Wednesday, 14 March 2018

Rinai Air Mata

Rinai Air Mata

BRAK…..! Tamparan sang kakak mendarat di pipinya, gadis bermata sembab itu hanya diam pasrah tanpa perlawanan. “Bodoh kamu. Maunya dinikahi lelaki bejat tidak bertanggung jawab seperti dia. Pikir, Amira. Pikir. Bagaimana kalau ternyata kamu sudah hamil? Sedangkan lelaki itu sudah pergi dari kehidupan kamu. Apa kata tetangga? Mereka pasti mengira kamu sudah hamil di luar nikah.”

Amira hanya diam tenggelam dalam isak tangisnya. Tiba-tiba suara teriakan menyambar telinganya, “Bunda … bun .. bunda kenapa? Tolong … !”

Amira pun terperanjat dia kaget dan langsung berlari ke arah teriakanku itu, ternyata ibunya sudah tergeletak di lantai, entah apa yang terjadi dengan beliau.

Tak lama kemudian sebuah mobil melaju kencang ke rumah sakit, sampai di sana Sang Bunda langsung ditangani oleh dokter ternyata benar dugaan Amira, jantung Bundanya kambuh. Semakin hancurlah suasana hati Amira, gundah, resah, rasa bersalah semua menyatu dalam satu wadah penderitaan. Mutiara beningnya semakin tumpah, matanya terlihat semakin sembab, tak peduli ada siapa di depannya dia tetap menangis, semakin lama semakin histeris sampai-sampai security datang menegurnya untuk tenang, karena itu area rumah sakit. Namun ia tak peduli, dia merasa siapapun orangnya tidak akan mampu menerjemah bagaimana rasanya jadi dia saat itu. Apalagi sampai terjadi apa-apa dengan bundanya tidak akan mampu lagi memaafkan dirinya sendiri.

Bundanya begitu shock ketika tahu bahwa Angga sudah meninggalkan Amira. Sebelumnya amira sering curhat mengenai pacarnya yang bernama Angga. Mulai dari awal mula mereka bertatap muka di kampus lalu berkenalan lewat dunia maya. Saat itu Amira sedang duduk di bangku kuliah semester IV. Saat jam pulang kuliah Amira hendak menghampiri toilet yang letaknya berada di samping kelasnya, ketika tangan hendak mendorong pintu toilet ke dalam, “Astaghfirullah!” ucapnya, sungguh Amira kaget ternyata ada orang yang menarik pintu dari dalam, “maaf” dengan spontanitas kata itu keluar secara bersamaan dari mulut keduanya, yaitu Amira dan lelaki itu. Empat mata pun berpadu dalam satu pandangan, detak jantung semakin kencang hingga ada suara yang menghentikan melodi asmara yang berkecibung di antara pandangan itu.

“Permisi” lelaki itu berangjak pergi, Amira pun melanjutkan tujuannya. Saat menunaikan hajatnya Amira sempat melirik dinding-dinding toilet ternyata ada kamera kecil yang digantung di belakang pintu, nampaknya itu kamera seseorang yang ketinggalan. Usai menunaikan hajatnya Amira rapikan kembali pakaiannya lalu mengambil kamera itu. Dia lihat merknya Cannon, “Punya siapa ya? Lihat dulu ah, sipa tahu ada fotonya” gumamnya dalam hati. Setelah dilihat ternyata camera itu berisi foto-foto kegiatan kampus, foto-foto dosen dll. Tidak terlihat foto orang tunggal.

Dia masih bingung di dalam toilet memikirkan siapa pemilik kamera itu. “Milik siapa ya, gimana yang mau mengembalikannya, identitas orangnya saja tidak jelas,” gumamnya lagi sambil melanjutkan slide-slide foto yang ada di galeri kamera itu.

“Owh apa mungkin ini milik orang yang tadi, ya udah deh mending aku anterin ke kantor saja,” gumamnya mengambil keputusan. Setelah Amira buka pintu “Astaghfirullah” dia dikejutkan kembali oleh lelaki tadi. Rupanya lelaki itu sudah sejak tadi berdiri di depan pintu.

