Monday, 29 January 2018

Asal Mula Sumur Tanto

Asal Mula Sumur Tanto

TANAH Madura yang gersang sangat sedikit menyediakan mata air. Pada zaman dahulu di lekuk lembah dan lereng bukit banyak digali sumur hingga kedalaman belasan meter untuk mendapatkan air. Akan tetapi dari sumur-sumur itu hanya sedikit yang memancarkan mata air. Beberapa sumur yang lain sebatas menganga tanpa ada pancaran apa-apa. Bahkan sumur yang memancarkan mata air pun sering kekeringan ketika memasuki musim kemarau.

Di sebuah kampung kecil di daerah Maddupote—wilayah antara Batang-Batang dan Batuputih—hiduplah sepasang suami-istri bernama Sunima dan Mattali yang hidup harmonis walaupun tak dikarunai keturunan hingga di masa tua. Meski usia perkawinan mereka sudah dua puluh lima tahun namun tak ada momongan yang mereka dapatkan untuk menghibur dan melengkapi keseharian mereka. Sunima kerap berdoa dan melakukan ritual puasa memohon kepada Pencipta untuk dikaruniai anak. Mattali juga demikian, bahkan ia tak segan mendatangi beberapa dukun untuk minta cara agar cepat punya anak. Beberapa petuah dan nasihat dukun ia tunaikan mulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat seperti ketika ia harus tidur di Bukit Rongkorong selama empat puluh malam. Tetapi hasilnya tetap sia-sia.

Sudah banyak harta kekayaan Mattali dan Sunima yang terkuras untuk pergi ke dukun dan sebagian harta yang lain dijadikan biaya melakukan prosesi ritual agar mendapat keturunan. Selain itu terkurasnya harta mereka karena dibuat membayar denda kepada seorang raja yang kejam dan keras kepala, raja itu tersohor dengan sebutan Raja Dulkemmek Banakeron yang berkuasa di Maddupote. Kerajaan Maddupote sebenarnya kerajaan pemberontak yang secara pemerintahan tidak sah karena masih ada dalam wilayah kekuasaan Panembahan Joharsari.* Ketentuan yang berlaku kala itu setiap keluarga yang tidak mempunyai keturunan didenda setiap bulan 400 sen. Menurut penjelasan raja, denda itu digunakan untuk membayar para kuli yang bekerja mengambil air dari lembah, bukit dan sunga-sungai yang masih ada airnya. Kuli-kuli itu setiap hari bekerja untuk memenuhi kebutuhan air di lingkungan kerajaan.

Para orang tua yang mempunyai anak tidak usah membayar denda, mereka cukup mengirim anak-anaknya ke kerajaan untuk selanjutnya ditugaskan mengambil air. Raja yang kejam itu semakin tak tahu belas kasih ketika kekeringan melanda. Ia tak segan-segan menyuruh anak-anak di bawah umur bekerja mengambil air seharian. Jika ada yang ketahuan istirahat atau merasa lelah maka sang raja menyuruh prajurit mencambuk dan menghukumnya. Akibat perbuatan raja itu seluruh rakyat merasa tertekan, yang tak punya keturunan harus membayar denda, yang punya keturunan harus rela melihat anak-anak mereka memikul sepasang timba berisi air di bawah terik matahari, mereka harus berlapang melihat anak-anaknya kerap mendapat siksaan di hadapan pengawasan prajurit kerajaan yang ketat. Selain itu, semua rakyat harus hidup dalam kekeringan karena hampir semua air diangkut ke kerajaan.

Pada suatu siang, Mattali dan Sunima terpaksa membakar singkong untuk bahan makanan karena persediaan air yang mereka miliki hanya cukup untuk berwudu. Para tetangga banyak yang mengaduh tidak tahan pada kebijakan raja yang sangat tidak adil. Tidak jarang anak-anak pulang dengan tubuh yang memar dan sebagian anak yang lain pulang dalam keadaan lunglai dan lemas. Setiba di rumahnya, banyak anak-anak yang jatuh sakit karena seharian dipaksa mengambil air dari beberapa titik mata air yang jaraknya puluhan kilometer dari Kerajaan Maddupote.

Setiap malam Mattali dan Sunima mulai punya kesibukan baru menjenguk tetangga mereka yang anaknya sakit. Biasanya Mattali membawa singkong bakar sebagai oleh-oleh dari rumah ke rumah, singkong bakar menjadi makanan pilihan semenjak air sulit didapatkan, karena singkong bakar tidak perlu dimasak memakai air. Di salah satu tetangganya yang bernama Sadikin, Mattali tidak bisa membendung air matanya ketika mendengar cerita Sulaiman, anak Sadikin yang masih berusia 6 tahun. Sulaiman sedang sakit terbaring karena disiksa ketika bekerja mengambil air untuk kerajaan.

