Sunday, 18 February 2018

Neosamting (Blues Tanpa Minor Harmonik)

Neosamting Kelas Pekerja

SEBUAH ruangan dipenuhi kerajinan tanah liat, kerajinan tampak setengah jadi. Alat-alat berserakan. Semua berantakan di panggung. Dua orang aktor duduk beraktifitas, sambil memegang satu kerajinan yang belum jadi.



Min     : Masalah apa yang kamu pikirkan sehingga tidak menyelesaikan yang kamu kerjakan ? ingat! Jangan terlalu banyak melamun, nanti kerasukan jin.

Plus     : Aku mulai berpikir. Berpikir menemukan hal baru dari wujud ini (senyum pasti, sambil menimang-nimang benda yang dipegangnya).

Min     : Yang kamu kerjakan?

Plus     : Iya.

Min     : Pengembangan. Ya, lebih tepatnya pengembangan. Pengembangan  dari sesuatu yang telah ada. (Berpikir) Sesuatu yang benar-benar baru itu tidak ada. Dan Itu mustahil.

Plus     : Hey, jangan begitu! Otak manusia itu luas, Min. Tidak terjangkau. Tidak bisa dibaca oleh siapapun. Seluas apapun pengetahuan manusia, sejeli apapun pendengaran manusia, setajam mata elangpun penglihatannya, belum cukup untuk membaca manusia.  Manusia bisa berpikir. Manusia berpikir tentang dunianya  tidak seperti hewan yang hanya makan tidur – makan tidur.

Min     :  Eeeeeh…. kamu itu, sudah mau menjadi Tuhan? Seperti kamu bisa saja. Buktikan! sesuatu yang baru dan hasil pemikiran baru,  itu dua hal yang sangat berbeda.

Plus     : Sebentar lagi kamu akan………. (Seperti berpikir. Wajah Senang. Mengagumi dan menimang benda di tangannya.) Kok bisa ya? Bagaimana mungkin? Melihat sesuatu yang benar-benar berbeda. Sebuah penciptaan baru. Penemuan baru. Dimana di dunia ini belum pernah ada sebelumnya. Pertama kalinya, seorang plus menemukan yang baru dan revolusioner. ( sambil ketawa ).

Keduanya sibuk pada aktifitasnya masing-masing. Min fokus menekuni pekerjaannya, sementara Plus sibuk mengotak-atik pekerjaannya untuk menemukan yang baru. Semua peralatan pendukung dikumpulkannya.

Min      : Sudahlah, kamu jangan berpikir terlalu jauh! fokus saja pada kerjaanmu biar cepat selesai. Lupakan imajinasi yang bercokol di kepalamu. Itu hanya membuat pekerjaanmu sia-sia.

Plus     : (Menatap Min) Aku akan menekuninya. Dan tidak hanya sekedar selesai, tapi juga istimewa.

Min      : Akan menjadi sebuah penciptaan kalau kamu mengerjakan. Menjadi sebuah penemuan kalau kamu menghasilkan. Ada bukti. Nyata. Bukan hanya ada dalam pikiran. (lalu saling diam, tidak ada obrolan diantara keduanya. Berapa detik kemudian, Min benar-benar bertanya penasaran).

Kenapa harus menemukan yang baru? Apa itu yang baru? Perlukah yang baru dalam sebuah penciptaan? Apakah yang baru itu seperti DUNIA pertama kali tercipta dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada?

Apa yang kamu inginkan itu hanya membuatmu kepalamu pusing. Di bawah matahari tak ada yang baru. Itu omong kosong.

Plus     : Itu penting. Untuk memperbaharui zaman. Sebuah zaman yang akan mengingat kita terus. Sepanjang masa. Sepanjang sejarah. Selama dunia masih  utuh, nama kita akan abadi seperti Shakespeare, Goethe, Newton.

Min      : Abadi ?

