Wednesday, 7 February 2018

Persoalan Hidup dan Beberapa Pertanyaan Payah

Persoalan Hidup

AKTOR:

Broun (orang mapan)

Dudung (pemuka agama) 

Proch (pemulung)

Babak I

Sebuah perlintasan sebagaimana jalan pada umumnya.

Handfond OM berbunyi,

OM      : (angkat HP) Yang benar saja, mana mungkin aku datang satu menit sebelum, Jangankan satu menit sebelum, satu jam setelah pun belum tentu aku tiba. Tugas macam apa lagi yang dia bebankan padaku? Kalau memang dia yang punya kebutuhan, kenapa harus aku yang datang lebih awal? Semakin lama hidup ini semakin tidak menemukan titik bahagia, selalu saja aku dibuat tergesa-gesa, Mengapa waktu terus mempersulit keadaan?

OB risih dengan OM yang berisik

OB       : (OB terbangung dari tidur) Tidak usah berisik, aku lebih tau kalau ini sudah pagi. Aku yang punya kebutuhan pada pagi, mesti bangun, mesti berjalan, mesti memanggul dan semua mesti yang dapat membuat hidup harus kulakukan, tapi tidak sampai mengganggu orang lain. Kenapa aku tidak kemana-mana ya? Bukankah kalau diam saja, aku tidak akan makan? Tidak apalah, lapar juga bisa ditahan.

OB kembali tidur. PA masuk tergesa-gesa.

PA       : Ini sudah jam berapa? Bagaimana kalau tidak lancar? Semua mata pasti akan memandang kasar. Semua orang perlahan akan sadar dan mulai curiga padaku, satu persatu kesalahan kulakukan sedang tidak sedikitpun bisa kuhentikan. Akhirnya mereka tidak lagi curiga melainkan yakin kalau aku orang tak bisa apa-apa. Orang-orangpasti berhenti menghormatiku, tidak ada lagi yang mengundangku, semua aktifitas mereka tidak butuh kedatanganku, ada atau tidaknya aku tidak menjadi soal bagi mereka. Ini benar-benar akhir dari kehormatan hidupku. Aku harus tenang, tenang dan tenang.

OM masuk terburu-buru

PA       : Memangnya kamu mau kemana?

OM      : Ke kantor.

PA       : Kancingmu keliru.

PA       : Kenapa baru dibetulin, bukannya sebenatar lagi kamu akan berangkat? (tertawa kecil)

PA masuk diam-diam setelah melihat OM dan OB berselisih

OB       : (menertawakan PA)

OM      : Ada yang lucu?

OB       : Tidak. Cuma ketawa.

PA       : Apa yang kamu tertawakan? O, kamu tertawa pada ketidak siapanku. Kamu tidak sadar kalau kamu juga begitu? Kenapa kamu masih berbaring?

OB       : Bukan urusanmu. Hari ini aku hanya malas.

OM      : Atau kamu tidak siap?

OB       : Tidak siap?

OM      : Tidak siap hidup, tidak siap menghadapi kemungkinan-kemungkinannya.

OB       : Memangnya perlu siap?

OM      : Harus.

OB       : Sejak kapan?

OM      : Sejak lahir

OB       : mengapa?

OM      : karena manusia lebih dulu terbiasa hidup tanpa menggunakan pikiran, sejak itu pula manusia harus siap pada kemungkinan hidupnya.

OB       : Aku tidak mengerti soal itu.

OM      : kau nyaris melupakan satu hal, bahwa hidup selalu bersinggungan dengan waktu. Hidupku dan hidupmu berada dalam suatu waktu. Waktu yang sebenarnya rentan karena Ketidaksiapanmu membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa memiliki makna. Makna bagi manusia. Keberadaanmu bermakna bila manusia sepertimu bekerja dengan keringat tubuhmu.

OB       : omong kosong!

OM      :  apa maksud omong kosongmu itu?

OB       : omong kosong jika kau mengatakan orang yang bekerja adalah jenis orang yang hidunya bermakna. Bukankah banyak orang frustasi dan gila justru karena pekerjaannya? pekerjaan sudah membuat manusia tidak seperti manusia lagi.

OM keluar, OB siap berangkat memulung. Dan PA masuk.

PA       : mau kemana?