“Mengapa kulitmu penuh dengan memar seperti ini, Liman?” tanya Mattali pelan.

“Ini semua terjadi ketika saya bekerja mengambil air untuk kerajaan, Kek. Saya ditugaskan mengambil air ke Dusun Pangabasen yang jaraknya sekitar 3 km dari kerajaan dan harus melewati lereng Bukit Montorra yang dipenuhi batu-batu tajam. Sepanjang perjalanan nyaris tak saya temui rindang pohonan. Saya berjalan menyusuri jalan berbatu dengan terik matahari yang sangat panas.”

“Kamu kelelahan?”

“Iya, Kek. Sebab selain terik dan tajamnya batu, saya harus memikul sepasang timba ukuran besar yang terbuat dari daun siwalan.”

Mattali menggeleng-geleng bisu. Matanya melinangkan air mata. Ia tidak bisa membayangkan bocah seumur Sulaiman harus memikul beban seberat itu.

“Apa timbamu yang besar itu diisi penuh?” sambung Sunima.

“Iya, Nek, bahkan seorang prajurit yang mendampingi saya melarang keras air dalam timba itu tumpah meski hanya sedikit. Jika tumpah walau hanya sedikit maka prajurit itu mencambuk saya berkali-kali.”

“Sungguh biadab!” ucap Mattali seraya menyeka air matanya.

“Tidak hanya itu, Kek, kalau saya istirahat karena lelah maka cambuk beraksi kembali.”

“Berapa kali kamu bolak-balik dari sumur ke kerajaan?”

“Seharian penuh saya membawa enam pikul air ke kerajaan dengan beragam macam siksaan.”

“Apa pihak kerajaan memberimu makanan?”

“Saya hanya diberi makanan talas rebus empat potong seukuran jari jempol karena kata prajurit saya masih anak-anak, tidak perlu banyak makan.”

Mattali dan Sunima sama-sama terisak. Mereka menangis di dekat Sulaiman yang terbaring tak berdaya. Itu satu dari sekian cerita yang didengar Mattali dari anak-anak di bawah umur yang diwajibkan kerajaan untuk bekerja mencari air. Cerita sedih lain dari para tetangga jauh lebih mengiris. Bahkan kabar menyedihkan juga ia dengar dari Nyai Naimah, nenek tua jompo itu harus terjengkang pingsan dengan bibir berlumur darah setelah ditendang prajurit karena tidak punya uang untuk membayar denda.

Pada hari-hari berikutnya tak hanya anak-anak yang sakit karena tekanan ketika bekerja mengambil air di kerajaan, akan tetapi orang tua juga banyak sakit. Mereka jatuh sakit karena tekanan batin tak tega melihat anak-anak mereka disiksa terus menerus setiap hari. Orang sakit hampir menyebar di seluruh kawasan Maddupote, hanya sedikit yang kembali sembuh, banyak di antara mereka yang meregang nyawa karena sakit yang diderita.

Seiring berjalannya waktu, masalah air semakin rumit saja dan bahkan sudah menimbulkan masalah baru di antara warga. Selain terkena penyakit dan tekanan batin, sebagian warga juga mati karena carok,** carok itu terjadi sebab banyak warga yang berebut mengambil air. Bagi orang Madura saat itu air merupakan barang langka. Air termasuk dalam kekayaan yang harus dipertahankan dengan celurit. Maka sejak saat itulah carok terjadi bukan hanya karena istri diganggu orang, tapi juga untuk mempertahankan air.*** Pikiran hati Mattali dan Sunima mulai menemukan kenyataan pahit lagi. Tak jarang mereka hampir setiap hari melihat warga mati bersimbah darah di ujung celurit.

Mattali dan Sunima termasuk warga yang selamat dari penyakit dan riuh perseteruan karena berebut air, jiwa mereka terkendali meski sebenarnya mereka punya rasa benci yang sama kepada raja. Mattali lalu punya inisiatif mengumpulkan warga untuk berdoa bersama memohon kepada Sang Pencipta agar segala penderitaan yang dialami warga segera berakhir dan berganti dengan kemakmuran. Usai doa bersama biasanya para warga berbincang masalah-masalah yang sedang melanda kawasan tersebut.

“Masalah yang kita hadapi sangatlah banyak, Ki, mulai dari kekurangan air, banyak warga yang carok, banyak warga yang juga mati sebab penyakit, bahkan kabarnya saat ini ada juga warga yang gila karena tekanan batin.” Kata salah seorang warga kepada Mattali.

Mattali mengangguk-angguk seraya mengelus jenggotnya. Sejenak ia menunduk kemudian mendongak ke arah langit desa.

“Iya, sampean benar. Masalah yang dihadapi warga sangatlah banyak. Tapi sebenarnya penyebabnya satu, raja kita tidak adil dan bertindak kejam kepada rakyat.” Jawab Mattali tenang.

