Sunday, 13 October 2019

Pulang Haji


PERSIAPAN untuk menyambut kepulangan Haji Mahtum semakin hari semakin sibuk. Beberapa mobil sudah dicarter untuk para tetangga yang akan turut menyambut. Haji Mahtum sudah berpesan sebelum berangkat haji agar para tetangga dekat bisa turut menyambut kedatangannya bersama keluarga dengan biaya ditanggung Haji Mahtum.

Bagi Haji Mahtum, keberangkatannya yang pertama kali sebagai haji ini adalah berkah hidup yang tiada terkira. Meski sudah bertahun-tahun dia menjadi orang kaya yang sukses, ‘cap’ haji belum menempel di depan namanya.

Khusus untuk para tetangga, mobil carteran sudah dipesan. Khusus untuk keluarga, mobil-mobil Haji Mahtum sendiri yang sedianya akan dipakai. Puluhan sepeda motor pun sudah ‘dikontrak’ untuk menyambut dari batas kota pada saatnya nanti.

Tidak seperti kebanyakan tetangganya yang mengirimkan perubahan namanya setelah selesai ibadah haji, Haji Mahtum tetap memakai nama yang memang disandangnya sebelum ia berhaji. Menurutnya, namanya sudah tergolong baik dan serasi jika diawali gelar haji. Haji Mahtum.

Siapa yang tidak kenal Mahtum (sebelum haji)? Ia pengusaha kaya yang baik budi. Baik keluarga maupun tetangganya telah sama-sama merasakan kebaikan budinya itu. Jauh sekali sebelum naik haji, ia telah menunaikan zakat harta setiap tahun menjelang lebaran. Tidak terhitung sedekah hariannya, baik yang rutin ke masjid desa maupun pada fakir miskin dan juga sumbangan untuk proposal-proposal kegiatan keagamaan.

Selama ini ia memang belum naik haji meski orang-orang menilai bahwa ia bisa berangkat kapan saja ia mau. Bersama istrinya yang juga baik seperti dirinya itu. Akan tetapi, Haji Mahtum berpendapat bahwa naik haji bukanlah sebuah pencitraan kesempurnaan seorang yang kaya raya. Berhaji baginya tidak semata menyiapkan bekal harta yang cukup untuk membayar ongkos berangkat dan biaya selama di Tanah Suci hingga kepulangan. Ia berkeinginan bahwa jika dia berhaji nantinya akan menjadi lebih baik sebagai hamba Allah, menjadi husnul khatimah (semakin baik di akhirnya).

Haji Mahtum tidak ingin hajinya hanya menjadi haji kuantitas dalam rangka menaikkan citra dirinya sebagai anggota masyarakat. Ia ingin hajinya nanti benar-benar menyempurnakan agamanya karena telah menuntaskan semua rukun Islam.

Sejak dulu ia berpikir betapa tak bijaknya dia jika setiap tahun naik haji dengan istrinya karena harta demikian cukup, sementara banyak sanak saudaranya yang kesulitan mendapatkan nafkah sehari-hari meski untuk sekadar makan. Di samping itu, banyak pula tetangganya memiliki kesulitan hidup yang memerlukan uluran tangannya.

Baginya, naik haji bukanlah sebuah rekreasi yang berkedok ibadah meski secara materi ia dapat melakukan haji tiap tahun bersama istrinya. Ia tidak ingin seperti orang lain yang juga kaya raya dan hanya melaksanakan zakat harta sekali saja dalam hidupnya karena alasan akan menunaikan ibadah haji. Zakat harta tahunan dengan menyisihkan 2,5 persen dari hartanya bukanlah sebuah tiket pendaftaran yang harus dibayarkan dalam rangka akan melakukan ibadah haji, melainkan sebuah kewajiban tahunan bagi yang mampu.

Jika ada yang bertanya mengapa selama ini ia belum melakukan ibadah haji, dengan rendah hati ia akan menjawab: “Mohon doanya saja, insya Allah segera, Pak!”

Ia melakukan banyak upaya agar tetangganya tidak kesulitan bekerja. Sebagai pengusaha mebel kayu ia membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi tetangga dekatnya, terutama yang tidak mampu, untuk bekerja pada dirinya. Seorang kiai pernah menasehatinya.

“Orang kaya tidak boleh memanjakan fakir miskin dengan selalu memberi banyak sedekah, apalagi sedekah rutin. Karena setiap orang wajib melakukan usaha untuk mencari nafkah. Maka, yang harus dilakukan orang kaya bukan semata memberi sedekah saja. Alangkah mulianya jika ada orang kaya membuka lapangan pekerjaan bagi tetangga dan kerabatnya yang susah mendapatkan mata pencaharian. Orang kaya seperti itu bukan hanya membantu fakir miskin, melainkan juga membantu pemerintah negara yang bingung mengentaskan pengangguran dan kemiskinan.”

Sejak itu Haji Mahtum berpikir bahwa targetnya sebagai orang kaya bukanlah naik haji berkali-kali, melainkan agar sekitarnya jauh dari kemiskinan dan pengangguran.

Dan kini, ia akan pulang haji. Hajinya yang pertama, yang benar-benar ia niatkan sebagai ibadah karena ia merasa telah cukup menyejahterakan lingkungannya, bukan hanya kerabat dan keluarganya sendiri.

Kesibukan di rumah keluarga Haji Mahtum memang sudah berlangsung sejak sebelum keberangkatannya ke Tanah Suci. Selama ia berada di negeri langka hujan itu, setiap malam para tetangga dan kerabatnya membacakan Surah Yasin demi mendoakan keselamatan dan kelancarannya selama menunaikan ibadah dan agar ia mendapatkan berkah haji mabrur (haji yang baik/haji terbaik) dari Allah.

Para tetangga berdecak kagum dengan sikap murah hati Haji Mahtum sejak dulu. Dan, kini mereka menilai, bahkan ada yang meyakini bahwa sepulang haji nanti Haji Mahtum akan semakin baik, bukan hanya ibadahnya sehari-hari, melainkan juga sikap sosialnya pada orang lain.

Sehari sebelum Haji Mahtum dikabarkan akan segera mendarat di Bandara Juanda Surabaya, tetangga yang telah dipastikan akan ikut serta bersama keluarga dengan mobil carteran sudah siap berangkat. Mereka berangkat bersama ke Surabaya dalam iring-iringan mobil yang panjang. Seperti rombongan pengantar pejabat ke daerah. Ini sebagai tanda syukur karena telah tunai melaksanakan ibadah haji.

Tiba di Surabaya, mereka tak sabar ingin segera melihat seraut wajah Haji Mahtum yang budiman itu. Pastilah wajahnya penuh cahaya. Labbaikallahumma Labbaik…. Labbaika La Syarikalak….

Pesawat yang ditumpangi jamaah haji kloter sekian sudah diumumkan telah tiba di Bandara Juanda. Hanya dua orang dari pihak keluarga inti yang diperbolehkan menjemput langsung ke dalam asrama. Selebihnya menunggu di luar pagar berdesakan. Kakak laki-laki Haji Mahtum dan seorang pamannya yang menjemputnya ke dalam.