Seulas senyuman terpancar dari raut wajah lelaki itu, “Maaf mbak, itu kamera saya,” ucap lelaki itu sambil sedikit menunjuk ke kamera yang ada di tangan Amira.

“Oh ya maaf, Mas, Pak, eh apa ya,” Amira kebingungan mau panggil lelaki itu Mas atau Pak karena kalau dilihat dari face-nya ia terlihat seperti mahasisawa namun pakaian yang ia pakai adalah seragam dosen.

“Panggil saja, Mas! Saya hanya salah satu staff di kampus ini,” ujar lelaki itu menanggapi Amira yang kebingungan tentang panggilannya.

“Oh ya, Mas, ini kameranya. Maaf tadi sempat membuka isinya untuk menemukan pemiliknya. Yang saya temui hanya foto-foto kegiatan kampus, makanya tadi saya berniat untuk mengantarkan ke kantor ternyata milik Masnya,” kata Amira.

“Iya tidak apa-apa, makasih ya, saya permisi,” jawab lelaki itu sambil pamit undur dari hadapan Amira, “Ya silahkan!” jawab Amira.

Waktu terus bergulir sejak kejadian itu mereka sering secara tidak sengaja bertatap muka di area kampus, keduanya saling bertegur sapa hanya dengan ulasan senyum tanpa kata, tanpa tahu siapa namanya dan dari mana asalnya. Yang jelas mereka menyadari bahwa Allah sudah mempertemukan mereka di Univesitas Negeri itu.

Beberapa bulan kemudian mereka berjumpa di dunia maya, diawali dengan Angga add Facebooknya Amira merekapun berteman dan akhirnya terjadi komunikasi. Semakin lama komunikasi mereka semakin lancar dan nampaknya mereka semakin dekat hingga mereka saling jatuh cinta. Amira baru tahu ternyata Angga adalah anak angkat dari rektor UNB (Universias Negeri Bandung). Pada suatu malam terlontarlah kata-kata cinta yang menunjukkan Angga menembak Amira. Namun Amira tidak mau gegabah sekalipun ia juga menyukai Angga. Ia minta waktu 15 hari untuk menjawab itu. Selama 15 hari itulah jutaan perhatian ia dapatkan dari Angga. Sering sekali Angga tiba-tiba datang ke kosan Amira hanya untuk mengantarkan mkanan, kadang mie goreng, nasi goreng, mie ayam dll. Sungguh Amira merasa dijadikan ratu. Perjuangan demi perjuangan dilakukan oleh Angga.

Hingga akhirnya tibalah mereka di malam ke 15 setelah Angga menembaknya. Di dalam mobil yang mereka kendarai, dengan nada agak gerogi Angga bertanya, “Gimana, dik? Sudah ada jawabannya?”

“Sudah” kata Amira.

“Lalu?” sambung Angga.

“Maaf, Mas!” Amira mulai menjawab dengan intonasi rendah, suara yang sangat pelan dan ekspresi sedih. Mendengar dan melihat hal itu Angga meras cemas, denyut nadinya semakin bergemuruh, pikiran-pikiran buruk menggeranyangi otaknya, seperti akan ada hujan badai karena ada cinta yang ditolak namun ia mencoba menenangkan emosi dan ia berusaha tegar dengan apa yang akan terjadi. Ia terus berusaha memberanikan diri untuk bertanya pada Amira, “Kenapa,” namun rasanya ia tak sanggup mendengar kata-kata tolak dari Amira karena selama ini ia sudah mengapung di antara sungai-sungai surga lalu mengapa malam ini ia harus mati tenggelam ke dalamnya? Bukankah seharusnya ia mendapatkan perahu yang bisa ia gunakan untuk berlayar bersama Amira, berlayar mengarungi sungai-sungai surga itu.

Sejenak kemudia mereka sama-sama terdiam, suasana semakin tegang. Angga sudah tidak enak rasa dan tidak enak badan, setelah ini mereka akan patah hati. Namun Angga tetap memberanikan diri untuk menatap wajah Amira yang sungguh akan membawa luka yang begitu mendalam, begitu perih dan begitu sakit, ia menunduk sejenak, menarik nafas dalam-dalam lalu dipeganglah tangan Amira.

