Tuesday, 13 February 2018

Sebelum Rembulan Naik ke Puncak Menara

Sebelum Rembulan Naik Ke Puncak Menara

SENJA mulai menyesap. Malam pun perlahan merayap. Jika tidak berawan, bebintang bertutur sapa bagai gadis yang mengedipkan sebelah matanya. Malam kadang sungguh merayu. Tapi, malam bisa menjadi wisata angan terus melayang. Dengan dua bola matanya Aris duduk di atas kursi menatap ke arah timur. Setiap senja hanyut dalam lautan malam, dia memastikan keberangkatannya agar tak sia-sia.

“Mau ke mana, Ris?” tanya seorang perempuan tua dengan sebuah mukena putih yang tiba-tiba ada di dekat Aris.

“Oh, eh, eh… Ibu. Mau ke rumah Dika,” katanya kaget dan gugup.

“Kok gak langsung berangkat, mumpung masih belum terlalu malam?” tanyanya dengan memiringkan tubuh ke arah Aris.

“Ini Bu. Dia katanya masih ada di luar. Belum pulang,” kata Aris berusaha berkilah dengan tenang.

“Iya, jangan pulang malam-malam. Nanti kamu dikira maling oleh tetangga.”

Aris hanya mengangguk. Leha kembali ke tempat biasa melaksanakan shalat untuk melanjutkan zikir. Perasaannya tak mengundang curiga sedikit pun pada gelagat Aris. Sebuah alasan yang membuatnya tenang. Aris akan berkunjung ke rumah Dika.

Malam masih tampak gelap. Di ufuk timur, sebuah cahaya kekuningan mulai menyembul. Sedikit lagi, Aris akan berangkat. Bukan ke rumah Dika. Dia harus merahasiakannya dari ibu dan ayahnya. Segala kebutuhannya sudah dia siapkan sejak sore. Satu senter korek api, korek api yang ada senternya. Sebilah pisau mini. Serta jaket hitam yang akan dikenakan saat perjalanan dan akan dilepas saat hampir tiba di tempat tujuannya.

Tanpa pamit, Aris menghilang begitu saja. Biasanya dia melaporkan dirinya setiap akan bepergian. Tapi, kali dia tak memberitahu orangtuanya. Secara sembunyi dan tenang, Aris berangkat menuju tepat ke arah rembulan menampakkan senyumnya.

“Sudah aman? Tidak ada siapa-siapa?” tulisnya melalui pesan singkat di ponsel.

“Iya, sudah aman. Aku mau siap-siap.” Sebuah balasan yang semakin meneguhkan keberangkatan Aris.

Setelah tiba di tempat tujuan, jaket Aris dilepas dan meletakkan di semak-semak belukar. Dia kini mengenakan setelah baju dan kaos dalam gelap. Songkok berwarna merah hati yang dikenakan, dia balik. Tujuannya agar tidak mudah dikenali oleh orang. Kalau dia ketahuan, kostum pakaiannya tak akan mencurigakan saat pulang dan bertemu dengan orang-orang.

Di sebuah gubuk seorang perempuan sedang duduk. Aris dengan yakin menghampirinya. Dia melupakan semak-semak dan belukar yang kadang menghalangi kedua kakinya.

“Ssshh…” seru Aris dengan desisan saat hatinya mulai ragu. Lalu, sebuah sorotan kecil di pangkuan seorang perempuan yang duduk di sebuah gubuk kecil digerak-gerakkan.

“Sudah aman kan, Lin? Tak ada yang mencurigakan?” tanya Aris memastikan.

“Aman, Mas. Tadi ayah sempat tanya, kubilang mau ke rumah kakak,” kata Herlina memelankan suaranya.

Mereka memadu kasih di gubuk kecil yang tanpa ditutup tabir apa pun. Mereka lebih leluasa untuk memastikan tak ada orang pada saat petang yang sekadar lewat di dekat gubuk itu. Jika ada orang yang akan lewat, atau orang yang mencurigakan, mereka bisa langsung tahu dan bersembunyi. Mereka berkeringat. Bukan menyatukan tubuh, tapi sekadar bercumbu.

