Tuesday, 6 February 2018

Genesis

Genesis Sunrise

KALAU bukan karena lengking camar, mungkin aku masih terlelap di garis pantai itu. Riak air tak sedikit pun membuatku tersadar. Juga sinar pagi yang menyusup ke dalam kelopak mata.

Aku terjaga pada hari yang tanggung, tatkala matahari nyaris di titik sepenggalah. Saat kedua mataku terbuka, yang terhampar hanyalah langit biru. Tak ada awan. Beberapa camar melintas, menggores garis samar pada kanvas lazuardi. Angin berembus pelan. Segala tulang-tulangku seperti rapuh. Aku ingat kejadian semalam. Badai laut telah mengombang-ambingkan perahuku.

Semestinya tak kudengarkan segala ocehan Jacky. Bukankah dari dulu ia memang tak suka padaku? Ingin sekali kubuktikan bahwa aku tak seperti yang diucapkan mulut besarnya!

“Sebastian, kau tahu kenapa gadis-gadis manis itu tak sudi mendekatimu?” tanyanya suatu kali. Kedai itu remang oleh cahaya yang redup, memendarkan warna kelabu yang muram. Tak kugubris pertanyaannya yang merendahkan. “Karena kau miskin.”

Kupalingkan pandangan kepadanya dan kupasang kedua mata senyalang-nyalangnya. Tetapi Jacky tetaplah Jacky. Ia tak gentar dan tetap menghisap cangklong pada bibirnya yang gelap nikotin.

“Dengar, Sebastian—“

“Jangan ganggu aku, Jack.” Kutepis nasihat buruknya. “Aku ingin sendiri.”

“Kalau kau mampu membawa satu saja sirip paus, gadis-gadis girang itu akan mengakui kekuatanmu. Kau tak perlu menjadi orang kaya. Perempuan lebih terpukau pada kejantanan ketimbang tebal dompetmu.”

Aku masih bergeming. Menurutku, kata-katanya tak pernah benar. Lagian aku tak butuh gadis-gadis manja. Aku tak mau berkubang dalam jamban dosa-dosa karena menggauli gadis-gadis liar.

“Ah, aku tahu kau pecundang.”

“Jangan pernah berkata itu lagi, Jacky!” Kemarahanku meledak. “Kalau aku bisa mendapatkan sirip paus sialan itu, kau harus berjanji menjilat telapak kakiku!”

“Demi Tuhan, Sobat.”

Aku bergegas, menyiapkan segalanya: tombak, tambang, parang, pisau, dan perahu. Akan kutunjukkan kepadanya bahwa diriku masih cukup lelaki. Dan emosiku telah letup, menutup mataku dari cuaca yang tak pernah kuterka.

Mendung itu gumpal. Seharusnya aku tahu, takkan ada ikan-ikan di permukaan laut yang sebentar lagi diamuk badai. Tetapi perahuku terlanjur di tengah laut. Dalam putus asa, aku hanya menelan kebingunganku sendiri hingga badai datang, hingga hujan mendera, dan gelombang mengempas perahuku dengan kekuatan setan.

Kini aku terdampar di pulau entah. Dan aku belum ingin bangkit.

“Jangan pernah menderita sendirian.” Tiba-tiba terdengar suara lembut. Suara perempuan.

Seorang perempuan duduk di sampingku dalam pose putri duyung. Aku mengusap kedua mata dan menegakkan tubuh untuk meyakinkan diri bahwa itu bukan halusinasi.

“Kulihat perahumu rusak berat.” Rambutnya cokelat keemasan, keriting lembab. Wajahnya menampakkan kacantikan yang purba. “Kau tampak letih. Kau harus istirahat di pondokku.” Lalu ia berdiri, membersihkan bajunya—terusan kelabu sebatas paha, berlengan pendek dengan kerah lebar—dari pasir.

Ia memapahku. Aku bisa mencium bau tubuhnya. Seperti angin samudera. Aku karib dengan aroma itu. Sebab napasku wangi ganggang, asin laut, erang karang, dan kecipak musim semi ekor ikan.

Tak terasa kami sudah sampai. Setengah kesadaranku habis. Ia membawaku ke sebuah dipan kayu.

“Sebelum tidur, kau harus mengisi perutmu dengan sesuatu.” Ia menyodorkan semangkuk bubur. Rasanya manis dan hangat. Kuduga, itu bubur umbi-umbian. Setelah itu, kesadaranku lenyap.
***

Perlahan-lahan, mataku mengerjap. Perempuan itu berada di sampingku. Aku segera bangkit dan duduk.

“Eva.”

Aku gelagapan.

“Sebastian.” Kusodorkan tanganku. Kami berjabat. Telapak tangannya terasa lembut. Seperti sepotong spons. “Aku tak tahu cara membalas kebaikanmu.”

“Kau tertidur lama sekali. Jangan buang-buang waktu, Sebastian. Kita masih punya beberapa jam untuk sampai di telaga. Kita tak boleh ketinggalan bulan perak yang akan mengambang di kolam malam ini.”

“Aku setuju.” Sebenarnya aku tak tahu apa yang sedang dibicarakannya.

Ia meraih tanganku. Tiap kali tanganya menyentuh tanganku, ada sesuatu yang berdesir. Terus terang, aku belum pernah bersentuhan dengan perempuan karena itu bakal menyeretku pada zinah. Dalam Sepuluh Perintah Tuhan, jelas-jelas perbuatan itu dosa.

