Friday, 9 February 2018

Tidak Ada Jalan ke Luar Angkasa bagi Mereka

Tidak Ada Jalan Ke Luar Angkasa Bagi Mereka

MEREKA merencanakan pembakaran toko sebagai protes karena mereka merasa tidak dihargai selama bekerja di sana. Ketika toko itu mereka bakar pada hari yang direncanakan, seorang kawan terjebak di toko itu dan mati di sana. Sementara waktu, sebab belum tahu harus kerja di mana, mereka tinggal di bekas toko tersebut, namun dalam keadaan was-was bahwa suatu waktu ada yang curiga merekalah pelakunya. Perasaan takut, menyesal, hampa, menguasai hidup mereka di detik-detik itu. Mereka tidak tahu harus kemana. Mereka ingin pergi, dan risau kemanakah harus pergi. Hidup di luar angkasa andai memungkinkan. Namun tidak ada jalan ke luar angkasa bagi mereka.

TOKOH                      :
  1. Marko, 26 tahun, provokatif.
  2. Suaeb, 25 tahun, pelit.
  3. Muhammad, 17 tahun, labil.
  4. Jamal, 27 tahun, reflektif.

PERISTIWA INI TERJADI SETELAH KEMATIAN FAHRUDDIN DI  RUMAH MILIK SUAEB. BANGUNAN ITU BEKAS TOKO SERBA ADA. DITEMPATI SUAEB KARENA IA BEKERJA DI SANA SEBELUM TERJADI KEBAKARAN YANG MERUSAK TOKO ITU. MALAM ITU, KETIKA PERISTIWA INI TERJADI, RUMAH SUAEB SEPERTI KURUNGAN MENGERIKAN. RUANGAN ITU BERBENTUK PERSEGI PANJANG. ADA LEMARI DI POJOK KANAN DINDING, DI DEKATNYA TERDAPAT TIGA KURSI DAN SATU MEJA YANG BIASA DIGESER-GESER. DI SANA HANYA TERLIHAT LELAKI BERNAMA MARKO, KHUSUK BERDZIKIR SEMBARI MENEMPELKAN PUNGGUNGNYA YANG TELANJANG KE DINDING. SUARANYA TERDENGAR SANGAT KERAS, SEPERTI ORANG MARAH SEDANG BERTERIAK.

DARI KANAN PANGGUNG, MUNCUL DARI KAMAR LAIN, SUAEB MASUK RUANGAN ITU, DAN DUDUK DI SAMPING MARKO, DI SEBUAH KURSI PANJANG.

1 Suaeb                       : Kau masih lapar? Aku punya duit.

2 Marko                     : (Marko berhenti tiba-tiba.)Berapa duitmu? Kenapa tidak ngomong dari tadi kalau ada duit? Kau mau mau lihat seseorang kembali mati?

3 Suaeb                       : (Sembari mengambil duit di dompetnya.) Tak salah ingat Allah saat lapar.

4 Marko                     : Cukup Fahruddin mati dengan cara itu di antara kita!

5 Suaeb                       : Kenapa? Kau marah padaku?

6 Marko                     : Kau telah buat aku melakukan hal tolol seperti kakak tua.

7 Suaeb                       : Berdzikir itu?

8 Marko                     : Iya.

9 Suaeb                       : Mengingat Allah itu?

10 Marko                   : Iya.

11 Suaeb                     : Kau akan mudah masuk neraka, Marko, bila terus begitu.

12 Marko                   : Kau pernah baca al Qur’an? Ingat ayat ini, dan apabila dibacakan al Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat?

13 Suaeb                     : Iya.

14 Marko                   : Dan ayat ini, dan apabila nama Allah disebut, hati mereka bergetar?

15 Suaeb                     : Tak perlu ajari aku, Marko. Aku hafal.

16 Marko                   : Aku juga. Tapi, andai aku jadi kau, mestinya kau tanya kenapa aku menanyakan itu kepadamu. Mau kau kuceritakan satu hal?

17 Suaeb                     : Cukup, Marko. Cukup. Aku tak mau mendengar omong kosongmu. Mendengarmu hanya melapangkan jalan ke neraka, Marko.

18 Marko                   : (Tertawa) Ada burung kakak tua hafal al Qur’an. Kau tak bisa memungkiri itu. Bahwa di satu sisi aku ternyata sama dengan burung kakak tua gara-gara percaya omonganmu!