“Lantas apa yang dapat kita lakukan selain berdoa, Ki?”

Mattali hanya menarik napas panjang dan mengembuskannya pelan-pelan sambil menunduk.

“Saya tidak tahu, tapi yang jelas dengan doa bersama semacam ini, Allah pasti akan memberi jalan dengan cara yang tidak kita sangka-sangka.”

“Semoga seperti itu, Ki!”

Mattali dan para warga hanyalah rakyat jelata yang tak punya kekuatan apa pun untuk menumbangkan raja yang sangat kejam tersebut. Mereka hanya terus berdoa dari waktu ke waktu. Namun untuk masalah air, selain berdoa mereka juga berusaha mencari mata air di beberapa titik di kawasan itu, mulai dari lembah, ladang hingga di bukit-bukit berbatu. Usaha untuk mencari air dilakukan dengan sangat gigih meski harus melalui banyak rintangan. Kenyataannya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Mencari mata air di tanah Madura khususnya di daerah Maddupote kala itu sama sulitnya dengan meletakkan air di daun talas. Tapi kegigihan Mattali dan para warga pada akhirnya juga membuahkan hasil, sebuah mata air ditemukan di lereng Bukit Montorra. Para warga bergiliran gotong royong menggalinya dengan diam-diam agar tidak diketahui pihak kerajaan.

Setelah mencapai kedalaman enam belas meter akhirnya mata air memancar sangat deras, para warga tersenyum bahagia. Kala itu para warga mulai menimba air ke lereng Bukit Montorra melalui cara yang rahasia agar tidak diketahui pihak kerajaan. Banyak warga yang merasa senang dengan adanya mata air tersebut, tak terkecuali Mattali. Bahkan kala itu Mattali kebahagiaannya berlipat ganda. Selain berhasil membuat sumur untuk para warga, istrinya ternyata hamil tiga bulan. Sungguh kebahagiaan yang berlipat bagi Mattali.

Hanya dua bulan Mattali merasakan hidup bahagia, setelah itu dia harus merasakan kenyataan yang teramat getir. Sumur yang dibuatnya bersama warga tiba-tiba dirampas pihak kerajaan. Salah seorang warga yang khianat telah membocoran keberadaan sumur itu kepada raja. Raja Dulkemmek Banakeron murka. Dia tidak hanya merampas sumur dari tangan rakyat, namun dia juga memasukkan Mattali ke dalam penjara.

Tepat ketika usia kandungan Sunima lima bulan, Mattali harus rela meninggalkan istri tercintanya itu karena harus menjalani hukuman dalam penjara. Raja sangat murka, setiap hari dia selalu menghukum Mattali karena telah membantu warga menemukan mata air. Di dalam penjara, Mattali benar-benar tersiksa. Ia dicambuk setiap hari. Sedang batinnya setiap saat selalu didera rasa rindu kepada sang istri karena sedang hamil. Mattali yang semestinya hidup bahagia dengan istrinya yang sedang hamil setelah bertahun-tahun menginginkan keturunan ternyata harus hidup dalam takdir perpisahan.

Mattali selama dipenjara tak mengabaikan suasana malam hari begitu saja. Dia gunakan waktu malam untuk beribadah, berzikir dan berdoa agar istri dan janin yang di kandungnya sehat. Mattali berharap kelak anak yang lahir dari rahim istrinya akan tumbuh menjadi ksatria yang bisa menumpas kedzaliman raja. Dia memohon kepada Allah agar anaknya hidup menjadi pejuang bagi rakyat jelata yang tertindas. Di dalam penjara, Mattali sering berpikir bahwa kekuasaan  yang otoriter adalah belenggu bagi kehidupan rakyat. Demikian pula dengan Sunima, dia senantiasa menangis saat berdoa. Masa kehamilan yang semestinya didampingi sang suami harus dia jalani sendirian, hanya ibu kandungnya yang menemaninya setiap hari. Itu pun hanya pada saat siang hari, bila senja tiba ibu Sunima pulang ke rumah miliknya di dusun sebelah. Saat itulah biasanya Sunima merasakan kesunyian dan perasaannya semakin rindu kepada Mattali. Saat pikirannya ingat Mattali biasanya dia menangis sambil mengelus-elus perutnya yang buncit. Saat dia menangis sambil lalu dia berbicara kepada jabang bayi yang dikandungnya.

“Nak! Kau sungguh kesepian tanpa kehadiran ayahmu di sini. Ini semua karena kekejaman sang raja. Nak! Kelak bila kau dewasa semoga kau bisa menaklukkan raja yang menindas rakyat itu,” ucap Sunima terisak, berharap kelak bayi yang ada rahimnya bisa menjadi pembela rakyat.