OB       : kerja

OB keluar

PA       : Kenapa aku tidak berfikir. Coba kalau aku tolak undangannya, atau aku beralasan tidak enak badan atau apalah. Jadi kan aman. Tapi siapa diriku? Apa aku hanya terbuat dari sesuatu yang rentan pada kemungkinan-kemungkinan? Lupakan. (jeda) Kalau begitu, aku titip salam kalau aku sakit, dan tidak bisa hadir. (jeda) Tapi, kalau mereka berdua tahu aku pura-pura sakit, pasti mereka menertawaiku. Aku harus sembunyi dari mereka.

PA mencari tempat sembunyi hingga sembunyi, OM masuk.

OM      : Ini sudah kesekian kali terjadi. Dia memintaku datang lebih awal dari biasanya. Itu tidak mungkin, dan tidak bisa kulakukan. Yang satu belum selesai, dia sudah minta yang lain. Tapi tidak apa-apa, sudah aku selesaikan tugas pertama, tinggal menunggu tugas selanjutnya.

OM duduk. OB masuk dengan barang hasil mulung.

OB       : Memang begini nasib tidak mujur. Sudah pulang awal, sendirian, hidup lelah, jangankan mau bahagia, mau makan saja susah. Andai saja ada pilihan selain hidup…. (berhenti).

PA diam-diam keluar dari persembunyian.

PA       : Sudah jelas kan! (mengejutkan)

OB       : Jelas apa?

PA       : Jelas kalau kamu tidak siap menjalani hidup.

OB       :Memangnya hidup harus siap?

PA       : Tidak

OB       : Lalu kenapa harus siap?

PA       : Karena kamu hidup. Karena kamu manusia.

OB       : Apakah siap dan tidak siap sebuah keharusan dalam hidup?

PA       : Tidak juga.

OB       : Lantas kenapa kamu memakiku?

PA       : Karena kamu mengeluh.

OB       : Pernyataan apalagi yang kamu lemparkan?

PA       : Cuma soal mengeluh

OB       : Apa ada hubungannya dengan hidup?

PA       : Tidak sama sekali. Tapi berkaitan dekat dengan ketidak-siapan.

OB       : Justru itu. Justru karna aku hidup dalam persoalan aku menemukan hidupku

PA       : Itu hanya alibi bagi seorang pemalas sepertimu.

OB       : Bukan! Itu bagian dari kesiapan menerima hidup. Justru di sini terbukti siapa yang siap dan yang tidak siap. Dan sebenarnya kamu sendirilah yang tidak siap dengan segala kondisi dan tetek bengeknya. Buktinya, kau hanya melihat hidup dari satu sisi. Satu sisi yang bisa kau terima sendiri. Satu sisi karena kau sok moralis. Satu sisi karna kau tak mau menerima kenyataannya.

PA       : Rupanya sekarang kau pandai bicara.

OM      : Lagi-lagi itu membuktikan kau terlalu naif mau menerima hidup dengan satu syarat: hidup seperti dalam kepalamu. Apakah itu yang kau sebut dengan kesiapan hidup? Kalau itu yang kau maksud, lebih baik aku bunuh diri sebagai ungkapan ketidaksiapanku menjalani hidup.

PA       : Itu bunuh diri yang manis. Tapi bunuh diri tetaplah bunuh diri. Keputus-asaan. Akhirhidup yang bukan akhir. Dan aku tak mau mengakhirinya dengan seperti itu.

OM      : Sudahlah, sebaiknya kita lupakan omong kosong ini. Sepertinya kita semakin jauh dari hidup itu sendiri ketika kita membicarakannya. Kau menghadiri undangan itu? (Pada PA)

PA       : Iya. Kau tahu sendiri bagaimana aku mempersiapkannya

OM      : Kau kira, itu cukup meyakinkanku?

PA       : Harusnya begitu.

OM      : Menurutku tidak sesederhana itu.

PA       : Selalu menurutmu.

OM      : mungkin juga menurut orang-orang kebanyakan. Tidakkah kamu merasa ada kejadian yang aneh?

PA       : aku tidak bermaksud meragukan tapi sesuatu yang menurutmu, mesti aku tanyakan. Karena sangat mungkin peritiwa aneh yang kamu maksud adalah hal biasa bagiku dan bagi orang pada umumnya.

OM      : memangnya perlu disepakati?

PA       : tidak mesti.

OM      : aku hargai ke hati-hatianmu. Tapi peristiwa yang akan kubicarakan adalah keanehan yang hanya menyangkut diri kita dan soal keberadaan kita disini. Tanpa perlu disepakati mestinya ini menjadi peristiwa aneh bagi kita.

OB       : kalau memang benar peritiwa itu menyangkut keberadaan kita, kenapa tidak kita dengarkan saja, tidak ada salahnya mendengarkan pernyataan OM yang barang kali tidak seberapa lama. Lagian sangat mungkin tidak hanya menyangkut keberadaan kita melainkan menyangkut soal siap dan ketidak-siapan yang kita perdebatkan dari tadi.

PA       : baiklah kalau begitu.

OM      : aku sendirian datang kesini, tidak ada seorangpun yang datang setelahku selain OB. Artinya, hanya aku dan OB yang berada di kamar ini. Dan mengapa tiba-tiba kamu juga berada disini, sedang tidak seorangpun yang datang setelahku dan OB? (kepada PA)

PA       : ternyata firasatku tidak salah, kamu masih saja mempersoalnkan sesuatu yang menurutmu.

OM      : dengarkan aku baik-baik, ini bukan soal menurut siapapun. Aku hanya mau mendengarkan cerita tentang keberadaanmu yang tiba-tiba disini.

PA       : apakah suatu yang tidak mungkin? jika aku masuk dan berada disini tidak setelah dan tidak sepengetahuanmu. Bukannya masih ada waktu lain yang bisa kupilih selain setelah.

OM      : benar apa yang kamu katakan, memang masih ada saat yang lain, tapi tidak mungkin setelah atau saat yang sama denganku. Karena keduanya masih dalam pengetahuanku.

PA       : bukankah ada waktu sebelum. Dan itu pasti, lepas dari yang kamu sebut sebagai pengetahuanmu.

OM      : kamu telah menyatakan kebenaran. Berarti benar kamu berada disini sebelum aku dan OB, terima kasih atas kejujuranmu. (jeda). Ternyata dalam semua hal yang berbeda masih ada hal lain yang sama pada diri kita. namun kesamaan ini tidak bisa kuanggap sebagai kelebihan yang patut dibanggakan. Sejak kapan kelemahan menjadi sebab dari kebesaran seseorang, tidak ada hukum demikian. Ketidak-siapan ini bukti adanya ke-siap-an, suatu keadaan yang aku dan kalian belum sampai kesana. (jeda) Barang kali ini memang saat dimana aku harus berfikir dan mengakui keberadan suatu yang berbeda, yang diluar kemampuan hidupku. Bukankah keadaanku sudah cukup mampu untuk menerima berbagai kemungkinan dalam hidup, mengapa mesti ada hal lain yang tidak dapat aku terima sebagai bagian dari kesempunaan hidup. Sudah sejak lama aku waspadai kemungkinan-kemungkinan dalam hidup, mulai dari yang terkecil, paling dekat hingga yang tak mungkin dilakukan orang lain, semua itu sudah selesai dan kuyakini sebagai sebuah kesiapan. Kenapa mesti ada hal lain yang menuntut ketidak-siapanku. Apakah itu terjadi karena aku yakin kalau aku siap sehingga ketidak-siapan sebagai akibat dari kesiapanku mencari celah untuk kuakui sebagai bagian dari hidupku?, sepertinya tidak demikian, bukan lantaran kita merasa siap terus ketidak-siapan menghantui kita dan mencari-cari kelemahan kita. Tidak mungkin orang yang siap, tiba-tiba menjadi tidak-siap pada saat yang bersamaan, karena keduanya adalah pilihan dan bergantian. Jangan-jangan hanya karena kata siap dan tidak siap yang membuat kita terjebak dalam situasi ini, karena kata itu pula kita tidak berani malu, takut bertaruh, takut berpeluh dan tidak berani ambil resiko. Mestinya kita hapus kata siap dan tidak siap dari hidup, kita lupakan keduanya supaya tidak ada lagi kata itu dalam keseharian kita.

OB       : aku semakin yakin kalau hidup memang tidak sesederhana ini, tidak semudah   pernyataanmu sekalipun terdengar melelahkan.

OM      : memang menurutmu apa yang tidak sulit dalam hidupku?

OB       : kamu mau tau, yang tidak sulit dalam hidupmu adalah kata-katamu.

OM      : maksudmu?

PA       : maksud dia, semakin kamu bisa membahasakan kesulitan hidup, artinya tidak ada apa-apa dalam hidupmu. Hidupmu biasa-biasa saja ketika kata-kata masih bisa membahasakannya. Itu berbeda dengan yang benar-benar hidup menderita. Dia tidak akan dapat menceritakan prihal kemelaratan hidupnya, karena hidup yang terlampau berat, membatasi ceritanya.

OM      : jadi ini hanya persoalan bahasa, iya kan?