19 Suaeb                     : Kau pasti ditembak mati kalau Soeharto masih mangap di zaman ini.

20 Marko                   : Hubungannya dengan Soeharto?

21 Suaeb                     : Tidak ada. Kecuali kakek itu benci kepada orang-orang keras kepala macam kau.

(Suaeb meninggalkan marko. Kemudian terdengar teriakan allahu akbar, dan suaeb mundur waspada)

22 Suaeb                     : Hati-hati, Marko, anak ini mulai tidak waras. Hati-hati, Marko!

23 Muhammad          : (Menodongkan senjatanya ke arah marko) Kamu dengar bahwa kamu harus hati-hati, atau mau kulubangi tengkorakmu, Bung? Hendak kabur ke mana, Bung? Seluruh gedung ini telah terkepung. Bergerak, dan kamu mati. Angkat tangan! Mau menyogok hanya dengan uang dua puluh ribu? Kau pikir kami hanya butuh uang segitu?

(Muhammad mengayun pentungannya ke sembarang arah)

24 Muhammad          : Kamu berencana kabur? Diam di situ!

25 Marko                   : Ayolah jangan ganggu jalanku!

26 Suaeb                     : Marko!

27 Marko                   : Diam, Suaeb!

28 Muhammad          : (kepada Marko) Diam!

29 Marko                   : Ayolah, Muhammad. Bisa menghancurkan kepalaku pentungan itu.

30 Muhammad          : Muhammad? Kamu mau memperdayaiku dengan panggilan Muhammad? Aku bukan Nabimu, Bung! Aku bukan Nabi Muhammad yang punya rasa welas kepada orang-orang lemah sepertimu. Lagi pula Nabi Muhammad itu hanyalah sosok khayalan kepalamu, diciptakan sendiri oleh orang-orang lemah agar mereka senang karena merasa punya penolong. Dia tidak pernah ada.

31 Suaeb                     : Marko, awas!

32 Muhammad          : Kamu juga diam, Brengsek! Kalian sungguh makhluk tak berdaya. Itu bagus sekali. Datang ke bumi, mau menguasainya. Tapi bagaimana pun, kalian tetap makhluk lemah. Sekarang aku beri kalian dua pilihan. Kembali ke luar angkasa secara baik-baik, atau pulang dengan caraku? Kalau kalian mau tahu, aku bukan Nabi Muhammad meski namaku Muhammad. Apa artinya? Aku kasihan kepada siapa pun, apalagi kepada monster luar angkasa buruk rupa seperti kalian.

33 Marko                   : Bajingan juga kau, memanggilku makhluk luar angkasa.

34 Muhammad          : Diam!

35 Marko                   : Suaeb, panggil Jamal!

36 Suaeb                     : Jamal! Urus adikmu ini, Jamal!

37 Muhammad          : Diam!

38 Suaeb                     : Kau dengar aku, Jamal? Jamal!

(Jamal muncul)

39 Jamal                     : Muhammad! (tenang seketika)

40 Marko                   : Kurang ajar orang tuamu tidak memberi dia nama lain.

(Marko keluar)

41 Jamal                     : Duduklah, Muhammad. (Muhammad duduk di kursi dekat lemari. Jamal mendekatinya)

42 Jamal                     : Kakak tahu, kau sedang memikirkan Fahruddin. Namun bukan begitu caranya. Itu tidak sopan. Dan mengganggu. Yang mati pun tak baik kau pikirkan terus. Tak bisa tengan ia di kubur. (kepada Suaeb,) Sejak Fahruddin meninggal dia berubah jadi begini, Suaeb. Lihat dia, semakin buruk.

43 Suaeb                     : Aku tidak bisa omong banyak soal ini.

44 Jamal                     : Dirimu menyesal?

45 Suaeb                     : Jika harus menyesal, aku menyesal kenapa aku setuju pada ajakan Fahruddin, Marko dan Fuad. Namun yang mereka katakan itu benar adanya.

46 Jamal                     : Lihatlah adikku. Dia jadi pendiam.

47 Suaeb                     : Dari tadi sudah banyak bicara.

48 Jamal                     : Kau harus bedakan mana yang benar-benar bicara dan yang enggak.

49 Suaeb                     : Dia berteriak-teriak, Jamal. Bukan hanya bicara.

50 Jamal                     : (Kepada Muhammad) Kamu tidak berteriak-teriak kan? Aku percaya bahwa kamu tidak seperti itu.

51 Suaeb                     : Berhentilah membela adikmu.

52 Jamal                     : Semua orang membela Muhammad, lalu kenapa aku tidak?

53 Suaeb                     : Berhentilah membela adikmu!

(Hening)

54 Jamal                     : Kamu lapar, Muhammad? (kepada Suaeb) Pinjamkan aku duit. Buat adikku. Biar dia makan dulu.

55 Suaeb                     : Belikan aku rokok dua batang.

(Muhammad keluar)

56 Suaeb                     : Dia tidak dekat dengan Fahruddin. Bahkan di antara kita yang akrab dengan Fahruddin hanya Marko. Jadi aku sangsi dia jadi seperti itu apakah memang lantaran kematian Fahruddin.

57 Jamal                     : Sebab apa?

58 Suaeb                     : Aku tidak tahu. Yang jelas bukan karena dia dekat dengan Fahruddin.

59 Jamal                     : Tetapi karena kematian Fahruddin, Suaeb.

60 Suaeb                     : Tapi bukan karena memikirkan Fahruddin.

61 Jamal                     : Maksudmu?

62 Suaeb                     : Karena dia kehilangan pekerjaannya di toko ini, dan ia tidak tahu harus kerja apa. Atau karena dia takut ada yang tahu kita lah yang membakar toko ini, kemudian melapor ke polisi, dan dia dipenjara bersama kita. Atau karena dia khawatir masa depannya tidak jelas. Intinya bukan karena dia memikirkan Fahruddin.

63 Jamal                     : Yakin kau?

64 Suaeb                     : Lalu apa yang membuatmu ragu? Demi Allah, Jamal. Muhammad sama sekali tidak memikirkan Fahruddin.

65 Jamal                     : Masalahnya, aku memikirkan Fahruddin. ...

66 Suaeb                     : Sehingga kau anggap orang lain juga memikirkan Fahruddin? (tertawa) Maklum pikiranmu begitu. Kau tidak membaca al Qur’an. Perhatikanlah isi Kitab itu. Allah sudah bilang, kalau Dia mau tentu cukup diciptakan satu ummat. Hei Jamal, apa arti satu kecuali itu berarti sebenarnya cukup satu manusia saja? Dan bayangkan apa yang terjadi jika isi dunia ini hanya satu? (tertawa) Baiklah, mungkin kau tidak akan berpikir sejauh itu. Heh, intinya aku tidak suka karena kau menganggap semua orang akan memikirkan Fahruddin. Semua yang di sini. Kau pegawai baru, kau tahu apa tentang Fahruddin!

67 Jamal                     : Lalu karena kau lebih dulu ketimbang diriku, kau marasa lebih tahu tentang dia? Kasihan sekali dirimu. Pantas saja kau harus selalu membawa al Qur’anmu kemana-mana.

68 Suaeb                     : Kau mau kuusir dari tempat ini?

69 Jamal                     : Picik kau.

70 Suaeb                     : Aku yang berkuasa di tempat ini, dan kau telah bikin sakit hati penguasa tempat ini. Ingat itu!

(Terdengar derak pintu terbuka)

71 Jamal                     : Tidak ada orang di luar. Tiga malam terakhir selalu begini.

72 Suaeb                     : Hei, ada orang kah di luar?

(Kembali duduk. Akan tetapi pintu mendadak terbanting keras)

73 Suaeb                     : Hei, siapa di luar? Jangan main-main! (Kepada jamal) Sepertinya memang tidak ada siapa-siapa.

74 Jamal                     : Aku khawatir Fahruddin bangkit dari kubur.

75 Suaeb                     : Itu mustahil.

76 Jamal                     : Fahruddin karyawan paling cerdas di antara kita. Jangan lupa itu. Pikirannya sangat dalam.

78 Suaeb                     : Kuburan itu lebih dalam dari pikiran, kalau kau ingin tahu!

(Terdengar teriakan allahu akbar, kemudian disusul dobrakan pintu)

79 Jamal                     : Muhammad!!!

80 Muhammad          : Ada yang mengejarku, Kak. Aku ngerasa ada yang mengejarku. Aku tidak tahu siapa dia. Dia berteriak-teriak Allahu Akbar.

81 Suaeb                     : Jadi bukan kau yang main-main dengan pintu?

82 Muhammad          : Aku tidak tahu, Bang. Habis makan, aku mau beli rokok, tapi aku ngerasa dari belakang ada yang terus menguntitku. Dan aku lari ke sini. Aku takut itu makhluk luar angkasa. Aku harus mengusir mereka dari bumi. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar.

83 Jamal                     : Muhammad!!

(Muhammad diam)

84 Suaeb                     : Sialan adikmu.

(lampu ruangan itu padam tiba-tiba, lalu menyala lagi, dan padam lagi. muhammad berteriak allahu akbar)

85 Jamal                     : Muhammad!!!

86 Muhammad          : Aku takut.

87 Suaeb                     : Tenang, Muhammad. PLN tidak punya urusan dengan makhluk luar angkasa, dan ini hanya problem PLN.

88 Muhammad          : Di luar listrik tidak padam, Bang.

89 Jamal                     : Diam, Muhammad!

90 Suaeb                     : Dengarkan aku Muhammad. Ini yang harus kita terima jika diperlakukan secara berbeda oleh PLN. Allah akan selalu melindungi kita. Kau baca saja ayat kursi, mungkin akan membantu kita biar sedikit tenang.

91 Muhammad          : Apa gunanya dilindungi Allah kalau PLN tidak kasihan pada kita, Bang.

92 Suaeb                     : Kau masih terlalu polos untuk mengerti urusan ini, Muhammad. Ayolah, jangan nangis. Muhammad, diam!

(Angin bertiup kencang, suaranya deras, dan pintu terbanting lagi. lampu berkedip-kedip, kemudian menyala)

93 Jamal                     : Apa yang kau pikirkan?

94 Suaeb                     : Kenapa mereka juga belum pulang. Fuad dari tadi siang. Marko, katanya, Cuma mau makan.

95 Jamal                     : Sebentar lagi mungkin pulang.

96 Suaeb                     : Aku tidak tahu apa mereka perlu tahu peristiwa ini. Atau mungkin mereka sudah tahu, aku juga tidak tahu.

97 Jamal                     : Apa kau merasa ini ruang hampa, Suaeb?

98 Suaeb                     : Ruang hampa?

99 Jamal                     : Iya.

100 Suaeb                   : Dari mana kau dapat pikiran itu?

101 Jamal                   : Ketika tadi gelap, dan sunyi, kemudian hanya suara kita bertiga. Takut. Aku tidak ingin membayangkan dunia ini hanya terisi oleh kita bertiga. Sangat mengerikan.

102 Suaeb                   : Bawa adikmu ke sini, Mal. Aku kasihan padanya.

103 Jamal                   : Kau tak jadi mengusirku kan?

104 Suaeb                   : Lupakan itu.

105 Jamal                   : Aku tidak bisa. Jika kau mengusirku, aku akan terlempar ke ruang hampa macam apa lagi. Ini sudah cukup mengerikan buatku.

106 Suaeb                   : Tidaklah mudah menghadapi perubahan ini. Bawa Muhammad ke sini dulu.

(Marko datang)

107 Marko                 : Kalian sudah tahu kalau aku punya kabar buruk? (menyelidik curiga) Oi, kenapa kalian diam. Bilang saja kalau kalian sudah tahu agar aku tidak perlu berpura-pura begini.

108 Suaeb                   : Kami tidak tahu apa apa, Marko.

109 Marko                 : Lalu kenapa diam? Rumah ini sudah berhantu, he?

(Tidak ada yang menjawab. Agak lama keheningan mencipta jeda di antara mereka. Samar-samar teriakan kebakaran menyusup ke ruangan itu. Muhammad berteriak kebakaran, sambil lalu lari ke kamar mandi, kemudian masuk lagi ke ruangan itu mengguyur tembok dengan air. Muhammad kembali empat kali sampai jamal membentak muhammmad yang terus berteriak kebakaran)

110 Jamal                   : Muhammad!!

111 Muhammad        : Kak, di dalam ada Fahruddin, dia bisa mati kalau toko ini terbakar.

112 Jamal                   : Kita sudah terlambat. Fahruddin telah meninggal.

113 Muhammad        : Kita masih bisa menyelamatkannya, Kak!

114 Marko                 : Diam kau, Muhammad, atau mau kukirim kau ke penjara?

115 Marko                 : Kenapa tidak ada yang menjawab pertanyaanku? Rumah ini benar sudah berhantu, heh?

116 Suaeb                   : Tidak terjadi apa apa di sini.

117 Marko                 : Aku tidak percaya omongmu.

118 Suaeb                   : Benar, Marko. Ini hanya karena Muhammad sulit ditenangkan saja. Demi Allah.

119 Marko                 : Aku tidak tahu harus menyampaikan berita ini atau tidak kepada kalian. Namun aku sudah terlanjur bilang bahwa aku membawa berita buruk. Kawan-kawan, Fuad telah ditangkap polisi.