Di usia delapan bulan kehamilan, Sunima sudah benar-benar jatuh miskin. Hartanya habis terkuras untuk membayar pajak air kepada sang raja. Sebagian harta yang lain dia gunakan untuk membeli air kepada pihak kerajaan dengan harga yang sangat mahal. Sejak Mattali meninggalkannya, Sunima tidak bisa mengambil air sendirian. Sebagai seorang perempuan dia selalu merasa khawatir dan ketakutan bila harus berjalan sendirian mengambil air ke jarak yang jauh. Maka dia memilih membeli meski dengan harga yang sangat mahal.

Di usia kehamilannya yang tua Sunima sering bermimpi bertemu Mattali di sebuah lereng bukit. Saat keduanya berpelukan puluhan mata air memancar dari balik batu-batu di bukit itu. Ketika air mengalir tiba-tiba sang raja datang sendiran tanpa kawalan prajurit, anehnya tubuh raja yang tinggi kekar dalam mimpi itu malah sangat kecil dan kerdil. Kemudian raja itu bertekuk lutut di depan mata kaki Mattali. Saat raja bertekuk lutut biasanya Sunima terbangun dari mimpinya. Jantungnya berdegup kencang. Keringatnya bercucuran. Sunima baur antara ketakutan dan bahagia karena bisa bermimpi suaminya yang selama ini sedang mendekam dalam penjara. Setelah beberapa kali bermimpi sama, lantas Sunima khawatir dengan isi mimpinya itu. Dia berpikir bisa saja mimpinya itu pertanda baik dan bisa saja mimpi itu malah pertanda buruk. Sunima selalu khawatir dengan keadaan Mattali di penjara. Karena didera rasa khawatir yang menyiksa batinnya akhirnya Sunima terpaksa bercerita kepada ibunya perihal isi mimpinya tersebut.

Setelah Sunima menceritakan isi semua mimpinya kepada ibunya, ibu Sunima tersenyum tapi sejenak kemudian dia mengangkat lurus jari telunjuk di dekat bibirnya.

“Sssssssst! Mimpi itu jangan sampai bocor kepada orang lain. Khawatir nanti sampai di telinga raja, bisa-bisa raja murka mendengar itu meski hanya cerita dalam mimpi,” kata ibunya kepada Sunima.

“Lantas apa makna mimpi itu, Bu? Itu yang ingin saya tahu.”

“Ibu juga tidak tahu, Nak! Tapi sepertinya mimpi itu pertanda baik.”

Sunima hanya terdiam seperti sedikit sia-sia bercerita karena sebenarnya yang dia inginkan adalah tafsir mimpi dari ibunya. Namun sayang, ibunya tidak bisa menafsirinya.

Mattali di dalam penjara juga sering meneteskan air mata. Dia selalu ingat betapa menderitanya Sunima yang sudah memasuki usia hamil tua. Dia kerap teringat bagaimana istri teman-temannya dulu ketika sedang hamil yang sering butuh pendampingan khusus. Tapi Sunima malah harus hidup sendirian di bawah tekanan keadaan yang cukup mencekik.

Mattali sering bermimpi Sunima saat dia tidur usai Salat Tahajud menjelang Subuh. Dalam mimpi itu Sunima tampak berlari-lari membawa matahari ke dekat jeruji besi tempat Mattali dipenjara. Sunima datang dalam keadaan menangis dan kemudian pulang dengan bibir tersenyum. Mattali cemas dengan mimpi-mimpinya itu yang kerap datang hampir setiap malam. Dia tidak bisa menafsiri perihal makna mimpinya itu, dia hanya menduga-duga antara dugaan baik dan buruk. Kemudian dia meneteskan air mata, teringat kepada istrinya yang sedang hamil tua.

Setelah usia kehamilan Sunima memasuki usia sembilan bulan, akhirnya bayi yang ditunggu-tunggu itu lahir. Bayi itu berjenis kelamin laki-laki, lahir pada Hari Jum’at setelah subuh bersamaan dengan terbitnya matahari. Sunima hanya sendirian saat dia melahirkan. Ketika bayinya menangis baru kemudian beberapa tetangganya datang membantu. Sunima sangat bahagia melihat bayinya yang lahir normal dan sehat. Tapi sesaat dia juga meneteskan air mata ketika teringat Mattali yang saat ini mendekam dalam penjara. Sunima semakin mengucurkan air mata karena tak ada yang melantunkan suara azan ke telinga bayi yang dia lahirkan.

Ketika matahari setinggi tombak barulah ibunya datang hampir bersamaan dengan dukun anak yang sudah memandikan bayi Sunima di atas lincak bambu. Sesudah dimandikan dan diberi wewangian, tiba-tiba ibu Sunima yang melantunkan azan di telinga cucunya. Itu semua dia lakukan karena sudah darurat, para lelaki dusun sudah banyak yang bekerja mencari air dan sebagian yang lain terbaring sakit. Pada hari itu juga bayi itu diberi nama karena demi tak menyia-nyiakan Hari Jum’at yang agung.

“Mumpung ini hari yang baik, sebaiknya bayi ini langsung saja kita beri nama,” kata Ibu Sunima. Bu dukun mengangguk dan Sunima sejenak berpikir.

“Siapa yang akan memberi nama pada bayi ini, Bu?”

“Sebelum ayahmu wafat, dia sudah mewasiatkan sebuah nama padaku agar suatu saat dijadikan nama anakmu kalau sudah lahir. Ayahmu memintaku agar nama yang diwasiatkan tidak diberikan kepada orang lain, sebab menurut ayahmu nama yang dia wasiatkan tidak sembarangan. Tapi diperoleh saat bersemedi di Bukit Lentang4.”

“Apa nama yang diwasiatkan ayah itu, Bu?”

“Landaur. Nama itu adalah sosok pahlawan yang gigih membela rakyat dan sosok pemberani yang tak gentar kepada siapa pun selama dalam kebenaran. Anakmu ingin anakmu kelak kalau sudah dewasa akan jadi pahlawan yang membela hak-hak rakyat.”

“Kalau itu sudah wasiat ayah, saya terima nama itu sebagai nama bagi anakku ini, Bu!”

Akhirnya bayi laki-laki itu diberi nama Landaur. Para tetangga senang dengan nama itu sehingga tak jarang setiap hari orang-orang selalu memanggil-manggil nama Landaur saat dia sedang digendong Sunima di teras rumahnya.

Sejak Landaur lahir, suasana rumah Sunima tak begitu sepi. Selain karena ibu Sunima yang menginap setiap malam juga karena tangis Landaur yang begitu menggemaskan bagi Sunima. Hati Sunima mulai riang meski di balik keriangan itu Sunima menyimpan rasa sakit yang perih karena Mattali belum tahu kalau dirinya telah melahirkan.

Sunima tidak bisa mengirim kabar kelahiran Landaur kepada suaminya, bahkan sebaliknya Sunima hampir setahun juga tidak bisa menerima kabar tentang keberadaan suaminya di penjara. Sunima dan Mattali hanya sama-sama menduga keadaan mereka masing-masing. Kekejaman raja telah menghantam batin sepasang suami-istri itu melalui perpisahan yang mencekam.

Waktu terus berjalan. Landaur tumbuh menjadi balita. Kala itu penderitaan yang dialami rakyat Maddupote semakin parah. Namun Sunima tidak begitu hirau akan penderitaan dirinya karena setiap waktu ada senda gurau Landaur yang senantiasa  menghibur rasa perihnya. Meski masih balita, rasa kemanusiaan Landaur mulai nampak. Biasanya dia berurai air mata ketika melihat bocah-bocah desa melintas di depan rumahnya sambil memikul sepasang timba berisi air menuju kerajaan. Landaur sering bertanya mengenai pekerjaan yang dilakukan bocah-bocah itu setiap hari, saat itu pula Sunima menjelaskan kepada Landaur tentang apa yang terjadi menimpa desanya. Landaur sering tertegun seusai mendengar cerita dari Sunima. Satu kenyataan buruk masuk ke dalam pikirannya, warga kesulitan mendapat air.

Landaur biasanya sigap mendekati celurit Mattali yang tergantung di samping jendela ketika dia melihat bocah-bocah dusun disiksa saat mengambil air, tapi sayang, tubuh Landaur masih pendek untuk bisa menjangkau posisi celurit. Dia hanya menjulur-julurkan tangannya. Setiap kali melihat Landaur berusaha mengambil celurit, biasanya Sunima hanya tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Daur! Untuk apa kamu hendak mengambil celurit itu?” tanya Sunima suatu waktu.

“Daur hendak membunuh orang kejam yang menyiksa anak-anak desa, Bu.”

“Hmmmm...tubuhmu masih pendek, biar cepat besar kamu harus banyak makan agar tanganmu bisa mengambil celurit itu. Makanya setiap kali ibu mengajakmu makan, kamu harus mau,” kata Sunima kepada Landaur mengambil kesempatan untuk mendorong putranya agar mau makan dengan normal karena Landaur jarang makan tidak seperti balita lain seusianya.

“Kalau banyak makan biasanya banyak tidur, kalau banyak tidur biasanya jadi temannya setan. Coba ibu lihat para prajurit yang kejam itu, mereka jadi temannya setan karena banyak makan,” jawab Landaur kepada Sunima sambil bergegas keluar menuju teras. Sunima mengernyitkan dahi, dia kebingungan dengan tingkah laku Landaur yang sering nyeleneh, tapi setiap kali ditanya alasannya selalu masuk akal. Sunima juga merasakan kalau Landaur sudah memiliki pemikiran yang cukup dewasa meski dia masih balita, satu lagi kenyataan buruk masuk ke dalam pikirannya, raja di Maddupote kejam.

Menginjak umur sembilan tahun Landaur mulai melaksanakan puasa Daud, meniru kebiasaan guru ngajinya Kiai Mahfudz. Sehari makan sehari puasa begitu selanjutnya, tapi anehnya tubuh Landaur tumbuh di luar kebiasaan anak-anak pada umumnya. Di umur sembilan tahun tubuh Landaur sudah setinggi tubuh ibunya. Ketika sedang bergurau, biasanya Landaur ditanya oleh Sunima mengapa tubuhnya cepat kekar. Landaur menjawab “Biar cepat bisa membebaskan ayah dari penjara”. Rupanya satu kenyataan buruk masuk lagi ke dalam otak Landaur, ayahnya dipenjara.

Seiring berjalannya waktu, Landaur tumbuh memasuki masa remaja. Wajahnya sangat rupawan, berkulit kuning dan berbadan gagah dan tinggi. Di usia lima belas tahun Landaur mulai gemar berkelana dari satu daerah ke daerah lain untuk mengetahui keadaan dusun-dusun di kawasan Maddupote. Selain itu Landaur juga bisa mengobati berbagai penyakit yang diderita warga. Dengan demikian dia memilih berkelana agar bisa leluasa mengobati warga yang sedang sakit. Kehadiran Landaur menjadi kebanggan warga, mereka merasa kedatangan pahlawan baru. Setiap hari warga mulai ketagihan didatangi Landaur, karena selain mengobati, dia juga pandai memberi nasihat dan menyalakan semangat warga.

Kabar tentang Sunima yang telah punya anak terendus oleh pihak kerajaan. Raja Dulkemmek Banakeron mengutus prajurit yang berwajib untuk menemui Sunima agar mau mengirim anaknya ke istana untuk bekerja mengambil air. Tapi setiba di rumah Sunima mereka tidak bertemu dengan Landaur. Ketika prajurit datang Landaur sedang pergi berkelana. Prajurit marah dan membentak-bentak Sunima. Prajurit utusan raja itu akhirnya pulang dan datang lagi keesokan harinya, tapi lagi-lagi Landaur tidak ada, prajurit semakin marah dan mengancam akan membunuh Landaur. Sunima menangis histeris mendengar ancaman itu. Baru pada kunjungan ketiga kalinya mereka bertemu dengan Landaur. Dengan senyum lembut dan sapa yang santun, Landaur mempersilakan prajurit yang berjumlah enam orang itu masuk ke ruang tamu, namun ketua prajurit itu membentak dengan sangat kasar. Landaur berusaha tenang dan sekali lagi mempersilakan masuk dengan kata-kata yang lembut, tapi lagi-lagi prajurit itu kasar dan mengajak berkelahi. Akhirnya dengan terpaksa Landaur mau menuruti permintaan keji prajurit itu. Mereka berkelahi satu banding enam. Hanya dengan waktu yang singkat Landaur mampu melumpuhkan enam prajurit itu terjatuh ke tanah dan berlumur darah. Meski tanpa menggunakan senjata, Landaur sangat mudah mengalahkan enam prajurit tersebut. Anehnya, tubuh Landaur tidak terluka sedikit pun meski berkali-kali disabet pedang, golok dan celurit oleh prajurit yang licik itu. Akhirnya enam prajurit lari meninggalkan halaman Sunima dengan badan penuh luka.

Raja sangat murka melihat enam prajurit tiba di istana dengan badan berlumur darah. Raja merasa dirinya dilecehkan karena enam prajurit pilih tanding yang sakti-sakti itu lumpuh begitu saja. Raja memerintah Sang Pati dan beberapa prajurit berpanah untuk datang ke rumah Sunima. Kala itu raja tidak memerintah untuk menarik Landaur bekerja di istana, tapi memerintah menculik Sunima untuk dimasukkan ke penjara. “Hanya dengan cara itu Landaur akan bisa tersakiti,” kata raja kepada prajurit.

Sang Pati dan puluhan prajurit berpanah akhirnya berangkat menuju rumah Sunima pada malam hari. Mereka berhasil menculik Sunima pada dini hari karena kebetulan Landaur sedang tidak ada di rumah. Sesuai perintah raja, Sunima dijebloskan ke dalam penjara. Landaur baru mendengar kabar itu dua hari kemudian setelah dia pulang dari berkelana. Batin Landaur sangat pedih ketika mendengar kabar ibunya telah diculik pihak istana pada dini hari. “Ini pasti siasat licik agar aku datang ke istana,” gumam Landaur sambil menatap celurit ayahnya yang tergantung di sisi jendela.

Keesokan harinya Landaur memutuskan untuk pergi bersemedi sebelum pada suatu saat nanti datang ke istana untuk membebaskan kedua orang tuanya sekaligus untuk membebaskan mata rantai penderitaan rakyat. Dia menyelipkan celurit pada sabuknya. Kemudian pergi menuju Asta Guranggaring untuk bersemedi. Asta Guranggaring adalah tempat guru Landaur yaitu Kiai Mahfuz dimakamkan.