OB       : sekilas memang begitu. Tapi ini tidak sebatas perasoalan bahasa, ini persoalan hidup. Dan sayang pandanganmu tentang hidup terlalu payah.

OM      : apa maksud pernyataanmu?

OB       : dengan bercerita panjang soal hidupmu yang pahit, tubuhmu yang sakit, keadaanmu yang pelik, lantas kamu kira aku akan tergugah dan mengakui dirimu sebagai manusia istimewa yang tegar menjalani hidup sulit. Jika semua ceritamu adalah hidupku, mungkinkah  hidupmu juga begitu? (jeda) Bukan maksud menganggap remeh hidupmu yang kamu anggap sulit. Tapi kata-katamu yang menyepelehkannya sendiri dan aku hanya mengikuti. (jeda) Dengan suka rela aku masih bersedia mendengarkan cerita hidupmu, tidak untuk kunikamti atau kuratapi, melainkan sebagai harapan, karena aku masih berharap hidup sebahagia hidupmu.

PA       : aku semakin penasaran pada hidupmu, benarkah ada hidup yang seperti itu?

OB       : sebenarnya hidup kita sama. Jiwa kita sama memanas, tubuh kita sama melepuh, tapi tubuhmu bagian mana yang terbakar dan melepuh sehingga kamu masih bisa menceritakan sakitmu dengan tenang, dengan tegar bahkan berapi-api. Bayangkan, Jika api membakar kepalamu terlebih dahulu, kulitmu melepuh, matamu meleleh, tengkorak kepalamu hangus dan otakmu mendidih. Apakah sakit itu masih sanggup kamu ceritakan pada sahabat dan kerabat?

PA       : Tidak, (takut)

OB       : jika itu kusebut sebagai hidup orang menderita, siapa diantara kita yang masih akan menuntut cerita dari hidup orang yang menderita? Lebih baik memang kita yang bercerita, jika tidak menjadi harapan, paling tidak menjadi hiburan bagi mereka. Mungkin hanya ada satu cara, kita kembalikan lagi kata siap dan tidak-siap dalam hidup, tidak untuk diperdebatkan tapi dipilih sebagai jalan.

OM      : setelah PA kamu buat mengamini semua yang kamu bicarakan, kenapa kamu ungkit kembali soal siap dan tidak-siap yang sudah kunyatakan tidak ada dalam keseharian kita. Aku lakukan itu supaya hidup kita tenang, nyaman dan tak ada lagi yang dipertentangkan.

OB       : baik kata siap atau tidak siap dihapus dari kamus hidupmu, pada akhirnya waktu akan melakukannya pada setiap keadaan. Bukan soal ada kata siap dan tidak siap tapi soal bagaimana kamu menyikapi waktu. Aku bertanya padamu, apakah dengan menghapus kata siap dan tidak siap dapat membuatmu berdiri  di luar waktu? Tidak. Karena kamu akan selalu ada di dalam waktu dan tidak berdaya di dalamnya. Karena kalau kamu salah menyikapin maka kata tidak-siap lah yang akan keluar pertama dari mulutmu yang payah itu.

OM      : sampai saat ini, saat setelah kamu selesai muntahkan omong kosongmu, aku tidak berfikir menarik kembali perkataanku atau sampai hati mengikuti petuahmu. Sebagaimana katamu, kalau hidup itu bukan bagaimana menjalani tapi bagaimana menyikapi. Dan inilah sikapku, memilih untuk menistakan kata siap dan tidak siap dalam hidup. (jeda) Jangan sia-siakan waktumu menungguku berkiblat kepadamu, karena itu tidak akan terjadi, kecuali hidup dan pilihanku sudah benar-benar sendiri mungkin aku akan berkiblat pada yang lain.

PA       : Aku tidak tahu apa yang kalian rasakan, meski kalian telah berbicara banyak hal seakan mengosongkan kata-kata bijak kalian. Ya.. aku mengerti sebagian dari omong kosong ini. Aku teringat temanku, tiba-tiba pesannya mengalir sangat jelas, pesan yang dia sampaikan setelah perjumpaan terakhir denganku sore itu. Dia berkata kalau setiap panggil pasti berharap jawab, setiap jawab memberikan nilai kemanusiaan tersendiri dalam hidup. Aku merasa jangan-jangan saat ini aku sedang dipanggil, dan ini yang dia sebut sebagai panggilan. Panggilan yang hingga detik ini belum aku jawab. Panggilan ini kita menyebutnya sebagai tanggung jawab. Sepertinya ini memang harus kupastikan. (jeda) Aku akan mendatangi undangan itu, kubuktikan kalau aku adalah orang yang berani memilih. Dan camkan baik—baik agar kalian tidak menyesal. Semakin kalian membicarakan hidup, semakin kalian akan menjauh darinya. (keluar)

OM      : Mau kemana kamu? (mencegat) Sudahlah tidak usah pura-pura pergi, tidak akan terjadi apa-apa sekalipun kamu disini dan tidak memilih jalan apapun. Itu hanya karena telingamu terlalu sering mendengarkan petuah-petuah hidup lalu otak dan hatimu ikut membenarkan. Padahal itu hanya pandangan hidup. (jeda) Kembalilah kesini. (PA keluar)

OB dan OM tenag sejenak.

OB       : PA sudah pergi.

OM      : Aku tahu.

OB       :  Tapi kamu tidak pernah tahu kenapa dia pergi.

OM      : Aku tahu.

OB       : Tapi benarkah kamu benar-benar tahu kenapa dia pergi? Kenapa dia meninggalkan kita dengan pikiran-pikiran kita di sini?

OM      : Apa itu mempengaruhi keberadaan kita?

OB       : Tidak. Kamu tahu apa yang kukhawatirkan? Aku khawatir kita salah berpikir, dan dia pergi karena itu.

OM      : (tertawa)

OB       : peristiwa permainan ini sebentar lagi akan selesai, segala yang tidak selesai dari kita akan terselesaikan seketika. kita tidak punya banyak waktu untuk tetap berseteru. Aku tegaskan kepadamu, sebelum semuanya terlambat sepertinya kita perlu bicara dari hati ke hati.

OM      : (teratawa) Adakah yang perlu kubicarakan dengan seseorang yang takut berpikir salah? Aku sudah tidak punya urusan dengan waktu, selesai atau tidak itu soal siap dan ketidak-siapan. Sedang hanya dirimu yang menghendaki keberadaan keduanya dalam hidupmu. Dan aku sudah melupakan semua itu. Aku hanya bisa menghargaimu tidak lebih. Pergilah, tidak usah membujukku karena itu hanya akan menyia-nyiakan waktumu.

OB       : (sinis) Kamu benar, buang-buang waktu bicara denganmu. Aku tidak ingin mengulang pembicaraan tadi. Aku hanya ingin kita berpikir lebih jernih sebab hidup ini tidak cukup kamu sederhanakan dengan mulutmu.

OM      : apa salah jika kusederhanakan untuk kebutuhanku, seseorang yang normal?

OB       : tapi fikiran yang salah akan membuatmu cacat.

OM      : (tertawa) jadi dengan berfikir benar, kamu berharap tubuhmu yang cacat itu akan pulih?

OB       : diam kau, siap dan tidak siap itu tidak ada hubungannya dengan kondisiku yang seperti ini. kamu pikir aku lelaki yang putus asa? Selalu merasa kurang dalam kondisi begini? Jika kamu berfikir seperti itu kamu salah besar. Pikiranku tidak dibatasi  tubuhku, meskipun keinginanku kadang terbentur batas-batas tubuhku. Tapi itu bukan alasan untukku berputus asa. Memang sekeras apapun manusia berfikir tidak akan memperbaiki tubuhnya yang cacat. Tapi setidaknya dengan berfikir benar aku tidak menjalani hidup cacat. Aku punya harapan-harapan dan kamu kira aku tidak siap? Kesiapan dan ketidak-siapan berada diluar tubuh dan pikiran tapi ia ada dan kita tidak bisa menghindarinya. Diam kau, mau bicara apalagi? masih punya alasan untuk mengejekku? Apa perlu kutelanjangi dirimu?. Diam disitu! akan kulepas pakaianmu hingga kamu telanjang di depanku. Kamu akan melihat sendiri bagaimana tubuh berbicara dan pikiran bekerja. Dan aku akan membuktikan bahwa orang yang beranggapan tubuh membatasi pikiran dan pikiran membatasi tubuh, dialah orang cacat.
SELESAI

Yogyakarta, 28 Februari 2016

*Ilham lahir di Sumenep, Madura. Selain menulis naskah drama, penulis yang pernah aktif di Teater ESKA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini juga produktif menulis puisi. Kini tinggal di Yogyakarta.

*Naskah ini disalin dari blog pribadi penulis: http://lailullham44.blogspot.co.id/2016/04/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_5.html

No comments:

Post a Comment