Kalau menghasilkan yang baru? (dengan nada bertanya-tanya, sambil memperhatikan yang ia pegang seolah-olah ia berpikir) Yang seperti apa?  (sambil ketawa) Kamu yakin ada yang baru dibawah matahari? Kalau benar yang BARU itu ada apakah ada yang ABADI?

Plus     : Kalau aku sudah tahu rahasia ini, pasti sudah aku ciptakan. Sudah aku lakukan. Sudah aku temukan.

Min      : Aneh! Apa sih yang ada di pikiranmu?

Plus hanya membentangkan kedua tangannya. Mengekspresikan apa yang tidak bisa ia bahasaka. Betapa luas pikiran manusia. Seluruh planet bisa masuk dalam kepala manusia. Sementara Min hanya melongo, ingin menangkap apa yang Plus maksud, dan meniru gaya plus memperagakan tangannya.

Min     : Apa ini ?

Plus     : Aah, kenapa sih aku tidak bisa membahasakan.

Min     : Kamu sudah benar-benar lupa. Kamu seorang kreator hebat. Kenapa sekarang hari-harimu kau habiskan untuk hal-hal konyol? Imajinasi itu perlu untuk orang yang pernah sendiri dalam hidupnya.

Plus     : Kenapa kamu begitu banyak melewatkan imajinasi yang begitu indah ini ?

Min      : Berhentilah, berhentilah berimajinasi!.

Plus     : Imajinasi itu sesuatu yang mengalir dengan sendirinya. Kalau segalanya terlalu mudah, barang kali semua orang sudah melakukannya. Semua orang namanya dicatat. Dan sudah tidak berharga lagi.

Min     : Meskipun kamu kelihatan tolol di depan semua orang?

Plus     : Bukan itu yang aku pikirkan. Bukan itu yang aku maksud. Tepi sesuatu yang besar. Barangkali sesuatu yang melebihi dunia itu sendiri. Sesuatu yang akan mengubah wajah dunia. Dunia yang sebenarnya sudah kering. Monoton. Tidak imajinatif.

Min     : Sesuatu yang besar itu terjadi, di mulai dari hal yang kecil. Dan keajaiban hanya omong-kosong bagi orang yang kurang kerjaan. Tak ada yang tiba-tiba di dunia ini. Kita hidup di dunia yang realistis. Bukan hidup di dunia imajinasi yang kita buat sendiri.

Min hanya memandang plus, tanpa pembicaraan suasana jadi sunyi, dengan pekerjaannya masing-masing.

Plus     : Barangkali ini kebiasaan burukku, dan tidak semua orang bisa mengalahkan kebiasaannya, termasuk aku.

Dari pekerjaanya yang mulai tadi, Plus sudah menghasilkannya, lalu memperlihatkannya pada Min bentuk vas bunga, bahwa ia sudah menemukan keindahan yang ia inginkan selama ini.

Plus     : Lihat! Lihat! aku sudah melakukannya. ha ha ha, indah sekali. (sambil menunjukkan vas bunga itu) Di sini akan tumbuh bunga-bunga yang menghasilkan oksigen untuk kita hirup (sambil peragakan mencium bunga) segar! Di sini akan hidup kupu-kupu. Beranak-pinak membangun peradabannya seperti manusia. Mungkin di dalam bunga sini ada sebuah hotel. Atau mungkin supermarket. Atau sesuatu yang belum pernah terbayangkan.

Min berjalan mendekati Plus dan mengamati benda yang dibuat Plus.

Min     : Hey, sudah berapa banyak waktu yang telah kamu habiskan? Ini sudah pernah terjadi. Sudah banyak orang melakukannya, dengan fungsi dan tujuan yang berbeda-beda.

Ada yang untuk naruh bunga seperti yang kamu bayangkan.

Ada yang untuk naruh air untuk mereka mandi dan minum.

Ada yang untuk naruh receh untuk investasi masa depannya.

Sudah ada banyak, tapi dengan bentuk yang berbeda-beda. Tapi intinya sama, sebuah tanah yang berbentuk bulat dan ada terowongan di dalamnya, kosong dan penuh kebohongan.

Plus kelihatan putus asa, karena belum juga mendapatkan hasil, lalu mundar-mandir di atas panggung merespon yang ada di sekelilingnya. Diiringi musik mengalun campur kecamuk yang bikin pusing, lalu ia duduk merenung mencari inspirasi baru, layaknya wajah putus asa tanpa harapan.

Min     : Kamu mencari wahyu. mencari keajaiban. Tidak ada kata ajaib tanpa kamu melakukan, sesuatu itu besar karena usaha yang besar. Bukan omong-kosong.

Plus     : Mungkin kalau kita berdua yang melakukannya akan bisa. Kita butuh Berkolaborasi dalam sebuah angan, imajinasi, obsesi, hasrat, biar nama kita dikenang sejarah. Kita akan abadi. Hanya dengan sedikit imajinasi, lalu membentuknya. Sebuah penciptaan besar menanti kita. Kita akan bisa melakukan apa yang kita mau.

Min     : Tidak. Tidak. Aku aku tidak mau terjerumus dalam bayanganmu itu. Berhentilah berimajinasi, karena itu akan menghalangi jalanmu. Membuatmu mati perlahan-lahan. Membuatmu hidup dalam dunia yang kamu bayangkan.

Plus       : Ayolah satukan imajinasi kita?

Min        : Satukakan imajinasi, katamu?

Plus       : Ia. Kita berkolaborasi. Kita kerja sama mewujudkan apa yang kita impikan.

Min        : Tidak. Tidak. Aku tidak mau.

Keduanya eksplorasi panggung, mengambil bahan yang akan jadi kerajinan, instrument musik mengalun mengiringi aktivitas mereka yang tak kunjung usai, ditengah aktivitas mereka, Min kerkata.

Min      : Sudahlah… Kalau bentuk baru yang kamu pikirkan itu bisa terwujud, tapi masih dengan imajinasimu yang tidak jelas itu, lalu dalam bentuk lamanya sebagai referensimu seperti apa? Karena yang aku tahu hanya dalam bentuk sekarang. Kalau kamu masih menggunakan referensi, itu disebut plagiat? Lalu kalau bentuk plagiasi disebut pembajakan, bentuk kreativitas orang lain disebut apa? Karya? copy paste ? atau apa?

Keduanya sibuk masing-masing.

 Min      : Kamu sudah melupakan satu hal, tidak mau mengkaji bentuk-bentuk terdahulu, bentuk-bentuk lama seperti apa. Seharusnya kamu lihat, ada fungsi baru atau tidak untuk saat ini, butuh bahan baru atau tidak. Butuh pembaharuan atau tidak. Itu yang perlu kamu fikirkan.

Plus tidak menghiraukan yang Min ucapkan, ia tetap fokus pada aktivitasnya. Tak ada obrolan. Plus tetap saja memainkan imajinasinya yang liar. Sedangkan Min sudah melanjutkan pekerjaannya.

Plus     : Terkadang aku seperti tinggal dalam khayalan. Aku seperti ini hanya ingin menunjukan bahwa aku berbeda dengan orang lain. Kalau semua orang pikirannya masih sama, maka akulah yang istimewa. Kadang aku merasa pintar. Barangkali dipengaruhi oleh imajinasi yang liar ini (dengan nada galau). Terkadang aku merasa mengerti suatu hal yang orang lain tidak mengerti.

Min     : semua orang istimewa. Yang istimewa pun bermula dengan yang sederhana. Dari sesuatu yang terkadang dianggap dangkal. Remeh-temeh. Keseharian. Dan akan indah pada suatu ketika. Barangkali seperti yang kamu impikan itu.

Plus     : Jangan coba menghiburku.

Min     : Iya, yang kamu pikirkan keistimewaan dan keindahan, tapi pikiranmu sendirilah yang membuatnya dunia lebih kacau. Dunia indah apa adanya. Dengan segala persoalannya. Kamu tidak perlu menjadi nabi.