Asta Guranggaring terletak di sebelah timur Pantai Lombang Sumenep. Di sanalah Landaur bersemedi untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, memohon agar diberi jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah yang sedang di hadapi. Konon kabarnya Landaur duduk bersila di atas batu hitam menghadap ke arah kiblat. Landaur bersemedi selama empat tahun empat bulan empat hari. Selama bersemedi Landaur hanya makan sebiji buah siwalan setiap bulan sekali. Buah siwalan itu diantarkan burung merpati yang memang bertugas menjaga Asta. Setelah purna empat tahun empat bulan empat hari, tepat pada dini hari malam terakhir Landaur bersemedi, seberkas cahaya datang merasuki tubuhnya. Landaur hanya merasakan tubuhnya sangat ringan dan hangat. Cahaya itu sesap begitu saja ke dalam tubuhnya tanpa memberi apa-apa, bahkan celurit Landaur yang dibawa tiba-tiba hilang entah ke mana. Seusai shalat Subuh Landaur tertidur sejenak, saat bangun pada pagi hari dia terkejut melihat postur tubuhnya yang tiba-tiba besar dan tinggi mirip manusia raksasa yang sering dia dengar dari cerita ibunya. Batu hitam yang dia duduki saat bersemedi sudah hancur karena tidak kuat menahan berat badan Landaur. Dengan sangat hati-hati Landaur mencoba berdiri, setelah berdiri dengan tegak dia dapat melihat kawasan dan desa-desa yang jauh karena tinggi badannya jauh di atas pohon kelapa yang paling tinggi sekalipun.

Saat Landaur berdiri, tiba-tiba dari langit terdengar suara Kiai Mahfudz seperti tengah berbisik kepada Landaur. “Daur! Langkahkan kakimu ke arah barat daya, lewatilah sawah-sawah dan ladang-ladang warga. Teruslah berjalan lurus ke arah itu sampai kamu tiba di istana Raja Dulkemmek Banakeron. Singkirkanlah raja yang sangat kejam itu. Lalu bebaskan kedua orang tuamu dan para warga yang mendekam dalam penjara. Ayo langkahkan!” Kemudian Landaur melangkahkan kakinya. Ketika dilangkahkan, setiap kali kakinya memijak tanah, maka kaki Landaur akan terbenam ke tanah sedalam tiga meter dan setelah diangkat, dari bekas tapak itu memancar mata air. Begitu seterusnya setiap tapak kaki Landaur memancar mata air. Para warga yang sebelumnya ketakutan melihat sosok Landaur, tiba-tiba mereka gembira dan menari-nari ketika melihat mata air memancar dengan sangat derasnya. Para warga berduyun-duyun datang ke sumber mata air bekas tapak Landaur itu. Sumber mata air dari bekas tapak Landaur itu berjarak satu kilo antara yang satu ke yang lainnya, terletak lurus berjajar dari Asta Guranggaring ke arah barat daya.

Setiba di istana, Landaur berdiri di depan pintu gerbang. Para prajurit berkumpul sambil melepas anak panah ke tubuh Landaur, tapi sia-sia, anak panah itu tak mempan bahkan patah berkeping-keping setelah menyentuh kulit Landaur. Beberapa prajurit yang lain lari ketakutan. Landaur hanya berdiri seraya menatap suasana istana yang tampak hanya seukuran timba kecil. Sedang para tahanan tersenyum dari balik jeruji besi melihat sosok Landaur datang. Raja Dulkemmek Banakeron keluar lengkap dengan senjata dan pakaian perangnya. Dia sangat terkejut melihat sosok tubuh Landaur yang menyerupai raksasa. Raja Dulkemmek sadar bahwa tubuhnya hanya seukuran jari Landaur. Dia mulai ketakutan dan merasa senjata yang dimiliki tak berguna. Saat raja kebingungan tiba-tiba Landaur menghentakkan kakinya satu kali, bersamaan dengan itu atap istana berguguran dan sebagian temboknya retak. Hentakan kaki Landaur menyebabkan gempa. Para prajurit bergerak mundur karena ribuan anak anah sudah habis sia-sia. Kemudian raja membuka pakaiannya lalu menusukkan sebatang keris ke jantungnya sendiri, tubuhnya bersimbah darah, roboh dan mati terkapar. Warga dan para tahanan bersorak sorai atas kemenangan mutlak Landaur. Para prajurit bertekuk lutut tanda menyerah. Tangan Landaur kemudian dengan enteng melantakkan jeruji besi penjara. Para tahanan berhamburan keluar sambil bersorak-sorai. Di antara tahanan itu tampaklah Sunima, ibu Landaur sedang bergandeng tangan dengan lelaki tua. Landaur tersenyum bahagia bisa bertemu lagi dengan ibunya.

