Monday, 9 December 2019

Kemelut Manusia


Suluk santri#2  Kemelut Manusia



Suluk santri#2  Kemelut Manusia

(Adaptasi puisi kemelut manusia, lirik sareang, dan lirik santri karya M.Faizi)

Sinopsis:

MANUSIA pencari menangis. Ia seorang diri, akhirnya meninggalkan tempatnya semula. Ia memutuskan untuk semadi mengasingkan diri dari dunia. Katanya hendak menjauhi kemelut dalam dadanya untuk menemukan sesuatu yang tak terlihat mata, sesuatu yang tak terdengar telinga, sesuatu yang tak pernah terlintas di hati manusia. Hingga ia menemukan hal itu dan tak pernah lagi meragukannya.

Inikah akhir pencarian manusia? Ternyata tidak. Akhirnya manusia itu, ia yang penuh kemelut, masuk kembali ke hutan kemelut, keluar ke padang kemelut, lalu mati membawa kemelut.


Selamat menyaksikan!



Seorang sareyang meneguhkan pencariannya diantara mercusuar pengetahuan dan pencarian kesejatian hidup. Sementara suara –suara menjelma kebenaran. Dan orang-orang berbaris dalam cara pandang yang di gariskan.

Pencari           : (mengaji surat dalam al-quran)

Sareang          : Akulah sareyang. Akulah anak kecil dekil yang berjalan sendiri di pinggiran sejarah. Tak ada orang menghiraukanku, kecuali dengan sebelah mata memandang.

Orang 1           : untuk apa kau berteriak bagi kebenaran sareyang?

Sareang          : akulah sareyang. Sebuah tanju bagi gerhana sepanjang waktu. Air merta jiwa bagi kemarau serabad lama. Melalui malam sunyi, yang menjadi guru dalam mengajarkan cahaya dan kebisingan, aku menyebrangi kosmis, mencari percik api bernyala matahari.

Orang 2           : dimana akan kau temukan itu sareyang?.

Sareang          : dengan mata menerawang, meradai dan menghilau atas kekalahan, lindap di bawah bayang-bayang ilmu pengetahuan, aku mencari nyanyian di antara deru bising kehidupan.

Pencari           : tetapi, masihkah para wali membisik sareyang?

Para santri      : ia meraba dada bertanya.
Ia mengerutkan kening berpikir (koor).

Pendongeng   :manusia itu, ia yang penuh kemelut, memutuskan untuk samadi. Mengasingkan diri dari dunia. Ia bertapa, memilih diam daripada bicara. Bertaun-taun lamanya tetap tidak menemukan apa-apa.

Sareyang terus melakukan pencarian kebenaran. Di hadang tembok subyektifitas. Kebenaran seperti dinding tebal di lambung negeri. Siapa mencari ia akan tersesat. Sementara kebenaran seperti mimpi buruk, beban berat bagi sejarah.

Masa kini seperti tumpukan benda. Suara-suara kebisingan di rumah tetangga. Dan orang-orang menghentak-hentak lantai seperti menolak untuk di taklukkan. Dunia sepenuhnya kota, dengan keributan yang sempurna.

Puncaknya manusia di perbudak benda. Pengetahuan/kebenaran di packing. Di sembunyikan sebagai rahasia paling bodoh. Siapa yang mempunyai uang ia yang mennguasai peradaban.
Di tengah kepungan benda dan kebisingan. Sareyang meneguhkan dirinya dalam sunyi. 
Berbicara dengan sepi. Sehingga ia benar-benar berbeda. Mungkin hanya kegilaan yang bisa menyelamatkannya. Selamat datang dunia para jadzab!

Sareyang        : eeee... eeee...eeee

Dengan sebuah batu besar. Ia tertatih menanggung beban kehidupan. Kehidupan yang keras oleh persoalan yang di rancang oleh kehendaknya sendiri.

Kemudian, sareyang menyelam dalam sumur riyadlah untuk mendapatkan pencerahan. Terbayang dalam benaknya; ibnu hajar tersenyum di tempa kerasnya batu kebebalan. Tibatiba air membasahi kepalanya. Dan hikmah berjatuhan seperti hujan. Mengisi setiap relung seperti sumur di musim penghujan.

Sareyang        : aku seorang santri. Seorang musyafir di negeri badai. Seorang miskin di kota benda. Orang-orang melihatku kasihan karena tak punya, walaupun sebenarnya aku kaya, sebab hartaku tabah dan derana.
Aku adalah seorang santri dari sebuah kampung bernama kesederhanaan; tempat aku bertolak dan rumah untuk kembali.

Para santri (pencari) membentuk barisan. Seperti benteng kebudayaan, meneguhkan dirinya sebagai pencari. Mengisi setiap kampung dan kota dengan jejak uswah. Ya sebuah cermin di langit, yang di jatuhkan ke dasar jantung terdalam.

Para Santri     :nun...

Mereka terus berjalan. Hingga lunas jerih dendam. Luka dan bisa di bawa berlari mencari siapa sejatinya diri.

Para Santri     : siiinnn......
Para Santri     : yaaaa’......

Sareyang        : aku melambung lepas, menembus atmosfer, melampaui batas dunia, lalau melepaskan diri dari hukum bumi, tetapi pada akhirnya hinggap kembali di dasar hati. Memanjatkan doa untuk orang tua, para guru, kawan-kawan, serta mereka yang mungkin telah terlupa; selamatkan kami dan anak cucu kami dari kemarau panjang di dalam dada; kemarau di luar musim, kemarau di dalam batin.

Sareyang terus saja memanjat. Walau kadang ia terjatuh. Dan setiap kejatuhan sakit akibatnya. Namun keteguhan hati adalah modal dari kesederhanan, sebuah perjalanan memasuki diri sendiri, menemu mutiara dalam setiap hati. Hingga ketika sampai di puncak ia memanggil seluruh yang berserak agar berkumpul. Memanjat ke ujung lumpuh.

Dan mereka terjatuh. Lagi dan lagi. Bangkit. Lagi dan lagi.
Namun seperti setiap perjalan, kita akan sampai pada lelah, pada lelap. Istirah jiwa-jiwa. Untuk kembali terjaga, menemu yang maha segala.

Para Santri     : sareang.......!!!!

Santri              : berjalan tertatih, menghitung langkah.
Hati merintih, pikiran membuncah( koor).

Seperti sepasukan ababil, seperti panah malaikat di langit gelap, para santri melangkah menerobos onak dan duri, melewati hutan dan gunung, laut dan bukit, mereka terus menderu. Menggetarkan hati yang beku.

Sareyang        : aku adalah santri: seorang tawanan di penjara dunia. Akan tetapi, semangatku tak bisa dibendung, seperti angin mencari arah, menelusup melampaui sekat, berkisar, bertiup, melesat.

Semua seperti telah di tuliskan, di gariskan di lagit, nasib yang di julurkan ke dunia seperti jaring-jaring raksasa. Menjerat seluruh kemauan dan hasrat.

Dan seperti meneguhkan bahwa hidup adalah kemelut, akhirnya manusia itu, ia yang yakin kemelut adalah takdir. Masuk kembali ke hutan kemelut, keluar ke padang kemelut, lalu mati membawa kemelut.




Language theatre 2016

*Mahendra lahir di Sumenep,Madura. Penggerak Teater di sumenep. Menyelesaikan S1 di jurusan Theology dan Filsafat IAIN (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang Tingga di Sumenep.

Tetek-Bengek Pilkades


Tetek-Bengek Pilkades-Norrahman ALif



Tetek-Bengek Pilkades
(Pemilihan Kepada Desa)

Kampung pun semakin tak terkendali di saat hari mulai mendekati agenda pelaksaan pemilihan kepala desa. Sementara orang-orang makin memanas ketika terlihat kemarin pagi, jalan-jalan pedusunan telah bertebaran poster-poster dari ketiga calon kepala desa tersebut.

Sebagaimana yang terlihat pertama kalinya oleh Subadra sendiri di depan toko Sanen pada pinggir jalan di dusun Jurang Ara itu. Terpangpang poster gambar pisang dengan senyum manis yang disertai kata-kata janji: Pilihlah saya bila kampung Sungsang ingin sejahterah, aman dan terbukti terpercaya.

Lalu setelah Subadra menyiarkan kepada pantong-pantong lawan, bahwa gambar pisang sudah terpajang di jalan-jalan yang rawan di tempati banyak orang itu. Akhirnya pada malam harinya pun langsung para calon nomer urut satu maupun nomer urut dua memasang jua poster-poster bergambar jagung dan nyior sebesar pintu rumah kira-kira, dengan wajah semanis tebu dan kata-kata sebijak Mario Teguh, mungkin agar tidak kalah saing pada lawan satunya tersebut.

Lalau di malam yang sudah ke tujuh belas ini, Subadra menghadiri pengajian yang diadakan oleh Sunento, calon kepala desa nomer urut dua itu. Di kediamannya para bajingan, pantong-pantong serta kerabat dari keluarga si istri maupun dari Sunento sendiri melakukan pharnyo’onan kepada yang maha kuasa, agar mendapat ijabat untuk menjadi kepala desa yang kedua kalinya.

Karena orang-orang desa Sungsang sini masih yakin kalau dengan melakukan ritual ngaji sebagaimana yang dilaksanakan oleh para calon kepala desa tersebut. Biasanya menurut keyakinan yang mereka pegang teguh sejak lalu, segala apa yang diharapkan akan segera cepat terkabulkan.

“Alfatehaaa!” seru seorang kiai kampung itu seusai memanjatkan doa di kediaman Sunento, yang kemudian dijawab langsung oleh sekalian para tamu dengan mendengungkan surah Fatihah sampai selesai. Seusai itu dengan serentak para sebagian tamu bubar barisan, ada yang masih duduk sambil merogoh satu bungkus rokok lalu dinyalakan. Ada pula sebagian pemudanya mengambil kopi ke dapur untuk disuguhkan kepada para tamu dan sebagiannya lagi langsung pulang dengan terburu karena ada kepentingan yang mendesak.

Sementara Subadra serta kawan-kawan sekampungnya membentuk lingkaran di halaman rumah Sunento itu, sambil menghisap sebatang rokok mempercakapkan seputar harga tembakau, pertaian dan ujung-ujungnya pada situasi politik dalam rangka pemelihan kepala desa.

“Menurutmu bagaimana Badra, Sunento banyak tidak orang-orangnya di sekitar rumah kamu?” pertanyaan Jubri, membuka percakapan. “Iya, alhamdulillah kalau keluargaku sih masih berpihak pada Sunento.” Jawabnya, seolah-olah tak ingin memperpanjang cerita seputar pemilihan kepala desa, karena semua orangnya Sunento tahu bila posisi rumah Subadra sangat dekat dengan kediaman rumah Amsuki, musuh terberatnya Sunento kini.

“Loh kok, yang lainnya bagaimana Badra! Kan kamu sebagai RT di sana, seharusnya tahu dong kondisi suara rakyatmu berpihak ke siapa.” Baru mau berkata, Jubri. Tiba-tiba Sulahi, pantongnya Sunento itu menimpalinya omongan Badra dengan agak ragu. “Iya betul itu!” celetuk tiba Busawi dan lainnya bersamaan dalam lingkaran itu, sambil menghisap rokoknya masing-masing dengan nikmat.

“Hei, Jubri, Sulahi, kan kalian tahu sendiri bagaimana posisiku, agar kamu tahu, aku ya! Setiap keluar entah kemana saja, selalu ada yang memantauku, siapa lagi kalau bukan orangnya Amsuki, jadi mengertilah posisiku saat ini, kan yang penting aku gak bersuara ke luar.” Ujarnya Subadra panjang lebar, sambil memperjelas posisinya sebagai orangnya Sunento yang paling banyak diawasi oleh musuh-musuhnya itu.

“Iya sih!,” ucap Jubri, sambil mengangguk-anggukkan kelapa seraya berpikir. Bingung juga ya jadi kamu, hemm.” Kata Sahwan, setelah lama memperhatikan pernyataan Subadra.

“Pokoknya kamu harus berusaha Badra, bagaimana caranya orang-orangnya Amsuki berpihak pada kita. Karena kamu tahu, kalau besok kepala desa jatuh pada Amsuki, bukan hanya kita yang malu, Sunento dan keluarganya ikut malu juga. Lagian siapa sih yang mau kalau Amsuki jadi kepala desa, kan dia itu rajanya maling.” Tiba Sulahi berujar sebagai pantong atau tim suksesnya Sunento dengan mata sambil melotot penuh emosi malam itu.

“Siap Li, siap Li! Santailah tak usah garang begitu bicaranya, hehe.” Aku pamit dulu yah, soalnya masih ada urusan diluar.” Ucapnya dengan santai, sambil berdiri kemudian salaman untuk pamit dengan buru-buru.

Setelah Subadra pulang, hanya tinggal Jubri, Sulahi, Mattarwi dalam lingkaran itu. Tak lama kemudian akhirnya mereka pun ikut bubar barisan jua, lalu pulang ke rumahnya masing-masing. Karena waktu juga pun sudah larut malam saat itu.

Waktu pun sudah menunjukan pukul 23:30 WIB, namun ternyata masih ada yang berkumpul di halaman rumah Sunento itu, calon kepala desa saat ini. Mulai dari pemuda sampai bapak-bapak, ada yang pula main demino sampai ada yang pula main geme, telponan, atau ada yang juga sekadar berjaga-jaga dengan senter dikalungkan di lehernya, takut takut ada serangan dari luar yang mencoba memasang sarat di sekitar rumahnya tersebut.

***

Tampaknya waktu pun semakin dekat tanpa terasa, hari-hari pun di kampung Sungsang makin riuh oleh suara-suara gaduh perihal pemilihan kepada desa. Terdengar sudah di sana sini semua orang mempercakapkan siapa yang menang, atau siapa yang kalah kelak. Ada pula yang mempercakapkan tentang taruhan, sebagaimana Suri yang dikatakan kemarin malam itu.

Orang sudah tahu jika Suri adalah pantongnya Amsuki atau yang punya simbol nyior itu, ia mengatakan sambil menantang kedapa pendukungnya jagung, siapa lagi kalau bukan kepada calon Sunento ini. Ia mengakatan, kalau Sunento menang, akan kupotong jari saya. Ucapnya ia kemarin malam, suwaktu orangnya Sunento menanyakannya padanya di pinggir jalan depan toko Sanen.

Sementara kini pun waktu sudah tinggal lima belas hari lagi, sebelum dilaksanakannya pemilihan kepala desa di kampung Sungsang ini. Namun entah setelah peristiwa percakapan di pinggir jalan itu, pada pagi harinya tiba-tiba terdengar kabar bila dari salah satu pendukung beratnya Sunento, calon kepala desa itu, bahwa salah satu warganya kehilangan dua pasang sapinya.

Setelah ditelusuri lebih dalam kabar-kabar burung itu, ternyata benar bahwa seorang warga tani yang bernama Pusani tersebut telah kehilangan dua harta satu-satunya yang ia rawat sepenuh hati dalam kandangnya bertahun-tahun lamanya itu. Bagi seorang petani, sapi adalah perhiasan yang paling istimewa, bahkan sapi dianggap derajatnya sejajar dengan anak kandungnya sendiri.

Sebab itulah warga Sungsang makin nyasar tak karuan, ada pula yang menuduh pantongnya si A yang mencuri. Ada pula yang dengan terang-terangan menuduh si B atau si C, meskipun semuanya itu hanya tuduhan-tuduhan ngawur karena emosi.

Sebagaimana yang tergambar jelas peristiwa duka yang sangat-sangat tak terduga telah menimpa keluarga Pusani pagi itu. Terlihat dari sudut-sudut rumahnya orang-orang bergiliran bertamu ke rumah Pusani, sekadar menanyakan kejelasan peristiwa kemalingan tersebut.

“Terakhir kali kamu jenguk sapinya di kandang jam berapa?” tanyanya salah satu warga.
“Sebelum sapimu digondol maling, kamu gak melihat orang asing disekitar rumahmu?” susul kemudian RT-nya bertanya.

“Jam berapa tadi malam kamu tidur?” tak mau kalah juga, seorang bertanya yang bernama Sumat itu.
Dari berbagai pertanyaan tersebut, Pusani dan Mol, sepasang suami istri yang sedang berduka itu, hanya menjawab dengan apa adanya sambil mulutnya tak henti-henti berujar makian pada maling yang berhasil mencuri kedua sapinya, yang belum tahu jam berapa maling itu mencurinya.

Karena setahu Pusani, kira-kira jam enam pagi sewaktu mau memberi rumput sapinya, tiba-tiba pintunya terbuka, dan ternyata setelah memasuki kandangnya, sepasang sapinya telah hilang tanpa meninggalkan jejak kaki, hanya menyisakan tali tongar-nya yang telah putus menjadi dua bagian, terpisah dari moncong hidungnya.

Setelah dua hari pscakejadian tersebut, Mol tiba-tiba tidak keluar rumah dalam seminggu, banyak orang berkabar dari mulut ke mulut ia sakit karena depresi akibat sepasang sapinya sekaligus hilang tanpa mereka duga sebelumnya, atau ada lagi yang mengakatan bahwa ia malu bertemu orang-orang, apalagi orang-orangnya Amsuki, yang jelas-jelas musuh bebuyutannya sejak pemilihan kepala desa lima tahun yang lalu.

Karena dahulu Mol sempat adu mulut dengan tim suksesnya Amsuki, dan sampai-sampai berakhir dengan carok di lokasi pemilihan kepala desa sewatku pemungutan surat suara dimulai. Hanya gara-gara dari pihak Amsuki kalah taruhan, dan dengan hati panas tak terima para pendukung Amsuki pada kekalahannya, mereka mencaci maki kemenangan Sunento, dan sampai ingin membakar surat suaranya.

Sementara para pendukung Sunento tak menanggapi ejeken tersebut, yang berani menentangnya pada saat itu hanyalah Mol, Mol berkata keras-keras pada bajingan-bajingan Amsuki yang berusah membuat gisruh suasana kemenangan Sunento. Mol berkata sambil mengacung-acungkan guluk atau keris pada musuhnya sambil mulutnya berujar ngawur: mon bekna tak narema, kecok sapena engkok bei ra, patek, museng! Ucapnya lima tahun yang silam.

Barangkali awal-mulanya dari peristiwa itulah kebencian bermula dan terus membara sampai pada pemilihan kepala desa kembali memberi ruang bagi siapa saja yang ingin menjadi pemimpin desa Sungsang ini. Dan baru minggu lalu kebencian itu terlunaskan pada salah satu pendukung berat calon kepala desa nomer urut dua ini, Sunento.

Jurang Ara, 2019

1.       Serapan dari bahasa Madura untuk menyebut pengawal atau pendukung berat calon kepala desa.
2.       Serapan dari bahasa Madura untuk menyebut ritual permohonan melalui doa, tahlil dll, kepada Allah.
3.       Sarat itu bila dalam tradisi Madura, orang mengistilahkannya adalah sebuah sisipan yang diberi dukun atau kiai untuk melumpuhkan si seseorang dituju, dan itu tergantung permintaan si orang yang minta sarat, untuk kejahatan atau kebaikan.
4.       Semacam tali yang dimasukkan ke lubang moncong hidung sapi, sebagai pengendali sapi agar tidak lari.
5.       Guluk adalah sisipan orang Madura sewaktu ingin bercarok atau ketika ingin bepergian jauh.
6.       Artinya, ‘kalau kamu tak menerima, curi saja sapiku aja’ sementara ‘patet, museng ‘ itu adalah nama hewan yang menjadi ucapan makian.


* Norrahman Alif lahir di Jurang Ara, Lahir di Sumenep Madura. Aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ) dan sekarang menjadi relawan Pustaka Bergerak Desa (PUSDES). Karyanya sering dimuat di media cetak maupun online, baik media lokal ataupun media nasional. Seperti Tempo, Republika, Pikiran Rakyat dan lain-lain.

**Cerpen ini tayang di mbludus.com 
(https://mbludus.com/tetek-bengek-pilkades/?fbclid=IwAR2D2fthOwdXZSjvydJzUetJAA6PFGIxcvx86hhsQb2PzZXWA9TopuB0-aU)

Durahem Ta’ Paju Bine

Durahem Ta’ Paju Bine


ELLA olle pettong bulan Durahem se la abakalan. Bebine’ se ekaterrowe molae gi’ asakola aliyah la daddi bakalla se anyama Filda. Dhalem janjina areya bakal bisa ekabin samarena lulus akuliya. Durahem se la lulus sarjana olle tello taon. Coma bisa adhante’ sambi alako e Malaysia. Atena la andhi’ kayakinan Filda ta’ kera co-ngoco dha’ janjina. Asabab sambi mondhuk.

Dhalem bakto adhante’na, Durahem pajat lakar bajeng onggu alako. Sabab nyare bandha kaangguy masenneng binena gu’-laggu’. Napapole kabiyasa’an aparlo e disa pastena ta’ sakone’ se kodu esadhiya’agi, khusussa dha’ se lake’. Kodu nyadhia’agi lencak, korse, ban essena roma laenna. Etambai maskabin. Bila apakompol acora’ sampe’ petong polo juta.

Margana Durahem daddi somangat onggu se makompol pesse. Kadhang dhalem sataon coma sakaleyan se mole dha’ romana. Kadhang sampe’ ta’ mole. Bila la lessoh alako, Durahem biyasa makalowar fotonah Filda sambi eosso laonan.

”Rassana coma kalaban dika bantal patena bula. Ta’ kera gampang tagudha kaangguy nyare babine’ laen. Asabab dika se daddi gantonganna ate bula,” oca’na Durahem sambi eseyom barampan kale.

Omor se la ta’ ngodha petto lekor taon, ban sapopo bannya’ se la akabin, nyatana daddi bantana bannya’ oreng. Ka bara’ ka temor ta’ bu-ambu se lako co-ngoco ekoca’ lalake’ ta’ paju bine.

”Durahem, ja’ pakala ka ale’ sapopona se la andhi’ ana’ rowa’,” oca’na Jumadin.

”Pole ba’na se wa’-towa’an. Masa’ lako kala ka se ngodha’an,” Mitro nyambung banta.

”Tako’na dhaggi’ pas ta’ duli abine mon gun abakalan terros,” Jumina noro’ keya.

”Apapole ba’na alako e Malaysia. Sapa se taowa ja’ bakalla bur-leburan ka lalake’ laenna,” oca’na Sulastri sambi agella’an.

Rassana panas onggu kopeng bila la ngedhing banta enga’ jareya. Rassana terro mokola pas etorkopa mowana bila ta’ kowat ka bantana. Tape Durahem coma napet dadha ban ta’ terro nyareya masala. Sabab padha ngarte ja’ kabadha’an lakar bendher.

Tape Durahem lakar ta’ bisa notope taresnana dha’ ka Filda. Reng bine’ se ekennal bakto ngerem panakanna ka pondhuk, tajurukup e labang maso’ santre bine’ sambi nondhu’ kalaban mesem manes. Pajalana neter kalenang abius pekkeranna Durahem.

Ta’ sampe’ dhubulan kennalan, Durahem langsung ngabala dha’ reng towana. Sabab taresna se la ta’ bisa etamba’. Pa’ Karim se la ngarte pas nerrosagi acabis dha’ Keyae Sobirin. Saminggu dhari acabis langsung epenta dha’ reng towana.

Saampona rasmi, Durahem rassana ta’ bu-ambu se lako nelpon dha’ Filda. Seyang malem rassa kerrong ta’ mare-mare, mowana ban pamesemma se lako badha neng pekkeranna. Maskena epaenga’ bi’ eppa’na soro ja’ lako nelpon tako’ badha busenna, paggun bai Durahem se lako maksa nelpon. Sampe’ oreng towana nyoro alako bai katembang nganggur ka bara’ ka temor adhante’ bakalla. Napapole bantana reng-oreng se lako co-ngoco.

Katembang ros-terosan eco-koco, lebbi bagus ngala entar ka Malaysia sambi makompol pesse. Ampon para’ dhutaona se alako sampe’ bisa nyokope kabutowan bila ampon andhi’ karep se abineya.
”Ba’na alako bai ka Malaysia, Cong,” oca’na eppa'na.

”Iya bendher onggu,” emma’na nerrose. Bannya’ se gun lako abanta ba’na se ta’ lem andhi’ hajat abineya. Dina pakompol pessena. Sambi kabelli sape, lencak, pas nyempen pabannya’ ma’le ta’ posang bakto abine gu’-laggu’.”

”Enggi, Ma’.”

”Sengko’ coma neser dha’ Kurdi tatangga ma lao’. Olle sabulan abine la mangkat alako ka Bali. Oca’na ta’ andhi’ pesse kaangguy nyokope kabutowan sabban arena. Apapole Dulmannan se akabin coma olle tello bulan, la apesa bi’ Sumina. Kabarra Dulmannan ta’ endha’ eajak alako. Pas gun tedhung malolo e romana mattowana. Emma’ ta’ terro tang ana’ mellas enga’ rowa. Pas dha’ramma cara tang kacong bisa anapakae binena ban ta’ parlo menta ka oreng laen.”

”Enggi, Ma’, kaula bakal bajengnga alakowa nyare pesse. Se penting sambung du’ana ma’le kaula bisa lancar lakona.”

”Mon du’a ta’ parlo epenta. Emma’ paggun ros-terrosan sabban bakto. Se penting ja’ sampe’ kaloppae bajangnga, pas tambai bajang tahajjud ban duhana, ma’le eparenge kalancaran bi’ Pangeran Se Kobasa.”

”Enggi ka’dhinto”.

Durahem rassana somangat onggu se nyareya pesse. Napapole oreng towana la nyokong saratos persen. Janjina Durahem ta’ bakal co-ngocowa dha’ janjina bakalla ban paggun terros enga’a dha’ dhabuna oreng seppona.

Ontongnga sadhapa’na ka Malaysia, Durahem ekabareng sapopona alako bangunan e Selangor. Sabban are mangkat pokol petto’ mole pokol lema’. Panas cellep, paggun ta’ egarassa. Sabab se badha e pekkerra ta’ terro bakto abine gu’-laggu’ aba’na ban kalowargana pas daddi oreng mellas.

”Dina mon mellas sateya, poko’ bakto abine ban andhi’ ana’ bisa jembar saterrosa,” dhalem pekkerra.
Filda coma kare mamareya skripsi sambi adhante’ bakto wisuda’an. Artena akare tello bulan se akuliya. Rassana ta’ bisa abayangagi rassa sennengnga bila sampe’ alaksana’agi sunnah rasol. Oreng-oreng pastena bakal todhus bila tao ja’ bantana rowa ta’ bendher.

Durahem pastena bakal abineya, keng coma bakto se gi’ ta’ dhapa’. Olle sataon lebbi, dhari Malaysia Durahem la menta maranta salametan se langkong raja. Sakabbina ru-guru, la-bala, ca-kanca, ban tatangga soro onjang kabbi. Ma’le sajan gaga’. Keyae Sattar dhari Lomajang pas duli eonjang molae sateya. Ta’ loppa grup haddra Ahbabul Mustafa. Soal pesse pastena gampang eator.

Teppa’ sabulan dhari wisudana pas nantowagina tanggalla. Bulan Rasol se la epanggi bulan se molja kaangguy walimatul ursy. Pastena saminggu dhari wisuda’an paggun mole ngeba areppan se langkong raja.

”Emma’, kadiponapa kabarra?” oca’na Durahem lebat telpon.

”Alhamdulillah, Cong, emma’ bi’ eppa’na padha baras e dhinna’. Dha’ramma kabarra ba’na sateya?”
”Alhamdulillah sehat jugan.”

”Dha’ramma kalakowanna, Cong?”

”Lancar, Ma’, alhamdulillah kaula sambi nabung e ka’dhinto kaangguy aparlo ban odhi’ saterrossa.”

”Sengko’ noro’ bunga, Cong, ba’na alako nyatana ta’ kera mowang bakto. Tape bisa ngaselagi pesse.
”Enggi, Ma’, mator sakalangkong du’aepon. Kadiponapa kabarra bakal, Ma’?”

”Padha sehat, Cong, panbila ekerem ka pondhukka.”

”Alhamdulillah. Ta’ langkong ja’ sampe’ kaloppae sadaja kabutowan parlona. Manabi badha se korang apareng oneng ka’dhinto.”

”Ta’ usa kobater, la mare eparanta kabbi. Kare ba’na bila se moleya?”

”Insya Allah minggu dhateng kaula pon nerbang dhari Malaysia.”

”Alhamdulillah. Samoga’a salamet sampe’ dhapa’ ka roma.”

”Amien…!”

Rassa bunga ta’ bisa etotope dhalem pekkeranna Durahem. Sabban malem coma mowana bakalla, Filda, se lako agudha. Ngakan ta’ nyaman, tedhung ta’ ngeddha. Sabab ker-pekkeran dhalem ngadhebbi settong are se talebat sakral dhalem kaodhi’anna Durahem. Tiket kaangguy nerbang la mare messen. Are laggu’ jadwal se nerbang-a.

Dhalem parjalanan sampe’ dhapa’ ka romana rassana ta’ bisa ambu, pas lako atanya kabadha’an bakalla. Napapole korang dhuware wisudana se elaksana’agina. Pas sajan maposang dha’ pekkeranna Durahem.

”Eppa’ kadiponapa kabar saterrossa soal parlona?” Pa’ Karim coma bisa nondhu’ ta’ ajawab dha’ partanya’anna Durahem.

”Anapa, Pa’, ma’ esep panjennengngan? Tore pajellas badha ponapa ongguna?”

”Saporana, Cong, Bakala ba’na bakto epenta akabina, pas jawabba ta’ bisa. Alasanna pas acem-macem. Sengko’ ta’ bisa maksa pole. Mon la ta’ padha ban janjina pas epaburung sakale. Ma’le ta’ katomanen.”

Durahem se ngedhing jawabanna eppa’na pas takerjat ta’ sapera. Nalpe’ ka pelar ta’ metto oca’. Dhalem pekkeranna aromasa todhus dha’ budhina. Sabab bakal ramme oca’ Durahem ta’ paju bine. 


*MA Leo samangken aseppoe sala settong organisasi e Bali enggi paneka kalaban daddi "Ketua PC IPNU Denpasar, Bali". MA Leo jugan gasek nosel carpan basa Madura, jugan gasek emuat e Radar Madura. 

**Carpan kasebbut juga perna emuat e Radar Madura (JPRM) e tanggal 8 Desember 2019.

Wednesday, 4 December 2019

Bir Pletok


BIR PLETOK - ZAINUL MUTTAQIN

LANGIT sudah merah, Rojali baru datang. Lelah melingkar di wajahnya, berat ia bernapas. Duduk pada sebuah kursi kayu bercat kuning, Rojali menuang air ke dalam gelas, cepat ia meraihnya dan meneguk sampai habis. Sesaat kemudian, ia membuka lembar demi lembar kertas dalam map yang sejak semula dilemparkannya ke atas meja. Gigi Rojali bergemerutuk, kesal sedang mendera hati lelaki muda itu.
Rojali memukul meja, disertai desah yang kasar dari mulutnya. Kedua tangannya memegang kepala, diremas-remas rambutnya. Rojali berserapah yang entah ditujukan kepada siapa. Haji Usin, Babenya yang mendengar dari tempat salatnya langsung turun. Kewajiban salat Magrib selesai dikerjakan, sunnah salat tak ditunaikan karena Rojali sedang memaki-maki tidak jelas, teriakannya mengganngu Haji Usin.
“Lekas salat. Jangan banyak menggerutu!” Haji Usin berdiri di dekat anaknya. Lelaki bertubuh kurus serupa batang lidi itu berkacak pinggang. Rojali bergeming.
Hampir lima menit, Rojali tak menanggapi apapun ucapan Babenya. Ia tetap pada posisinya, duduk terdiam, menundukkan wajah. Terpaksa Haji Usin menggebrak meja, kaget Rojali dan langsung mendongak melihat wajah Babenya yang sudah melotot matanya. Lambat Rojali bangkit dari duduknya, lesu seharian mencari kerja di kota.
“Apa dengan salat saya bisa dapat pekerjaan?” Pertanyaan yang dilontarkan Rojali kepada Babenya, hampir saja membuat Haji Usin menamparnya.
“Kau sendiri yang cari rumit. Sudah saya bilang, kau tak perlu cari kerja. Urus warung saja.” Haji Usin sedikit mengeraskan suaranya.
“Jual bir pletok? Malulah saya pada gelar sarjana yang saya dapat. ” Rojali tersenyum meledek. Haji Usin diam sambil menggelengkan kepalanya.
Rojali tergesa-gesa menuju kamar mandi, mengambil wudhu dan kemudian mengerjakan salat. Setelah selesai melaksanakan kewajiban sorenya, Rojali keluar rumah, menuju ke halaman, pada balai-balai bambu di bawah pohon kecapi. Terlentang Rojali merebahkan tubuh, berlasakan tikar daun pandan, ke langit matanya memandang.

Sinar bulan menerpa tubuh lelaki muda  itu, angin datang mengecup daun kecapi. Pikiran Rojali bercabang-cabang. Satu cabang memikirkan, apakah ia harus meneruskan usaha Babenya sebagai penjual bir pletok. Satu cabang lagi memikirkan, Rojali berhasrat sekali bekerja pada  sebuah perusahaan di kota, kerja dalam ruangan berpendingin, memakai dasi setiap hari, pergi sejak matahari muncul hingga tenggelam di ujung barat. Rojali mendesah merenungkannya.

Haji Usin menyusul anaknya, duduk bersandar pada pohon kecapi yang sudah ratusan tahun tumbuh di halaman rumahnya. Rojali bangun, duduk menghadap ke arah Babenya. Haji Usin menyalakan batang rokok, menari-nari asapnya di atas kepala. Rojali masih menekuri pikirannya sendiri, tak menggubris panggilan Babenya dari tadi.

Haji Usin, pemilik warung kopi di pinggir jalan besar lebih dikenal sebagai penjual bir pletok ketimbang penjual kopi. Di warungnya, Haji Usin memang menyediakan kopi bagi para  sopir maupun pembeli dari desa seberang, tetapi mereka lebih suka dengan bir pletok racikan Haji Usin yang sudah terkenal sejak puluhan tahun lalu. Cerita orang-orang, bir pletok Haji Usin lezatnya luar biasa.

Orang-orang sudah datang sebelum Haji Usin membuka warungnya, setia mereka menunggu demi menikmati bir pletok yang tak mereka dapatkan dimanapun. Tak ada yang membantu pekerjaan Haji Usin di warung, semuanya dikerjakan seorang diri setelah istrinya meninggal. Hal ini kadang memunculkan pertanyaan dari para pelanggan perihal mengapa Haji Usin tak mengajak serta anak lelakinya untuk membantu atau mengambil pembantu dari tetangga.

Haji Usin menjawab pertanyaan itu, samar-samar suaranya mengucap, “Saya sudah terbiasa sendiri.”
Sungguh jawaban Haji Usin tak dapat memuaskan mereka. Kepala mereka menggeleng. Tak ada lagi pertanyaan macam-macam dari para pelanggannya. Haji Usin cukup gesit melayani pelanggan warungnya, meskipun waktu sudah hampir menghabiskan usianya. Haji Usin menebar senyum pada  semua pelanggan, sebuah keramahan yang tak dibuat-buat, itulah salah satu alasan warungnya ramai dikunjungi.

Sebagai satu-satunya warung yang menjual bir pletok sampai saat ini, Haji Usin mewarisi ilmu meracik bir pletok yang terdiri dari campuran beberapa rempah, jahe, daun pandan wangi dan serai didapatnya dari leluhurnya dahulu. Karena kelezatan rasa bir pletok inilah membuat warung Haji Usin ramai dikunjungi semua orang dari semua kalangan.

Semula orang-orang yang baru mendengar bir pletok terkejut karena mengira seorang haji menjual minuman alkohol. Mereka menyangka, minum bir pletok akan membuat mereka mabuk. Haji Usin menjelaskan saja apa sesungguhnya bir pletok. Khawatir bikin mabuk, mereka mencoba segelas bir pletok terlebih dahulu.  Mereka mengangguk, mengakui bir pletok Haji Usin sangat nikmat sekaligus menyegarkan badan.

Sebelum Haji Usin meninggal, mengingat usia sudah senja, tak ada yang diharapkan Haji Usin kecuali Rojali meneruskan usahanya sebagai penjual bir pletok. Tetapi apalah daya, Haji Usin tak sanggup membujuk anak lelaki semata wayangnya untuk menggantikan posisinya kelak apabila Izrail datang menjemput.

“Apa kau tak mau melihat Babe meninggal bahagia?” Pertanyaan Haji Usin membuat Rojali langsung mengalihkan pandangan ke Babenya. Berkerut kening Rojali seperti garis terombang-ambing, jantungnya terasa akan lepas dari tangkainya mendengar pertanyan itu dilontarkan tiba-tiba. Rojali mengerti apa maksud dari Babenya itu.

Rojali malah balik menyerang, “Apa Babe tak mau melihat anaknya sukses?”

Keduanya sama-sama tidak memberikan jawaban. Rojali teringat dengan Dahlia, perempuan yang ditaksirnya dan siap menjadi istrinya dengan syarat Rojali bekerja di perusahaan, bukan sebagai tukang warung. Sudah lama Rojali mengincar Dahlia, sejak perempuan itu duduk di bangku semester akhir.

Kesempatan mendapatkan Dahlia tak disia-siakan oleh Rojali. Berhari-hari Rojali mencari pekerjaan di kota, namun nasib buruk mencekeramnya. Tak dapat pekerjaan Rojali, bayangan buruk menghantuinya, pastilah Dahlia akan mencampakkan dirinya sebagai pecundang. Haji Usin mulai membaca gelagat yang ditunjukkan Rojali, jatuh cinta menjadi salah satu alasan Rojali tak ingin menjual bir pletok.

Sebagai lelaki yang pernah muda, Haji Usin berkata tiba-tiba pada anaknya, “Sia-sialah lelaki yang mendambakan perempuan yang memberikan syarat untuk cintanya.”

Rojali melotot tak percaya, bertanya dalam hatinya, bagaimana mungkin Babe mengetahuinya? Rupanya, sebulan lalu Haji Usin mendengar anaknya berbicara sendiri sambil memandang foto perempuan. Meskipun sudah usia uzur, telinga Haji Usin tetap sempurna mendengar suara sekecil apapun bahkan dari jarak yang cukup jauh. Dari dalam kamar Rojali, Haji Usin mendengar anaknya tersebut berkata kalau ia akan melakukan apaun untuk Dahlia, termasuk mejadi pekerja kantoran.

Rojali seperti memiliki ratusan cara untuk balik menyerang Babenya, ia berujar dengan menekan suaranya, “Sia-sia seorang lelaki yang hanya mementingkan pekerjaannya dibanding istrinya.”

Mendengar ucapan anaknya, Haji Usin teringat almarhum istrinya. Tak sanggup Haji usin membendung air dari dalam mata cekungnya. Istrinya meninggal satu tahun lalu. Haji Usin tak ada di sampingnya ketika sang istri mengembuskan napas terakhir, ia meninggal dalam rangkulan Rojali. Haji Usin sedang melayani para pembeli bir pletok di warungnya, kematian istrinya baru diketahui setelah ia menutup warung, pulang ke rumah, matanya langsung melihat istrinya terbujur ditutupi kain.

Kini kesedihan itu tumbuh lagi, Haji Usin melihat wajah anaknya yang baru saja membuatnya membuka ingatan satu tahun lalu itu. Rojali mendekati Babenya, ia merangkul lelaki berpeci putih itu. Haji Usin berdiri, tangannya memegang pohon kecapi. Berjalan ia masuk ke dalam rumah, disusul derai batuk mengguncang dadanya. Menyesal Rojali telah mengatakan itu kepada Babenya.

Sudah tidak terlihat bulan di permukaan langit. Rojali merentangkan kedua tangannya di atas balai-balai bambu, di bawah pohon kecapi. Gerimis jatuh tiba-tiba, Rojali bangun dan masuk ke dalam rumah. Sebelum masuk ke dalam kamar, Rojali sempat melihat Babe duduk di atas ranjang memandangi foto istrinya. Semakin bersalah Rojali dibuatnya. Gontai Rojali memasuki kamar, segera ia rebahkan tubuhnya di atas kasur. Rojali memejamkan mata, besok harus kembali mencari kerja ke kota.

***

Dua bulan berlalu, Rojali belum diterima di perusahaan manapun. Letih sudah Rojali mencarinya. Pasrah sudah Rojali menerimanya. Haji Usin mulai diserang sakit. Kata dokter yang memeriksanya, Haji Usin disarankan istirahat selama beberapa hari, semata-mata agar Haji Usin pulih seperti sediakala.

Keras Haji Usin menentang saran dokter, ia memilih tetap berjualan di warung miliknya di pinggir jalan besar itu. Berjalan kaki sekitar lima belas menit untuk sampai di warungnya, Haji Usin memegang dada sepanjang perjalanan. Matahari pagi menerpa tubuh ringkih Haji Usin. Rojali tak memikirkan Babenya, diam tercenung di teras rumah, memikirkan nasibnya sendiri. Keresak sandal dan suara batuk Babenya tak dihiraukannya, abai Rojali meresponnya.

Tepat satu jam kemudian, Haji Usin dikabarkan meninggal di warung sehabis melayani pembeli. Kabar itu sampai ke telinga Rojali setelah seseorang datang menghampirinya. Semula Rojali tidak benar-benar percaya dengan kabar yang disampaikan oleh salah seorang pelanggan Haji Usin. Tidak mungkin, kata Rojali dalam hati. Rojali tergesa-gesa membawa langkahnya ke warung Babenya.

Tiba di sana, Rojali menyaksikan orang-orang berkerumun. Rojali menguak kerumunan itu, tertuju mata Rojali pada seorang lelaki tua berpeci putih terbaring, terpejam matanya tanpa embus napas dari hidungnya. Rojali memegang pergelangan tangan Haji Usin, memastikan detak nadi sang Babe. Tak ada denyut yang dirasakan Rojali. Meledak tangis Rojali. Orang-orang membawanya ke rumah, Rojali duduk tertunduk di dekat jasad Babenya.

Seluruh tetangga datang, bersalaman pada Rojali. Jenazah Haji Usin sudah selesai dimandikan. Pemakaman dilakukan sore nanti. Kubur digali di samping makam istrinya. Semasa hidup, Haji Usin memang berpesan pada Rojali supaya disandingkan kuburannya dengan sang istri. Rojali memenuhi permintaan itu. Satu permintaan lain dari Haji Usin yang entah Rojali bisa memenuhinya atau tidak ialah wajib bagi Rojali meneruskan usaha Babenya, menjual bir pletok.

Langit ditutupi awan, orang-orang berkumpul di pemakaman. Rojali berdiri di dekat liang lahat, matanya bergerimis melihat jenazah Babenya dimasukkan ke dalam liang kubur. Orang-orang pulang, Rojali duduk bersimpuh di samping pusara Babenya. Bunga-bunga ditabur di atasnya, lebur perasaan Rojali.

***

Waktu berjalan cepat, satu tahun sudah berlalu. Sejak Haji Usin meninggal, warung miliknya tak pernah buka lagi. Tak ada tanda-tanda warung yang dulunya ramai dikunjungi itu akan buka lagi. Rojali selalu gagal meracik bir pletok selezat buatan Babenya. Kegagalan yang berulang-ulang membuat Rojali menyerah, memilih menutup warung Babenya dan tak ada lagi bir pletok terkenal racikan Haji Usin.

Kegagalan Rojali meracik bir pletok lantaran ia memang tak pernah mau melihat, apalagi belajar meracik bir pletok dari Haji Usin semasa hidup. Setiap kali Babenya meminta Rojali mengamatinya, tegas Rojali menolak. Haji Usin melihat percikan api dari mata Rojali.

Dan pada suatu pagi, matahari baru muncul separuh, Rojali datang melihat warung Babenya yang sudah hampir roboh, kayu-kayunya dimakan rayap. Dinding-dindingnya yang terbuat dari anyaman bambu berantakan tak terurus, gentengnya berjatuhan. Berdiri Rojali memandang warung itu, terbelah dadanya mengingat dari bir pletok itulah Rojali meraih gelar sarjana.

Lama sekali Rojali berdiri. Ia selalu mendapat pertanyaan dari para pelanggan warung Haji Usin yang datang ke warung. Pertanyan mereka bermacam-macam, tetapi membentuk suatu rangkaian. Semakin lebar dada Rojali terbelah, tersiksa ia mendengar pertanyaan-pertanyaan itu ditujukan untuk dirinya.

“Apa kau masih jual bir pletok?

“Kenapa kau tutup warung ini?”

“Warung ini punya banyak pelanggan yang datang dari mana-mana. Kenapa tak kau teruskan?”

“Apa masih ada warung yang jual bir pletok?”

“Saya sudah lama tidak ke warung ini. Ternyata sudah tutup. Di mana saya bisa beli bir pletok selain di sini?”

“Apa tak ada lagi warung yang jual bir pletok selain di sini?”

“Apa ada bir pletok selezat racikan Haji Usin?

Rojali tak sanggup menjawab pertanyaan-pertanyan itu. Terseok-seok ia berjalan pulang seraya mencangkuli dirinya sendiri.


Pulau Garam, Juli 2019

*)Zainul Muttaqin Lahir di Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk Sumenep. Menyelesaikan studi Tadris Bahasa Inggris di STAIN Pamekasan. Cerpen-cerpennya dimuat pelbagai media nasional dan lokal, seperti; Kompas. Jawa Pos. Koran Tempo. Jurnal Nasional. Femina. Tabloid Nova. Republika. Suara Merdeka. Kedaulatan Rakyat. Tribun Jabar. Solopos. Padang Ekspres. Radar Lampung. Radar Surabaya. Radar Selatan. Bangka Pos. Media Sastra Online Basabasi.co. Litera.co. nugapura.or.id. Apajake.com. Cendananews. Harian Rakyat Sultra. Kuntum. Almadina. Majalah Simalaba. Joglosemar. Banjarmasin Post. Merapi. Kabar Madura. Suara Madura  Koran Madura.  Buku kumpulan cerpen perdananya; Celurit Hujan Panas (Gramedia Pustaka Utama, 2019)

**Cerpen tersebut pernah tayang di Jawa Pos (TT).