“Kenapa, Dik?” tanya Angga sambil menatap wajah Amira. “Maaf, Mas aku gak bisa,” jawab Amira dengan mata berkaca-kaca. Melihat ekspresi Amira, Angga merasa kiamat akan datang sedetik lagi, dia pun pasrah, kepalanya tertunduk kembali di hadapan Amira dan emosinya mulai naik dengan spontan dia tatap kembali wanjah bencana itu lalu berkata dengan intonasi gereget, “Gak bisa apa, Amiraaa?” melihat hal itu Amira tersenyum kemudia menjawab, “Gak bisa nolak, Mas!” mendengar itu mata yang tadinya mulai menangis berubah menjadi bintang yang berbinar-binar.

Keduanya pun tersenyum beku, tertegun, lalu tertawa keras membuncahkan perasaan bahagia yang dirasakan malam itu. Amira pun tiba-tiba sudah berda dalam pelukan erat Agga. Sejak malam itulah mereka jadian.

Setelah beberapa bulan hubungan mereka berjalan, perbincangan terjadi, “Dik, kita nikah yak?”

“Nikah, Mas?” tanya Amira seolah tak percaya.

“Iya sayang, nikah!” Angga meyakinkan.

“Emang sampean sudah siap jadi ayah dari anak kita? Tanya amira melanjutkan perbincangan. “Siap banget lah, apa coba yang gak buat sampean? Malah kemarin umiku ngomong gini loe, “ Ga, ojok pacaran wae, cepat-cepat lah nikah, ayolah tak lamar ke wong tuane,” yang artinya, “Ga, jangan pacaran aja, cepet-cepet nikah, ayo mau umi lamar ke orang tuanya,” gitu sayang kata Umi, menurut sampean gimana?” jelas Angga menceritakan apa yang dikatakan uminya.

“Kalau aku sih, jujur masih pengen kelarin kuliah dulu, Mas, soalnya kalau nikah nanti hamil, melahirkan terus harus cuti kuliah,” Amira menjawab dengan alasan kenapa belum siap.

“Tapi, Dik kalau gini terus kita dosa loe, hampir tiap malam kita jalan,” Angga mencoba mengingat dosanya pacaran.

“Iya juga sih,” Amira mulai berpikir.

“Giman kalau kita nikah sirih aja, setidaknya kita terhindar dari dosa,” usul Angga.

“Gak ah, Mas, aku masih punya orang tua masak nikah sirih sih?”

“Kenapa emang? Kan Cuma buat terhindar dari dosa, gak kok aku janji tidak akan meminta yang satu itu dari sampean sampai kita resmi menikah di hadapan orang tua kita,” Angga meyakinkan Amira bahwa keinginannya menikah hanya untuk menghindari dari dosa. “Tahu ah, aku pikir-pikir dulu.”

Memikirkan hal itu Amira sangat bingung, bisikan-bisikan setan beradu-padu. Bisikan malaikat pun saling bersahut-pahut. Akhirnya, Amira memutuskan untuk nikah sirih dengan Angga. Berlangsunglah pernikahan mereka dilaksanakan  di tempat yang melintasi laut dengan wali penghulu yang di sana. Mereka sudah sah menjadi suami istri. Usia pernikahan mereka menjelang 3 bulan, mereka pun hanyut dalam hubungan intim. Merekapun semakin mabuk dalam asmara mereka yang telah terikat pernikahan yang sah menurut agama. Empat bulan kemudian, Angga melanjutkan studi s3-nya ke luar negeri. Dia pamit pada Amira, berpesan untuk selalu setia padanya. Janji setiapun Amira lontarkan pada suaminyaitu. Terjadilah perpisahan jarak antar keduanya.

Setahun kemudian, mereka mendapatkan kabar mengejutkan. Kabar duka muncul dari keluarga Angga yang merupakan rektor UNB telah dipanggil oleh yang kuasa. Beliau mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit Ngudia Bnadung. Amira baru saja menerima kabar tentang berita itu, ia langsung lari mendatangi rumah mertuanya. Setibanya jasad sang mertua yang diantar oleh mobil jenazah warna putih yang dengan bunyi melengking, menyesakkan dada dan memerihkan mata itu, tiba-tiba Amira melihat sesosok perempuan yang belum pernah dia kenal mengenakan baju hitam sebagai tanda berduka cita itu turun dari mobil jenazah. Sepertinya dia mengiringi jasad sang mertua. Angga juga terlihat bersama dengan perempuan itu. Di sela-sela rasa duka, timbullah tanda tanya besar di benak Amira, siapakah perempuan itu? Kenapa dia terlihat begitu dekat dengan Angga? Amira masih menahan pertanyaan semacam itu setidaknya sampai situasi duka mereda.

Pertanyaan demi pertanyaan sudah mulai menumpuk dikepala Amira. Tujuh hari kematian sang bertua telah tiba, Amira mencoba untuk menanyakan apa yang ingin dia tanyakan pada Angga. Namun, Angga tidak meresponnya. Tibalah saatnya malam ke delapan, berita kenyataan itu datang dengan sendirinya menyengat telingat Amira. Hasan yang masih ada ikatan keluarga dengan Angga itu lewat di depan tempat tinggal Amira. Mampirlah Hasan sekadar ngobrol-ngobrol santai dengan Amira di depan musholahnya. Hasan merupakan teman baik Amira sewaktu kecil, tapi Hasan tidak mengetahui tentang hubungan Amira dan Angga karena Hasan juga baru datang dari luar negeri melanjutkan kuliah magister di sana.

Setelah ngobrol mengenai kabar dan pendidikannya, secara tidak langsung, perlahan Amira mulai membuka peryanyaan untuk menggali informasi mengenai perempuan asing itu.

“San, kau dari mana tadi?” tanya Amira.

“Oh, itu, Mir. Tadi aku dari rumah paman.”

“Gimana situasi di sana, masih berduka tah?”

“Gak sih, Mir, sudah reda. Tadi aja Cuma membahas penganti rektor,” Hasan sedikit menjelaskan.

“Emang siapa, San, kira-kira yang akan menggantikan posisi beliau?” tanya Amira penasaran.

“Gak tahu juga sih. Paling anak angkatnya. Kan beliau tidak punya anak kandung,” Hasan mulai memperluas pembicaraan.

“Anak angkat yang mana, San? Kan anak angkatnya ada dua,” tanya Amira lagi.

“Ya Angga lah, Mir. Kan dia pendidikannya sekarang yang lebih tinggi,” Hasan terus saja menjawab pertanyaan Amira.

“Mmmmmm…. Iya juga sih. Oh iya, tadi di sana ada siapa saja, San?” Amira semakin menjurus ke inti pertanyaan. Lalu dengan riangnya, Hasan menjawab, “Angga sama istrinya.”

Jendaarrrr…..!!!! Jantung dan hati Amira tersambar. Berita itu sungguh menghancurkan segalanya.

Amira mulai membatasi komunikasi dengan Angga, setelah dia memahami alasan Angga yang seolah selalu menghindar jika membahas hubungan mereka. Perlahan Amira mulai bersikap dingin dan mencoba mengikhlaskan segalanya. Meskipun pada dasarnya rasa sakit, kecewa, sedih, dan terluka itu sudah tidak dapat dideskripsikan lagi melalui untaian kata. Beberapa kali Amira mulai meminta penjelasan, tapi hingga situasi keruh itu berusia dua tahun Annga tidak memberinya alasan walau segelintir. Amira hanya mendapatkan informasi dari mulut ke mulut mengenai pernikahan Angga dengan perempuan itu yang kabarnya perempuan itu tak lain dan tak bukan adalah mantan tunangan Angga yang sempat menghilang. Mereka bersatu kembali dan melanjutkan hubungannya meski perempuan itu sebenarnya sudah tahu mengenai hubungan Amira dengan Angga.

Amira nyaris saja putus asa dalm perjalanan studinya. Hari-harinya penuh dnegan kepedihan. Lebih pedih daripada rasa pedih itu sendiri. Bagaimana tidak, Angga sekarang telah menjadi rektor di UNB, sedangkan istri resminya telah menjadi dosen di sana. Setiap hari Amira harus melihat kemesraan mereka dengan mata kepala Amira sendiri. Setelah semuanya sudah jelas terlihat secara kasat mata, Amira seolah tidak punya pilihan lain selain menerma kenyataan pahit itu.