Sekarang Plus sudah mau merancang patung, dengan menyusun cetakan tanah yang sudah tercetak, diiringi musik yang melambangkan sebuah penciptaan dan kejayaan.

Plus     : Serialis itukah pikiranmu, sehingga tidak ada satu alasan yang kamu berikan untuk membantuku?

Min      : Barangkali aku lebih suka memilih tidak jadi siapa-siapa. karena sejak semula dunia begitu adanya.

Plus     : Berikan satu alasan lagi.

Min     : Karena dunia ini NYATA.

Plus     : Sesederhana itu alasannya sehingga sedikit saja berimajinasi kamu tidak bisa?

Min     : Apa yang harus aku lakukan? Bukankah aku sudah melakukan (sambil menimang yang ia kerjakan)

Plus     : Bukan seperti itu. Kamu harus menemukan yang baru. Tidak sekedar mengulang-ngulang. Betapa membosankan.

Min     : Seperti yang kamu imajinasikan?

Plus     : Barangkali berbeda.

Min     : Hari-hari yang melelahkan, membuat seseorang bertanya-tanya, apa yang harus dilakukan?

Plus     : Oke, mungkin kita hanya berandai-andai. Tapi ingat, tidak melakukan apa-apa bukan berarti berdiam diri disini.

Min     : Kalau begitu, hiduplah dalam duniamu sendiri.

Plus     : Tidak, itu dua hal yang berbeda.

Min     : Dua hal yang berbeda. Bagus, tapi itu hanya virus yang berkecamuk dalam kepalamu.

Plus     : Bukan seperti itu, kita harus menemukan yang baru.

Min     : Bukankah aku sudah melakukan.

Plus berputar sambil menyusun tanah liat yang sudah dicetak yang sudah dipegangnya mulai tadi, ia akan membuat patung, tapi masih setengah jadi yang sambil minta pendapat Min dan meminta bantuannya untuk memegangnya, lalu musik mengiringi aktifitas mereka.

Plus     : Min, Min, aku sudah menemukan! Kemari!, Tolong bantu aku (Min melangkah mendekati plus, dengan pendangan heran).

Min     : Apa yang akan kamu lakukan dengan bentuk ini.

Plus     : Aku akan membuat keindahan dengan ini. Yang sudah lama menjalar di otakku seperti yang kamu katakan.

Min     : Semacam estetika?

Plus     : Barangkali seperti itu! Pegang ini!

Min hanya ngangguk-ngangguk, karena belum tau benda itu mau jadi apa, setelah di tengah prosesnya Min mengomentari plus, bahwa ia pernah melihatnya.

Min     : Bentar (ia termenung sebentar). Sepertinya aku sudah pernah melihatnya. Barangkali bentuk seperti ini adalah pahlawan (ia diam sebentar). Ia, ia, ini adalah pahlawan barang kali yang ada di fikiranmu adalah ingin jadi pahlawan. Dikenang seperti mereka. Tapi ini sudah ada.

Plus     : Iyakah? Tidak! bukan itu yang aku pikirkan. Bukan pahlawan. Aku tidak ingin jadi pahlawan. Itu dua hal yang sangat berbeda dengan pikiranku. Min, kenapa kau tidak mengerti?

Min     : Tapi ini yang kamu hasilkan dan ini sudah ada.

Plus     : Tapi aku hanya ingin menemukan yang baru.

Min     : Tapi ini sudah ada. Pahlawan yang diabadikan namanya. Pahlawan yang dimonumenkan. Pahlawan yang dimuseumkan.

Plus     : Tapi bukan itu yang aku pikirkan.

Min     : Tapi faktanya begitu.

Keduanya mulai menyusun nyusun tanpa tajuan yang pasti, seperti orang bingung mencari ide untuk menemukan yang baru, dengan aktifitas menyusun dan bongkar- menyusun dan bongkar begitulah kerjanya.

Plus     : Tapi aku takkan berdiam diri. Sampai aku menemukan yang baru.

Min     : Apakah karena aku tidak mau berpikir untuk menemukan yang baru, kamu anggap aku berdiam diri, berapa lama lagi kamu lakukan ini?