Betapa lamanya menunggu, meski hanya seperempat jam. Dua orang yang menjemput itu tidak segera menampakkan dirinya kembali. Orang-orang tak sabar ingin melihat, merangkul, memeluk, mengucapkan selamat, dan meminta doa Haji Mahtum. Orang-orang percaya bahwa selama 40 hari pertama seseorang tiba di tanah airnya sepulang haji, malaikat pemberi rahmat masih mendampinginya sehingga doa sang haji itu akan mudah makbul atau diterima Allah.

Wangi minyak khas orang berhaji, yaitu minyak Hajar Aswad (batu hitam), menyeruak di sekitar orang-orang. Menindih aroma keringat dan kelelahan para penjemput maupun aroma lainnya. Orang-orang terus berdesakan, tidak hanya yang menjemput Haji Mahtum, tetapi juga jamaah haji lainnya.

Beberapa saat kemudian, paman Haji Mahtum keluar. Wajahnya sepucat mayat, seperti tak berdarah. Lunglai ia berjalan ke arah keluarganya. Ia menghampiri paman Haji Mahtum yang lain. Suasana mencekam dan penasaran mulai terasa menular di sekitar penjemput Haji Mahtum. Ada yang tidak beres. Haji Mahtum tidak ikut serta. Pun kakaknya yang tadi masuk ke dalam. Pun istri Haji Mahtum yang semula bernama Mahiyati menjadi Hajjah Mahtumah, belum tampak keluar.

Bisik-bisik dengan cepat menyebar di antara para penjemput. Haji Mahtum terkena serangan jantung begitu menginjakkan kakinya di tanah air dan kini kritis. Dokter asrama haji sedang berusaha menolongnya.

Semua orang tampak berduka. Mereka komat-kamit membaca doa bagi keselamatan jiwa Haji Mahtum yang mereka kagumi dan hormati serta cintai itu. Haji Mahtum yang selalu memikirkan orang lain. Mereka berdoa dalam hati masing-masing agar Allah masih memanjangkan umurnya. Seharusnya, seseorang yang begitu berbudi luhur dipanjangkan usianya oleh Allah agar ia senantiasa tetap menaburkan kebajikan hidup bagi sesamanya di sekitarnya.

Akan tetapi, Allah berkehendak lain. Haji Mahtum tak tertolong. Ia meninggal tanpa sempat bertemu dengan para penjemput setianya. Raungan dan tangisan terdengar serentak dari semua orang, baik keluarga maupun tetangga yang menjemput. Kematian selalu menyedihkan, terutama pada saat tidak diharapkan.

Iring-iringan mobil para penjemput seperti iring-iringan pengantar jenazah seorang pahlawan menuju peristirahatan terakhirnya. Di depan sebuah mobil ambulans penuh karangan bunga duka yang membawa jenazah Haji Mahtum. Di belakangnya sebuah sedan yang membawa istri Haji Mahtum dengan kakak dan putranya. Tak henti air mata mengalir mengiringi kepulangan seorang Haji Mahtum yang pulang seterusnya ke Rahmatullah.

Di mulut desa menuju kediaman Haji Mahtum, orang-orang berdiri sepanjang jalan seperti ingin memberikan penghormatan terakhir pada seorang haji yang telah menunaikan ibadah hidupnya demikian baik.

“Orang naik haji itu ada tiga jenis. Jika setelah menunaikan ibadah haji ia meninggal dunia, malaikatlah yang memanggilnya berhaji. Jika setelah berhaji ia menjadi seorang hamba yang lebih baik, Nabi Ibrahimlah yang memanggilnya. Jika setelah naik haji ia menjadi semakin buruk perangai dan ibadahnya (su’ul khatimah), iblis-lah yang memanggilnya.” Kata-kata ini pernah diucapkan Haji Mahtum sebelum ia berangkat ber-haji.

Pulau Madura, 26 November 2010


*Juwairiyah Mawardy perempuan yang lahir di Sumenep, 25 Juni 1976, ini sejak sekolah memang senang menulis. Beberapa karyanya telah dimuat di sejumlah surat kabar lokal dan nasional.

*Cerpen ini pernah dimuat di Republika, edisi 12 Desember 2010.

Owa' Kapal

OWA' KAPAL


"OWA’ kapal, menta’a pessena,” Marini berka’ dhari dhalem romana ka taneyan. Nabang kapal se amonye reng-dherrengngan. Marini onga’ dha’ attas sambi ngoca’ menta’a pesse ka kapal se lebat.

Biyasana bila la pokol petto’an kapal jarowa lebat. Marini ngantos neng e adha’na amperra. Aorak menta’a pesse. Pesse se epenta pajat ta’ toman gaggar dhari kapal se eoragi rowa. Tape Marini apangrasa ce’ sennengnga rak-orakan ”menta’a pessena kapal”. Kadhang, bila Marini tababas jaga, ta’ kacapo’ ka kapal se lebat, Marini nanges sambi aonga’ ka attas. Pola-pola gi’ badha kapal se lebat pole.

E settong are, baktona are gi’ ta’ dhapa’ pokol petto’, Marini se gi’ li’-guli’an e kamarra abaladhas jaga ngedhing  monyena kapal se ce’ ranyengnga. Dhari kamarra Marini buru entar ka taneyan, aonga’ ngabas kapal. Marini takerjat tor senneng nangale kapal ce’ mandhappa. Marini talebat senneng. Dhari sakeng sennengnga Marini akowak ce’ santa’na, ”Kapal, kapal, sengko’ menta’a pessena.”

Gun sabban pokol petto’ jareya baktona Marini amaen e lowar kamarra, amaen e taneyan ka’-berka’, ban rak-orakan. Marena jareya, bila kapal la jau, Marini pas eolok mon ebu’na esoro mandhi se mangkata asakola. Dhatengnga asakola Marini pas masok ka kamarra pole, amaen kadibi’an ban en-maenan se la emelleyagi mon reng seppona e sar-pasar.

Marini ta’ seggut amaenan ban ca-kancana, asabab la bannya’ en-maenan se canggih neng romana. Marini tamaso’ na’-kana’ se reng towana kacokopan. Ebu’na dokter ban bapa’na pilot. Areya alasanna Marini ma’ bisa lebur ngabas kapal se lebat. Bila Marini ngabas dha’ attas ka kapal, Marini ngarep bisa nangale bapa’na. Bila Marini aorak ka kapal, Marini ngarep bapa’na ngedhing ka sowarana. Marini jugan lako ngarep bapa’na ngajak nompa’ kapal. Tape palangnga Marini, bapa’na lako ta’ mole asabab emo’ neng e panerbangan. Ce’ terrona Marini se tatemmowa, apangrasa kerrong sara. Biyasana tekka’a paraiyan, bapa’na ta’ le-mole, bannya’ kalakowan. Marini ban ebu’na pajat ta’ tao apa se ekalako bapa’na e dhissa’.