Amira memutuskan untuk menganggap semuanya selesai, meskipun tidak pernah ada kata selesai tentang hubungan mereka dan perasaan Amira. Amira menanggung pedih itu sendiri. Tak jarang dia hanya meluapkan segalanya pada kertas-kertas yang tersusun rapi dalam rangkaian buku diary. Setiap malam hanya doa-doa mohon ketabahan yang dapat Amira panjatkan kepada Tuhan, apa salahnya sehingga kesetiannya selalu terbayar dengan sebuah pengkhianatan.

Konflik batin Amira belum juga reda, hingga memakan waktu 2 bulan barulah Amira berani berterus-terang pada keluarganya bahwa Angga yang sempat datang ke rumahnya mengatakan niat baik itu saat ini sudah mengkhianati Amira dan diceritakan pula segalanya, termasuk mengenai perikahan sirihnya.

Mendengar penuturan Amira, kakaknya langsung naik tensi. Mendaratlah sebuah tamparan dari tangan sang kakak. Satu minggu Amira tidak dapat sapaan dari sang kakak. Nampaknya masih kesal dan marah pada Amira yang diam-diam telah menikah di belakang keluarga. Karena itu pula sang bunda jatuh sakit mendengar kisah pedih yang harus dialami anak bungsunya. Namun, apalah arti sebuah kemarahan seorang kakak kepada adiknya jika dibiarkan berlarut-larut, perlahan kemarahan itu reda. Amira yang nasibnya tidak seberuntung wanita lain yang dengan mudahnya dapa hidup dengan orang yang dicintainya. Semenara Amira sudah berkali-kali dikhianati. Padahal semaksimal mungkin Amira sudah berusaha hati-hati. Tapi ya itulah rencana manusia yang sering tidak dijalur sendagn rencana Tuham. Amira hanya dapat memasrahkan segalanya dalam doa.

Enam tahun setelah itu kabar hangat menyengat telinga Amira. Rumah tangga Angga dengan perempuan itu berantakan. Entah apa sebabnya Amira kurang memahami. Amira hanya mendapat kabar dari Hasan yang tiba-tiba datang membawa teman. Dikenalkanlah lelaki berpeci itu kepada Amira.

“Amira, kenalkan ini sahabatku. Dia teman seangkatanku di Prancis,” ujar Hasan memperkenalkan Ilham Yusuf. Ngobrollah mereka bertiga membahas segala macam, mulai dari pendidikan, keluarga, lalu pribadi, dan yang terakhir barulah Yusuf menyampaikan niat baiknya, mengajak Amira untuk taaruf. Amira pun tidak ragu menyampaikan tentang kondisi dan statusnya yang pernah melakukan nikah sirih dengan lelaki yang sekarang sudah mengkhianatinya.

Dalam waktu satu minggu usia perkenalan mereka, bertemulah kedua pihak keluarga melangsungkan taaruf. Waktu taaruf hanya berkisar 15 hari. Saat itulah istikaharah sama-sama dlakukan oleh kedua belah pihak. Alhamdulilah, Allah memberikan petunjuk yang baik untuk mereka berdua. Maka hanya dengan proses perkenalan 15 hari langsung digelarlah acara lamaran. Sebulan berikutnya menikahlah mereka berdua.

Berhubung Yusuf mendapatkan beasiswa program doktor ke Amerika, maka Amira pun ikut dengannya sampai studi S3 Yusuf selesai. Sementara Angga mengalami brokenhome, dan dia hidup sendiri mengurus semua pekerjaannya.

Sampang, November 2017



*Nora NH lahir di Sampang, Madura, 27 Desember 1993. Alumnus STKIP-PGRI Sampang. Bergiat di Komunitas Stingghil Sampang.

*Cerpen ini terhimpun dalam kumpulan cerpen & puisi berjudul Tirani (CV Al Qalam Media Lestari, 2018).

1 comment:

  1. […] *Alumnus STIKP PGRI Sumenep. Kini mengabdi di SMAN 4 Sampang dan Ma’had Al Ittihad Al Islami (MII) Camplong, Sampang. […]

    ReplyDelete