Plus     : Sampai aku berhasil.

Min     : Kamu terus mengatakannya lagi, dan lagi. Tapi itu hanyalah omong kosong. Tidak ada yang baru di bawah matahari ini, Plus. Semua bermula dari sesuatu yang telah ada.

Plus     : Kumohon jangan buat segala hal yang telah aku lakukan jadi sia-sia.

Min     : Berhentilah berpikir. Kamu hanya terjebak dalam labirin yang kamu buat sendiri.

Plus     : Berhentilah menasehatiku Min, sebab kamu hanya diam. Tak lebih.

Min     : Lagi-lagi aku katakan, apakah karena aku tidak mau berpikir sepertimu kamu anggap aku berdiam diri.

Plus     : Bisakah barang sebentar saja kamu tidak menasehatiku dengan kebijakanmu.

Min     : Hidupmu hanya penuh dengan fatamorgana. Penuh andai-andai. Seolah-olah.

Plus     : Jangan pernah munculkan perkataan itu lagi. Aku tidak suka. Temukanlah yang baru, itu saja.

Min     : Aku tidak percaya kamu menemukannya. Dan aku tak percaya di bawah matahari ada yang baru.

Plus     : Oh jadi..???????

Min     : Coba kamu pikir. Suatu hal yang baru ? Benda yang bulat itu, yang hanya bolong dan berisi kebohongan. Benda yang menyerupai pahlawan itu, karena kamu ingin dikenang.

Terus kamu mau buat apa lagi. Mau buat kotak-kotak untuk naruh bajumu. Buat meja. Buat benteng sebagai pertahanan. Mau buat apa lagi? Sumua sudah ada. Bermacam-macam bentuk, dari yang halus ke yang kasar, dari yang kecil ke yang besar, dari yang rata ke yang lancip, sumua sudah ada.

Plus     : Aku tidak menyuruhmu, jika kamu melakukannya akan lebih baik.

Min      : Kenapa harus menemukan yang baru kalau yang sudah ada itu baik?

Plus     : Aku tidak menemukan alasan untuk itu.

Min      : Sekarang kamu punya kata-kata untukku?

Plus     : Sebuah dunia yang menghargai pengetahuan dan penemuan. Bebas dari keangkuhan dan kebusukan. Untuk itulah aku melakukannya, Min.

Min      : Kamu hanya ingin tahu apa kemampuanmu? Apa kemampuan kita? Karena itu kamu memaksaku.

Plus     : Bisakah barang sebentar saja, kamu membantu menguraikan imajinasiku ini?

Min      : Katakanlah bahwa aku melakukan ini hanyalah karena tekanan?

Keduanya berkreasi membentuk sebuah bentuk yang entah mau jadi apa jadinya. Saling mengotak-atik tanah. Membentuk sebuah bentuk. Bongkar pasang-bongkar pasang. Sambil eksplorasi panggung lalu melihat bentuk. Lagi-lagi tidak sesuai dengan keinginannya. Musik mengikuti intensitas mereka. Kira-kira dua menit melakukannya, Min membanting dan menendangnya karena menyesal belum mendapatan apa yang Plus inginkan.

Min     : Sudah berapa banyak waktu yang telah aku sia-siakan (menyesal, ingin menangis, kesal semua campur aduk)

Sunyi, tidak ada obrolan, tidak ada musik, suasana jadi hambar

Plus     : Kuburlah-kuburlah diriku Min, mungkin suatu saat nanti ada orang yang menemukannya, pada zaman yang berbeda, dalam sejarah yang berbeda, mungkin di dunia yang berbeda pula.



selesai

*Muhammad Saleh lahir di Sumenep, Madura. Dirinya tercatat sebagai Alumni Akademi Perikanan Yogyakarta yang sangat menyukai dunia pertunjukan. Naskah ini pernah dipentaskan di Gelanggang Teater ESKA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2015. Sekarang menetap di Sumenep, Madura.

No comments:

Post a Comment