

Tak ada balasan. Dia menyingkirkan kakinya dari depanku, menaikkan ke kursi, bersila.

“Belakangan ini aku sering melupakan apa pun,” rengekku.

“Dengan memaafkanmu, apa rasa maluku hilang?!”

Dia menjambak rambutku. Suaranya seperti Guntur yang menggelegar.

“Bukankah sudah kubilang, enyah kamu dari rumah ini!”

Dia mendorongku lagi. Punggung membentur ujung lancip meja televisi. Sakit rasanya. Seperti ada kulit yang terkelupas.

Bila remuk redam begini kurasakan, pikiran teringat pada masa silam. Ibu yang memukulku dengan papan kayu ke sekujur badan karena aku menolak melayani permintaan bapak. Bapak sudah tidak tertarik pada tubuh ibu yang tidak lagi sintal. Hanya tubuhku yang ranum, yang membuat bapak bergairah.

Bila remuk redam begini yang kualami, pikiran teringat pada lelaki yang dulu jadi pahlawanku. Setelah 199 kali bapak menggagahiku, sejak masih belum kenal darah haid, barulah lelaki paling berjasa itu datang menyelamatkanku. Membawaku ke ibu kota dan menjadikanku istri simpanannya, aku terbebas dari neraka di rumah sendiri.
Sejak hari itu, aku tak pernah mendengar kabar bapak dan ibu di kampung. Baru tujuh tahun kemudian, ada pesan singkat dari salah satu sanak keluarga. Mengabariku,  kedua orangtuaku telah tiada. Aku tak peduli, karena hidupku milik suamiku. Aku bahkan tak memiliki hak atas diriku sendiri.

***

Perih memang perih. Tapi, luka-luka yang kudapat malam ini tak seperih malam itu. Saat tiba-tiba sekitar 10 orang lelaki berpakaian hitam bertopeng, mirip pakaian ninja, menyerobot masuk rumah. Sialnya, malam itu suamiku sedang talkshow di salah satu stasiun televisi nasional.

Sepuluh lelaki berbadan tegap, kekar, serta gagah itu mendobrak pintu kamar tidurku. Aku yang tidur pulas terbangun, kaget. Dengan nada bicara yang kasar, satu dari mereka menghujat suamiku. Katanya, suamiku antek Amerika dengan negara-negara liberal. Mengajarkan feminisme yang berasa Barat.

Aku tak bisa berteriak. Mulut disekap. Tangan dan kaki dipegangi. Sebelum satu persatu mereka menyetubuhiku bergantian, ada yang bilang, “ini pelajaran buat suamimu, supaya tahu akibat dari ideologi yang dia sebarkan di negeri yang suci ini!”
Walau amat perih kurasakan, pikiran masih sadar dan sempat menghitung berapa kali masing-masing menikmatiku. Dua hingga tiga kali. Tiba-tiba suami datang dan menyerang mereka dengan kungfu Tai Chi yang dia kuasai.

Dengan tangan kosong, suamiku bisa menghindar dan menyerang mereka yang pakai samurai dan golok. Tapi saat satu dari mereka mengeluarkankan pistol, suamiku langsung menyabet golok dari salah satu mereka, dan melemparnya ke arah orang yang berpistol. Aku kagum bagaimana suamiku memotong pergelangan tangan orang itu dengan sekali lemparan golok.

Keesokan paginya, kami melapor ke pihak berwajib. Kepolisian berjanji akan mengusut tuntas. Tapi, yang terpenting bagiku, suamiku adalah pangeran, raja diraja, di keraton hidupku. Kepadanya kupersembahkan jiwa raga ini. Sepenuhnya. Apa pun konsekuensinya, aku tak peduli.

***

Tampaknya pertandingan Arsenal dan Chelsea itu berakhir dengan kemenangan telak Arsenal 5-0. Suamiku bangkit, mematikan televisi, dan beranjak menuju kamar tidurnya. Yang terpisah dari kamarku.

Sebelum jauh meninggalkanku yang masih tersungkur, dia mengatakan ucapan yang berulang kali dikatakannya.

“Aku tak tahu cara lain lagi agar kau membenciku, meninggalkan hidupku dan rumah ini. Bukan tak sakit jiwaku ini. Perasaanku hancur setiap kali terpaksa menyiksamu!”
“Sakiti aku sesuka hatimu, sayang!,” jawabku.

“Aku takkan berhenti mencintaimu. Aku takkan meninggalkanmu sendiri,” lanjutku dengan suara yang nyaris hilang ditelan serak.

“Kamu perempuan tolol! Tidak mencintai diri sendiri. Atas nama cinta, kau menempatkan dirimu terhina! Bahkan kau tak peduli pada kesehatanmu sendiri!”

Setiap kali dia membodoh-bodohkan cintaku, aku semakin jatuh cinta padanya. Aku tahu kenapa dia bilang semua itu. Karena dia sedang menderita HIV dalam beberapa bulan terakhir.

Ketergantungan pada obat dengan resep dokter, agar HIV-nya tidak menjadi AIDS, sangat tinggi. Sekitar sembilan bulan lalu, dia memerkenalkan temannya Abdullah, ustadz muda yang sedang naik daun, cukup sukses dengan bisnis rotinya, kepadaku. Dia ingin aku menikah dengan Abdullah. Daripada harus menungguinya yang terkena penyakit, dan yang sewaktu-waktu bisa meninggal dunia.

”Kau idiot. Amat idiot. Abdullah itu lelaki baik akhlaknya, terhormat kedudukannya, tampan perawakannya. Hartanya juga banyak. Apalagi yang kurang?,” ujarnya waktu itu dengan emosi tinggi.

“Pergi. Tinggalkan aku yang berpenyakitan ini. Biar aku mati sendiri di rumah ini. Kau harus hidup lebih baik!”

Aku menolak permintaanya. Tak pedulit apa pun penyakitnya. Tak peduli walau dia tak bisa memberi nafkah batin. Tidak mampu lagi berhubungan seksual demi mencegah penularan padaku.

Sejak saat itulah, kekerasan dan kisah derita ini dimulai. Inilah duri yang tusukannya paling nikmat!


*Imam Nawawi lahir di Sumenep. Prosais berdarah Bangkalan ini tumbuh dan berproses di bumi Ngayogyakarta Hadiningrat. Pecinta sastra Islam dan banyak menerjemahkan literatur klasik, sejarah maupun pemikiran. Kini mengeditori buku-buku terbitan Medras.

*Pernah tayang di “Minggu Pagi” edisi 15 Januari 2017.

No comments:

Post a Comment