Hari masih sore. Langit kelabu. Seperti mendung. Tetapi kuyakin bukan mendung—karena cahaya matahari memancar. Segalanya terlihat hitam-putih. Padahal, pagi tadi, lanskap pulau ini masih hijau dan biru.

“Malam bulan perak akan membuat sore berwarna kelabu,” tukas Eva.

“Kena—”

“Jangan tanya kenapa.”

“Tapi—“

“Kalau jangan tanya, itu artinya… jangan bertanya. Aku tak tahu.”

Aku mengunci mulut. Dan aku tak tahu ia akan membawaku ke mana. Tadi ia bilang akan melihat bulan perak yang mengambang. Sebenarnya aku tak terlalu penasaran. Aku sering melihatnya di tengah laut bila malam purnama. Aku lebih terpukau pada sisi misterius pulau ini yang begitu perawan.

“Kau tinggal sendirian?”

“Aku bersama ayahku.”

“Di mana ia?”

“Kami jarang bertemu. Ia meninggalkanku sejak aku bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Tapi ia tak ke mana-mana, hanya menjelajah pulau ini. Ibuku mati sejak aku bayi.”

Aku yakin kini aku ragu ia seorang manusia.

Tiba-tiba terdengar seperti suara terompet. Lalu derap kaki. Di arah tenggara, seekor gajah berlari, menembus dahan dan belukar. Dari sisi yang berlawanan, cahaya matahari memancar dalam garis diagonal. Menghantam tubuh binatang besar itu, bagaikan orang yang mendapat berkah. Segalanya masih tampak hitam-putih.

“Kita hampir sampai.”

Terhamparlah sungai mahaindah di depan mataku. Alirannya bercabang empat. Dari awan yang pekat, sinar matahari menyirami tebing-tebing terjal, membentangkan bidang terang dan gelap. Belum pernah kusaksikan panorama seperti itu.

“Dalam hitungan menit, cahaya itu bakal lenyap. Saat itulah bulan akan mengambang di telaga yang menggenang.”

Kami bersihadap dengan telaga itu. Sebuah kolam yang dikelilingi tanaman perdu dan bunga-bunga hutan. Di permukaannya, bulan perak mengambang. Eva menanggalkan pakaiannya, menuruni telaga.

“Kau tunggu apa lagi?”

Ia memberi isyarat. Aku segera menanggalkan pakaianku dan menceburkan diri ke dalam telaga. Aku tahu seharusnya ini tak boleh terjadi. Aku masih ingat Tuhan! Tapi ini menyenangkan dan tak bisa kulewatkan.

Kami bermain di dalam air seperti orang yang baru melihatnya. Tiba-tiba perempuan itu mendekat, lebih rapat, dan lekat pada tubuhku. Ia memeluk, mengecup. Aku tak berkutik, menikmati apa yang terjadi. Baru kutahu, tubuh perempuan adalah daging paling pejal. Dan aku dapat merasakan cinta yang asali.

“Mari kita tuntaskan malam ini.” Eva menggiringku ke tepi.

Maka jadilah apa yang mesti terjadi. Aku mau, dia mau. Aku lupa Sepuluh Perintah Tuhan. Di pulau ini tak ada dosa. Mungkin tak ada. Lalu segalanya usai pada puncak ketakjuban. Ini adalah pengalamanku yang pertama.

Kami tertidur pascasenggama hingga deru gemuruh membangunkan kami. Mungkin telah sepertiga malam. Tanah berguncang, badai menerbangkan daun-daun, menumbangkan pohon-pohon kecil. Kami panik.

“Sebastian, kau harus segera meninggalkan pulau ini!” Ia menyentakku. Kami segera berpakaian. Dalam lari, ia membawaku ke tepi pantai.

“Bagaimana mungkin perahuku—“

“Mungkin ayah telah memperbaikinya. Segera tinggalkan pulau ini!”

“Kau akan ikut bersamaku!”

“Tak mungkin. Aku tak bisa meninggalkan pulau ini!”

“Di sini berbahaya! Aku tak bisa meninggalkanmu!”

“Jangan konyol, Sebastian! Aku telah bertahun-tahun tinggal di sini.”

“Tapi—”

“Pergi!” bentaknya.

Aku tak bisa memaksanya. Kunyalakan mesin perahu. Tanah masih berguncang. Badai masih mengempas reranting.

Perempuan itu berlutut. Kuhampiri ia sekali lagi. Kami berpagut hebat sebelum akhirnya aku pergi, meninggalkan luka yang mungkin takkan bisa disembuhkan lagi.

Yogyakarta, 5 Desember 2014

*Kisah ini terinspirasi dari foto-foto karya Sebastião Salgado.

*Royyan Julian merupakan dosen di  Universitas Madura, Pamekasan (Madura). Pada tahun 2011, bukunya yang berjudul "Sepotong Rindu dari Langit Plelades" memenangkan lomba kumpulan cerpen Leutika Prio. Pada tahun 2013, novelnya yang berjudul "Te Amo", masuk nominasi dalam lomba menulis novel populer yang diselenggarakan oleh Bentang Pustaka. Cerpenis kelahiran Pamekasan Madura ini juga merupakan salah satu dari 16 penulis yang mengisi pada acara Ubud Writers & Readers Festival pada tahun 2016 yang lalu. Kini menetap di Pamekasan, Madura.

*Cerpen ini pernah tayang di Nusantaranews.co, edisi 30 Oktober 2016.

1 comment: