Tuesday, 27 February 2018

Mereka Terbunuh Malam Itu atau Hantu dari Dasar Laut

Hantu Dasar Laut

TOKOH:
Kapten
Robi
Maswida
Perempuan
Lelaki
Teman 1
Teman 2
Teman 3
BABAK I

Setelah orang-orang itu menenggelamkan kapal, di pulau kecil dan malam yang menggigil, Robi sibuk menata beberapa bekas papan untuk dijadikan tempat tinggal sementara. Sedang Kapten mengambilkan papan kayu untuknya.

ROBI: Kau sudah tahu apa yang kupikirkan, Kapten. Doa tidak bisa sendirian.

KAPTEN: Ini mimpi. Nanti kita akan terbangun, atau akan ada awak lain yang membangunkan kita. Jadi kau tenanglah. Banyak perempuan yang tidak menangis.

ROBI: Andai tidak ada persekongkolan itu, …

KAPTEN : (memotong) Sudahlah, Rob. Kalau kau menyalahkan dirimu sendiri, aku akan menyalahkanmu. Aku tidak menyalahkanmu. Kau tahu itu. (diam) Laut memang dalam, dan pikiran kita yang dangkal. Berdoalah.

ROBI: Tapi doaku tidak bisa sendirian.

KAPTEN: Dan aku tidak percaya Tuhan, Robi. Jangan memaksa. Kau sudah tahu itu. Bisakah kau sedikit tenang, atau lihatlah bintang-bintang itu? (menunduk, kemudian menghela napas, berat)

ROBI: Terlalu besar, Kapten. (Kapten mencari papan yang pas dan mereka terus bekerja)

KAPTEN: Baiklah. Aku akan menemanimu berdoa, Robi.

ROBI : Bukankah kau tidak percaya Tuhan, Kapten?

KAPTEN:Di laut aku percaya pada langit, Robi. Tidak bisa kubayangkan jika laut seluas ini tidak dinaungi langit. Kemana kita akan pergi, dan kemana akan pulang? Dunia ini mungkin sudah menghapus kita kalau langit tiada. Kau tak perlu ajari aku. Percayalah, Robi, kita akan baik-baik saja.

ROBI: Sayang aku tidak percaya kau, Kapten.

KAPTEN:Apa?

ROBI: Aku tidak pecaya dirimu.

KAPTEN: Apa?

ROBI: Aku tidak percaya dirimu, Kapten!

KAPTEN: Kau bilang apa pada kaptenmu, Robi?

ROBI: Kapal kita tenggelam karena Kapten tidak bisa dipercaya!

KAPTEN:Jangan salahkan aku, Robi. Salahkan Negara karena kapal ini tenggelam!

ROBI:Tapi Negara tidak pernah hadir dalam perjalanan laut kita, Kapten. Yang hadir adalah dirimu. Dirimu, Kapten. (diam)

KAPTEN: Membosankan.

ROBI:Ya, Kapten. Memang.

KAPTEN:Bicara berdua sangat membosankan, Robi.

ROBI:(meninggalkan papan-papan itu) Aku pergi, Kapten.

KAPTEN: Kemana?

ROBI: Kau bisa mati jika tidak makan.

KAPTEN: Jangan berjalan ke kanan, Robi. Banyak kawanan perompak di sana. Ke kiri sedikit lebih aman.

ROBI : Di situ tidak ada perkampungan, Kapten. Meski ada, penduduknya banyak yang ditumpas. Ah, sudahlah. Kapten jangan terus mengaturku. (Robi pergi)

KAPTEN: Hidup baru dimulai. Aku akan bicara sendirian, dan angin mendengarku, tapi tidak engkau. Setiap aku bicara sendirian, kuawali dengan “pada zaman dahulu kala” atau “alkisah pada suatu hari”. Tetapi pikiranku sedang kacau. Aku tidak bisa menjangkau yang lampau. Pada zaman dahaulu kala, aku tidak dapat mengingatnya. Alkisah pada suatu hari kapalku karam, dan apalagi yang berarti pada suatu hari nanti. (seorang lelaki muncul dari dalam kabut, sementara Kapten terus bicara) Dengarkan. (melepas bajunya) Aku punya banyak luka di tubuhku. Istriku perempuan cantik dari pulau Garam, dan ia seorang pengkhawatir. Dulu aku membuatnya menangis. ‘Jangan pergi ke laut, ia akan membuatmu terluka.’ Aku tidak percaya. Kau tahu, laut bisa menyembuhkan lukamu. Pertama kali, mungkin kau memekik, selanjutnya kau tidak akan merasakan apa-apa. Istriku memekik, ‘Aku tidak mau berpisah denganmu, Mas!’ Ah, kenapa aku bisa lupa, bahwa luka laut adalah perpisahan. Itu yang dikhawatirkan istriku. Tetapi aku selalu bisa kembali ke istriku, dan laut tidak pernah meninggalkan luka di tubuhku. (lelaki itu mendekat ke arah Kapten)