120 Suaeb                   : Aku tidak salah dengar?

121 Marko                 : Tadi pun aku berharap salah dengar.

122 Suaeb                   : Ini semua gara-gara Fahruddin dan kau, Marko! Apa arti bebas? Bebas, hampa. Itu kan maksudmu? Ternyata aku salah besar percaya pada orang-orang yang tidak baca al Qur’an.

123 Marko                             : Kau menyesal, Suaeb? Kau jamal, kau Muhammad?

124 Jamal                   : Adikku jadi begini. Aku hanya ingin menemukan kata lain selain menyesal.

125 Suaeb                               : Lebih dari sekedar menyesal, kau telah membuat kami tolol, Marko!

126 Marko                             : Membakar toko ini?

127 Suaeb                   : Iya. Apalagi kalau bukan tolol. Aku bisa mengembangkan toko ini sesuai kehendakku. Tapi kau bilang, nasibku tidak akan berubah jika masih bekerja pada orang lain meskipun aku hidup nyaman. Karena aku tidak bebas, itu alasanmu. Aku tidak bisa menentukan jam kerjaku sendiri, aku masih diatur oleh Pak Heri. Demi Allah, ketika kau bilang, kita bisa bebas, bisa menentukan hidup kita tanpa harus tunduk pada orang lain, aku setuju karena aku benar-benar capek bekerja. Dan nyatanya apa yang kudapatkan setelah membakar toko ini? Kehampaan, Marko! Aku berada di ruang kosong. Mengambang. Ini yang kau sebut menjadi bebas? Menyakitkan sekali kebebasan yang ingin kau tunjukkan kepada teman-temanmu. Kenapa kita tidak mogok kerja saja waktu itu?

128 Marko                 : Pak Heri akan dengan cepat mengganti dengan pegawai lain. Di belakang kita ratusan orang antri mau kerja. Dan mogok kerja tidak akan merubah apa-apa.

129 Suaeb                               : Tapi membakar toko kau anggap juga bisa merubah nasib kita?

130 Marko                 :Persetan dengan kata nasib itu. Kutendang mulutmu. Aku tidak senang kalau kau bicara nasib. Kau kira ini nasib? Tunggu aku mati, baru bilang beginilah nasib. Selama aku masih hidup, sekali-kali jangan kau bilang nasibku begini. Tidak ada nasib dalam perkara ini, Suaeb. Baca lagi al Qur’anmu, apa kau menemukan kata nasib di sana, heh.

131 Jamal                   : Apa kalau bukan nasib? Fahruddin meninggal. Kalau tidak menyalahkan nasib, kita harus menyalahkan siapa?

132 Marko                             : Maksudmu aku yang salah dengan kematian Fahruddin?

133 Jamal                   : Aku tidak bilang begitu. Kita tidak tahu Fahruddin masih tidur di kamar saat kita berlima membakar toko ini. Itu pun ide membakar toko usul Fahruddin. Sebagai seorang teman, kenapa kau menjanjikan sesuatu yang tidak konkrit justru ketika kondisi kita sedang melarat begini?

134 Marko                 : Lebih baik jadi gelandangan seperti ini daripada bekerja pada pak Heri.

135 Suaeb                              : Meski kau harus berdzikir demi menahan lapar?

136 Marko                             : Tutup mulutmu, Suaeb.

(Pintu terbanting keras lagi. Angin berembus kencang, memperdengarkan suara-suara yang menakutkan. Gempa, gedung itu terguncang)

137 Suaeb                   : Jangan diam, ayo tahan tembok ini! kita tidak punya tempat tinggal kalau gedung ini ambruk.

138 Muhammad        : Allahu Akbar. Allahu Akbar.

139 Jamal                   : Marko, panggil bantuan. Kita bisa mati di sini.

140 Marko                 : Tidak akan ada yang  mau menolong kita, Mal.

141 Jamal                   : Jangan putus asa, Marko.

142 Marko                 : Kau pikir ada yang mau menolong penjahat macam ini?

143 Jamal                   : Aku tidak kuat.

144 Marko                 : Aku juga.

(Dinding ambruk. suaeb tertimpa runtuhan dinding, tidak bisa bergerak, mati)

145 Jamal                               : Apa yang harus kita lakukan?

146 Marko                             : Tunggu gempa ini reda.

147 Jamal                               : Ini bukan gempa, Marko! Ini kutukan!

148 Marko                             : Tunggu kutukan ini reda.

149 Muhammad        : Kita harus pergi ke luar angkasa. (Mengambil tangga dan melubangi asbes) Kita tidak bisa tinggal diam jika diserang terus-menerus seperti ini.

150 Marko                             : Apa yang kau lakukan, Muhammad?

151 Muhammad        : Aku mau pergi ke luar angkasa.

152 Marko                : Tidak ada jalan ke luar angkasa, Muhammad.

153 Muhammad        : Aku tidak bisa hanya diam di hadapan kenyataan ini.

154 Marko                             : Bukan berarti kau harus pergi ke luar angkasa!

155 Muhammad        : Aku butuh dunia lain, Bang. Aku butuh dunia lain, di mana saja asal jangan dunia ini.

156 Marko                 : Aku tidak yakin adakah dunia lain yang mungkin untuk orang-orang macam kita. Tetapi, ...

(Ponsel berdering)

157 Jamal                   : Pak Heri.

158 Marko                 : Angkat dan keraskan.

159 Suara telepon      : Suaeb?

160 Jamal                   : Iya, saya, Pak.

161 Suara telepon      : Bagaimana keadaanmu sekarang? Aku belum bisa ke situ, kau urus dulu, biaya aku tanggung.

162 Jamal                   : Saya baik-baik saja, Pak. Tapi Fahruddin meninggal, terjebak di dalam toko.

163 Suara telepon      : Aku sudah tahu dua hari yang lalu.

164 Jamal                   : Iya, Pak.

165 Suara telepon      : Kalau kamu mau urus toko itu sampai seperti sedia kala. Kalau tidak, kamu bisa kupindahkan ke tokoku yang lain.

166 Jamal                   : Kawan-kawan yang lain, Pak?

167 Suara telepon      : Terserah mereka. Itu urusan mereka. Aku menawarkan ini hanya padamu. Kalau kamu mau, itu lebih baik daripada kamu menganggur.

168 Jamal                   : Bagaimana ya, Pak.

169 Suara telepon      : Aku mengerti. Kalian sering bersama-sama, bahkan sudah seperti saudara. Tetapi, ingat. Meski kalian sering tidur bareng atau apa pun, kalian akan tetap mati sendiri-sendiri. Maksudku, hidup kalian diurus masing-masing. Untuk apa kamu mengurus hidup mereka. Aku memberi tawaran ini, karena kamu karyawanku yang paling lama. Bukan berarti aku tidak suka mereka. Ini wujud balas budiku padamu, Suaeb.

169 Jamal                   : Iya, Pak. Nanti saya pikirkan dulu. Saya juga lagi pengen pulang kampung, Pak.

170 Suara telepon      : Tumben benar kamu bilang ingin pulang kampung.

171 Jamal                   : Ibu saya sakit-sakitan.

172 Suara telepon      : Ibumu? Bukannya ibumu sudah bertahun-tahun yang lalu meninggal? Hei, ini siapa, ini pasti bukan Suaeb. Hei, kepara.. .. (Hubungan diputus oleh jamal. Tak lama kemudian ponsel suaeb berdering lagi. Oleh marko direbut, dan dilempar sampai hancur)

173 Marko                 : Mungkin kita akan dipenjara, menyusul Fuad. Tapi aku tidak mau.

174 Muhammad        : Aku takut dipenjara, Bang.

175 Marko                 : Kita semua juga takut, Muhammad. Jamal, apa yang harus kita lakukan?

176 Jamal                   : (Menggeleng)

177 Muhammad        : Bang, ayok pergi.

178 Marko                 : Kita tidak bisa pergi dari dunia ini.

179 Jamal                   : Tapi kita bisa pergi dari tempat ini, Marko.

178 Marko                 : Kita bisa pergi dari sini kalau kita tahu mau pergi ke mana. Dan aku tidak tahu harus pergi ke mana.

179 Muhammad        : Bang Marko pengecut! Kita pergi ke mana saja, Bang.

180 Marko                 : Tidak semudah itu, Muhammad!

Muhammmad sudah tidak memperhatikan marko. Dia terus melubangi asbes. Kemudian datanglah suara sirine itu. Selesai.

*Habiburrachman,  mahasiswa Filsafat Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sedang bergiat di Teater ESKA. Bisa dihubungi melalaui email: mencaritia3@gmail.com

No comments:

Post a Comment