Tape ontongga Marini andhi’ ebu’ se genna ban esto dha’ anak. Tekka’a sibu’ banya’ pasien neng e roma sake’, Ebu’na tak pernah loppa dha’ Marini. Ebu’na paggun mole ka romana tekka’ la kadang taker tengnga malem. Ebu’na ta’ pernah tega adhina Marini sampe’ saare samalem, apa pole pas matedung Marini kadhibi’an e dhalem kamar.

Marini se gi’ kene’ ongguna la ngarte ja’ oreng towana tak pate badha e romana polana alako kaangguy biayana odhi’na. Tape tekka’ la ekoca’ ngarte, kadhang Marini apangrasa ta’ kaurus, bilebbi bila Marini ngakana, marini lako ngakan kadibi’. Padahal, Marini ce’ terrona ngakan abareng reng seppona ban sambi edulang. Ban pole, Marini apangrasa ebu’na reya oreng jauh, tak toman tor catoran, tak toman aja’ gaja’an, pokokna Marini apangrasa asing dha’ ebu’na dhibi’. Tak getton saongguna mon Marini apangrasa tak akrab ban ebu’na, jareng ebu’na kadang mangkat ka roma sake’ sabelunna Marini jaga dhari tedung, ban mole ka romana bila Marini la tedung, daddi Marini ban ebu’na tak pate tatemmo.

Ontongnga, Marini ta’ daddi na’-kana’ se cengkal padhana na’-kana’ laen se ta’ pate eladin mon reng towana dibi’. Pangladinna Marini se anyama Rukiyah aropa’agi babine’ se penter dhalem ajaga ana’, saengga Marini daddi na’-kana’ se toro’ oca’ ban ta’ marengsa. Marini ta’ toman menta rang-barang se talebat larang. Marini tao ja’ nyare pesse areya ta’ gampang. Marini tao keya ja’ mon odhi’ areya ta’ olle bong-sombong. Sapa pole se ngajari tengka nga’ jareya mon ta’ Rukiyah. Marini la nganggep Rukiyah jareya akadiya reng seppona dibi’. Dhari Rukiyah, Marini ngarte, ja’ saongguna tadha’ gunana sombong, pera’ marekong.

***

Sonarra mata are ngombar dhari candilana kamarra Marini. Marini akaleya’, atena bunga polana bakto dhapa’ pole ka pokol petto’. Padhana biyasa, Marini lako senneng bila la jaga tedhung, enga’ ka kapal se bakal lebat.

Nalekana monyena kapal la ekaedhing dhari jauna, Marini pas berka’, aonga’ terro nangaleya kapal se lebat. Monggu Marini, ngabas kapal aropa’agi en-maenan se paleng lebur. Marini apangrasa ta’ toman busen ngabas kapal tor aorak menta’a pessena dha’ kapal jareya. Tape mon dha’ barang-barang elektronik se daddi kancana e sabban arena, Marini la abit apangrasa busen polana taker seggut.

Dhapa’ ka tengngana taneyan Marini onga’. Ngabas dha’ kapal se lebat e attassa romana. E dhalem atena Marini nyangka, ja’ e dhalem kapal se lebat jareya badha bapa’na se ta’ toman mole.

”Menta’a pessena, Kapal!” Sowarana Marini eparanyeng ma’ olle ekaedhing mon bapa’na se badha e dhalem kapal se la sajan jau dhari pangabasanna.

Kapal se eabas la sajan jau, atena Marini apangrasa ketter. ”Dhu, Bapa’. Bila sampeyan se palemana?” Serrona e dhalem ate.

”Se mandhiya, Marini, la aban reya,” padhana biyasa, ebu’na se la ranta se mangkata ka roma sake’ ngolok Marini dhari dhalem kamarra.

”Enggi, Ebu’,” sambi ajalan lesso Marini ngala’ paralatanna mandhi. Sateya la baktona Marini mangkat asakola.

Mon esoro asakola, Marini pajat ta’ toman tomos, Marini tamaso’ dha’ ka na’-kana’ se bajeng tor penter. Sateya Marini la toju’ e bangku kellas ennem. La kare nem bulan laggi’ se lulusa. Dhari lamba’ gi’ TK, Marini la ngenneng rangking settong, la banynya’ pialana e attas lamarina. Saban olle piala lantaran enneng lomba otaba enneng rangking, Marini lako enga’ ka bapa’na.

”Ce’ terrona badan kaula maonenga piala neka ka bapa’, Bi’,” oca’na setttong bakto ka pangladinna. Tapi se anyama pangaterro gun kare pangaterro, bapa’na ta’ toman mole.

Sakadhang Marini apangrasa ta’ andhi’ reng seppo lantaran reng seppona lako ta’ pate ngurus. Tape onggu ontong raja, kakaceba’anna Marini dha’ tengka lakona reng seppona ta’ elampeyasagi dha’ kalakowan juba’ akadiya na’-kana’ kabannya’an.

Kakaceba’anna Marini dha’ reng seppona kadhang daddi inspirasi kaangguy noles puisi. Pa’ Paosi, guru basa Indonesiana toman ngajari Marini noles puisi. Pas jareya epadaddi bur-leburanna Marini nalekana seddhi. Puisina Marini gus-bagus, mangkana mon Pa’ Paosi pas ekerem ka korran Radar Madura. Minggu bilan puisina Marini emuat. Tape emanna ebu’ ban bapa’na ta’ tao.

***

Ja’ senga’a tao ka kadaddiyan se sangguna, Marini ta’ kera apangrasa bapa’na ta’ enga’ ban ta’ ngurusa aba’na. Bapa’na Marini banne lalake’ se ta’ lebur mole ka roma. Gi’ lamba’, sabellunna kadaddiyan e are Satto tanggal petto’ Rejjab rowa, bapa’na Marini seggut mole sabban minggu sakaleyan. Tape, takdir dhari Se Kobasa, bapa’na Marini calaka.

E are Satto rowa langnge’ petteng calemotan, kelap dhar-ngajendhar. Molae malemma ojan toron ta’ bu-ambu, buru ambu gi’ gella’ pokol dhuwa’an. Teppa’ bakto pokol petto’ e attas genteng kapal lebat, yu’-liyu’an ka kangan ka kacer, monyena laen, ta’ padhana biyasana. Ebu’na Marini gun bisa adhu’a ban nanges. Ngarep ka Se Kobasa lakena mandar epasalemetta. Tape sapa se bisa nyegga ajal, kapal se etompa’ bapa’na Marini gaggar.

E bakto kadaddiyan jarowa, Marini gi’ kene’, gi’ ta’ asakola kana. ”Marini panyengga ka romana tatangga lu,” oca’na oreng se ta’ tao sapa nyamana.

”Iya teppa’, Le’. Mara duli panyengga, ja’ pangabas ka mayyitta bapa’na. Neser.”

Marini epanyengga ka romana Sahna. Ta’ epatao ka mayyitta bapa’na.


*A
*)Santre SMA 3 Sabajarin Lu’-Gulu’ tor angguta Café Latte 52 Latee 1.
*Sumber:https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/04/01/129003/owa-kapal

Thursday, 10 October 2019

E Tarebung Odhi’ Egantong


AJALANE odhi’ e disa reya ta’ gampang. Pangaselan ta’ notobi kabutowan. Kar-karkar nyolpe’. Nyare sateya, tadha’ sateya keya.

Se olleya pesse Rp 10.000 sampe’ magili pello koneng. Se kemma argana berras ban se laen sabban are ongga. Ontong mon nemmo lako, pendha mabunga ka reng roma. Ta’ pate posang se ekabalanja’a, maske kadhang kodu agartang e tengnga saba.

Sonarra are se tar-kataran eanggep tadha’ bila enga’ ka biyayana odhi’ se ta’ sakone’. Bida mon sogi tane. Berras ban jagung ta’ osa melle.

Odhi’na Sanedin pas-eppasan. Ollena alako coma kop-cokop ekakan. Romana dhari tabing ta’ egeddhung balakka’. Kene’ tadha’ kamarra sakale. Se daddi orep sabban arena dhari tarebung.

Tarebung aropa’agi ka’-bungka’an. Biyasana tenggi. Bisa tombu e dhimma’a bai. E teggal, e saba, kadhang-kadhang ajijir e penggir jalan. Sakabbiyanna se badha e bungkana aguna ka kaodhi’anna manossa.

Dhaunna eanggi’ daddi teker, sakala tempo. E pareppa’na tatampan otaba tellasan petto’ popossa ekagabay orongnga topa’. Amarga lebbi soga’ ban lebbi ekarassa ro’omma etembang ngangguy janor. Kembangnga se anyama manyang bisa makalowar aeng manes, anyama la’ang. Kajuna mon la towa, ekala’ ba’anna ekagabay osogga bengko.

Nae’ kalakowanna Sanedin. Tantona banne kalakowan gampang. Se olleya pesse buto kasabbaran. Apana pole ta’ sakabbiyanna tarebung bisa ekala’ la’angnga. Tape kodu tarebung se manyangnga pajat eobu. Dhaunna ta’ tao ekala’ sakale. Bungkana eanthadi kaangguy magampang dila nae’.

Se kalowara la’ang buto bakto. Manyang egipe’ dhuare sakaleyan ngangguy pangremo se ekagabay dhari kaju. Saollena pa’ kale manyang ekerra’ pas edina samalem benteng. Kalagguwanna etenggu pole. Mon capcabba bannya’ buru etadhai dhari temba.

Ta’ mare sampe’ gan jadhiya. La’ang gi’ usa kella saare benteng. Apanas e adha’anna tomang. Se daddiya gula egulek aejjaman. Gula ejuwal, pessena buru bisa ekabalanja.

Odhi’na Sanedin se sara ejalane kalaban sabbar. Poko’na aba’na sehat la asokkor raja. Salaenna jereya, bellun gi’ babajana se raja. Bannya’ kabar se dhapa’. E disa laen tokang nae’ labu ekapate. Sanedin kadhang arassa kabater. Tape ta’ pas daddi ambuna nae’.

Ajalla ban-sabban oreng ta’ kera padha. Epekkerra Sanedin pera’ settong, tadha’ lako se ta’ berra’. Misalla, alako e tase’ tarowanna paggun nyaba. Sabban are alaban aros. Mon palang gaggar, mate. Tor kadhang mayyidda ta’ etemmo balakka’. La-balana pera’ narema kabar pate. Reng odhi’ pajat kodu bangal ka pate mon tako’ ka lapar.

Bellasan tarebung se enae’e dhukale e dhalemanna saare banne andhi’na dibi’. Ollena la’angnga cara giliran. Saare ebang ban se andhi’. Re-saare Sanedin rangrang tedhung. Ambuna kadhang pera’ ngakan ban abajang.

Dila nae’anna mare kabbi, Sanedin agasegan andhi’ sangguban ngala’agi balaragga tatanggana. Ongkossa, dhalem sapo’on, olle balarak sakongkong. Dhatengnga laju nyare kaju kaangguy epangella la’angnga. Sanedin, abanteng tolang onggu. Katon loppa ka lesso ban lempo.

Amarga odhi’ ta’ cokop pera’ nyare se ekakana, tape bannya’ tengkana. Bila ta’ dhateng eonjang tatangga, aep raja. Aba’ tantona malo. Mon gun urusan e ko-bengko, ca’- oca’an ajuko’ buja cabbi ta’ kera badha se tao. Se kemma terro ngabasa ana’ bine bunga, noro’ kappra ban bala tangga.

Suhriya, binena Sanedin, reng bine’ se lakona gun e ma-roma. Atana’, asapowan, ban nyassa. Kaangguy abanto notobi kabutowan, Suhriya agabay teker. Alako teker kodu laten. Balarak marena ejemmor gi’ etongkes, eelas buru bisa eanggi’. Se olleya settong buto bakto 3-4 ejjam. Argana kadhang coma Rp 10.000. Mon etong-bitong katon pera’ olle lakona.

Tape, dhu baramma’a pole. Nasib se etoles la nga’ jareya badhana. Tadha’ jalan bunga salaenna narema. Le-olle sakone’ paggun elakone. Pajat ta’ padha ban tatangga se alako teker pera’ gabay ba-tamba.

***

Alam gi’ petteng. Un-dhaun gi’ bacca, badha re-karena lettessa ebbun. Adan sobbu ekaedhing dhari rong-corongnga masjid. Ajam-ajam akongko’. Reng-oreng padha jaga adina mempe ban tedhungnga.

Marena abajang, Suhriya langsung toju’ ka teker. Mon laggu, elas lemmes polana mare eebbunagi samalem. Daddi gampang anggi’anna. Aban sakone’ elas rotong polana sateya kabadha’an nemor.

Sabatara jareya, Sanedin la siyap se mangkada nae’. Tembana mare esonson. Larona mare etoto. Caplak ban cangkelle’, kennengnganna pangerrat ban kapor otaba laro la eangguy keya.

”Bing, jaga se abajanga. Mara tolonge asapowan kanan pompong sateya parai,” Suhriya ajagai Maesa, ana’na se towa’an. Elas terros eanggi’. Teker kaburu mareya.

Maesa mella’ gan sakone’ ngedhing sowarana emma’na. Manggana ta’ jaga’a, keng eja-kaja. Toju’ e battonna. Sokona akondhang katon ta’ kellar adingka’, dhari lempona.

”Le’, jaga se abajanga!”

”Ya,” Hasan nyaot sambi mella’.

Are on-laon ngombar dhari langnge’ bagiyan temor. Teker se epatotok karena malemma la ranta.
Erao, eleppet, ban epapolong ka se ri’-bari’na. Saellana ebitong, ollena tello are pa’-empa’.

Pojurra, sateya pareppa’na osom bako. Teker abak larang. Argana settong Rp 15.000. Artena, Suhriya bakal olle pesse Rp 60.000 mon tekerra ejuwal kabbi. Maske ta’ bannya’, Suhriya arassa perak. Pesse Rp 60.000 paggun cokop ekabalanja kabutowan dhapor.

Nyamana reng ta’ andhi’, melle gan sakone’ poko’na badha se ekakana sateya. Ongguna, ja’ sakenga ajuwala, gulana badha keya. Keng epapolong, sabab andhi’ kaparlowan laen. Malem Rebbu baliyan aresanna raja.

Reng bine’ kodu penter ngator urusan pesse. Mon ta’ nga’ jareya lakena pera’ kare salpo’na se alako. Reng bine’ akantha geddhung. Mon ta’ koko bisa-bisa gujur.

Samarena abajang, Maesa aberseyan bengkona. Emma’na lako maenga’, maske bengko ba’-juba’, poko’na berse paggun lebur eabassagi. Bida ban ale’na, nerrosagi tedhungnga, gi’ badha karena katondhu.

”Ba’na melleya apa? Sengko’ ka pasara,” Suhriya atanya ka Maesa se mateppa’ katedhunganna.

”Ca’epon panjennenngan, Ma’.”

”Ya la, sengko’ mangkada.”

Ajalan ka lao’. Ta’ ngantos oca’na Maesa pole.

***

Pokol 09.00 WIB. Panassa are ekarassa nyengnge’. Suhriya dhateng dhari pasar. Maesa perak polana emelleyagi dhi-undhi.

”Eppa’na ta’ dhateng ya?” Suhriya atanya sambi makalowar balanja’anna. Etong-bitong pesse Rp 60.000 tadha’ karena sakale. Olle berras, jagung, juko’, palappa, gula, kobi ban jajan se ekale-olle ka ana’na.

”Rabu gella’ pon, Ma’, keng meyos pole.”
Suhriya langsung atana’. Tomang eodhi’i. Apoy ngolap. Kaju epamaso’, edina’agi ngocek palappana juko’. Tadha’ ambuna emo’. Se alako dhari marena sobbu sampe’ sateya ta’ nemmo mare.

Suhriya ajalane kalaban ate narema. Aba’na apangrasa dusa raja ka ana’ ban ka lakena mon urusan ngakan kanan ta’ eparanta. Lakena re-saare alako. Nae’ ongga dhari tarebung settong ka settongnga.
Etos-antos lakena ta’ gellem dhateng, sampe’ nase’ massa’. ”Essa’ ra eppa’na sosol me’ arapa-rapa,”

Suhriya arassa kabater. Katon badha se ta’ nyaman e pekkerra.
Maesa ban Hasan laju mangkat. Suhriya terros amassa’, maske kabadha’an ta’ padha ban biyasana. Tanangnga neggu’ cobik se aesse’ juko’.

”Ma’....ma’.......” Sowarana ana’na long-callongan. Suhriya takerjat.

”Eppa’ labu, Ma’....” Sowarana ana’na ekaedhing sambi nanges. Cobik gaggar ta’ apangrasa. Juko’ nompa acaeran. Suhriya berka’. Lakena esong-osong oreng. Tanangnga ngetter. Robana pote olay. Ja’ sakenga ekerra’ katon tadha’ dharana. Pekkerra elang...

***

Suhriya enga’. Ana’na padha nanges. La-bala etangale. Katon noro’ sossa kabbi. Lakena agentang ta’ enga’ pa-apa. Meddem pera’ kanton nyaba. Aeng matana Suhriya agarabas nyapcap ta’ egarassa. Ana’na, esanderri adingka’ re-lere.

”Eppa’, Ma’...”

Tangessa ana’na akareongan macaltong ate. Matalka ka dhadha. Dhu baramma nasib ka budhina. Mon pas lakena dhapa’ onggu ka ajalla. Apa se daddiya. Ana’ gi’ padha kene’. Kabater ta’ bisa agante lakena asare kabutowanna odhi’. Pekkerranna ajalan. Eabas lakena, pera’ aeng mata se terros agili ta’ kenneng tamba’. Acaca’a ta’ metto sowara.

Sanedin temmo etangale mella’. Ana’, bine, ban bala tanggana arassa bunga. Sowara tanges ta’ ekaedhing pole. Sanedin ngabas reng-oreng se badha e adha’na. Asokkor nyabana gi’ badha.

Jalan odhi’na Sanedin pajat malarat. Tape paggun ejalane. Pae’-manes padha elebadi. Mon odhi’ terro arassa’ana bunga kodu bisa sabbar ban narema badhana. Sanedin ta’ pegga’ pangarep. Moga budhi are nemmowa tambana sossa. (*)


*Siti Fatimah lahir pada 1994. Pada Akhir 2009 keluar sebagai Juara III lomba menulis cerpen se Jawa Timur yang diselenggarakan oleh FLP Sumenep.

*Carpan ini dipetik dari buku "Tora Satengkes Carpan Madura," (2017). Pernah Tayang di Radar Madura pada 20 Desember 2015 dan serta tayang di serrat pote pada 21 Desember 2015.

*Keterangan Gambar : “Hidup Untuk Bertahan” karya Putu Sutawijaya. 2005. Mixed Media On Canvas. 120 cm x 140 cm

Adduwan Ajam Ngeba Pate

Adduwan Ajam Ngeba Pate
Ayam Tarung – Otto Djaya

E GU-LAGGU are, Saridin la toju’ asenthel e adha’na romana. Asenthel e attasa lencak se esaba’ e babana bungkana pao. Kancana Saridin cokop ajamma se la mare epandhi’i. Ajamma Saridin agibes maelang aeng se badha e buluna.

Ajam jareya badha e dhalem korong bunter se ekagabay dhari perreng. Tadha’ lobang se bisa elebedi kaangguy kalowar. Ajamma Saridin gun anga’-lenga’ sambi ngabas are se sajen tera’.

Lakona Saridin sabban are gun-paggun. Tadha’ lako laen salaen mandhi’i ajamma gu-laggu ban akancae ajamma sampe’ petteng. Bila dhapa’ ka baktona, ajamma egiba ka pasar kaangguy eaddu.
Sabban ngaddu ajam Saridin paste ngaolle pesse bannya’. Pessena tarowan. Ajamma se anyama Pardi lako mennang sabban eaddu. Polana ajamma, Saridin ta’ nyare pesse kalaban kalakowan laen salaenna ngaddu ajem e pasar.

”Din, baramma lagguna, tolos se ngadduwa?” Marto, kancana Saridin, ajalan dhari temor entar ka Saridin.

”Paggun tolos, To. Ajamma sengko’ la siyap se a-tarung-a,” Saridin nyergu’ roko’na kalaban bunga.
Marto toju’ e seddi’na Saridin, ”Nyaba’a pesse barampa lagguna?”

”Sengko’ nyaba’a Rp 3 juta. Sengko’ andhi’ pesse bannya’ sateya, To,” Saridin mesem ka Marto.

”Baramma mon ajamma ba’na kala, Din? Rp 3 juta banne pesse sakone’,” Marto ngabas ajamma Saridin. Marto tao ajamma Saridin lakar lako mennang sabban eaddu. Tape sapa tao lagguna Saridin apes pas ajamma kala.

”Tennang, To, ajamma sengko’ paggun mennang. Sengko’ la andhi’ jamo se makowat. Ba’na gun cokop ngancae sengko’ lagguna. Ba’na paste ngaolle pesse dhari sengko’.”

”Mon masala ngancae ba’na, Din, gampang. Poko’na ajamma ba’na kodu mennang.”
Saridin ban Marto terros abanta ajam sampe’ are para’ dhapa’a ka konco’na. Ajamma Saridin la ta’ becca pole. Aeng se badha e buluna la kerreng. Ajam jareya posang polana are sajan panas. Ajam jareya aleyer e dhalem korong nyare paburuwen, ta’gallem etemmo.

Panas are se tembus dhari dhaun pao dhapa’ ka kole’na Saridin. Saridin arassa panas e lengngenna.

”Panas la, To. Ajamma sengko’ kodu pakadhalem.”

”Duli pakadhalem ajamma ba’na, Din. Ajamma kodu paistirahat ma’ olle mennang lagguna,” Marto nyaot pas nyolet roko’.

Saridin ajalan entar ka ajamma. Korongnga ajamma esongka’ pas ajamma kalowar. Maske badha e lowar korong, ajamma Saridin ta’ buru. Neng-enneng ngantos kaangguy egiba ka dhalem kandhang.
Saridin ngala’ ajamma pas ekeppe’. Ajamma egiba ka dhalem kandhang kaangguy istirahat.

Samarena nyaba’ ajamma, Saridin entar ka Marto pole kaangguy tor-catoran sampe’ are nyellem e bara’na gunong.

***

Kalagguwanna, Saridin la siyap se mangkada. Are gi’ ta’ panas. Tape la tera’ e bun temorra saba. Maske are gi’ ta’ tenggi, Saridin la mare ajamoi ajamma. Samarena ejamoi, ajam jareya epakane nase’ sapergem se ebaccae aeng.

Saridin ngantos Marto se mangkada ka pasar. Marto ta’ duli dhateng. Saridin ngantos sampe’ lesso. Roko’ dhulencer la tadha’ esergu’. Saridin anga’-lenga’ nyare Marto. Tape se esare ta’ gellem etangale. Saongguna Saridin kaburu se mangkada ka pasar. Tape oreng se seggut ngancae aba’na ta’ dhateng tora. Saridin posang polana aba’ dibi’na ta’ kenceng mangkat mon ta’ abareng Marto.

Ajamma Saridin akongko’ pan-barampan kale. Ngabala aba’na la siyap se atarunga. Nase’ sapergem se eberri’i Saridin la tadha’. Saongguna nase’ sapergem ta’ makennyang aba’na, tape Saridin ta’ kera aberri’ pole polana badha se ngoca’, ajam se eadduwa kodu ta’ kennyang ban ta’ lapar.

Ajam se lapar ta’ gesset se atarunga. Sabaligga, ajam se kennyang gallu’ lesso se abuwanga. Daddi ajam se eadduwa kodu pakane sakone’.

Saridin ngala’ HP kaangguy nelpon Marto se ta’ gellem dhateng. Nyamana Marto la esare. Tape sabelluna Saridin mece’ tombol se badha gambarra telepon abarna biru dhaun, Marto ngolok dhari jauna. ”Din, mayu’ se mangkada!”

”To, ba’na ma’ ta’ duli dhateng, ba’na gi’ entar ka dhimma?”

”Sengko’ kadhatengngan tamoy, Din. Ta’ nyaman mon ta’ esoro toju’ gallu.”

”Sengko’ pangarana nelpona ba’na. Sangkana sengko’ ba’na la ta’ entara ka pasar.”

”Sengko’ paste entar ka pasar, Din. Sengko’ terro nangaleya ajamma ba’na mennang pole.”

Samarena ata-banta ban Marto, Saridin ngala’ baddhana ajamma. Baddha jareya ekagabay dhari belladda perreng se eraos patepes pas eanggi’. Saridin makalowar ajamma dhari korong se bunter pas epamaso’ ka dhalem baddhana. ”To, ba’na se nyettir sapedhana sengko’. Sengko’ se neggu’a ajamma.”

Sapedhana Saridin eodhi’i bi’ Marto. Saridin agunjing e budhina sambi neggu’ ajamma. ”Baramma mare kabbi la, Din?” Marto atanya.

”Sip! Mayu’ mangkat.”

Romana Saridin ta’ jau dhari pasar. Saridin gun buto bakto dhupolo menit se dhapa’a. Sadhapa’na ka pasar, Saridin laju ajalan ka kennengnganna ajam sabung. E pasar jareya oreng-oreng la padha enger, asorak polana ajam se eaddu. Saridin ngabas ajam-ajam se eaddu sambi ngeppe’ ajamma dibi’. Marto gi’ markir sapedhana Saridin. Epapolong ban sapedha-sapedha se laen.

”Ajamma sapa se eadduwa karena?” settong oreng lake’ raja anga’-lenga’ nyare oreng se ngadduwa ajamma.

”Sengko’!” Saridin ajalan entar ka oreng jareya nyambi ajamma.

”Andhi’na sapa pole?”

”Sengko’ngadduwa,” settong oreng lake’ maju masemma’. Oreng jareya ngeppe’ ajamma.

”Barampa tarowanna?” Saridin atanya.

”Rp 2 juta!” oreng se ngeppe’ ajam ajawab.

”Ajareya sakone’ gallu. Sengko’ bangal nyaba’ Rp 3 juta.”

”Iya, sengko’ nyaba’a Rp 3 juta.”

Samarena jareya Saridin ban oreng se ngeppe’ ajam ajalan magi pessena tarowan ka oreng lake’ se raja gi’ buru. Ajamma Saridin eocol gallu ka tengga lapangan pas andhi’na mosona. Kabbi ajam jareya la padha ngoso’ pas padha saleng tembung. Olle sapolo menit ajamma Saridin nyampar mosona, nyampar matana. Ajam se esampar robbu pas ta’ jaga pole.

”Ajamma sengko’ mennang pole,” oca’na Saridin, perak. ”Pessena tarowan jareya andhi’na sengko’ kabbi.”

Oreng se ajamma kala ngoso’ ta’ tarema. Oreng jareya ajalan entar ka Saridin. Saridin se neggu’ pesse bannya’ ta’ ngabas oreng jareya. Oreng jareya neggu’ silet e tanangnga. Tape Saridin ta’ tao.

Oreng jareya nyocco tabu’na Saridin kalaban siledda pas buru. Saridin athowat polana sake’. Dhara agili dhari loka. Samarena jareya Saridin robbu pas ta’ jaga. Saridin mate.

Marto posang ngabas Saridin se mate. Saongguna Marto terro nolonga Saridin tape tako’. Samarena mekker ban mekker, Marto buru dhari pasar se ramme, adina kancana se mate. (*)


*UBAIDILLAH HASANI. Lahir pada 1996. belajar menulis sejak di Pondok Pesantren Annuqayah Latte.

*Carpan kasebbut epetthek dari serrat pote, se jugan emuat  korran Jawa Pos Radar Madura (JPRM) e are Ahad, 7 Agustus 2016. Tor maso' dhalem buku "Tora Satengkes Carpan Madura." 

Wednesday, 9 October 2019

KASTA

Kasta


MARE adan Sobbu tadha’ oreng ngaji ka corongan. Biyasana, na’-kana’ se ngenep e langgar ngaji ka keyajina. Are gi’ ta’ kalowar, ajam la nganthang akongko’. Dulasmar ru-kaburu entar ka langgar abala ka keyaji ja’ sapena la elang.

”Assalamu ‘alaikum, etojjuwagi dhari sadaja masyarakat Pordhapor, sapena Dulasmar ampon elang. Ngereng dha’ sadaja masyarakat pakompakkagi nyare sape.” Seyaran e masjid ekaedhing ka man-dhimman.

Kabbi masyarakat Pordhapor seyal. Tacengnga’ polana mangken neka disa badha kaelangan. Molae dhimin, bajingan dhari Pordhapor bisa masteyagi kaamanan disana. Kalebunna jugan kowat arangkol bajingan dhari Pordhapor ban se dhari lowar disa. Bajingan dhari lowar se ngeco’a sape e Pordhapor tako’. Bannya’ oreng ngoca’, ”Biyasa, paleng jareya bajing gi’ buru ajar. Entara nerragi nyaba, paleng.”

”Kan iya jat. Mon maleng gi’ buru ajar reya jat nga’-masanga’. Enga’ se ce’ angkona,” ca’na oreng laen se padha akompol e romana Dulasmar.

Sambi nyongkelagi arek ka gulungan sarongnga, Dulasmar ngoca’, ”Mayu ka, mon mangkata pong gi’ ta’ ce’ abanna,” Dulasmar ngajak oreng-oreng se toju’ e per-amper romana.

”Neserra Dulasmar, mangkana sapena ebelliya e bakto anakna se bine’ alakeya. Dulasmar la para’ masanga reng-tareng.”

”Se biyasana Dulasmar ebantowa, sajan ekeco’ ban oreng sapena,” ca’an Bun Nurasan ka Sahriya se mangkata ngare’ ka saba.

”Areya sapena epakalowar ra-kera pokol tello’an. Ja’ engko’ pokol dhuwa’ gi’ entar ka jeddhing, akemme. Mare jareya engko’ nenggu sape reya gi’ badha,” Dulasmar acareta se malemma.

”Ken malemma dhatengnga kompolan enga’ se badha kalemba’na oreng e babana accem e sabana Man Jusup,” Oca’na Addul. Masyarakat Pordhapor terros noro’e lampatta kokotta sape dha’ bara’. Tape ta’ jau dhari romana Dulasmar, lampatta sape abiluk dha’ dhaja.

”Buru dha’emma reya, ma’ mosange mase,” ca’na Addul.

”Areya jat ma’ le posang se nyare,” Asmawi nyaot.

Are ampon seyang, panassa are, lapar, pelka’ la padha badha. Lampatta kokotta sepe terros ongga ka gunong. Lampatta sape apencar daddi dhaduwa’. Masyarakat apencar. Badha se noro’ Dulasmar ban badha se noro’ Asmad. ”Areya paleng etaro e Guwa Pajuddan”, sangka’anna Asmawi se ajalan neng e budhina Dulasmar.

”Ta' kera! Paleng reya esaba’ e dhajana guwa, ja’ polana engko’ tao nyare sape keya neng edhiya dhin majadhi’,” ca’na Addul.

”Andhi’ roko’ ba’na, Dul? Pae’ colo’ la…”Asmawi atanya ka Addul.

”Engko’ ta’ sempat ngeba roko’. Engko’ jagana tedhung langsung mangkat polana bine ga’-jaga’an ja’ sapena anom reya elang,” ca’an Addul.

Para’ dhapa’a ka Guwa Pajuddan, Dulasmar tatemmo ban oreng bine’ se ngala’ aeng neng dhing-jeddhingan. Aeng jareya agili dhari somber se badha e Guwa Pajuddan. ”Le’, badha sape lebat edhiya?” Dulasmar atanya ka oreng babine’ jareya.

”Badha gi’ buru, Ka’, dha’ dhaja. Duli entare, mi’ tager ce’ jauna.”

”Kalangkong, Le’!”

”Areya edhiya,” sala settong se noro’ Dulasmar aberri’ tao ka kancana. Langsung sape se gi’ ta’ sempat epangger ka kajuwan ekala’ ban Dulasmar. Se laen nabang malengnga. Kono, malengnga, terros buru ka baba gunong. Sandhalla locot, songko’na ngalto’ ta’ etemmo ja’ dha’emma. Kono ekenneng, epokol ngangguy kaju ban bato. Tadha’ rassa neser. Bibirra leddu’ nampes dhara. Cethakka bucor, tolang bettessa potong. Talebat ngoso’, Dulla langsung natta’ dhadaha Kono.

Nyabana Kono la ngap-pelngapan. Pekkeranna enga’ ka oreng towana se epate’e ban Dulasmar. Neyat malessa Dulasmar kalaban ngeco’ sapena, la-nyala ka ana’ bini’na ban mate’e Dulasmar la tadha’ areppan. Pekkeranna enga’ ka oca’na eppa’na e bakto mangkata mondhuk.

”Senga’, Cong, neng pondhuk reya ja’ co-ngocowan kancana, ngeco’an dhin kancana. Mon ngeco’ jerum e pondhuk, dhapa’ ka romana ngeco’ jaran. Pabajeng ajar, kaneserre engko’, mamondhuk ba’na banne ken lebbi pesse. Engko’ gun terro odhi’na ba’na ta’ padha ban se engko’.”

”Enggi, Pa’.”

Kono tao kabadha’an e romana malarat. Se ekakana ban arena ollena aotang. Lakona eppa’na gun ngare’. Ngowan sape dhin tatanggana, gun ollena agadhu.

Settong are, Dulasmar nagi otang ka eppa’na Kono. Polana ta’ kellar nyerra, gun ejanji’i malolo. Aherra, eppa’an Kono etatta’ le’erra ngangguy are’ ban Dulasmar. ”Lebbi tello juta otangnga ba’na ka engko’. Engko’ malakeyana ana’. Buto pesse bannya’.”

”Engko’ ta’ andhi’ pesse, Mar.”

”Sapena juwal!”

”Banne dhin engko’ sape jareya. Engko’ gun ngala’ gadhu.”

”La ta’ taowa, kor poko’na sape jareya mon ta’ ejuwal, engko’ se ajuwala dibi’.” Dulasmar ngoso’. Aherra natta’ eppa’na Kono. Eppa’na Kono langsung mate bakto ganeka keya. Kono kateppa’na badha e pondhuk. Ngedhing toklar jareya, Kono langsung mole dhari pondhuk.

Kono enga’ ka oca’na eppa’na e sabban ngerem. ”Senga’, Cong, pabajeng ajar, ma’ le daddi oreng se pojur.”

Kereman lako tellat. Kono lako buto pesse. Asalla sabbar, Kono lako apasa neng karana tadha’ se ekakana. E settong bakto, Kono andhi’ kesempatan ngecok pessena pasantren. Tabu’ lapar, berras se etana’a tadha’. Otang la nombuk ka kancana.

Kono ngala’ sakone’, sacokoppa melle berres ban nyerra otang. Karana ekarassa nyaman, Kono lako ngeco’ pesse dhin kancana. Kalakowanna Kono laju aoba lako ngeco’. Lebur ngabas santre bine’ se mangkata asakola. Alonca’ pagar, rat-soratan ban santre bine’, aroko’, ban laen macemma.

E bakto ajiyan ketab bu-sobbu, Kono tha-kantha sake’ tabu. Amet entara ka WC. Tape, Kono entar ka kamarra kancana se gi’ buru ekerem. Neyat ngeco’ pesse tageppok ka pangurus. Pangurus alaporan ka keyae polana ta’ kellar ngadebbi kalakowanna Kono se lako ngeco’an pessena kancana. Kono tao ngeco’ e koperasina pondhuk. Ngeco’ roko’ tello lencer. Kono edikane keyae ka dalem.

”Arapa ba’na ma’ lako ngala’an dhin kancana?”

”Bunten, Keyae. Abdina coma neyat ngenjema.

”Iya, ma’ ta’ amet?”

Maske lako etegger sareng keyae, lako eparenge nase’ dhari dalem ma’ le lekkas ambu ngeco’an, Kono ta’ lem ngarte ka maksodda. Kadang, e bakto Kono ngeco’a enga’ ka eppa’na, keyaena ban kadeng ka emma’na maske ta’ perna tao robana. Sabban atanya edhimma emma’na, eppa’na ta’ tao abala. Ta’ tao, apa alako ka lowar nagara, apesa ban eppa’na otaba la mate. Tape mon mate edhimma koburanna?

”Dina, masala reya epasraagina ka pangurus,” dhabuna keyae.

”Ba’na egundhula ban abajang jama’a lema bakto,” oca’na pangurus e kantor kaamanan.
Maske eokom jama’a lema bakto, Kono ta’ jerra. Pondhuk Al-Hikam lako kaelangan. Molae dhari sandhal, kaos, pesse otaba buku-buku. Pangurus la padha saroju’ mamoleya Kono.

”Ella, Kono ja’ pamole, pondhuk reya jat kennengnganna oreng ta’ baras. Padhana roma sake’. Mon sake’ giba ka roma sake’. Mon ta’ baras akalla, giba ka pondhuk, pamondhuk.

”Ka’dhinto ampon sara. Eokom aberseyan pondhuk lastare. Hadiran salat jama’a lema bakto lastare. Egundhul lastare. Elaporragi ka oreng seppona lastare, keng ta’ dhateng acabis dha’ Ajunan.”

”Dina bar-sabbar, mi’ pola gan sateya, laggu’ otaba sadhumalem Kono bisa aoba pole enga’ lamba’ se gi’ buru mondhuk. Oreng reya padha ta’ etemmo. Dina du’aagi ma’ le lekkas baras.”

***

E bakto parai pasa’an, Kono marung e lao’na romana. Apol-kompol ban kancana eppa’na e berungnga Bun Jumae. Kono anya-tanya kabadha’anna eppa’na gi’ ngodha.

”Angko, Cong,” ca’na Makbul.

”Mon ngeco’?”

”Pole ngeco’, Cong, eppa'na ba’na reya ratona. Mon ngeco’ sape gan kadibi’. Etonton biyasa eadha’na romana oreng se ekeco’ sapena. Molae ba’na mondhuk pas ambu. Se biyasana akompol e barung, adha’ ta’ entaran pole. Ban bakto abajang ka masjid, tokang adan neng masjid, dhari cacana baih, se biyasana kasar adha’ pas, alos enga’ oreng se tako’an. Mangkana odhi’na eppa’na ba’na malarat polana ambu ngeco’. E bakto atokar ban Dulasmar keng ta’ alaban. Buh, mon eppa’na alaban, bangka rowa Dulasmar,” Makbul acareta ka Kono.

”Sapa se ta’ kennal ka eppa’na ba’na, Cong, kabbi oreng tao. Eppa’na ba’na reya bajingan raja. Ja’ acem-macem ka eppa’na ba’na mon ta’ terro sapena elanga. Pole gun sape, binena ekala’ ban orengnga epate’e.”

”Sapa se ekatako’e sareng eppa’?” Kono gi’ paggun panasaran caretana eppa’na.

”Adha’, Cong. Pole gun enga’ engko’, kalebunna tako’.”

Teppak malem Juma’at, bulan ka totopan ondhem. Tadha’ angen. Kono entar ka barung Bun Jumae, kennengnganna jing-bajing biyasa akompol. Makbul ban se laen la padha akompol ngenum kobi. Makbul ngajak Kono ngeco’ e disa tatangga, dhin Samsuri. ”Enten, Nom, kaula palemana, sobung oreng e compo’.”

”Siyah, ba’na, Cong, sapa se entara ngeco’ ka romana ba’na. Jing-bajing badha edhinna’.”

Pekkeranna iri ka eppa’na polana mon ngeco’ sape gan kadibi’. Malem jareya keya, Kono ta’ mekker lanjang, pekkeranna la elompa’ peggel ka Dulasmar. Samarena acareta ban jing-bajing, Kono mangkat nyendhemmi kandhangnga Dulasmar. Ju’-toju’ neng babana accem sambi’ ngabasagi gulina Dulasmar e per-ampera romana. E bakto Dulasmar maso’ ka romana, Kono siyap makalowar sapena Dulasmar. Tape burung polana gi’ pokol sabellas.

”Buuk...” Kono eonjep ngangguy bato.

”Bangka ba’na.”

”Ngala’ ka jarangkongnga.”

”Se pate’.”

Oreng padha ca’-ngoca’e Kono se la ta’ aguli. Asmad neggu” lengngenna Kono.

”Enja’ gi’ odhi’. Penthong pole,” ca’na Asmad. ”Mayu ka mon ebuwanga ka jurang.”

”Ella, dina torot, ma’ ekakan pate’ neng edhiya,” Dulasmar ta’ magi.

Bas-abasanna bureng. Pekkeranna kasta. Neyat males ka Dulasmar aherra mate ka Dulasmar. Petteng. Pekkeranna elang. (*)

*)Musyfieq RZ babbar e Lenteng Songennep. Mahasiswa Instik Annuqayah Lu’-Gulu’, Sumenep.

*Carpan epetthek dhari Serrat Pote. Carpan paneka jugan e muat e Radar Madura e are Ahad 13-11-2016. Tor maso' dhalem buku "Tora Satengkes Carpan Madura"