MASWIDA : Kau kah itu Kapten?

KAPTEN : Siapa kau? Aku sedang hidup sendirian di sini.

MASWIDA : Kau masih hidup, Kapten?

KAPTEN : Kau mengenalku? Oh, duduk saja. Kau jangan mendekat. (diam, kemudian melanjutkan) Hingga tibalah hari itu, dimana langit terhampar dalam bahasa yang murung. Burung-burung terbang kacau, seperti melemparkan kerikil berapi ke kapalku. Bagai muncul dari perut bumi, mereka menghantam kapalku dengan meriam dari sisi kanan. Kehidupan tiba-tiba mengecil. Aku terluka bukan oleh laut, tapi orang-orang sialan itu. Mereka mengerikan. Setelah itu aku ditelan laut. Kudengar gema ketakutan istriku bertahun-tahun lalu. ‘Aku takut kamu mati di sana, Mas. Dan kamu belum memberiku anak.’ Tetapi, ini bukan masalah pribadi atau satu keluarga. …

MASWIDA : (memotong) Kapten, kau bisa melihatku?

KAPTEN : (tanpa menoleh) Kau mengganguku, sialan. Aku melihatmu. Apa tujuanmu ke sini?

MASWIDA : Dengar, Kapten, …

KAPTEN : Cepat katakan apa tujuanmu ke sini, dan siapa yang menyuruhmu? (Kapten mengambil pistol dan mengarahkannya ke Maswida. Kapten berusaha berdiri,
namun jatuh.)

MASWIDA: Kapten! (Ia berlari mau menolong Kapten. Kapten menembak, Maswida menghindar dan tersungkur di pasir) Kau nyaris membunuhku, Kapten. Buang senjatamu. Aku tidak akan membunuh Kapten. (Sembari mengangkat tangan)

KAPTEN: (menangis) Dia ditugaskan untuk membunuhku malam itu. Ketika sebagian kapalku mulai hancur, dia melompat. Mau menolongku. Kukira begitu. Ternyata ia mau mengambil kepalaku dan mendenganya ke laut. Jika ini masalah pribadi, barangkali aku rela mati di tangannya. Dia tidak mengenalku dan aku tidak mengenalnya. (berhenti, dan tiba-tiba menembak Maswida. Dua letusan peluru memenuhi langit)

MASWIDA: Kapten, ini aku, Maswida! (sekali lagi terdengan letusan tembakan. Kali ini bukan dari Kapten. Maswida mengerang betisnya berdarah. Dari belakang, Robi menempelkan pistol di kepala Maswida)

ROBI: Kau lihat, kau berhadapan dengan siapa? Siapa yang menyuruhmu? Atau berapa harga
kepala botakmu ini?

KAPTEN : Kau kah, Robi?

ROBI : Iya, Kapten. Kau tidak apa-apa?

MASWIDA : (masih mengerang) Robi?

KAPTEN : Aku lapar, Robi. Aku tidak bisa sendirian. Dia mau membunuhku.

MASWIDA : Tidak, Kapten. Aku tidak mau membunuhmu.

KAPTEN : Kau mau menolongku, tapi kemudian kau akan membunuhku! (kembali mengokang pistolnya)

ROBI: Diam kau! Atau kuhancurkan kepala yang tidak berharga bagi Negara ini!

MASWIDA: Aku Maswida, Robi.

ROBI : Maswida?

MASWIDA: Iya. Aku masih hidup, Robi.

ROBI: Kalau kau benar, Maswida, kenapa kau mau membunuh Kapten? Itu tidak masuk akal
seorang Maswida mau membunuh Kapten.

MASWIDA : Jangan banyak bicara, Robi. Gunakan matamu untuk melihatku, karena mulutmu tidak bisa mengetahui orang lain!