Rembulan semakin meninggi. Mereka harus berpisah sebelum sang penjaga malam ada di puncak menara. Sekitar setengah menara lebih sedikit, mereka berpelukan. Lalu Aris mengantar Herlina untuk pulang hingga dekat ke rumahnya. Tapi, dia tetap sembunyi di balik malam yang mulai disorot oleh cahaya bulan. Mereka benar hati-hati. Setelah Herlina sudah ada di depan halamannya, secepat kilat Aris kembali dan mengenakan pakaiannya sebelum dia menerjang semak-semak.

Dalam perjalanan pulang yang direncanakan akan ke rumah Dika berjalan aman. Beberapa kali dia berpapasan dengan pengendara motor dan pejalan kaki. Tapi, mereka tak menaruh curiga sedikit pun. Aris memang dikenal sebagai lelaki baik. Setelah, jalan mulai lengang, dia teringat dengan seorang temannya yang selingkuh dengan istri orang. Mereka sama-sama berkeluarga. Suatu ketika, mereka tertangkap basah oleh warga. Demi jalan damai dan rumah tangga mereka tetap utuh, warga yang memergokinya berunding, lalu teman Aris dituduh sebagai pencuri, dia harus menebus jika ingin aman.

Aris pun berusaha menyiapkan payung sebagai penjaga jika suatu ketika dia tertangkap basah bercumbu dengan Herlina. Sudah berjalan sekitar delapan tahun Aris dan Herlina melakukan hal itu. Mereka tak berani berjalan berdua di depan orang-orang. Mereka memadu kasih di gelap malam dan di bawah cahaya rembulan. Tanpa terasa, rumah Dika sudah ada di hadapannya. Tepat di sisi kanan jalan tempat Aris pulang. Dia pun menuju halaman rumah Dika. Tiba-tiba, dia melihat sosok lelaki yang entah itu kebetulan atau memang sengaja berada di tetangga Dika.

“Dik, gak ada Aris ke sini, ya?” tanya lelaki itu. “Katanya dia mau ke rumahmu tadi menjelang malam.”

“Belum ada, Om. Tapi dia memang bilang mau ke sini tadi sore,” kata Dika.

Aris merasa tenang setelah ayahnya berlalu untuk berangkat bersama tetangga dekat Dika ke perkumpulan rutinnya. Aris pun perlahan menenangkan langkahnya menuju rumah Dika. Setelah Dika tahu Aris datang, dia segera menyiapkan kopi dan sebungkus rokok yang dilempar ke atas mejanya.

“Kata ayahmu, kamu mau ke sini sudah berangkat sejak mulai malam. Kok baru tiba sekarang?” tanya Dika memastikan keanehan yang dia rasakan.

“Oh, iya. Aku tadi ke rumah Kurnia, dia kan baru datang,” kata Aris berkilah.

Dika hanya mengangguk maklum. Kurnia, teman kelas Aris dulu, baru datang dari perantauan. Dika tak menaruh banyak curiga atas alasan Aris. Memang begitu yang dilakukan Aris. Sebelum ke rumah Dika, Aris berkunjung ke rumah Kurnia untuk beberapa menit. Tapi, tak ada orang, serta sederet alasan yang berusaha dibuat oleh Aris. Dia membuat alasan dengan sejujur-jujurnya, hanya bermain kata. Berkunjung bukan berarti harus bertemu. Begitu pikirnya.

Selama delapan tahun itu, Aris berjumpa Herlina dengan cara dan tempat yang sama. Di bawah cahaya rembulan sebelum naik ke puncak menara masjid di selatan rumah Herlina yang mudah dijadikan kompas pertemuannya. Dika dan Kurnia sebagai jalan menemui Herlina. Kini, Aris benar-benar mampu mewujudkan cintanya untuk hidup dengan Herlina. Dua kumpulan puisi buah hatinya telah berhasil lahir dari rahim Herlina. Anak sulungnya yang lelaki sudah masuk sekolah dasar. Bungsunya seorang bayi mungil berbulu mata lentik yang masih sering dia baca berdua bersama Herlina.

Yogyakarta, 05  November 2016



*Junaidi Khab lahir di Sumenep, Madura. Pernah belajar di UIN Sunan Ampel Surabaya. Kini tinggal di Jalan Sorowajan, Bantul, Yogyakarta.

*Dimuat di "Lampung Pos" edisi Minggu, 7 Mei 2017.

*Naskah ini disalin dari website pribadi penulis: junaidikhab.wordpress.com

No comments:

Post a Comment