Setelah kebahagiaan Landaur memuncak tiba-tiba tubuhnya mengecil kembali ke postur yang normal. Lalu ibunya memperkenalkan lelaki tua itu kepada Landaur. Dialah Mattali, ayah Landaur yang belum pernah melihat Landaur. Akhirnya Sunima, Mattali dan Landaur berpelukan sambil menangis haru. Beberapa hari kemudian para warga mengangkat Landaur sebagai raja di Maddupote. Tapi Landaur mengembalikan wilayah dan kekuasaan Maddupote kepada Panembahan Mandaraga, putra Panembahan Joharsari, hingga Landaur tidak menjadi raja. Sejak saat itu tidak ada lagi penyiksaan dan penarikan pajak. Sawah dan ladang sangat subur, hasil pertanian melimpah. Bekas tapak Landaur dari Asta Guranggaring ke istana masih terus memancarkan mata air sehingga rakyat tak lagi kekurangan air. Mata air itu selanjutnya oleh masyarakat dibuat sumur dan disebut Sumur Tanto. Sumur Tanto yang berasal dari bekas tapak kaki Landaur itu terus memancarkan air. Kedalamannya hanya tiga meter. Sumur-sumur itu terletak lurus ke arah barat daya dengan jarak satu kilometer antara yang satu ke yang lain mulai dari arah timur Pantai Lombang sampai ke istana. Hanya saja yang tersisa sampai saat ini hanya beberapa saja. Di antaranya terletak di Dusun Bungduwak Desa Gapura Timur.

Gapura Timur, 10 Oktober 2017

Keterangan:

*Panembahan Joharsari (1319–1331) adalah putra Arya Asrapati, pada masa pemerintahan raja inilah Islam pertama kali masuk ke Sumenep (Legenda Bindara Saod dan Jokotole, 2012. Penerbit Asta Tinggi).

**Perkelahian satu lawan satu dengan menggunakan senjata tajam, perkelahian ini biasanya terjadi demi mempertahankan kehormatan (harga diri).

***Disampaikan oleh Syaf Anton WR ketika mengisi acara Kompoan Tera’ Bulan di Kebonagung, Sumenep.

ABD. WARITS, di media ia lebih dikenal dengan nama pena A. WARITS ROVI . Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988, karya-karyanya dimuat di berbagai media Nasional dan lokal  antara lain: Jawa Pos, Horison, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Indo Pos, Malah Esquire, Majalah FEMINA, Tabloid Nova,Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Tribun Jabar, Sinar Harapan, Solopos, basabasi.co, Apajake,co, Padang Ekspres, Riau Pos, Bali Post, Banjarmasin Post, Lampung Post, Haluan Padang , Minggu Pagi, Suara NTB, Harian Waktu, Bangka Pos, Koran Merapi, Radar Surabaya, Medan Bisnis, Majalah Ummi, Majalah Sagang, Majalah Bong-ang,  Radar Banyuwangi, Radar Madura Jawa Pos Group, Buletin Jejak dan beberapa media on line. Kumpulan puisinya dapat dinikmati di antologi komunal; Ketam Ladam Rumah Ingatan (Antologi penyair muda Madura 2016), Bersepeda Ke Bulan (Antologi Puisi Pilihan harian Indo Pos, 2014),  Ayat-Ayat Selat Sakat (Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos, 2014). Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan (Dewan Kesenian Mojokerto, 2010), Bulan Yang Dicemburui Engkau (Bandung, 2011). Epitaf Arau (Padang, 2012). Dialog Taneyan Lanjang (2012). Narasi Batang Rindu (2009), Tausiyah Sepenggal Rindu (2006), Sinopsis Pertemuan (2012), Terpenjara Di Negeri Sendiri (2013). Juara II Lomba Cipta Cerpen Remaja tingkat nasional FAM 2016. Juara III Lomba Cipta Puisi Esai LBM Sumenep (2016). Juara I Lomba Cipta Puisi Hari Bumi tingkat nasional FAM 2017.Puisisnya yang berjudul ”Perempuan Pemetik Tembakau” Masuk 5 besar lomba menulis puisi ”Perempuan” yayasan LAMPU. Kini aktif di Komunitas SEMENJAK dan membina  penulisan sastra di Sanggar 7 Kejora serta mengajar seni rupa di Sanggar Lukis DOA (Decoration of Al-Huda). Mengabdi sebagai guru di MTs Al-Huda II Gapura. Naskah drama yang ia tulis dan telah dipentaskan antara lain Hijrah ke Lubang Jarum, Siul Patung Besi dan Kacong. Berdomisili di Dusun Dik-kodik RT. 007 RW. 002 Desa  Gapura Timur, Kec.  Gapura, Kab.  Sumenep Madura 69472. email: waritsrovi@gmail.com. Phone. 082301606877.

No comments:

Post a Comment