ROBI : Oh, jadi kau benar Maswida yang galak itu. Kenapa kau masih hidup? (tetap menempelkan pistolnya)

MASWIDA : Jangan bercanda, Robi.

ROBI : Aku serius.

KAPTEN : Kau apakan dia dan apa yang kalian bicarakan?

ROBI : Biar kuurus dulu lelaki botak ini, Kapten. (kepada Maswida) Katakan!

MASWIDA : Aku melompat ke laut setelah Kapten melompat. Aku kehilangan jejak lelaki itu, sepertinya dia juga melompat. Aku juga kehilangan jejak Kapten, hingga akhirnya aku sampai di pulau ini.

ROBI: Dia Maswida, Kapten.

KAPTEN : Maswida?

MASWIDA : Iya, Kapten.

KAPTEN : Kau harus bicara lebih keras jika bicara padaku, Wida.

MASWIDA : Baik, Kapten. (setelah itu mereka bertiga makan)

KAPTEN : Robi, bisakah kau memeriksa apa ada kapal nelayan lain?

ROBI : Kita masih makan, Kapten.

KAPTEN : Aku kuatir kapal-kapal mereka juga dihancurkan seperti kapal kita. Kalau kau selamat, bisa pulang ke pulang ke Subang, dan kau, Wida, jika bisa pulang ke Semarang, apa yang akan kalian lakukan? Aku sudah tidak punya kapal. Ini semua salahku. Mereka berkata, ‘Kenapa kau pakai alat ini? Apa kau tidak tahu aturan?’

MASWIDA : (meniru karakter Kapten) ‘Saya tahu aturan, tapi saya melanggar.’

KAPTEN : ‘Kenapa melanggar?’

MASWIDA : ‘Karena peraturan kalian akan membuat kami miskin dan kalah bersaing! Itu peraturan macam apa? Peraturan yang berpihak kepada siapa?’

KAPTEN : ‘Kau membantah?’

MASWIDA : ‘Tidak, Pak. Saya tidak membantah, tapi saya terluka. Dan perlu Anda tahu, Pak, seekor harimau yang terluka tidak menangis, tapi menggigit. Saya tidak membantah.’ Setelah itu aku tidak punya kapal. Ini bukan masalah pribadiku, aku memikirkan kalian, dan istri mereka yang terbunuh malam itu. Kalian mau jadi apa setelah pulang ke rumah? Aku seperti mendengar jeritan hantu-hantu dari dasar laut.

KAPTEN : ‘Kapal ini tenggelam karena dirimu, Kapten. Kapal ini tenggelam karena dirimu, Kapten!’

MASWIDA : ‘Dan, ada yang bertanya kepadaku,’

KAPTEN : ‘Kelak apa takdir kami di laut yang dalam ini?’

ROBI : Sudah, Kapten. Kau juga, Maswida! Kita masih makan.

KAPTEN : Akan jadi apa kelak jika kau pulang ke rumah?

ROBI : Aku punya pistol, Kapten, dan aku akan jadi begal! Sudahi sandiwara ini, Kapten. Aku takut. Aku takut pulang ke Subang, tapi aku tidak takut jadi begal dan aku berani mengacaukan peraturan mereka kalau Kapten mau.

MASWIDA : Robi, kita sedang makan.

ROBI : Kurang ajar kau, Mas. Dari tadi kita sedang makan, bukan main film. Kau pikir kita selalu harus bersandiwara?

MASWIDA : (menjadi dirinya sendiri, tidak lagi meniru Kapten) Kapten trauma, Robi. Dan trauma membutuhkan sandiwara.

KAPTEN : Bicara apa kalian? Bicara lebih keras biar aku juga mendengarnya.
MASWIDA : Berembuk untuk mencari bantuan, Kapten. Aku pergi sebentar.

ROBI : Lukamu, Mas?

MASWIDA: Aku akan menembakmu nanti saja, Robi. (Maswida pergi dengan luka peluru di betisnya)

ROBI: Berikan papan itu, Kapten.

KAPTEN : Makanku belum habis.

ROBI : Aku tidak bisa kerja sendirian, Kapten. Ini sebentar lagi selesai. Besok bisa melindungi kita dari hujan atau panas matahari.

KAPTEN : Baiklah. (mereka kembali bekerja seperti semula, melanjutkan papan-papan itu)

KAPTEN : Robi?

ROBI : Iya, Kapten?

KAPTEN : Aku belum tidur.

ROBI : (memandang prihatin) Tapi Kapten sudah bermimpi.

KAPTEN : Mimpi buruk tidak pernah berhasil menghiburku, Robi. (Robi menggeleng, dan melanjutkan menata papan. Berselang sebentar, dari kanan panggung, perempuan berjalan seorang diri)

KAPTEN : (kepada perempuan itu) Dari mana kau tahu aku terdampar di sini?

ROBI : Siapa, Kapten?

KAPTEN : Fatimah, istriku, Robi.

ROBI : (menoleh sebentar)

PEREMPUAN : Apa engkau bicara denganku?

KAPTEN : Iya, aku bicara denganmu. Siapa yang mengantarmu ke sini? Apa semua jalan
mengarahkanmu kepadaku?

PEREMPUAN : Kau bicara denganku?

KAPTEN : Iya, aku bicara denganmu. Sayang aku sudah tidak seperti dulu lagi. Aku tidak
mendengarkanmu. Laut telah membuatku terluka. Tubuhku. Kau bisa melihat tubuhku?

PEREMPUAN : Kau melihatku?

KAPTEN : Iya, aku melihatnya. Luka ini tersebar di seluruh tubuhku. Aku tidak tahu cara
menyembuhkannya, sebab ada luka lain yang lebih parah.

ROBI : Kapan pekerjaan kita selesai kalau Kapten terus bicara seorang diri.

KAPTEN: Aku bicara dengan istriku, Robi. Bukan bicara sendirian.

ROBI: Tidak ada siapa-siapa di depanmu. Itu mungkin suara ombak jika kau mendengar suara.

KAPTEN : (datar) Sepertinya. (Kembali mengambilkan papan kayu untuk Robi seperti semula. Sementara Robi melihat perempuan berjalan seorang diri dari kiri panggung)

ROBI : Apa kau melihatku?

PEREMPUAN : Iya, aku melihatmu. Apa yang kau lakukan di sini?

ROBI : Mendirikan tempat istirahat.

PEREMPUAN: Kau mendirikan tempat istirahat, lalu kau akan akan menumpas kami lagi? Aku akan berteriak, kau akan mati di sini ketika teman-temanku datang.

ROBI : Jangan lakukan itu. Aku hanya sebentar di sini. Temanku sedang mencari bantuan supaya kami bisa segera meninggalkan pulau ini. Sebentar lagi dia datang.

PEREMPUAN: Tidak.

ROBI : Jangan lakukan itu! (tetapi perempuan itu berteriak. Terdengar suara bising menguasai tempat itu. Robi mengeluarkan pistol, dan menembak)

ROBI : (menyesal) Siapa yang menciptakan hantu-hantu ini, Kapten? Hidupku merasa tidak berguna. Kenapa Kapten diam saja, tidak melakukan sesuatu untukku? Buatlah aku terhibur, Kapten.

KAPTEN : Apa yang harus kulakukan untukmu?

ROBI : Tidak tahu, Kapten. Aku merasa dunia ini sudah tidak lagi bisa menghiburku. Aku butuh dunia lain.
KAPTEN : Ini mimpi. Nanti kita akan terbangun, atau akan ada awak lain yang membangunkan kita. Jadi kau tenanglah. Banyak perempuan yang tidak menangis.

ROBI : Berhentilah mengulang kata-kata itu dalam percakapan kita, Kapten. Kata-kata tidak
menyelesaikan apa-apa.

KAPTEN : Lalu apa yang dapat kau lakukan selain bicara?

ROBI : Membunuh.

KAPTEN : Siapa yang akan kau bunuh?

ROBI : Mereka harus mati malam ini juga.

KAPTEN : Robi! Keluarlah dari khayalanmu! Kau tidak akan menyelesaikan masalah dengan hanya membunuh.

ROBI : Kita sudah tidak punya apa-apa selain pistol.

KAPTEN : Kita punya kepala, Robi.

ROBI : Kepala yang diincar Negara karena tidak berguna? Persetan, Kapten. Kau hanya ingin
menyerahkan kepalamu untuk ditendang-tendang oleh mereka? Aku dibesarkan di laut. Laut mengajari bahwa hidupku harus keras, tangguh seperti ombak.

KAPTEN : Kau bukan laut. Kau manusia.

ROBI : Masa bodoh.

KAPTEN : Kau bisa terluka.

ROBI : Karena laut juga bisa terluka.

KAPTEN : Itu yang mereka katakan padaku. Laut akan rusak jika aku menangkap ikannya dengan caraku. Dan mereka menenggelamkan kapal kita beberapa hari setelah itu.

ROBI : Kapten percaya itu?

KAPTEN : Tidak. Kepala mereka besar dalam gedung sekolahan dan bisnis. Tidak tumbuh dari laut yang ganas.

ROBI : Kita bisa memenggal kepala mereka, kemudian membesarkan di laut, kalau Kapten mau.

KAPTEN : Aku bosan dengan hidup ini, Robi!

ROBI : Kau tidak akan pernah tenang jika hanya berteriak ‘aku bosan dengan hidup ini’, Kapten. Jangan berlagak seperti banci di depanku, atau kau akan kubunuh.

KAPTEN : Kau akan membunuhku?

ROBI : Dari pada pikiranmu membuat orang lain jadi pesimis?

KAPTEN : Sialan kau, Robi. Kau belajar dari Wida bangsat itu cara hidup seperti ini? Kau mulai kurang ajar. (terengar suara letusan, kemudian mereka terdiam, kemudian disusul teriakan. Nama Robi disebut berkali-kali)

ROBI : (berteriak) Maswida, kau kah itu?

KAPTEN : (berteriak) Siapa yang menembakmu, Wida?

ROBI : (menahan bahu Kapten) Kapten masih pincang, biar aku yang ke sana.

KAPTEN : Aku tidak bisa membiarkan Wida mati sia-sia.

ROBI : Kau hanya akan memperunyam keadaan kalau ikut ke sana.

KAPTEN : Tapi dia anakku, Robi. Aku yang menghamili ibunya, dan aku berjanji akan menjaganya sampai dia bisa menjadi seperti aku, punya kapal sendiri.

ROBI : Sayang ini bukan masalah pribadi atau keluarga, Kapten. (Robi mendorong Kapten terjerembab, selanjutnya adalah malam yang hening)

KAPTEN : Aku kembali sendirian. Tidak pernah menyenangkan hidup dengan orang lain. Tetapi sangat menyedihkan hidup sendiri. Pada suatu hari, seorang teman datang kepadaku. ‘Biasanya kau suka mendengar kisah,’ kata dia. ‘Mau kau kuceritakan kehidupan nelayan yang bahagia? Ini terjadi di sebuah keluarga kecil di tepi pantai.’ Kalau bisa membuatku sedih meski itu cerita bahagia, aku mau. Lalu temanku bercerita. Disusun dari ingatannya akan film yang pernah ia tonton di bioskop. Kapal nelayan yang hanyut. Aku membayangkan sekarang istriku bekerja di rumah karaoke jadi penyanyi dangdut untuk melunasi hutang kapalku. Seorang polisi, yang suka datang ke tempat karaoke, menyukainya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hidup memang kurang ajar bagi mereka yang merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Temanku kurang ajar bercerita kisah pedih ini. Apa kau mendengarku? Tidak? Aku tidak pernah didengar olehmu. (mengeluarkan pistol) Kau akan membunuhku setelah membunuh orang-orang terdekatku? Kenapa hanya kau yang mendengarkanku? Aku tahu, kau ingin membunuhku. Mendekatlah. Aku ingin melihat wajahmu, wajah satu-satunya orang yang bisa mendengar pembicaraanku.

LELAKI : (dia datang tiba-tiba dari arah kanan panggung) Ternyata kau masih selamat.

KAPTEN : (menelisik wajah si Lelaki) Kau bisa memberiku rokok?

LELAKI : (tertawa) Sebatang rokok untuk satu nyawa. Betapa pemurahnya Tuhanku.

KAPTEN : Kita bisa bicara setelah aku merokok.

LELAKI : (tertawa) Aku jadi kuatir peluruku tidak bisa menembusmu. Mentalmu terbuat dari apa, kalau aku boleh tahu.

KAPTEN : Cukup sebatang rokok saja.

LELAKI : (kepada temannya) Berikan dia sebatang rokok.

KAPTEN : (teman si lelaki melemparkan sebatang rokok kepada Kapten) Kau tidak sendirian?

LELAKI : Kalau aku sendirian, tentu aku tidak bisa membunuhmu. Aku tidak curang, kau yang terlalu kuat. Butuh korek? Kasihan sekali, sudah tak punya rokok, tak ada korek pula.
(teman si lelaki menyalakan rokok Kapten)

KAPTEN: (setelah tiga hisapan) Kau tahu cara membuatku tenang.

LELAKI : Ya, karena aku tahu cara menghabisimu.

KAPTEN : Aku juga tahu cara menghabisimu.

LELAKI : (tertawa) Ada tiga orang di belakangku.

KAPTEN : Cukup seorang untuk membunuhmu.

LELAKI : Cukup?

KAPTEN : Cukup.

LELAKI : (kepada temannya yang lain) Ambilkan pistolku, dan sediakan pedang untuk memenggal kepalnya. Oh, ya. Hati-hati kepalanya berat. Banyak kenangan indah bersama istrinya. Kau sudah punya alamat istrinya kan? Besok kau antarkan saja ke rumahnya. Bilang, ada kenangan yang berharga dalam kepala ini.

KAPTEN : Rokokmu enak.

LELAKI : (mengokang pistol) Karena kau akan mati bahagia. Kau sudah siap?

KAPTEN : (tertawa) Apa kau juga sudah siap? (satu ledakan, si Lelaki tersungkur, dan satu ledakan lagi tidak kena sasaran)

KAPTEN : (kepada tiga teman si Lelaki) Apa kalian juga siap?

TEMAN 1 : Maaf, kami tidak siap mati, tapi hanya siap membuatmu mati. (kemudian satu tembakan, dan kapten tersungkur)

TEMAN 1 : Apa yang akan kita lakukan?

TEMAN 3 : Dia telah banyak mengarang cerita.

TEMAN 1 : Bukan. Nelayan ini harus kita apakan?

TEMAN 2 : Kita biarkan saja. Ini sudah selesai.

TEMAN 1 : Tunggu, aku mau membacakan puisi untuknya. (Teman 1 berjalan ke arah Kapten dan menginjak dadanya. Kemudian ia membaca puisi, sisa ingatannya dari puisi Aku Chairil Anwar: Aku ingin hidup seribu tahun lagi, dan meludah di muka Kapten)
BABAK II
Beberapa saat sebelum pembunuhan itu. Si Lelaki memandangi mayat Maswida.

LELAKI : Tidak mungkin kita salah membunuh orang. Tidak mungkin pula dia dilindungi oleh Tuhan. Sial. Aku kira dia lelaki brengsek itu. Lucu sekali tiba-tiba ini seperti cerita al-Masih.

TEMAN 3 : Lihat wajahnya.

TEMAN 1 : Dia bukan Iskandar.

LELAKI : Lalu yang kita bunuh? Untuk siapa kita membunuh orang ini?

TEMAN 1 : Konyol pertanyaanmu. Jelas-jelas dia bukan Iskandar. Kau kira untuk siapa kita membunuh Iskandar? Kalau tidak tahu untuk siapa kita membunuh, buat apa kita datang ke sini? Apakah perubahan dunia hanya ditentukan oleh kematian satu orang seperti Iskandar?
Kalau kematian Iskandar tidak berguna aku akan membunuh kalian semua.

LELAKI : Kau mengancam kami?

TEMAN 1 : Tidak. Aku mengancam orang yang tidak punya alasan.

TEMAN 2 : (tertawa) Ada yang merasa hebat di sini.

TEMAN 1 : (tertawa)Aku tidak sebodoh kalian.

TEMAN 2 : (mengokang senjata)

TEMAN 1 : Jika kepalamu terlalu besar untuk kembali masuk ke rahim ibumu, aku bisa membantumu. (teman 2 menurunkan sejata)

TEMAN 3 : (tergopoh-gopoh) Lelaki itu ada di sana. Iskandar. Dia bicara sendirian.

LELAKI : Kita ke sana. (mereka bersiap-siap)

TEMAN 1 : (kepada teman 2) Kata-kataku mudah diingat orang lain. Hati-hati.
Mereka melakukan pembunuhan itu, dan si Lelaki terbunuh. Robi terlambat. Dia mengerang
di depan mayat Maswida.
SELESAI

*Habiburrachman, Mahasiswa Filsafat Agama UIN Sunan Kalijaga. Pegiat kesenian di UKM Teater ESKA Yogyakarta (aktor dan sutradara). Bisa dihubungi melalui email: mencaritia3@gmail.co.

No comments:

Post a Comment