Saturday, 17 February 2018

Nol

Nol Dan Nol

DI DALAM sebuah ruang makan. Perjamuan makan malam sudah tersaji diatas meja. (Di dalam panggung tampak Manap dan Dus sudah berada di posisi siap makan).

Manap        : Emh,, Sepertinya enak?

Dus             : Ya. Dari baunya sepertinya enak.

Apakah kamu tahu siapa yang memberikan kenikmatan dan kelezatan ini?

Manap        : Ya aku tahu, tentu koki yang memasak ini.

Aku suka yang itu (menunjuk hidangan yang ada diatas meja).

Dus             : (diam, ada sesuatu yang dipikirkan)

Manap        : Dus, kalau kamu suka yang mana?

Dus             : Aku….

Manap        : Pasti suka yang ini.

Dus             : Bukan.

Manap        : Yang ini?

Dus             : Tidak. Aku lagi berfikir yang berbeda dengan pernyatanmu barusan. Pasti bukan koki yang memberikan ini semua.

Manap        : Lantas siapa menurutmu? Kau sering kali mencium bau seperti ini bukan? Rasanya memang lezat bukan main. Setiap orang tergoda untuk mencicipinya. Kecuali orang yang sedang sakit tenggorokan. He. He

Dus             : Tugas Koki hanya mengolah, bagaimana dengan bahan-bahan dasar ini di dapat dan kemudian menjadi seperti ini? Pasti ada yang menciptanya. Tapi…

Manap        : Ah sudahlah, tugas kita disini hanya menyantap hidangan yang tersaji. Lihat, dia sudah menggoda kita. Melambai-lambai meminta kita untuk menelannya sampai mutah. Ha. Ha.

 Mereka lalu memakan hidangan yang sudah tersaji sedari tadi. Manap tampak menikamati betul. Sebentar kemudian, belum ada tujuh suapan Dus kembali dihantui pertanyaan seputar pencipta nikmat tersebut. Melihat Dus berhenti makan, Manap kembali bersuara. Seolah ia paham dengan apa yang sedang berkecamuk di benaknya.

 Manap        : Dus, apakah kamu tahu kalau aku yang menentukan perihal ini nikmat atau tidak? Aku yang selalu berkoar-koar mengkampanyekan kepada orang-orang.  “Saudara-saudara yang se-iman maupun yang tidak. Mari kita mencari, berburu dan mengumpulkan pernak pernik dunia yang tiada tara. Jangan sia-siakan hidup anda sekalian sengsara dan menderita”. (terawa).

Lalu sebagian dari mereka mulai resah, bimbang dan ragu-ragu. Mereka yang semula hidup sederhana, sedikit demi sedikit mulai mencicipi anggur kesenagan. Sampai saatnya tiba, mereka mabuk dan terjebak di belantara tak tentu arah. (Tertawa)

Kamu tahu apa yang mereka inginkan? Tak disangka, mereka menginginkan tambahan mulut tiga lagi. Telinga, mata, hidung, sepuluh perut dan kelamin sebanyak mungkin. Kamu tahu kenapa? Agar mereka bisa puas mencicipi segala nikmat yang tersebar dari segala arah penjuru mata angin. barat, timur, utara dan selatan. (Tertawa puas)

Dus             : Mulutmu memang ular berbisa. Makhluk menjijikan, melilit tanpa ampun dan menyemburkan racun kebinasaan peradaban manusia.

Manap        : Bocah tengek! Tau apa kamu perihal semacam itu? Toh, mereka enjoy dalam buaian mimpi-mimpi keangkaraan dan syahwat belaka.

Tiba-tiba Mirsani muncul ...

Mirsani      : Aku bersaksi bahwa segala apa yang di ucapkan Manap benar adanya….

Dus             : Sebenarnya apa yang mereka cari?

Mirsani      : Orang-orang berbondong-bondong  manuju puncak ego di ujung nan jauh di sana. Tak peduli usia. Dewasa, pemuda, wanita sama saja. Bahkan mereka saling bunuh-membunuh demi tercapainya semua impian.

Dus             : Apa mereka tidak sadar dan bertanya: Siapa yang menebar kenikmatan dan kesenangan pada mereka? Kemana para penyuka sepi bersembunyi? Dimana para penyuka kebenaran?

Manap        : Mereka masih tertidur pulas di goa yang dikultuskan bersama para golongannya?  Seolah tak mau tahu bencana kekeringan pengetahuan sedang melanda muka bumi ini.

Dus             : Orang-orang mesti diselamatkan dari bencana pembodohan, keangkaramurkaan dan penjajahan secara halus.

Manap        : Apa yang bisa kamu perbuat? Para iblis telah membuatkan lingkaran ingkar di hati dan pikaran mereka. Otak meraka telah disusupi pikiran-pikiran yang mendamba kekuasaan. Hati nurani mereka juga tertutup kabut tebal gemerlap dunia. Ha. Ha

Mirsani       : Virus ketamakan bersemayam dalam gumpalan daging mereka. Mengalirkan darah amarah hingga membuncah. Mengabaikan hak sesama. Tujuanya sederhana, keuntungan yang melimpah ruah.

Entah dari mana asalnya, daging-daging bau busuk menyeruak. Barangkali dari atas meja bersama hidangan makan malam

Manap        : Para manusia berperut sepuluh itu minum dari kucuran keringat jelata. Mengerat daging mereka hingga sekarat. Mulutnya menyemburkan api kedengkian dan kesombongan.

Mireng        : Aku mendengar jerit gadis diperkosa. Jeritannya memekikkan telinga. Bau anyir darah mengalir bak sungai. Tapi raut wajah mereka ceria, bangga dan gembira seolah tak terjadi apa-apa. Kebusukukan berubah menjadi kewajaran. Oh, apa geranagan yang terjadi? Sumbat telinga kanan dan kiriku dengan cotton buds kedamaian.

Dus             : Setiap waktu matahari membusurkan ribuan anak panah berkah ke muka bumi. Jika fajar menyingsing, ia menjelma embun. Setiap tetesnya menyejukkan dahaga pengembara.

Manap        : Akulah penyambung nafas panjangmu. Bukan dari matahari, juga bukan dari perut bumi.

Mireng        : Kupingku juga disesaki denging para remaja yang sedang asik menikmati minuman berbau surga. Pikiran dan hati mereka di baluti cahaya lampu warna-warni. Hentakan musik menggiring mereka melayang ke angkasa jauh. Setelahnya mereka bosan dan kesepian.

Mirsani       : Kenapa mereka merasa bosan dan sepi? bukankah masih banyak hal yang belum mereka gapai? Wahana kesenangan tersebar dimana-mana.



*Waris Lakek lahir di pesisir timur Pulau Madura. Alumnus Teater ESKA UIN Suka Yogyakarta. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat. 

*Naskah ini pernah dipentaskan di Gelanggang Teater ESKA UIN Suka Yogyakarta pada 2015 yang lalu.

No comments:

Post a Comment